Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 36


__ADS_3

Pov (Arya)


Sejak Aisyah dinyatakan hamil, hari - hariku menjadi semakin bahagia. Penantian dan doa kami selama tiga tahun akhirnya dijabah Allah, aku tidak sabar untuk dipanggil ayah.


Tapi yang aku bingung selama hamil Aisyah gak pernah minta apa - apa, padahal yang aku dengar dari rekan - rekan kerjaku yang sudah berpengalaman kalau ibu hamil suka minta yang aneh - aneh istilahnya ngidam. Mereka udah memberikan berbagai macam wejangan bagaimana menghadapi wanita hamil, namun itu tidak aku temui pada Aisyah.


Aku sudah mempersiapkan diri kalau dia ngidam dan ingin sesuatu aku akan sigap dan berusaha menurutinya, tapi sampai sekarang diusia kandungannya yang sudah jalan tiga bulan tidak ada dia meminta yang aneh - aneh. Aku selalu bertanya apa dia ingin sesuatu tapi dia jawab tidak ada, hanya dia makin manja padaku. Malah aku yang gak suka ngemil sejak Aisyah hamil jadi suka ngemil. Apa mungkin aku yang ngidam? Yang aku baca di internet kalau suami juga bisa mengalami ngidam.


Tok.. Tok..


Terdengar suara wanita yang aku kenal. Dia adalah sekretarisku yang bernama Lily, akupun mengizinkan nya masuk.


"Selamat pagi pak Arya, hari ini selain mengingatkan janji dengan perusahaan PT. Agung Perkasa jam sepuluh, saya juga mau memperkenalkan pengganti saya". Ujar Lily


Sekretarisku ini akan pindah ikut suaminya yang seorang abdi negara, sebenarnya aku menyayangkan pengunduran dirinya karena cara kerjanya yang bagus dan profesional. Tapi aku tidak bisa menahannya sebab dia sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminya pergi. Aku berharap penggantinya nanti tidak mengecewakan.


"Lalu mana dia?". Tanyaku karena aku hanya tidak melihat siapapun bersamanya.


"Dia tadi izin ke toilet pak, kayaknya sedikit lagi dia kesini, tadi saya sudah memberitahu dimana ruangan bapak". Jawab Lily.


"Tapi nanti bapak jangan kaget melihat penampilannya". Ucapnya dengan senyum yang sulit diartikan.


Aku mengernyitkan alis mendengar ucapannya, tidak lama kemudian orang yang dimaksud oleh Lily masuk ke ruanganku setelah aku persilahkan.


Aku sedikit kaget dan risih melihat penampilannya dengan pakaian ketat, rok yang terlalu pendek, dandanan yang berlebihan dan rambut yang tergerai. Jujur bukan munafik, sakit mataku melihat penampilannya. Pantas saja tadi Lily bilang aku jangan kaget melihatnya.


Dia terlihat kaget melihatku tapi setelah itu dia malah senyum - senyum tidak jelas, mungkin kepalanya habis terbentur saat ke toilet tadi.


"Perkenalkan Pak nama Siska Jayanti". Ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum lebar.


"Saya Arya". Jawabku singkat dan menerima uluran tangannya tapi segera aku tarik tanganku karena dia menggerak - gerakkan jarinya di telapak tanganku. Dia terlihat salah tingkah, Lily menahan tawa melihat reaksiku.


Terdengar nada dering ponsel yang berasal dari Siska, dia meminta izin menerima telfon di luar.


Setelah dia keluar, aku menghirup nafas kasar, Lily hanya tersenyum menahan tawa sambil menyerahkan map berisi berkas milik Siska.


Aku menerima dan membuka map itu, ternyata Siska lulusan Admistrasi Perkantoran dan Sekretaris tapi yang membuatku membelalakkan mata ketika melihat IPK nya yang hanya 2,75. Nilai - nilainya yang lain juga tidak jauh beda. Aku memperlihatkan kepada Lily, dia malah tertawa.


Aku agak kesal dengan reaksinya, hubunganku dan Lily tidak seperti atasan dan bawahan yang kaku, kami layaknya seperti teman. Aisyah juga kenal dengannya malah mereka seperti kakak adik. Makanya dia cukup berani menertawakanku.


"Maaf pak, saya hanya membayangkan bagaimana hari - hari bapak di kantor bersama dia". Tuturnya menahan tawa.

__ADS_1


"Entahlah membayangkan saja saya sudah pusing apalagi menjalaninya, kamu lihat saja penampilannya yang seperti itu belum lagi dengan nilai ijazahnya. Saya jadi ragu kinerjanya bisa sebaiknya kamu, siapa sih yang menerima dia kerja di sini?". Ucapku sangsi.


"Yang saya tau, dia anak dari sahabat bapaknya Pak Doni direktur kita". Jawab Lily.


"Pantas saja dia bisa diterima, padahal Pak Doni orang nya perfeksionis dan selektif". Ungkapku tak habis pikir orang seperti Siska bisa bekerja di perusahaan ini.


Lily hanya mengedikkan bahu, "namanya juga kekuatan orang dalam, jalani aja pak. Semangat". Ledeknya.


Setelah selesai menelfon, Siska masuk kembali masih dengan senyumnya yang membuatku geli, lama juga dia telfonannya.


"Maaf pak tadi ibu saya yang telfon". Ucapnya masih tersenyum lebar menampilkan giginya.


Aku hanya mengangguk menanggapinya.


"Oya pak ini sudah jam sembilan, lebih baik kita berangkat sekarang. Jangan sampai klien kita datang duluan dan menunggu kita lama". Ujar Lily memecah keheningan.


"Siska ya tadi nama kamu? Nanti kamu ikut kami meeting dengan klien sekalian kamu belajar, dan setelah itu Lily akan menjelaskan apa saja tugas kamu. Saya harap kamu bisa cepat belajar". Ucapku.


"Baik pak, saya janji tidak akan mengecewakan bapak". Jawabnya sambil mengedipkan mata.


Aku tak menanggapinya dan berlalu ke luar dari kantorku diikuti oleh Lily. Dalam hati aku mual melihatnya.


Kami bertigapun menuju area parkiran disana sudah ada supir kantor yang menunggu kami. Selama ini kalau akan meeting di luar bersama Lily, aku tidak pernah mengemudi sendiri yang merupakan pemberian dari kantor. Alasannya setiap meeting aku pasti bersama Lily, karena kami bukan Mahram, takut menjadi fitnah.


Aku melihat dari cermin depan, Lily tengah menjelaskan kepada Siska materi meeting nanti. Tapi wanita seperti tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Lily, dia malah sibuk dengan ponsel.


Kami pun tiba di tujuan, segera kami masuk dan menuju meja sudah kami pesan sebelumnya. Klien kami belum datang, sembari menunggu kami memesan meminuman. Sedangkan supir kami duduk di meja lain.


Selang sekitar sepuluh menit yang ditunggupun datang juga, tampak dua orang pria menghampiri kami.


Satu dari mereka memperkenalkan diri sebagai Agung Prawira dari namanya jelas dia adalah pimpinan dari PT. Agung Perkasa.


"Selamat siang maaf kami terlambat, ban mobil kami kempes saat perjalanan kesini. Perkenalkan nama saya Agung Prawira dan ini asisten saya Yudha". Ucapnya mengulurkan tangan, begitu juga dengan asistennya.


"Iya gak apa - apa, kami juga baru sampai. Oya nama saya Arya Winata, yang ini sekretaris saya Lily dan yang di sebelahnya adalah Siska yang nantinya akan menjadi pengganti Lily". Jawabku menjabat tangannya.


Dia mengernyitkan dahinya, menyadari kebingungan akupun menjelaskan padanya.


"Oh ok saya mengerti jadi Lily ini akan resign dan digantikan dengan Siska, begituan?". Ujarnya.


Aku menggangguk membenarkan.

__ADS_1


Meeting pun dimulai, Lily mempresentasikan dengan baik yang membuat klien kami puas. Aku bangga dengan hasil kerjanya tapi aku juga kuatir kalau dia resign, semoga Siska bisa sebaik dia. Tapi selama meeting dia malah curi - curi pandang ke Pak Agung bukan malah memperhatikan apa yang di sampaikan oleh Lily.


Akhirnya selesai juga meeting kami dengan penandatanganan kontrak kerja sama antara perusahaan kami dengan perusahaan Agung Perkasa. Pak Agung dan asistennya pamit duluan karena masih ada urusan lain, kami masih tinggal untuk makan siang.


Sehabis makan, kami pun kembali ke kantor tidak ada pembicaraan apapun diantara kami.


Sesampainya di kantor, aku menuju ruanganku dan Lily mengajari Siska mengenai tugas - tugasnya nanti. Aku sudah menekankan pada Lily bahwa dia harus memastikan kalau Siska layak menjadi penggantinya.


Tidak terasa sudah waktu jam pulang kantor, aku membereskan meja dan bergegas pulang, aku tidak sabar bertemu istriku tercinta.


Saat aku tiba di parkiran dan masuk ke dalam mobilku, tiba - tiba Siska muncul di samping mobilku. Akupun menurunkan kaca mobil sedikit.


"Ada apa Siska? Saya buru - buru". Ujarku malas.


"Maaf pak, saya boleh numpang pulang gak?". Tanya nya penuh harap.


"Tidak boleh, lagian rumah kita juga tidak searah. Kalaupun searah saya juga tidak mau mengantar kamu". Ujarku ketus.


"Tapi kalau kita pulang bersama kita bisa saling mengenal dan semakon dekat". Ucapnya sambil mengedipkan mata dan tersenyum nakal.


Geli sekali aku melihatnya, segera aku naikkan kaca mobilku dan bersiap pergi meninggalkannya, dia memukul - mukul kaca mobil. Setelah mobilku melaju terlihat dia menghentakkan - hentakkan kakinya seperti anak kecil.


Aku tidak peduli, aku harus menghindari wanita seperti dia, walaupun aku sadar itu akan susah karena dia adalah sekretarisku yang pasti aku akan selalu bertemu dia.


Sesampainya dirumah akupun segera masuk kerumah, lapak ramai sekali. Sepertinya aku harus mencari tempat yang lebih luas.


Setibanya di kamar, istriku baru selesai sholat. Menyadari kedatanganku, dia tersenyum hangat dan lekas dia meraih  tanganku dan menyi*um takzim, aku mengusap pucuk kepalanya yang masih terbalut mukenah. Ini yang membuatku selalu semangat pulang ke rumah walaupun sudah lelah bekerja.


Setelah sholat dan berganti baju, Aisyah mengajakku untuk makan. Dia melayaniku dengan baik.


"Yank, pengganti Lily sudah ada tapi Mas gak sreg sama dia". Ucapku setelah menghabiskan makananku dan membereskan piringku.


"Gak sreg gimana mas?" Tanya nya heran.


Aku pun menceritakan tentang Siska dan kejadian tadi. Selama nikah tidak pernah ada rahasia di antara kami. Tapi Aisyah hanya tersenyum menahan tawa mendengar ceritaku.


"Kok kamu responnya gitu? Kamu gak kuatir apa kalau Mas tergoda sama dia?" Tanya ku agak kesal karena dia tidak terlihat cemburu.


"Bukan gitu Mas, kalau kuatir dan cemburu itu pasti ada. Tapi aku yakin insyaallah Mas gak akan mengkhianati pernikahan kita. Tapi kalau seandainya nanti mas tergoda dan berpaling berarti kita gak ditakdirkan bersama". Jawabnya bijak sambil menggenggam tanganku.


"Makasih ya yank udah percaya sama mas, mas janji tidak akan mengecewakan kamu". Ucapku sambil mengecup tangannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2