
Pov (Aisyah)
"Astagfirullahalahadzim". Aku terbangun sambil mengelus dadaku. Keringatku mengucur deras.
"Alhamdulillah hanya mimpi". Gumamku
Tapi mimpi itu begitu nyata, dalam mimpi itu aku berada di tempat asing seperti hutan yang sangat gelap, mungkin sudah malam tapi tidak ada cahaya bulan sekalipun yang menerangi, hanya terdengar suara hewan malam. Aku berjalan mencari jalan keluar dari hutan itu, tiba - tiba dari kejauhan aku melihat sebuah cahaya. Aku berjalan menuju cahaya itu, tapi aku sudah berjalan cukup jauh tapi belum sampai juga di cahaya itu berada. Hingga aku melihat seorang pria yang mirip dengan Mas Arya, aku memanggilnya tapi dia malah berlari meninggalkan ku. Aku pun mengejarnya tapi langkahku terhenti karena di depanku ada tebing yang dalam dan sosok yang seperti Mas Arya itu menghilang entah kemana.
Aku melihat sekelilingku dan berteriak memanggil nama suamiku. Tiba - tiba ada yang mendorongku dari belakang, untung aku berpegangan pada ranting pohon. Meskipun gelap , aneh nya dari atas tebing aku bisa melihat Mas Arya menatapku dengan tatapan datar, aku meminta pertolongan padanya tapi dia hanya diam. Dari belakangnya muncul seorang wanita yang mirip dengan Siska sambil menggendong bayi yang masih berlumuran da*rah. Refleks aku memegang perutku dengan tanganku yang satunya tapi perutku sudah rata.
"Kembalikan anakku wanita penggoda, Mas ambil anak kita dari wanita jahat itu". Teriakku.
Tapi Mas Arya hanya diam tidak bergeming, Siska menyeringai menatapku, sedangkan bayi di gendongannya menangis kencang. Aku juga ikut menangis, aku yakin itu anakku. Mereka lalu meninggalkan aku sendiri tergantung di jurang itu. Tapi sebelum pergi, aku melihat Mas Arya meneteskan air mata. Aku terus berteriak memanggilnya. Aku berusaha naik tapi tidak bisa, tiba - tiba ranting itu patah dan aku terjatuh ke dalam jurang.
Aku terbangun karena mendengar suara almarhumah Emmaku memanggil namaku, aku lihat jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi. Aku lihat Mas Arya masih terlelap, seolah tidak terganggu dengan teriakanku.
"Allahumma inni a'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi - atil ahlam". Aku teringat doa yang diajarkan almarhumah Emma ketika aku mimpi buruk sewaktu kecil.
Bergegas aku bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu aku menunaikan sholat tahajud. Sesuai sholat, aku membaca berdzikir dan ayat kursi. Tiba - tiba Mas Arya berteriak, aku menghentikan bacaanku.
Mas Arya terbangun dan menatapku dengan tajam. "Hentikan bacaanmu". Teriaknya.
Aku ngambil ponsel yang tadi pakai untuk membaca Al - Qur'an. Aku mencari nomor emak Salamah dan menghubunginya, belum sempat terhubung, Mas Arya menyerangku dan mencekik leherku. Aku berusaha melepaskan cengkramanya tapi tenaganyabterlalu kuat. Aku mencoba membaca segala macam doa yang ku tau. Tapi nafasku tercekat, aku hanya bisa menitikkan air mata
"Aku ku bu*nuh kau perempuan sialan, kau harus ma*ti agar tugasku selesai". Bentak Mas Arya, tapi suaranya bukan suara Mas Arya. Dia bukan suamiku, pasti ada kekuatan jahat yang menguasainya. Aku berusaha meraih barang apapun yang bisa ku raih, sambil terus membaca doa dalam hati.
Entahlah kekuatan dari mana, aku bisa merenggangkan cengkeraman tangan Mas Arya di leherku dan ku pukul kepalanya dengan vas bunga. Tangannya terlepas dari leherku sambil memegang kepalanya, aku pun segera berlari dan membuka pintu kamar dan berlari keluar. Ternyata di diluar pagar ada Emak dan Babe, sialnya aku lupa mengambil kunci pagar di atas meja.
Emak dan Babe bertanya yang terjadi tapi sebelum aku menjawab pertanyaan mereka, Mas Arya keluar dengan kepala yang berdarah dan di tangannya memegang pisau dapur sambil menyeringai ke arah. Aku panik melihatnya, begitupun juga dengan Emak dan Babe.
__ADS_1
"Mas sadar aku Aisyah istri kamu Mas". Teriakku berusaha menyadarkannya.
"Kau harus mati, agar tuan ku puas. Hahaha..." Setan dari tubuh Mas Arya tawa yang melengking.
"Astagfirullahalahadzim sadar Nak". Teriak Emak, Babe terlihat menelfon seseorang, entah siapa yang beliau hubungi. Mungkin meminta bantuan.
Aku tersudut di pagar, jarakku dan Mas Arya sekitar tiga atau empat meteran, dia masih berdiri di depan pintu dengan menyeringai.
Benar saja tidak berapa lama, bantuan datang yaitu beberapa orang bapak - bapak, mungkin mereka yang sedang ronda.
"Itu Pak Ustadz, tolong anak saya". Ucap Babe kuatir, ternyata beliau memanggilbpak Ustadz juga
"Pake ini kita panjat buat masuk ke dalam, sepertinya Pak Arya kesurupan". Ucap seorang bapak, dia membawa tangga. Pak Ustadz membaca ayat - ayat suci yang membuat Mas Arya berteriak tapi kemudian dia mengikuti bacaan Pak Ustadz sambil tertawa.
"Dasar manusia - manusia bodoh, kalian tidak akan bisa melawanku karena orang yang menginginkan nyawa wanita itu sudah menyerahkan jiwanya pada tuanku". Ujarnya sambil terkekeh.
Tiba - tiba Mas Arya seperti berkelahi dengan sesuatu yang kasat mata, hingga tubuhnya terpelanting ke tanah tak sadar diri. Lalu terdengar ledakan disertai asap hitam dan bau busuk yang menyengat. Pak ustadz terlihat mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Alhamdulillah". Ucap Pak Ustadz, beliau lalu berdiri mendekati Mas Arya dan meminta para bapak - bapak untuk mengangkat tubuh Mas Arya ke dalam. Aku pun bergegas mengambil kunci pagar dan membukanya.
Emak langsung memelukku, ternyata ada Mbak Ningsih juga. Aku menangis memeluk Emak. Kemudian beliau membimbingku masuk ke dalam untuk melihat keadaan Mas Arya.
"Gimana keadaan suami saya Pak Ustadz?" Tanyaku kuatir.
"Alhamdulillah atas bantuan Allah SWT, iblis yang merasuki Pak Arya sudah menghilang, ada yang ingin berniat buruk sama Pak Arya dan Bu Aisyah". Terang Pak Ustadz.
"Siapa yang melakukannya Pak Ustadz?" Tanya Babe.
"Untuk siapa yang melakukannya, itu di luar kemampuan saya tapi makhluk kirimannya sudah kembali ke orang yang mengirimnya dan sekarang dia lagi menerima akibat dari perbuatannya". Ucap Pak Ustadz lagi.
__ADS_1
Setelah berbincang cukup lama, Pak Ustadz pamit pulang karena sedikit lagi sholat subuh. Sebelumnya pulang beliau memberikan aku air yang sudah dibacakan doa untuk diminumkan ke Mas Arya setelah dia bangun. Beliau juga memberikan amalan - amalan untuk menangkal sihir dan gangguan setan serta sebangsanya.
Para bapak - bapak juga pamit, tinggal Emak dan Babe, serta Mbak dan Pak Rahmat yang tinggal untuk menemaniku. Tiba waktu sholat subuh, kami semua melakukan sholat berjamaah dipimpin oleh Babe sebagai imam. Mas Arya masih belum sadar.
Menjelang pagi, Babe pamit mau ke Empang sebentar, Pak Rahmat mau mengajar, dan Mbak Ningsih harus ke tempat produksi. Tinggal Emak yang menemaniku menunggui Mas Arya, dia sudah dipindahkan ke dalam kamar kami. Luka di kepalanya juga sudah ku obati, untung lukanya tidak dalam dan sampai robek jadi tidak perlu di jahit.
Emak membuatkan ku teh jahe dan membawa kue brownies yang ada dalam kulkas. Aku awalnya menolak tapi Emak mengingatkan kalau aku sedang hamil. Aku harus memikirkan kandunganku juga.
Tidak berapa lama Mas Arya sadar, aku segera mengambil air dari Pak Ustadz dan meminumkan kepada Mas Arya, sebelumnya aku menyuruh untuk membaca bismillah.
Mas Arya meringis sambil memegang kepalanya yang diperban. Dia bertanya apa yang terjadi padanya. Emak meninggalkan kami berdua di dalam kamar, Mbok Darmi juga sudah datang. Aku pun menjelaskan semua yang terjadi pada Mas Arya, termasuk tentang mimpiku. Dan aku baru tau kalau Mas Arya juga mengalami mimpi yang hampir sama denganku.
Dia pun menangis dan memelukku erat karena sempat ingin mencelakaiku, aku memaafkannya karena aku tau ada yang mengendalikannya. Aku juga memberi tahukan tentang kemesraannya dengan Siska. Mas Arya terlihat kaget dan tidak ingat pernah bermesraan dengan wanita itu.
Kami berdua pun menarik kesimpulan kalau semua kejadian ini ada campur tangan Siska tapi kami belum punya bukti apapun untuk menjeratnya dengan hukum.
Untuk sementara Mas Arya izin tidak masuk kerja samping kondisinya membaik.
***
Sementara itu di tempat lain
Seorang wanita sedang merapalkan mantra sambil membakar kemenyan dan memegang foto Arya. Namun tiba - tiba ada ledakan dan wanita itu terhempas tak sadarkan diri.
Orangtuanya pun segera membawanya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.
Benar kata Pak Ustadz, kekuatan jahat yang ingin mencelakai Arya dan Aisyah telah balik menyerang pengirimannya. Mungkin ini yang di bilang karma dibalas instan. Apa yang kamu tabur itu juga yang kamu tuai.
Bersambung.
__ADS_1