
Pov (Aisyah)
"Yank ayo kita berangkat sekarang, soalnya ibu gak berhenti nelfon nih dari tadi". Ujar Mas Arya.
"Maira, Bibi Ais sama Paman Arya mau jengukin Bibi Rani dulu ya. Kamu gak apa - apa kan ditinggal? Pesan aja sama Kak Ratna kalau kamu pengen makan atau minum. Kalau mau istrihat naik aja ke lantai dua ya, ada kamar di sana. Nanti Bibi jemput lagi di sini". Pamitku pada Maira sembari berpesan padanya.
"Iya Bibi". Jawab Maira sambil tersenyum. Aku lalu mengecup keningnya.
"Rat, titip Maira ya. Mbak jalan dulu". Ujarku pada Ratna lalu menyusul Mas Arya yang sudah menunggu di mobil.
"Siap Mbak hati - hati di jalan". Ucap Ratna.
Di dalam mobil.
"Maaf ya Mas kalau lama, oya itu tas siapa yang di belakang Mas?" Tanyaku menatap tas travel ukuran sedang di kursi tengah.
"Oh itu pakaian ibu, tadi sepulang kerja Mas singgah dulu ke rumah ibu. Biar kita langsung jalan, gak mutar dulu ke jalur belakang". Jawab Mas Arya lalu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
Sekitar satu jam an kami sampai juga di rumah sakit tempat Rani di rawat. Setelah memarkirkan mobilnya, Mas Arya membantuku membawa buah tangan yang tadi kami beli di jalan menuju ke sini.
Kami pun sampai di ruangan Rani, aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Akhirnya datang juga, lama banget sih. Ibu nungguin dari tadi, ini pasti istri kamu yang lelet makanya kalian lama. Kenapa sih ngajak dia segala? Bikin gak selera aja". Cerca ibu mertuaku sambil menatapku sinis. Mas Arya meletakkan barang yang dibawanya lalu menci*um tangan ibunya, seperti biasa tanganku selalu ditepis oleh ibu mertuaku.
"Bu tolong jangan ngomong kayak gitu, Aisyah kesini murni untuk ngejenguk Rani, bisa gak sih ibu bersikap baik sama istri Arya". Ucap Mas Arya membelaku.
Ibu Mertuaku mencebik. "Halah dia pasti senang dengan apa yang menimpa Rani, dasar perempuan munafik". Cemooh ibu mertuaku.
"Cukup Bu, kalau ibu masih kayak gini lebih baik Arya dan Aisyah pulang saja. Biar ibu yang urus semua sendiri". Ancam Mas Arya. Ibu mertuaku pun diam tidak membalas, dia menatapku dengan tatapan kebencian. Aku tersenyum kecut membalas tatapannya.
"Ini pakaian ibu, kami juga udah belikan ibu makam. Oya gimana keadaan Rani?" Tanya Mas Arya sembari memberi tas berisi pakaian ke ibunya.
"Hampir ibu lupa ngasih tau kamu, tadi pagi dokter visit bilang kalau Rani harus segera dikuret karena rahim belum sepenuhnya bersih sehabis tindakan bodohnya kemarin, makanya dari tadi ibu nelfon kamu tapi kamu gak angkat - angkat. Ya sudah sana cepetan kamu urus administrasinya biar Rani cepat dikuret". Jawab ibu mertuaku.
__ADS_1
"Yank Mas kebagian administrasi dulu ya, kamu tunggu sini". Ucap Mas Arya lalu meninggalkan ruangan Rani. Aku hanya mengangguk.
Ibu mertuaku melihat ke arahku sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Kamu sudah hamil berapa bulan? Kenapa kecil banget perut kamu? Itu isinya benaran anak atau bukan sih?" Cercanya.
"Alhamdulillah sedikit lagi tujuh bulan Bu". Jawabku berusaha lembut, walaupun hatiku kesal.
"Oh gitu, nanti gak usah buat acara bulanan segala deh, cuma habis - habisin uang. Saya gak ikhlas kamu nikmati kerja keras anak saya. Kamu itu cuma orang lain yang kebetulan dinikahi sama Arya, saya ibunya, saya yang lahirin dia. Surga dia ada sama saya jadi yang berhak atas uang dia cuma saya dan Rani. Saya juga gak sudi punya cucu dari perempuan kampung kayak kamu, mengerti kamu?" Hardik ibu mertuaku menatapku tajam.
"Alhamdulillah saya punya tabungan yang lebih dari cukup untuk adain tujuh bulan untuk calon anakku. Ibu gak perlu kuatir. Saya juga gak perlu ibu ngakuin anak saya nanti sebagai cucu ibu. Dan soal ibu bilang saya gak ada berhak atas nafkah Mas Arya, itu ibu dapat ajaran dari mana? Makanya ibu rajin pergi pengajian biar ngerti tentang agama, sejak Mas Arya sah menjadikan saya menjadi istrinya. Dia berkewajiban membahagiakan dan menafkahi saya, dia tidak akan mendapatkan surga kalau menelantarkan istri dan anaknya". Ujarku membalasnya.
"Perempuan sialan, saya bersumpah akan membuat Arya memceraikan kamu". Umpatnya dengan mata melotot.
"Coba aja kalau ibu bisa misahin kami. Gak usah melotot begitu, ingat penyakit bu. Nanti kalau ibu tiba - tiba stroke disini nanti siapa yang mau ngurusin, apa lagi Rani masih sakit. Kalau saya kayaknya gak bisa, soalnya saya sibuk. Oya ibu pasti tau kan biaya perawatan Rani mahal, apa lagi dia pake kamar VIP. Mau tidak mau saya juga akan ikut membantu biayanya, jadi bersikap baiklah dengan saya". Ujarku penuh penekanan sambil tersenyum padanya.
Nafas terengah - engah karena emosi, belum sempat dia membalasku. Mas Arya sudah kembali.
"Gimana Mas, udah beres?" Tanyaku.
"Semoga lancar ya Mas, terus kenapa Mas lesu gitu?" Tanyaku basa - basi, padahal aku tau dia memikirkan biaya perawatan Rani yang mahal.
"Karena Rani gak punya jaminan kesehatan jadi biayanya yang dikeluarkan besar, belum lagi rawat inap dan obat - obatan. Nanti kalau Rani udah pulih, ibu dan Rani urus jaminan kesehatan nanti bulanannya biar Arya yang bayar". Jawab Mas Arya, lalu beralih bicara pada ibunya.
"Arya, Arya kamu ini kok kayak orang susah aja mau berobat harus pake jaminan kesehatan segala". Ejek ibu mertuaku.
"Ibu lihat sendiri baru sehari Rani dirawat udah habis puluhan juta, sedangkan kita belum tau berapa lama Rani akan dirawat. Gaji dan tabungan Arya gak bakalan cukup, terpaksa Arya akan pinjam ke Aisyah". Terang Mas Arya dengan wajah serius.
Ibu mertuaku lagi - lagi memandangku tidak suka, lalu dia beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar mandi.
Tring
Tring
__ADS_1
Ponsel Mas berdering.
"Wa'alaikum salam, iya betul saya Arya. Maaf ini dengan siapa?" Tanya Mas Arya pada penelfon.
"Bisa bisa pak, saya akan segera kesana secepatnya. Kebetulan saya juga lagi di luar. Terima kasih informasinya". Jawab Mas Arya lalu menutup telfonnya.
"Telfon dari siapa Mas?" Tanya ku penasaran.
Mas Arya membisikkan sesuatu ke telingaku karena melihat ibunya baru keluar dari kamar mandi. Aku terkejut mendengar apa yang di sampaikan.
"Beneran Mas?" Tanyaku berbisik, Mas Arya mengangguk.
"Heh kalian ngomongin apa? Kenapa bisik - bisik kayak gitu?" Hardik ibu mertuaku.
"Bu kami pamit dulu ya, kami ada urusan lain di luar". Jawab Mas Arya berdiri hendak pamit.
"Ya udah tapi ibu minta uang lagi, uang yang tadi kamu kasih habis". Ujar ibu mertuaku sambil menadahkan tangan.
"Loh bukannya tadi pagi Arya udah kasih ibu uang lima ratus ribu, masa cepat banget habisnya? Ibu pake buat apa?". Tanya Mas Arya kaget.
"Ibu tadi pesan makanan online, makanan di rumah sakit gak enak. Udah cepatan mana uangnya". Jawabnya tetap kekeh meminta uang.
"Uang bulanan ibu masih ada kan? Baru beberapa hari yang lalu loh Arya kasih, pake dulu uang itu. Ujar Mas Arya kesal.
"Mana cukup uang segitu, kamu jangan perhitungan sama ibu". Cercanya.
"Itu lebih dari cukup ibu kalau ibu gak pake buat hal yang gak penting, yank pinjam uang kamu dulu dua ratus ribu, uang cash Mas habis". Ujar Mas Arya terpaksa memberikan uang pada ibu karena kami buru - buru mau ke tempat lain, aku pun mengambil uang dompet sesuai yang dimintanya.
"Ini Bu jangan gunakan untuk hal yang tidak penting, Arya pamit sudah buru - buru. Assalamu'alaikum". Pamit Mas Arya sambil meletakkan uang itu di atas meja lalu menarik tangan ku pelan keluar meninggalkan ruangan Rani.
"Aryaaa tunggu ini gak cukup, tambahin lagi". Teriak ibu mertuaku, tapi Mas Arya tetap jalan tidak memperdulikan teriakan ibunya.
Sesampainya di dalam mobil, Mas Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi agar kami cepat sampai di tempat tujuan kami berikutnya. Kami tidak sabar sampai di sana.
__ADS_1
Bersambung.