Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 46


__ADS_3

Pov (Author)


["Assalamualaikum Jeng, tumben telfon ada apa nih?"]. Bu May tengah berbicara dengan seseorang di telfon.


["Tenang aja, Jeng tidak perlu kuatir. Saya akan usahakan Arya akan menjadi milik Siska"]. Jawab Bu May pada Bu Merry ibunya Siska.


["Iii..iya Jeng..."]. Ucap Bu May terbata. Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Bu Merry sudah memutuskan panggilan.


Bu May terduduk lemas sambil memijit pelipisnya mendengar ancamannya dari Bu Merry. Dari mana dia bisa mendapatkan uang membayar hutangnya yang banyak pada Bu Merry. Jalan satu - satu Arya harus jadi dengan Siska bagaimanapun cara, dengan begitu hutangnya akan lunas dan dia bisa hidup bergelimang harta.


"Bu minta uang dong? Aku udah gak punya duit nih, aku jadi gak bisa ikut liburan dengan teman - temanku". Pinta Rani pada Bu May dengan wajah memelas.


"Ini lagi uang aja terus di pikiran kamu, dikasih kuliah ada guna, tapi ini malah nyusahin. Mending kamu berhenti kuliah dan cari kerja aja. Biar kamu gak nyusahin dan bikin ibu pusing liat kelakuan kamu yang taunya minta uang dan keluyuran mulu. Atau kamu cari pacar yang kayak biar bisa diporotin". Bentak Bu May sambil melotot ke arah Rani


Rani memcebik mendengar omelan ibunya.


"Ibu kenapa sekarang pelit banget sih, pake alasan bilang kalau Mas Ryan udah gak ngasih uang lagi. Padahal ibu bohong kan?". Balas Rani.


"Udah berani kamu Rani nuduh ibu bohong? Mau durhaka kamu hah?". Hardik Bu May dengan mata melotot.


Nyali Rani sedikit ciut melihat kemarahan ibunya. Tapi dia memberanikan diri untuk menatap ibunya balik.


"Kenapa kamu liatin ibu begitu? Nantangin ibu iya?Mau ibu congkel mata kamu?". Teriak Bu May geram.


Rani yang takut lalu ngacir ke kamarnya, nyalinya udah gak ada untuk menghadapi ibunya.


Dia mengotak - atik ponselnya, dia lalu mendumel melihat status teman - temannya yang tengah berlibur, sedangkan dia hanya meringkuk di kamarnya. Dia sudah mencoba menghubungi Ryan tapi tidak direspon, ngadu ke Arya malah diceramahin.


Dia lalu membuka fa*cebo*ok menggunakan fake accountnya. Hingga dia melihat teman yang sarankan yaitu salah akun dengan nama Sang Dewi dengan foto profil yang mirip kakak iparnya yaitu Bella. Dia yang penasaran lalu membuka profil akun tersebut. Seketika mata terbelalak melihat beberapa postingan yang menampilkan Bella berfoto dengan barang - barang mewah, dia menscroll sampai ke bawah tapi postingan di batasi karena mereka tidak berteman. Dan rata - rata postingan - postingan tersebut belum lama di unggah.


  'Cih kata ibu, Mas Ryan usahanya sedang bermasalah makanya tidak bisa kirim uang lagi tapi nyatanya Mbak Bella malah belanja barang - barang mewah. Pantas saja gue gak pernah liat postingan dia ternyata dia punya akun lain'. Jangan - jangan itu alasan mereka aja untuk gak ngasih uang lagi ke ibu dan gue. Ini gak bisa dibiarin. Gue musti kasih tau ibu, tapi ntar aja kasih taunya, ibu masih emosi yang ada gue bakal kena semprot lagi'. Gumam Rani.


Ranipun berlalu ke aplikasi hijau mencari kontak milik Bella, tidak ada status apapun, mungkin Bella menyembunyikan statusnya dari Rani karena Aisyah bisa melihat status Bella.


Dia memberanikan diri mengirim chat ke Bella. ['Mbak bantuin aku dong, aku lagi butuh duit banget, plis]. Terkirim dan langsung bercentang biru yang berarti pesannya langsung dibaca dan terlihat Bella sedang mengetik. Dia harap - harap cemas menunggu apa balasan dari kakak ipar pertamanya itu.

__ADS_1


'Semoga Mbak Bella mau ngasih gue duit'. Harap Rani.


 ['Mbak bisa kasih kamu kerjaan yang ngasih kamu banyak uang. Kamu mau gak?']. Balas Bella.


Tanpa banyak berpikir Rani langsung mengiyakan tawaran dari Bella. ["Iya Mbak, aku mau"].


['Oke nanti lusa kita ketemu di Cafe Anggrek']. Balas Bella.


["Siap Mbak, makasih sebelumnya"]. Rani bersorak dan berjingkrak kegirangan, karena sedikit lagi dia menghasilkan uang sendiri dan bisa membeli apapun yang dia inginkan. Dia juga bisa liburan seperti teman - temannya


"Raniii..., kamu ngapain di dalam? Kenapa teriak - teriak begitu?". Teriak Bu May dari luar.


Rani segera menutup mulut dan menghentikan aksinya karena teguran ibunya.


'Dasar orang tua bawel gak tau gue lag senang apa? Awas aja kalau gue udah banyak duit, gue kagak bakal bagi ke ibu, gue juga bakal keluar dari rumah ini. Pokoknya ibu gak boleh tau, yang ada ntar ibu malah minta duit gue'. Batin Rani.


Kasihan Rani, dia tidak tau pekerjaan apa yang menantinya yang mungkin nanti akan menghancurkan hidup dan masa depannya. Sedangkan di tempat lain Bella tersenyum licik karena mendapat barang baru yang bagus.


***


["Sabar baru juga kemarin gua mulai kerjanya, mana kemari gua telat masuk, untung kagak di pecat. Bisa gagal rencana kita"]. Ucap Wulan pada seseorang di sebarang telfon.


"Ekhmm.." Ratna berdehem.


Wulan yang kaget segera matikan panggilan dan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku. Wajah terlihat gugup, dia takut Ratna mendengar pembicaraannya.


"Kalau lagi kerja jangan main hp, liat itu pekerjaan kamu masih banyak. Niat kerja gak sih kamu?". Tegur Ratna dengan raut tak suka.


"Ma..maaf Mbak tadi tetangga aku telfon, kalau adik aku demam lagi, dia suruh beliin obat kalau udah pulang nanti". Jawab Wulan terbata dengan kepala menunduk. Dia tidak berani melihat Ratna karena takut ketahuan berbohong.


"Dasar lelet". Cela Ratna dan berlalu ke dapur lapak. Bukan tanpa alasan Ratna kesal pada Wulan, karena selama dua hari ini dia memperhatikan cara Wulan yang lambat. Terkadang dia terlihat jijik membersihkan sisa makanan pelanggan. Ratna jadi curiga padanya. Dia bisa tau gerak - gerik Wulan karena jarak dapur dan tempat cuci piring tidak terlalu jauh.


Sedangkan Wulan mengumpat pada Ratna.'Dasar perempuan sialan'. Tentu saja dalam hati, kalau sampai di dengar oleh Ratna, bisa - bisa dia dipecat karena Ratna orang kepercayaan Aisyah.


'Aneh banget katanya dia yatim piatu dan hidup susah bersama kedua adiknya, tapi tadi gua liat hp milik dia ada logo apel tergigit yang ada tiga kamera belakangnya. Gua yakin tidak salah liat. Sepertinya ada yang gak beres sama dia, gua harus terus mengawasinya. Jangan sampai dia ada niat lain yang tidak baik bekerja di sini'. Gumam Ratna.

__ADS_1


"Heehhh.. Bengong bae anak gadis". Mila muncul mengagetkan Ratna yang berpikir.


"Ihhh.. Lu ngagetin aja". Balas Ratna menepuk pundak Mila pelan.


"Ya habis ya, lu anak perawan melamun aja. Ntar jodoh lu dipatok ayam atau gak kesambet setan baru nyaho. Hehehe". Goda Mila.


"Gaje banget lu, mana ada setan siang - siang gini". Ucap Ratna cemberut.


"Hehe.. Jangan ngambek dong. Emang tadi lagi mikiran apaan? Serius bener gua perhatiin dari tadi". Tanya Mila penasaran.


"Noh si anak baru mencurigakan, tadi gua mergokkin dia lagi telponan terus dia make hape Boba". Jawab Ratna dengan suara pelan agar tidak didengar oleh Wulan sambil memberi kode mata ke Mila.


Mila menengok ke tempat Wulan berada.


"Awww.. Sakit ih". Mila meringis karena rambutnya ditarik oleh Ratna.


"Jangan lu liatin juga, ntar dia tau kita lagi ngomongin dia". Tegur Ratna kesal.


"Iye iye maap namanya juga refleks". Kilah Mila.


"Benaran lu tadi liat dia make hape Boba? HDC paling itu, gua aja yang sudah kerja di sini jalan enam bulan cuma pake hape merek Samsul". Curhat Mila.


"Iya beneran, gak mungkin gua salah liat. Waktu dia telponan kan gua cukup lama di belakang dia tapi gua kagak dengan dia ngomongin apa. Pas gua tegur dia cepat - cepat sembunyiin hapenya. Entahlah itu hape ori atau HDC, intinya dia itu mencurigakan banget". Terang Ratna.


"Bener mencurigakan banget, tadi juga pas gua ngasih piring kotor. Eh muka dia malah merenggut, lah itu kan emang kerjaan dia". Timpal Mila.


"Hooh. Dari kemarin gua perhatiin dia kalau nyuci sambil jijikan. Padahal yang gua dengar dari Mbak Aisyah, kalau dia sebelumnya kerja jadi ART". Ujar Ratna.


"Tuh kan ada yang gak beres sama dia, jangan -jangan ada maksud terselubung dia kerja disini". Sambung Mila.


"Nah itu juga yang ada di pikiran gua, pokoknya mulai dari sekarang kita harus selalu awasin itu anak. Kalau udah ada bukti yang jelas baru kita laporin ke Mbak Aisyah, jangan sampai kita kecolongan". Ucap Ratna.


"Ok siap bos". Jawab Mila sambil menautkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.


Obrolan mereka terhentikan karena ada pelanggan yang datang, Mila pun hampiri mereka. Sementara Ratna melirik ke arah Wulan, terlihat dia sedang duduk sambil memijat tangannya, dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


'Awas aja kalau bener lu ada niat kagak baek, gua bejek - bejek lu jadi ayam geprek'. Gumam Ratna geram.


Bersambung.


__ADS_2