
Pov (Aisyah)
Keesokan harinya.
Hari ini aku bangun tidur tanpa beban dan badan yang segar, selain tidur di kasur yang empuk, tidak ada lagi teriakan dan makian, aku juga bisa punya waktu istirahat yang cukup.
Sehabis sholat, aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, rencana aku mau masak nasi goreng saja.
Sesampainya di dapur aku takjub melihat interiornya. Desain kitchen setnya mewah dan tentu serba warna lilac, tapi ini nyalain kompornya gimana. Soalnya beda dengan punya ibu mertuaku.
Aku buka tiap lacinya, ternyata peralatan masaknya lumayan lengkap. Ada beberapa tu*pperwa*re juga. Kulkasnya besar banget, ketika kubuka pintu kulkasnya, isinya yang penuh dengan bahan makanan. Ada daging, ayam, ikan dan juga Frozen food. Ada juga sayuran dan buah - buahan. Kayaknya punya Fitri lupa dikeluarin. Nanti aku bawa ke rumah Bu Hajjah aja.
'Nanti aku tanya aja Mas Arya cara nyalain kompor, aku takut gunainnya ntar malah rusak lagi. Lebih baik aku ke kamar aja nyiapin seragam kerjanya Mas Arya'. Gumamku menuju kamar.
"Assalamualaikum". Salam Mas Arya sehabis pulang dari Masjid.
"Wa'alaikum salam, kok baru balik Mas?" Tanyaku lalu menci*um tangannya.
"Iya tadi habis sholat, Babe ngajak ngobrol sama bapak - bapak jalur sini, sekalian kenalan. Alhamdulillah respon mereka semua baik. Tadi Babe juga bilang kalau nanti Emak mau ngajak kamu ikut pengajian, sekalian pengenalan juga". Besok kan mas libur, nanti kita pergi beli baju buat kamu sekalian jalan - jalan". Ujarnya
"Mas tau aja istrinya gak punya baru dan bagus, gak mungkin kan aku pergi pengajian pakai daster". Ucapku sambil tersenyum.
"Oya Mas, aku tadi masak tapi kompornya beda dengan di rumah ibu, kompornya nempel di meja. Mana dapurnya bagus banget, aku mau masak gak berani, takut rusak. Itu juga di kulkas banyak banget bahan makanan, kayaknya Fitri lupa di keluarin. Ntar aku telfon dia aja". Kataku lagi.
"Oh kompor tanam, itu cara nyalain sama aja yank kayak kompor gas pada umumnya. Knop yang ditekan terus diputar, tinggal sesuaikan aja besar api". Ujarnya menjelaskan
"Hmm.. Gitu ya, ok aku ngerti sekarang ngerti cara gunainnya". Ucapku sambil mengangguk tanda mengerti.
"Ya udah kalau gitu Mas berangkat kerja dulu ya, baik - baik di rumah, jangan lupa pintunya dikunci. Assalamualaikum." Pamitnya dan berlalu menggunakan motornya.
"Iya mas hati - hati, Wa'alaikum salam". Jawabku sambil menci*um tangannya.
'Astaga aku lupa, minta izin Mas Arya kalau aku mau ke bank. Ya udah ntar aku chat aja'. Gumamku menepuk jidatku.
Setelah memastikan pagar dan pintu terkunci, aku kembali ke kamar, aku berniat menghubungi Fitri.
Tut.. Tut..
__ADS_1
"Hallo assalamualaikum, kenapa Ais, masih pagi ini eh". Terdengar suara parau Fitri di seberang seperti baru bangun.
"Wa'alaikum salam, baru bangun kah ko? Maaf nah kalau mengganggu." Jawabku tak enak.
"Nda apa - apa ji, cuma heran saja kenapa pagi - pagi ko telfon".
"Saya mau tanya itu kulkasmu penuh isinya, biar saja didalam situ, atau saya kasih ke mertuamu?" Tanyaku.
"Biarmi disitu, sengaja memang diisi sama Emak, karena dia tau ko pasti belum belanja. Memang itu buat ko itu". Jawabnya.
"Ih merepotkan sekali eh, nda enak saya sama Emak, sudah terlalu banyak bantuannya. Itu lagi babe mau bikinkan saya lapak jualan".
"Ini lagi dapurmu bagus sekali, saya jadi takut mau pakai masak, takut saya kasih rusak". Ujarku.
'Hahaha. Pakai saja yang penting jangan ko kasih meledak'. Terima saja karena itu sudah jadi rejekimu, nda baik tolak rejeki. Itu saja kah mau ko tanya, mau ka lanjut tidur, dingin sekali di sini, bikin mau tidur terus". Ucap Fitri sambil tertawa.
"Kita serius, dia malah bercanda, Iyo palle tidur mi, selamat beristirahat ibu Irfan. Assalamualaikum". Kataku kemudian menutup panggilan.
"Wa'alaikum salam".
Untuk usahaku nanti aku berencana mau buka warmindo tapi dengan konsep kekinian jadi bisa buat tempat nongkrong juga. Depan rumah ada lapangan, kemarin saat pertama kali kesini, aku liat banyak anak - anak bermain disitu. Jadi aku punya ide buat menjual jajanan buat anak - anak juga. Jadi rumah ini berada di jalur paling depan dan di seberangnya ada lapangan. Nanti aku diskusikan lagi sama Mas Arya.
Aku liat jam di ponselku udah jam sembilan lewat, lebih baik sekarang aku mandi supaya gak kesiangan ke banknya. Kalau udah siang biasa ngantrinya panjang. Akupun bergegas mandi. Setelah selesai aku gunakan atasan lengan panjang oversiz dipadukan dengan celana kulot dan pasmina instan. Tak lupa memakai liptint, lalu aku ambil tas kecilku dan aku masukkan dompet dan ponselku.
'Mas, aku mau ke bank buat bikin tabungan,ini udah mau jalan, ntar aku naik ojol aja?'. Aku mengirim pesan kepada suamiku dan tercentang dua.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Bunyi suara bel diluar pagar.
'Siapa ya yang bertamu pagi - pagi gini?'
Aku bergegas keluar untuk melihat sapa yang memencet bel.
__ADS_1
"Assalamualaikum nak, ini Emak". Ternyata Emak yang datang.
"Wa'alaikum salam. Bentar emak, aku bukain pagar." Jawabku sambil membuka kunci pagar.
"Kamu mau mau kemana nak udah rapi gini?". Tanya beliau melihat penampilanku.
"Aku mau ke bank Mak, mau bikin tabungan baru. Dikit lagi jalan mau pesan ojol dulu". Jawabku.
"Emak ikut ya, bosan juga dirumah. Gak usah pake ojol, naik motor emak aja. Kamu bisa bawa motor kan? Soalnya emak suka kram tangannya kalau bawa motor". Ujar emak
"Bisa sih emak, tapi udah lama gak bawa motor lagi, takut kaku aku ntar". Jawab ragu.
"Udah bawa pelan - pelan aja, badan emak juga gak gede - gede, kita kan sebelas dua belas bodynya. Ya udah ayo ke rumah emak". Ajak emak.
"Sabar Mak, aku kunci pintu dan pagar dulu". Ujarku kemudian mengunci pintu dan pagar, lalu menyusul emak kerumah beliau.
***
Sesampainya di bank, dilayar antrian cs udah nomor ketiga dan aku dapat nomor antrian kelima. Aku celingak - celinguk nyari sisi suamiku tapi tidak ku temukan sosoknya, kemana ya dia? Sambil nunggu antrian, aku ngobrol dengan emak. Tidak berapa lama kini giliran ku yang menghadap cs, akupun mengutarakan niatku untuk membuat tabungan baru. Setelah melewati beberapa prosuder, akhirnya selesai juga.
Sampai aku keluar dari bank, tidak keliatan juga Mas Arya. Emakpun heran melihatku seperti orang kebingungan.
"Kamu nyari siapa sih Ais? Dari dari emak perhatiin gelisah banget". Tanya emak
"Aku cari Mas Arya Mak, kok gak ada ya?" Jawabku.
"Oh suami kamu kerja disini. Hmm, mungkin lagi urusan keluar itu ngantar pegawai bank ngisi uang di ATM, entahlah namanya apa". Ujar emak.
"Mungkin juga ya Mak. Oya kita mau langsung pulang atau emak mau mampir kemana gitu?" Tanyaku.
"Kita singgah makan soto yuk, emak lagi kepengen makan soto. Kamu mau gak?
"Aku ngikut aja mak". Ucapku sambil ngeluarin motor.
Setelah sampai di warung soto, ternyata lagi ramai. Akhirnya kami bungkus saja. Aku berniat membayar pesananku tapi udah diduluan dibayarin sama emak. Kamipun pulang kerumah. Selama tadi jalan dan ngobrol dengan emak, kau merasa nyaman dan gak canggung lain. Emak orangnya ramah, penyayang, lemah lembut, kadang - kadang suka ngelucu juga. Pokoknya beruntung banget Fitri punya menantu seperti beliau.
Bersambung.
__ADS_1