
Pov (Author)
Ryan menatap dengan sedih rumah yang sudah hampir tujuh tahun dia tempati bersama keluarga kecilnya. Saat pertama kali membeli rumah ini, dia berharap kalau dia dan Bella akan menyaksikan anak - anak mereka tumbuh besar, menikah dan memberikan mereka cucu. Mereka berdua hidup menua di rumah ini hingga ajal menjemput, tapi sekarang impian indah itu telah sirna.
Setelah memberikan kunci rumah kepada anak buah pemilik rumah, dia dan Maira meninggalkan kompleks perumahan dengan menggunakan motor miliknya. Tidak banyak barang hanya dua koper miliknya dan Maira yang diikatkan di jok, serta ransel sekolah yang dikenakan Maira, sedangkan Maira dibonceng di depan.
Selama perjalanan Ryan tidak bisa nahan air matanya, Maira hanya diam saja. Di usia nya yang menginjak usia enam tahun, dia dipaksa oleh keadaan untuk mengerti keadaan orang tuanya. Dia sudah mengerti kalau ayahnya bangkrut, bundanya meninggalkan mereka dan sekarang dia dan Ayahnya harus meninggalkan rumah mereka dan tinggal di rumah omanya.
Tidak berapa lama setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam an, akhirnya mereka berdua tiba di rumah Bu May. Ryan memarkirkan motornya di halaman rumah ibu, setelah menurunkan koper dari motor, dia dan Maira mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah ibunya.
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum Bu buka pintu, ini Ryan"
Tidak lama pintu buka di buka oleh Bu May, dia terkejut melihat putra putranya datang bersama cucunya dengan membawa koper.
"Ada apa ini kenapa kalian membawa koper?" Tanya Bu May bingung.
"Nanti saja bu bertanya, aku dan Maira capek. Biarkan kami istirahat dulu". Jawab Ryan lalu mengajak Maira menuju kamar biasa mereka gunakan kalau menginap di rumah Bu May, itu juga kamar Ryan saat dia masih bujang. Sedangkan Ryan masuk ke kamar bekas Arya dan Aisyah, kamar itu begitu berdebu. Terpaksa Ryan membersihkan terlebih dahulu sebelum menempatinya untuk beristirahat.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, apa lagi dia tidak melihat mobil milik Ryan dan mereka datang hanya menggunakan motor butut. Padahal dia ingin meminta uang pada Ryan.
***
Malam tiba, Ryan dan Maira keluar kamar karena Bu May memanggil mereka untuk makan malam. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga, Maira biasanya ceria dan suka berceloteh hanya diam. Hanya terdengar suara alat makan, padahal mulut Bu May sudah gatal ingin bertanya banyak hal pada Ryan.
Setelah beres makan Maira kembali ke kamarnya, besok Ryan akan mengantarkannya ke sekolah barunya.
Ryan duduk di ruang tamu bersama Bu May. Belum ada pembicaraan di antara mereka berdua.
"Rani kemana Bu?" Tanya Ryan memulai pembicaraan.
"Dia sekarang kerja jadi sales mobil, dia juga udah ngekost biar bisa dekat dari tempat kerjanya". Terang Bu May.
__ADS_1
"Kalau dia kerja, gimana dia kuliahnya Bu?" Tanya Ryan lagi.
"Uang dari mana buat kuliah, udah biarin dia kerja biar dia bisa hidupinya sendiri dan ibu. Arya pelit gara - gara hasutan istrinya, sedangkan kamu sudah tidak pernah mengirimkan ibu uang. Entah apa alasanmu". Jawab Bu May ketus. Sebenarnya kalau dia tidak boros tentu uang dari Arya lebih dari cukup, dasarnya Bu May saja yang tidak bersyukur.
Ryan hanya diam tidak menanggapi ocehan ibunya, hingga tidak sengaja dia menjatuhkan sebuah amplop coklat di atas meja saat ingin mengambil remote TV. Dia mengambil amplop itu dan membaca sampulnya.
Dia terkejut melihat tertulis yang tertera di amplop itu yang berasal pengadilan agama. Dia pun segera mengeluarkan isinya dan membacanya yang membuatnya tidak kalah terkejut. Ternyata itu gugatan cerai dari Bella, tanggal sidang sudah dua hari yang lalu dan ini merupakan panggilan yang ke tiga yang artinya dia sudah resmi bercerai dengan Bella hanya tinggal menunggu akta cerai mereka keluar.
Ryan meramas surat itu dan menatap ibunya untuk meminta penjelasan kenapa surat ini di kirim ke ibunya sehingga dia tidak mengetahui soal ini. Bu May hanya bersikap biasa saja karena dia memang ingin Ryan bercerai Bella karena menantu itu tidak pernah royal lagi padanya. Itu yang menjadi alasan Bella menggunakan alamat ini karena dia tau dari Rani kalau Bu May menginginkan perceraian ini.
"Ibu jelaskan pada ku kenapa surat ada di sini dan kenapa ibu tidak memberitahu kan pada ku"? Tanya Ryan dengan tatapan nyalang.
"Kamu kenapa sih responnya begitu? Harusnya kamu bersyukur lepas dari wanita sialan itu, sudah miskin tidak tau diri. Kamu masih muda dan mapan, kamu bisa dapatkan yang jauh lebih segala - segalanya dari dia". Jawab Bu May mencebik
Ryan meremas rambutnya kasar, dia merutuki kebodohan ibunya. "Argggghh.. Asal ibu tau aku sudah bangkrut, dan kenapa aku dan Maira pindah ke sini karena rumah kami telah dijual oleh Bella. Sedangkan uang hasil penjualan rumah dibawa kabur olehnya, entah sekarang dimana dia berada". Ujar Ryan geram.
Bu May melotot dan memegang dadanya.
mendengar penjelasan Ryan. "Ini bohong kan? Kamu gak bangkrut kan?" Tanya Bu May tak percaya.
"Terus apa rencana kamu selanjutnya, dari mana kamu dapat uang untuk membiayai hidupmu dan Maira, belum lagi buat ibu. Kamu sekarang pengangguran, tidak mungkin ibu yang membiayai kalian sedangkan ibu hanya berharap dari Arya dan Rani". Ujar Bu May, sungguh tidak ikhlas kalau uang miliknya digunakan untuk menghidupi putra dan cucunya.
"Mungkin nanti aku akan menjadi ojek online seperti Arya dulu". Jawab Ryan
"APAAA!!!??? Kamu mau jadi ojek online?? Gak gak ibu gak setuju. Apa kata tetangga nanti kalau anak ibu yang selama ini ibu bangga - banggakan pada mereka kini bangkrut dan jadi tukang ojek, belum lagi dengan teman - teman sosialita ibu. Mau taro dimana muka ibu, pasti mereka akan menghina ibu. Pokoknya ibu gak mau tau kamu gak boleh jadi tukang ojek, kamu cari kerjaan yang lebih bagus atau buka usaha lagi kek". Pekik Bu May, nafasnya tampak naik turun karena emosi.
"Persetan dengan omongan orang Bu, bukan mereka yang ngasih makan kita. Lagian aku di umur aku yang segini susah nyari pekerjaan yang bagus, mau buka usaha juga modal dari mana Bu?" Ujar Ryan kesal.
"Kamu usaha kek buat cari modal lagi atau kamu pinjam sama Arya pasti dia mau bantu kamu, dulu kan kamu selalu bantuin dia". Ucap Bu May memberi saran.
"Aku gak mau minjam sama dia, turun harga diriku. Nanti dia tau kalau aku bangkrut, aku gak mau kalah dari dia. Dari dulu aku selalu unggul dari dia, ya sudah aku mau istirahat dulu besok aku mau antar Maira ke sekolah barunya". Tolak Ryan dan berlalu ke kamarnya meninggalkan Bu May yang masih jengkel padanya.
"Ryannn ibu belum selesai bicara, pokoknya aku harus cari kerja dan jangan jadi tukang ojek". Teriak Bu May tapi Ryan tidak memperdulikannya.
***
__ADS_1
"Tumben lu ngajak gua ke mall mana ditraktir pula, kesambet apa lu?". Ujar Mila sambil nyengir.
"Bawel lu, gua masih kesel gara - gara masalah kemarin. Gua masih curiga sama si Wulan". Ucap Ratna geram.
"Udah ntar kita bahas lagi mending sekarang kita makan dulu, jangan cemburut mulu. Gua yang traktir deh kan tadi lu udah bayarin gua nonton dan beliin gua baju". Bujuk Mila, mereka berdua lalu masuk ke dalam sebuah tempat makan yang ada di Mall.
Mereka memilih tempat dekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar.
"Kenapa muka ketakutan begitu sih Wulan?" Ujar seorang wanita di meja yang tidak terlalu jauh dari tempat duduk Mila dan Ratna dan kebetulan tempat makan tersebut tidak terlalu ramai sehingga mereka bisa mendengar dengan jelas omongan wanita itu, untung wanita itu dan lawan bicaranya membelakangi mereka. Jadi keberadaan mereka tidak diketahui.
"Gua takut ketahuan, kalau gua di penjara gimana?". Ujar Wulan suaranya terdengar ketakutan.
Ratna dan Mila terkejut mendengar nama yang tidak asing bagi mereka, mereka yakin itu Wulan yang mereka kenal dari suaranya pun sama. Segera Ratna mengambil ponselnya dan menyalakan mode rekam dan mengambil tempat duduk yang strategis agar bisa merekam mereka dan tidak ketahuan oleh mereka
"Sstt.. Kamu itu terlalu berlebihan, santai aja. Oya mana yang kemarin aku tugasin ke kamu?" Tanya wanita itu.
Wulan lalu mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Ini sudah gua tulis semua apa aja bumbu yang digunakan dan cara masaknya". Jawab Wulan.
"Bagus saya puas dengan kerja kamu, ini bayaran kamu yang saya janjikan. Pasti sebentar lagi usaha mereka akan bangkrut. Hahaha." Tawa wanita itu yang belum diketahui identitasnya sambil memberikan amplop coklat kepada Wulan
"Iya tapi mereka sudah curiga sama gua, karena gua yang bungkus semua pesanan itu. Pokoknya gua gak mau di penjara". Ujar Wulan kuatir.
""Udah kamu gak usah kuatir, kamu gak usah kerja lagi di sana. Mending sekarang kamu bersembunyi. Lama kelamaan mereka bakal lupa dengan masalah itu, percaya sama saya. Lagian mereka gak punya bukti kalau kamu pelakunya, mending sekarang kita rayakan keberhasilan kita". Ujar wanita misterius itu menenangkan Wulan.
'Kena kalian, ini sudah cukup untuk menjerat kalian'. Gumam Ratna lalu mematikan rekaman.
"Ayo kita pulang, gua udah dapat buktinya". Ajak Ratna pada Mila.
"Tapi kan kita belum makan, baru juga gua minum". Protes Mila.
"Kita bungkus aja, kita harus cepat pergi sebelum ketahuan mereka". Ujar Ratna sambil menarik tangan Mila keluar, untung pesanan mereka baru minuman yang di buat jadi mereka tinggal meminta makanannya dibungkus saja.
Ratna sudah tidak sabar menunjukkan bukti tersebut pada Aisyah.
Bersambung.
__ADS_1