Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 26


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Aku hanya tersenyum melihat dua wanita beda usia di hadapanku. Aku tau mereka sedang merencanakan sesuatu untuk menyerangku.


"Ibu dan Rani ada apa kesini?". Tanya Mas Arya.


"Emang kami gak boleh kesini, inikan rumah anak ibu, suka - suka lah kalau kami mau ngapain aja kesini?". Jawab Ibunya ketus.


"Lagian ini juga lapak punya Mas, jadi sah - sah aja kalau kami makan gratis di sini." Sambung Rani penuh penekanan sambil melirik ke arahku.


"Bukan begitu Bu, siapa tau ibu dan Rani ada keperluan lain ke sini". Ucap suamiku.


"Ya udah mana menunya kami mau pesan". Seru ibu mertuaku.


Aku memberi kode kepada Mila untuk mengambilkan menu.


Mereka memesan makanan dan minuman lumayan banyak, suamiku terlihat heran dengan pesanan mereka.


Akupun segera membuat pesanan mereka.


Setelah semua sudah tersaji di hadapan mereka. Bak orang kelaparan mereka segera menyantapnya. Suamiku sampai di buat melongo. Aku kembali menyinggungkan senyum melihat kelakuan mereka.


 'Ibu, Ran. Pelan - pelan makannya. Pelanggan lain pada liatin kesini'.  Tegur suamiku setengah berbisik.


Tapi mereka tidak memperdulikan sama sekali. Aku liat suamiku salah tingkah dan menahan malu dengan perilaku ibu dan adiknya.


Pengunjung yang lain merasa risih melihat cara mereka makan.


Tidak lama terdengar bunyi sendawa dari mereka berdua, menu yang ada di atas meja ludes dalam sekejap.


Sepertinya langsung ditelan tanpa dikunyah.


Terlihat Rani menyenggol lengan ibunya. Wajah ibu mertuaku terlihat serius.


"Jadi maksud kedatangan kami kesini untuk.."


"Assalamualaikum". Salam emak yang tiba - tiba muncul.


"Wa'alaikum salam". Jawabku


Aku dan Mas Arya lalu menghampiri emak dan menci*um tangannya.


"Ibu dan Rani pamit dulu ya". Tiba - tiba saja ibu mertuaku ingin segera pulang, wajahnya terlihat tegang melihat emak.


"Loh bukannya tadi ada yang mau ibu sampaikan?". Tanya suamiku.


"Bukan apa - apa kok, ibu keingat kalau masih ada urusan lain". Jawabnya gugup.


"Tapi bu kita kan belum..." Ujar Rani terpotong.


"Udah ayo cepatan". Tarik ibu Mertuaku.


"Eh ada lu Mae, kok buru - buru bener. Ayo ngobrol dulu kita kan udah lama kagak ketemu". Cakap emak.


Ibu tidak menggubris ucapan emak, dan menarik tangan Rani untuk segera pergi. Terlihat Rani enggan beranjak tapi karena tarikan dari ibunya, terpaksa dia ikut pulang.


Mereka pun pergi meninggalkan lapak. Mas Arya bingung melihat kepergian ibunya dan Rani yang terlihat buru - buru.


Kemudian Mas Arya pamit masuk ke dalam.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu". Ajakku.


"Gak usah di sini aja, emak cuma mau sampaikan kalau besok ada pengajian di rumahnya Bu RT, kamu ikut ya. Nanti pergi nya rame - rame sama ibu - ibu jalur sini, kita perginya habis ashar". Ucap emak.


"Ok siap emak, ntar kabari aja". Ujarku


Emak pun pamit pulang dan aku kembali ke lapak.


***


Pov (Author)


     Rani dan ibu May sudah sampai di rumah. Rani terlihat jengkel karena niat untuk melabrak Aisyah tidak terealisasikan. Dia juga jengkel pada ibunya karena tiba - tiba saja mengajaknya pulang.


Dia duduk di sofa dengan wajah tertekuk.


"Ran ambilin ibu air minum". Perintah Bu May ikut duduk di sofa.


Rani hanya diam tak bergeming, karena masih kesal dengan ibunya.


Bugh


Bu May melempar bantal sofa ke arah Rani. Dia tetap diam dan tak mengelak.


"Kamu itu disuruh malah diam aja, kenapa juga muka kamu cemberut kayak gitu?". Tanya Bu May heran.


"Ibu pikir aja sendiri". Jawab Rani ketus.


"Bocah gemblung, ditanyain baik - baik malah jawabnya kayak gitu. Mau berani ngelawan ibu?". Hardik Bu May.


"Ya habisnya tadi ibu kenapa maksa aku buat pulang? Kita kan kesana buat ngasih pelajaran sama si Aisyah sialan, ini malah gak jadi". Ujar Rani jengkel.


"Bukannya ibu gak mau ngelabrak dia tapi tadi itu ada si Salamah, malas ibu ketemu dia". Jawab Bu May keceplosan.


Ibu May terlihat gugup. "Udah ah, ibu ngantuk habis kekenyangan". Elak Bu May segera berlalu ke kamarnya.


'Ibu kenapa ya, kok kayak nyembunyikan sesuatu? Bodoh amat lah, mending aku ikutan tidur juga". Dia pun masuk ke kamarnya.


Di dalam kamar Bu May


'Kenapa sih si Salamah itu musti datang tadi, padahal selama ini aku selalu berusaha menghindari dia'. Gumam Bu May.


Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh Bu May, kenapa dia takut bertemu dengan Hajjah Salamah padahal mereka dulunya adalah sahabat.


***


Pov (Aisyah)


Kembali ke lapak Aisyah.


Karena ini hari malam Minggu jadi lapak masih buka sampai jam dua belas malam. Lapak sangat ramai sampai parkiran depan lapak pun penuh, begitu juga yang di tanah kosong milik Abah. Jaka terlihat sibuk mengatur kendaraan yang datang.


Pengunjung malam ini didominasi dengan pasangan yang sedang menikmati malam Minggu mereka baik dari sekitar kompleks sini maupun dari luar kompleks.


"Kapan ya aku punya pacar, liat mereka yang pada datang dengan pasangannya, aku kok jadi baper". Ujar Mila.


"Noh ada si Jaka kagak usah cari jauh - jauh". Celetuk Ratna.


"Ih gua pengennya yang kayak oppa - oppa Korea". Ujar Mila.

__ADS_1


"Alahh ketinggian selera lu, bangun neng jangan kebanyakan mimpi". Ledek Ratna lalu segera menghindar karena hendak lemparnya depan lap.


"Sidik aja lu jadi sodara". Gerutu Mila.


"Gak boleh gitu Mil, ntar kalau kalian jadian gimana". Ucapku mengoda sambil menaik turunkan alisku.


"Ih Mbak malah ikut - ikutan". Ucapnya ngambek lalu kembali melayani pembeli.


"Senyum Mil". Ucapku mengingatkannya.


Aku tersenyum lucu melihat tingkah gadis mungil itu.


Padahal Jaka anak yang baik, rajin dan sopan, tampangnya juga lumayan cuma penampilannya aja yang terlihat urakan karena suka pakai ripped jeans dengan rambut gondrongnya serta kulitnya yang gelap karena sering tersengat matahari.


Tidak terasa sudah waktunya lapak tutup. Sebelum pulang aku memberikan mereka memberikan gaji mereka karena besok libur. Tidak terasa sudah sebulan lapak ini berjalan.


Aku juga menambah bonus untuk mereka, karena pendapatan lapak yang terus meningkat.


"Nih gaji beserta bonus buat kalian, kerja yang rajin ya". Ujarku sambil memberikan gaji dan bonus mereka.


"Alhamdulillah makasih banyak, semoga rejeki Mas dan Mbak selalu lancar, lapak makin maju dan sukses serta doa - doa terbaik buat Mas dan Mbak. Ucap mereka.


Aamiin


Setelah mereka pulang, aku dan Mas Arya masuk ke rumah setelah mengunci pagar dan pintu.


Sehabis membersihkan diri dan berganti pakaian. Aku mengajak Mas Arya bicara tentang kejadian mengenai Rani kemarin.


"Mas kemarin Rani bikin keributan di lapak, dan sempat memberinya pelajaran. Tadinya aku pikir, mereka datang mau ngelabrak aku tapi mereka malah buru - buru pulang". Tuturku.


Suamiku yang tadinya lagi memainkan ponselnya, langsung beralih menatapku


"Kejadian apa emang kemarin?" Tanya Mas Arya.


Aku pun menceritakan kejadian kemarin secara detail tanpa ada yang aku tambahi dan kurangi sedikitpun sesuai apa yang terjadi.


Mas Arya serius mendengarkan cerita.


"Jadi menurut Mas aku salah gak ngasih pelajaran buat dia?" Tanyaku meminta pendapatnya bagaimana pun Rani adalah adik kandungnya.


Dia malah tertawa menanggapinya.


"Ish kok malah ketawa sih Mas? Tanyaku.


"Mas gak nyangka aja kalau istri Mas yang terlihat lemah lembut ternyata tangguh juga. Mas juga lagi membayangkan gimana lucunya muka Rani digituin". Jawab Mas Arya diiringi tawa.


"Ya habis dia sudah kelewatan banget, kalau gak digituin ntar jadi kebiasaan". Ucapku.


"Iya yank memang anak itu musti didik yang baik biar gak kurang ajar". Kata Mas Arya.


"Tapi kalau ibu yang yang gituin aku gimana Mas?" Tanyaku.


"Diamin aja, tapi kalau udah kelewatan. Kamu boleh melawan asal masih batas wajar. Bagaimanapun beliau orang tua kita". Jawabnya bijak.


Aku hanya mengangguk.


"Oya besok sore aku mau ke pengajian kompleks di rumah Bu RT tadi diajakin sama Emak". Ucapku.


"Nanti kalau kamu pergi berarti Mas sendirian dong di rumah. Hmm.. Ntar Mas mancing aja deh di Empangnya Abah". Ujarnya.

__ADS_1


Kamipun segera tidur karena jam sudah menunjukkan pukul dua malam.


Bersambung.


__ADS_2