
Pov (Aisyah)
"Assalamu'alaikum, eh ada ibu toh. Kapan datangnya?". Tanya Mas Arya kaget melihat ibunya, dia segera menyium tangan beliau dengan takzim. Kemudian duduk di samping ibunya.
"Baru aja, kamu kok gak bilang - bilang kalau bikin acara? Pasti istri kamu yang larang undang ibu, dasar mantu gak tau diri". Ucap Ibu Mertuaku sinis.
"Aku udah telfon dan kirim pesan ke ibu tapi gak ada respon". Ujar Mas Arya.
"Ya kamu kan bisa jemput ibu, dasar gak peka". Ibu mertuaku mencebik.
"Iya maaf bu, soalnya tadi di sini sibuk banget". Ujar Mas Arya lagi.
"Ais makasih ya buat jamuannya, kami pamit ya. Makasih juga udah dikasih bungkusan". Ucap ibu - ibu yang tadi bersamaku.
"Iya sama - sama, justru aku yang terima kasih, ibu - ibu semua udah membantu". Jawabku.
Mereka lalu pamit pada Mas Arya dan Ibu mertuaku, tapi beliau malah membuang muka.
Setelah itu aku menghampiri suamiku dan duduk sebelahnya.
Ibu mertuaku dan Siska melihatku dengan sinis,
"Ngapain kamu disini, mending kamu beres - beres atau cuci piring sana. Ganggu aja". Ucap ibu mertuaku ketus.
"Semuanya sudah ada yang kerjakan Bu, kan ada suami aku juga di sini. Jadi gak ada salahnya aku ikut gabung di sini, benarkan Mas?". Jawabku mengapit lengan Mas Arya, sengaja aku lakuin itu biar ulat bulu di samping ibu mertuaku kepanasan
"Iya bener yank, kamu duduk sini temani Mas". Jawab Mas Arya mengelus kepalaku. Aku melirik ke arah Siska dan benar saja wajahnya terlihat kesal melihat kemesraanku dan Mas Arya.
"Lebay banget, gak tau malu bermesraan depan orang". Cibir Ibu Mertuaku. Aku dan Mas Arya tak menanggapinya, lagian yang kami lakukan gak berlebihan dan masih dalam batas wajar, kami juga pasangan halal.
"Oya yank ini Siska sekretaris baru Mas yang gantikan Lily. Siska ini Aisyah istri saya". Mas Arya memperkenalkan kami berdua.
"Kami tadi udah kenalan kok Mas, ya kan Siska? Ucapku sambil tersenyum ke arah ke Siska.
"Iya Pak tadi kami sudah kenalan, ternyata istri Pak Arya cantik sekali. Kalian dua pasangan serasi"
Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
Aku dan Mas Arya tersenyum mendengar pujiannya. 'Halah manis banget omongannya depan Mas Arya, lagi cari muka kayaknya'. Batinku.
"Makasih ya Siska, kamu juga gak kalah cantik. Oya kamu udah pacar atau sudah nikah?" Tanyaku.
"Saya masih lajang mbak". Jawabnya
"Saya doakan ya semoga kamu mendapatkan pasangan yang baik dan lajang juga. Dan yang terpenting bukan suami orang". Ucap menyindirnya sambil tersenyum manis.
Seketika muka Siska menjadi masam mendengar ucapanku. "Iya makasih Mbak". Jawab dengan senyum dipaksakan.
"Kok kamu bisa di sini sama ibuku?". Tanya Mas Arya pada Siska.
Siska terlihat kaget dan gelagapan mendengar pertanyaan Mas Arya. "Ehh... Tadi..
__ADS_1
"Tadi ibu yang minta diantar ke sini, kebetulan dia lagi ada di sekitar sini". Potong ibu Mertuaku.
"Iya bener Pak". Jawab Siska gugup.
"Oh gitu, oya gimana makanannya. Enak gak?" Tanya Mas Arya
"Ya lumayan sih, tapi yang paling enak yang ini. Tampilannya mirip rawon tapi ini pake tulangan. Ibu sama Siska sampe nambah, ntar bungkusin kita ya. Ibu mau bawain buat Rani". Jawab ibu Mertuaku, beliau terlihat menikmatinya begitupun dengan Siska.
"Kalau Ibu suka, nanti aku bisa masakin lagi". Ucapku.
"Maksudnya?" Tanya ibu mertuaku bingung.
"Itu sop itu namanya Sop Konro, aku yang masak bu". Jawabku
"Uhuukk". Ibu mertuaku dan Siska tersedak bersamaan mendengar ucaapnku.
"Kalian kenapa? Pelan - pelan makannya, ini minum dulu". Ucapku sambil memberi mereka berdua air minum kemasan. Dan segera diteguk oleh mereka.
"Kamu ya Ais kalau ngomong jangan ngasal, bikin tersedak aja". Ujar ibu Mertuaku ketus.
"Bener Bu, Aisyah yang masak. Itu makanan dari daerah asalnya Aisyah". Ucap Mas Arya.
"Oh, tapi gak enak - enak banget. Ibu udah kenyang". Ibu mertuaku berkilah dan menghentikan makannya padahal sepertinya beliau masih ingin makan tapi mungkin malu karena makanan yang tadi dia puji adalah masakanku.
Aku menahan tawa melihat tingkahnya.
Mereka pun selesai makan, ibu mertuaku terus melihat ke arah mangkok yang masih ada isinya.
"Iya kalau gitu saya pamit ya, makasih atas jamuannya". Ujar Siska kemudian menyalamiku dan bercipika - cipiki dengan ibu Mertuaku.
Mobil Siska pun berlalu meninggalkan kompleks kami. Tak lupa aku kasih dia bungkusan.
"Kalau gitu ibu juga mau pulang, gerah lama - lama di sini". Ucapnya melirikku sinis, aku membalas dengan senyuman.
"Ini Bu, udah aku bungkusin buat ibu dan Rani". Ujarku sambil memberikan bungkusan dan hendak menci*um tangannya. Tapi beliau langsung merampasnya bungkusan itu dan berlalu menghampiri Mas Arya yang sudah menunggunya di luar. Aku hanya mengelus dada atas sikap ibu mertuaku itu
***
Pov (Author)
Rani dalam perjalanan menggunakan taksi online menuju hotel tempat janjiannya dengan Bella.
Tidak berapa dia sampai di tempat tujuannya, setelah membayar ongkos taksi. Dia segera turun dan masuk ke dalam hotel.
Dia melangkah masuk dengan percaya, sekarang penampilannya dari atas sampai bawah branded semua tidak seperti Rani yang sebelumnya.
Bella sudah menunggunya di lobby hotel, mereka lalu naik lift menuju lantai dua. Setibanya di kamar nomor 090, Bella mengetuk pintu. Tidak berapa lama keluar seorang pria paruh baya yang tidak jauh beda penampilannya dengan Om Broto.
"Akhirnya datang juga, saya udah tidak tahan dari tadi nunggu kalian. Ayo silahkan masuk". Pria itu menyeringai mempersilahkan kedua wanita itu untuk masuk, tercium bau rokok yang sangat menyengat dari mulutnya.
Sesampainya di dalam kamar. Rani berbisik kepada Bella. 'Aku gak mau sama dia Mbak, apa gak ada klien yang lain? Setidaknya kayak om Ronald gitu, mulut dia bau banget. Aku mau muntah'. Keluh Rani.
__ADS_1
'Yang penting uangnya Ran, dia berani bayar kamu mahal. Lagian kamu tidak bisa pilih - pilih klien, itu sudah ada dalam kontrak. Udah gak usah banyak protes'. Ucap Bella berbisik juga.
Bella pun keluar meninggalkan Rani berdua bersama pria tua itu yang bernama Pak Robert.
Dia mendekati Rani yang duduk di pinggir ranjang. Rani risih mencoba menghindar setiap sentuhan yang di berikan Pak Robert.
"Nih minum dulu biar gak tegang". Pak Robert memberikan minuman kepada Rani. Dia menyeringai saat Rani menghabiskan minuman itu.
Tidak berapa lama Rani merasakan hal aneh pada dirinya.
"Kok aku ngerasa pusing ya Om? Hoaamm... Ngantuk juga". Ucap Rani sambil menguap. Ternyata minuman itu telah di beri obat tidur.
Pak Robert segera meraih tubuh Rani yang mulai terkulai. "Tidurlah cantik, Om akan beri kamu kenikmatan yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup kamu". Ujar Pak Robert dan mulai melepaskan semua pakaiannya, setelah itu dia membuka baju Rani hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun menutupinya.
Dia menelan ludah melihat tubuh Rani yang mulus, tanpa berlama - lama dia pun menyetu*buhi Rani yang sudah tidak sadar diri. Dia bergairah sekali karena kata Bella, Rani masih tersegel (pera*wan).
Setelah puas menikmati tubuh Rani, dia tersenyum puas melihat seprai yang ada bercak noda darah. Di organ intim Rani terdapat cairan putih miliknya.
'Ternyata benar dia masih perawan, tidak sia - sia saya bayar dia mahal. Semoga dia tidak hamil, saking naf*sunya saya sampai lupa pakai pengaman. Hehehe'. Gumam Pak Robert sambil terkekeh.
Dia lalu mengambil ponsel untuk mentransfer uang kepada seseorang. Setelahnya dia mengirim pesan ke orang tersebut yang tidak lain adalah Bella.
"Saya sudah transfer sisanya, ternyata benar dia masih pera*wan". Isi pesan dari Pak Robert lalu mengirimnya ke Bella.
'Terima kasih pak transferannya sudah masuk, saya tidak mungkin bohong sama Pak Robert'. Balas Bella.
Setelah itu Pak Robert pergi meninggalkan Rani yang masih tertidur tanpa busana.
Tidak berapa Bella datang untuk menemui Rani. Dia masuk menggunakan kunci kamar yang dititipkan oleh Pak Robert di resepsionis.
Setelah masuk dia melihat kondisi Rani yang berantakan, dia tengah menangisi kehormatannya yang telah direnggut oleh pria tua itu.
"Kenapa Mbak gak bilang kalau kepera*wanan aku akan direnggut oleh tua bangka itu. Aku gak sudi Mbak". Pekik Rani, dia merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Gak usah ditangisi, udah terjadi juga. Kamu mau menangis sampai air mata kamu kering juga percuma. Yang penting kamu dibayar mahal sama dia, coba sekarang liat saldo kamu". Jawab Bella acuh, dia tidak peduli dengan kondisi Rani yang penting dia dapat uang banyak.
Rani segera mengambil ponsel dan mengecek saldonya. Matanya membulat dan tangisannya berhenti, "lima ratus juta, ini beneran Mbak?". Tanya Rani tak percaya.
"Iya benaran, itu harga dari kepera*wan kamu. Mbak gak ambil sepersenpun, itu utuh buat aku". Jawab Bella berbohong padahal yang sebenarnya Pak Robert membayar seharga satu milyar yang sebelumnya sudah di DP tiga ratus juta ke rekening Bella.
"Banyak banget Mbak baru kali ini aku punya uang sebanyak ini". Ucap Rani masih tak percaya.
"Udah cepat bersihin badan kamu, terus kita pergi bersenang - senang. Gak usah mewek, lebih bagus kamu jual dengan harga mahal. Dari pada kasih ke suami kamu nantinya, ya kalau kamu dapat suami kaya. Kalau kere ya sama saja kamu yang rugi". Terang Bella.
Rani segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Dia agak susah berjalan dan merasakan nyeri di bagian kewanitaannya. Dia melihat tubuhnya di cermin, hampir di seluruh tubuhnya di penuhi tanda merah. Dia membersihkan dan menggosok tubuhnya dengan jijik kala membayangkan dirinya disetubuh oleh Pak Robert lelaki tua bangka.
Tidak berapa lama dia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian, dia dan Bella lalu cek out. Tujuan mereka sekarang bersenang - senang di club malam.
'Dasar gadis bodoh, harga kamu itu sebenarnya satu milyar. Tapi kamu cuma dapat setengahnya. Itu saja sudah terlalu banyak buat kamu'. Gumam Bella sinis menatap Rani.
Bersambung.
__ADS_1