
Pov (Aisyah)
Keesokan harinya aku, emak serta ibu - ibu jalur satu sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Bu RT yanga ada di jalur empat menggunakan dua mobil milik Emak.
Sedangkan Mas Arya sudah pergi ke Empang sejak pagi.
Aku satu mobil dengan Emak, Mbak Ningsih, Mpok Sarah, Bu Surti, Bu Ani dan Mbok Minah. Yang disupiri oleh Mang Agus.
"Ais liat deh kulit aku udah cerahan dan halus kan? Aku rutin pake lulur dari kamu". Ujar Bu Surti yang duduk di sebelahku sambil perlihatkan kulitnya padaku
"Emang lu aja, gua juga nih liat". Sambung Mpok Sarah gak mau kalah.
"Alhamdulillah kalau kalian cocok pakai lulur dari saya". Jawabku tersenyum.
"Masih ada gak lulurnya? Aku punya tinggal setengah". Tanya Bu Ani.
"Iya sama aku juga tinggal dikit, soalnya tiap hari aku pake". Tutur Mbak Ningsih.
"Hmm.. Di rumah hanya tersisa lima pot lagi". Jawabku.
Emak yang duduk di depan, menengok ke belakang mendengar obrolan kami.
"Kapan kamu buat lagi? emak juga mau kirimin ke Fitri. Kemarin emak cerita sama dia soal lulur itu. Dia juga mau kan kalian satu kampung makanya dia juga tau soal lulur itu". Ucap emak.
"Sebenarnya Minggu ini aku mau buatnya tapi tertunda karena ada pengajian. Insyaallah Minggu depan akan ku buat". Jawabku lagi.
Tidak butuh waktu lama kamipun sampai di rumah Bu RT yang sudah ramai dengan para undangan pengajian.
Kami pun segera turun, disusul dengan ibu - ibu di mobil emak yang satu. Kami semua masuk bersamaan ke dalam.
Aku yang baru pertama kali ke rumah Bu RT merasa takjub. Rumah tingkat dua bercat putih gold serta mempunyai halaman yang luas, terdapat kolam ikan yang huni oleh ikan koi yang lumayan banyak dan cukup besar. Terdapat juga pohon mangga dan pohon rambutan yang rimbun dan berbuah banyak .
Interior dalam rumah tidak kalah membuat tercengang dengan nuansa putih dan gold juga, lantai marmer berwarna putih. Terdapat beberapa guci dengan ukuran besar, lampu gantung yang mewah.
Aku yang masih takjub melihat kemewahan di rumah ini dikagetkan oleh sapaan dari yang punya rumah yaitu Bu RT.
Segera ku raih uluran tangan beliau dan menci*um takzim.
Kemudian beliau mengajak kami ke ruang tengah untuk bergabung dengan undangan yang lain.
Kami di persilahkan duduk dan menikmati suguhan kue - kue yang sudah disiapkan. Lalu beliau pamit untuk menyambut para tamu yang lainnya.
Bu Surti dan Mpok Sarah nampak sibuk berselfi ria, tidak lupa mengajak aku dan lain untuk berfoto.
Sangat tengah asik bercengkrama dengan yang lain, tiba - tiba ada yang menendang belakang ku.
"Aduhhhh". Rintihku pelan karena tendangannya cukup kuat. Aku menoleh ke belakang.
Emak dan Mbak Ningsih menengok ke arah karena mereka ada di dekatku jadi mereka bisa mendengar rintihanku.
Ternyata yang menendang adalah Mpok Eli. Dia menatapku dengan senyum sinis.
__ADS_1
"Oh Aisyah toh maaf ya gua kagak sengaja, soalnya tadi lagi ngobrol terus keinjak gamis gua sendiri". Ucapnya meminta maaf tapi terkesan di buat - buat.
"Iya gpp Mpok". Jawabku masih menahan sakit.
"Lain kali hati - hati kalau jalannya, mata dipake". Tegur Emak terlihat kesal.
"Iya, iya kan gua kagak sengaja, gua juga udah minta maaf Bu Hajjah, lagian Aisyah juga kagak kenapa - napa". Ujar membela diri dan berlalu dengan kedua temannya sambil cekikikan, kemudian duduk tidak jauh dari kami. Sesekali melirik ke arahku.
Emak dan Mbak Ningsih mengelus punggungku.
Acarapun di mulai setelah Pak Ustadz telah datang. Kami mendengarkan ceramah yang diberikan dengan khidmat hingga selesai.
Seusai ceramah dari Pak ustadz, Bu RT selaku tuan rumah mempersilahkan kami untuk menyantap makanan yang sudah disediakan di atas meja. Terdapat tiga meja dengan menu yang berbeda - beda. Aku, Emak dan Mbok Minah mengantri meja yang menyajikan bakso.
Sedangkan Mbak Ningsih, Bu Ani, Mpok Sarah dan Bu Surti mengantri meja yang menghidangkan rendang.
Setelah mengambil makanan, kami kembali ke tempat duduk kami semula.
Tenyata Mpok Eli dan kedua temannya pindah duduk di dekat kami, nampak piring mereka sangat penuh dengan makanan.
Tidak lama kemudian Mbak Ningsih dan lain ikut bergabung.
Bu RT pun mendatangi kami lalu duduk di samping Emak.
"Aisyah kenapa sih Mertua kamu gak pernah ikut pengajian?". Tanya Bu RT.
Aku yang mendapat pertanyaan itu jadi bingung mau jawab apa.
"Hmm. Iya iya. Oya maaf sebelumnya kamu udah isi belum? Lagi nunda ya?" Tanya Bu RT lagi.
"Belum dikasih aja sama Allah". Jawabku.
"Alah bilang aja kalau mandul, masa udah mau tiga tahun nikah kagak hamil - hamil, anak gua si Atun baru nikah lima bulan udah punya anak". Celetuk Mpok Eli.
Ya Allah dia ngomong gitu sama aja bongkar aib sendiri. Itu namanya hamil duluan.
"Eh Eli jaga tuh mulut lu kagak diajak ngomong. Masih mending belum hamil dari pada belum nikah tapi udah isi duluan". Balas Mpok Sarah.
"Lu nyinggung gua dan anak gua ya? Dasar stres. Cari masalah lu sama gua". Mpok Eli berdiri sambil berkacak pinggang.
"Lu itu yang mulut comberan, suka banget nyinyir orang, giliran dinyinyirin balik malah kagak terima". Jawab Mpok Sarah gak mau kalah
Byurrr..
Mpok Sarah menyiram air ke Mpok Eli hingga muka dan gamisnya basah, aku yang berada di dekatnya terkena cipratan sedikit.
Kami tak menyangka dengan yang dilakukan Mpok Sarah.
"Ahh.. kurang aja lu Sarah, sini lu". Teriak Mpok Eli siap menyerah Mpok Sarah.
"DIAMMMMM"
__ADS_1
Teriak Bu RT berdiri dengan muka emosi, Mpok Eli dan Mpok Sarah diam tak berkutik.
"Kalian ini bikin malu saja, kalian tidak menghormati saya dan yang lain disini". Ucap Bu RT menahan emosi.
"Kalian sudah tua tapi kelakuan macam bocah. Kamu Eli, tidak usah ikut campur yang bukan urusan kamu apalagi sampai menyinggung perasaan orang. Dan kamu Sarah, harusnya bisa mengontrol emosi kamu, jangan main kekerasan kayak tadi". Bu RT menasehati mereka berdua.
Emak lalu ikut berdiri menenangkan Bu RT. Kemudian mengajaknya duduk. Mpok Eli dan Mpok Sarah juga ikut duduk.
"Aku minta maaf ya Bu". Ucapku sambil memegang tangan Bu RT.
"Bukan salah kamu Ais, mereka berdua saja yang kekanak - kanakan". Jawab RT sudah mulai tenang.
Ibu - ibu yang pada bisik - bisik dan melihat ke arah kami.
Mungkin karena mendengar keributan Pak RT yang tadi mengantarkan Pak Ustadz ke depan, bergegas masuk ke dalam.
"Ada apa ini Bu?". Ucapnya keheranan.
"Gak ada apa - apa". Jawabnya.
Aku yang sudah merasa suasana sudah tidak baik, mengajak Emak pulang.
Setelah berpamitan, kami segera keluar menuju mobil Emak. Mpok Eli sudah pulang duluan bersama kedua temannya dengan keadaan gamis yang basah. Sebelum keluar dia sempat menatap tajam kepadaku, aku yang ditatap seperti itu segera memalingkan pandanganku.
Kamipun sampai di depan rumah, setelah pamit pulang ke rumah masing - masing. Aku sempat meminta maaf kepada mereka semua.
Sesampainya di rumah ada motor dan sendal Mas Arya yang berarti dia sudah ada di rumah. Aku pun masuk ke rumah dan mengunci pintu, lalu masuk ke kamar.
Ceklek
Mas Arya sedang duduk di depan laptop sambil mengetik sesuatu.
"Assalamualaikum Mas".
"Wa'alaikum salam yank, gimana tadi pengajian?". Tanya tapi pandangannya masih di laptop.
"Lancar". Jawabku singkat lalu duduk di tepi ranjang
Dia pun menghentikan pekerjaan lalu menghampiriku.
"Kamu kenapa yank, kok baru pulang mukanya cemberut gitu". Tanya nya.
Akupun menjelaskan secara singkat kejadian tadi.
Dia hanya manggut - manggut mendengar ceritaku. Kemudian dia memeriksa punggungku ternyata sedikit kemerahan lalu dia membaluri dengan minyak.
"Ya udah gak usah dipikirin, insyallah kita segera di beri kepercayaan sama Allah, lebih sekarang kamu istirahat. Mas mau lanjutin pekerjaan Mas dulu". Ucapnya kemudian mengecup keningku.
Aku pun berganti pakaian dan beristirahat sejenak.
Bersambung.
__ADS_1