Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 44


__ADS_3

Pov (Author)


"Maaf Mbak, aku terlambat?". Ucap Wulan dengan nafas ngos - ngosan.


Aisyah melihat jam di ponselnya, dia sudah terlambat hampir dua jam dari waktu masuk karyawan.


"Tadi aku ngurus adik aku yang lagi sakit Mbak". Ucapnya lagi karena Aisyah hanya diam saja sambil memperhatikan penampilannya. Dia sepertinya buru - buru ke sini, rambutnya yang tidak dirapikan serta bajunya tidak di kancing dengan benar.


"Untuk kali ini saya maafin, ini hari pertama kamu bekerja jadi beri kesan yang baik. Ya sudah kerjakan pekerjaan kamu dan benerin penampilan kamu". Ucap Aisyah menyuruh Wulan ke belakang karena tidak enak juga diliat oleh Lily dan pelanggan yang lain.


"Iya Mbak". Jawab Wulan lalu berlalu ke belakang.


Sepeninggalnya Wulan.


"Siapa itu Mbak?". Tanya Lily.


"Karyawan baru Mbak di bagian wash disher, ini hari dia pertama kerja". Jawab Aisyah.


"Hari pertama kerja udah telat, tapi Mbak kalau aku perhatikan ada yang lain sama perempuan itu". Ucap Lily dengan raut wajah serius.


"Ah masa sih, Mbak liat dia biasa - biasa aja gak ada yang aneh dengan dia, Mbak malah kasihan sama dia karena dia yatim piatu dan menjadi tulang punggung untuk dua adik yang masih kecil. Makanya Mbak terima dia di sini". Tutur Aisyah.


"Aku ini punya indera keenam loh, aura dia gak bagus. Mbak harus waspada sama dia". Ucap Lily lagi sambil memicingkan matanya.


Aisyah menahan tawa melihat muka Lily. "Haha,, ada - ada aja kamu, kayak dukun aja. Gak boleh suudzon gitu". Ujar Aisyah.


"Ih Mbak dibilangin, aura dia itu sama kayak si Siska". Ucap Lily mencebikkan bibir bawahnya.


"Oh iya Mbak jadi ingat gara - gara nyebut nama perempuan itu, gimana dia selama ini? Ada info baru gak?". Tanya Aisyah kali ini dengan nada serius.


"Hampir lupa aku, padahal aku kesini juga mau cerita tentang dia. Jadi gini dia itu sekarang penampilannya udah agak mendingan sejak ditegur sama Pak Arya tapi dia masih suka caper sama Pak Arya. Sebagai teman dan adik, aku saran sama Mbak harus hati - hati sama dia, karena aku udah gak bisa mantau dia lagi. Keliatan kalau dia orangnya nekat dan ambisius". Jawab Lily memperingati Aisyah, bukan tanpa alasan dia bicara begitu, karena selama ini dia selalu memperhatikan gerak - gerik Siska.

__ADS_1


Aisyah mengangguk mendengar ucapan Lily.


"Oya Mbak, aku pamit dulu soalnya masih ada urusan lagi. Makasih untuk makanannya". Ujar Lily setelah membayar, awalnya Aisyah bilang tidak perlu dibayar. Tapi Lily memaksa untuk tetap membayar semua pesanannya.


"Iya sama - sama, ntar cemilan, seblak instan dan baso aci pesanan kamu akan Mbak krim ke alamat kamu". Ucap Aisyah.


"Ok siap pamit". Ujarnya.


Tidak berapa lama taksi online pesanan Lily datang. Setelah Lily pulang, Aisyah masuk ke dalam untuk sholat Ashar.


***


"Akhirnya kamu datang juga, tolong lanjutin ya. Karena kamu datang terlambat jadi aku sementara gantiin pekerjaan kamu, lain kali jangan terlambat". Ucap Mila sedikit kesal kemudian melepaskan sarung tangan dan celemek yang dia kenakan dan menyerahkan ke Wulan, setelah itu dia kembali ke pekerjaan aslinya.


Wulan menatap sinis ke arah Wulan setelah dia berlalu. " Sama - sama babu aja belagu". Ucap Wulan lalu mengerjakan pekerjaannya. Dia terlihat ogah - ogahan.


***


Sementara itu.


Selama ini dia sudah belajar banyak dari Lily, walaupun baginya Lily menyebalkan tapi dia mengajarkannya dengan baik, dia berusaha menjadi lebih baik dari Lily agar Arya terkesan dengannya.


Sudah jam dua belas lewat, Siska berniat mengajak Arya untuk makan siang bersama. Dia pun beranjak dari meja kerjanya dan mengetuk pintu ruangan Arya.


Tok tok


"Masuk". Terdengar suara Arya dari dalam.


Siska bergegas masuk.


"Ada apa Siska?". Tanya Arya tanpa melihatnya, dia nampak sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


"Selamat siang Pak maaf mengganggu, ini udah jam dua belas lewat bagaimana kalau kita makan siang bareng di luar, aku tau tempat makan yang enak, pasti bapak suka". Ucap Siska percaya diri dengan suara yang manja.


"Kamu gak liat saya lagi sibuk, kalau kamu mau makan siang silahkan pergi sendiri, saya sudah bawa bekal buatan istri saya. Tolong jaga batasan kamu, saya bukan sodara atau teman kamu. Tidak usah sok akrab sama saya dan silahkan kamu keluar dari ruangan saya". Tegas Arya mengusir Siska.


Siska yang mendapat penolakan bergegas meninggalkan ruangan Arya tanpa berkata apapun dan menuju toilet kantor. Dia sangat sakit hati atas perlakuan atasannya itu.


Dia menatap penampilannya di cermin


"Arrgghh apa sih kurangnya gue? Gue cantik dan menarik tidak pernah ada pria yang menolak kecantikan gue, malah mereka yang ngejar - ngejar gue. Tapi kenapa Arya tidak tertarik sama gue sama sekali, jangankan menyukai gue berkata lembut dan melirik pun tidak. Apa bagusnya istri dia? Kenapa dia setia banget sama perempuan kampungan itu? Kalau dengan cara halus tidak bisa, jangan salahkan gue kalau gue gunakan cara kasar. Gue bakal buat Arya bertekuk lutut dan menjadi milik gue, bila perlu bakal gue singkiran istri sialannya". Ucap Siska dengan suara cukup keras, untung toilet tidak ada orang jadi tidak ada yang mendengarnya.


Setelah memperbaiki penampilannya, dia keluar dan menuju minimarket dekat kantor untuk membeli minum saja, dia sudah tidak berselera untuk makan. Dia sengaja tidak ke kantin kantor karena dia merasa tidak level makan di tempat seperti itu.


['Saatnya kita jalankan rencana kita']. Siska mengirim pesan ke seseorang, entah siapa. Dia terlihat menyinggungkan senyum sinis lalu kembali ke kantor.


"Hai Siska, kamu dari mana? Gak makan siang?" Tanya seorang pria yang termasuk karyawan di kantor itu juga saat bertemu Siska di depan lift.


"Gue gak laper". Jawab Siska ketus pada pria yang bernama Danu itu.


Merekapun bersama - sama menaiki lift bersama beberapa karyawan lainnya.


Danu terus memperhatikan Siska yang ada di sampingnya, dia sudah menyukai Siska sejak pertama kali bertemu wanita itu di kantor. Tapi Siska cuek padanya bahkan tidak menganggapnya ada. Sebenarnya Danu mempunyai paras yang cukup tampan tapi dia hanya karwayan biasa mungkin itu yang membuat Siska acuh tak acuh padanya.


Tidak lama satu persatu karyawan keluar dari lift menyisakan Siska dan Danu saja. Hanya ada keheningan hingga pintu lift kembali terbuka dan Siska pun keluar, begitupun dengan Danu yang ikut keluar.


Sebenarnya tempat kerja Danu bukan di lantai yang sama dengan Siska tapi karena terbius oleh kecantikan Siska, dia tidak sadar malah mengikuti Siska.


Siska yang sadar diikuti oleh Danu pun berbalik menatap sinis ke arah Danu.


"Ngapain lo ngikutin gue? Tempat kerja lo kan bukan di sini". Ucap Siska masih dengan tatapan sinisnya.


Danu yang menyadari kesalahannya pun berkilah. "Aaaa.. Aku gak ngikutin kamu kok, tadi aku lagi main game sampai gak sadar sampai sini". Jawab Danu gugup sambil memperlihatkan ponselnya, untung tadi dia sempat main game di kantin dan belum sempat keluar dari gamenya. Kemudian dia buru - buru meninggalkan Siska dan kembali masuk ke dalam lift.

__ADS_1


'Ganteng juga sih tapi sayang kere. Hmm.. tapi kayaknya gue bisa manfaatin dia, keliatan banget dia naksir sama gue'. Gumam Siska sambil memikirkan rencana licik lainnya.


Bersambung.


__ADS_2