Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 20


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Hari ini pembukaan lapak jualanku dan Mas Arya, akhirnya keinginan kami untuk punya usaha sendiri bisa terwujud. Hal ini terlepas dari kuasa Allah SWT, serta dukungan dari orang - orang terdekat kami khususnya Babe dan Emak, tidak lupa sahabatku Fitri. Kemarin kami sudah telfonan, dia mengucapkan selamat untuk pembukaan lapak dan mendoakan usahaku sukses. Aku juga memberi kabar kepada om dan tanteku dikampung. Aku cerita semua tentang yang aku alami setelahnya pindah ke kontrakan, mereka sampai terharu karena aku dikelilingi orang - orang. Tapi aku tidak pernah sekalipun cerita mengenai perlakuan ibu mertuaku. Mereka tahu aku bahagia dan disayangi olehnya.


Khusus untuk pembukaan hari ini aku memberikan promo gratis satu porsi makanann untuk dua puluh orang pelanggan pertama. Aku sudah mempromosikan di sosmed milikku, aku juga menshare di grub aplikasi hijau. Begitupun Mas Arya ikut mempromosikan kepada teman - teman kerjanya.


Tepat jam sembilan pembukaan lapak yang aku beri nama " Teras Jajanan Aisyah" dimulai. Alhamdulillah banyak yang datang. Aku memperkerjakan tiga orang pegawai. Aku bagian kasir sekaligus yang memasak pesanan, Mila sepupunya Ratna di bagian melayani pembeli, keponakan Mang Agus bernama Wati bagian cuci piring. Dan Ratna bagian membuat minum dan kadang juga dia yang membantuku membuat pesanan makanan karena aku sempat mengajarinya. Untung dia anak nya cepat tanggap. Untuk gaji mereka sendiri, aku menggajinya perbulan sesuai dengan UMR tanpa dipotong jatah makan. Dan tidak menutup kemungkinan aku akan mereka bonus jika omset penjualan semakin bagus.


Menu jualan di lapakku ada indo*mie dan seblak yang isiannya bisa di ambil sendiri sejenis prasmanan, ada sesatean . Ada juga jajanan Korea seperti tteobokki, dimsum, kimbab, corndo*g dan lain - lain. Selain makanan, ada juga minuman kekinian seperti Boba, milkshake dan aneka jus. Mungkin nanti menunya akan bertambah seiring berjalannya lapak ini.


Untuk bumbunya aku yang meracik sendiri, begitupun untuk Jajanan Korea aku buat sendiri dengan berbekal menonton video di You*tube. Sebelumnya semua menu di lapak sudah aku tes rasa pada orang - orang sekitarku, yaitu suamiku sendiri, Babe, Emak, Mbak Ningsih dan juga suaminya. Mereka juga yang menyakinkan ku kalau rasanya sudah pas dan layak untuk dijual.


Banyak sekali pengunjung yang datang, sampai kami kewalahan dan banyak pengunjung yang tidak dapat tempat duduk, yang paling heboh adalah ibu - ibu kompleks sini, mereka pada sibuk berfoto ria di spot foto yang memang diperuntukkan bagi para pelanggan. Lapak ini juga di fasilitasi dengan wi - fi gratis dan dilengkapi dengan CCTV.


Saking kewalahan sampai Mas Arya dan Mba Ningsih ikut membantu. Emak ingin ikut membantu tapi aku melarang, aku tidak ingin beliau kecapean. Untuk yang mengatur parkir ternyata Babe menyerahkan pada seorang pemuda bernama Jaka yang merupakan anak karyawan beliau. Itu yang aku tahu dari Mas Arya.


Setelah agak lenggang, Mas Arya mengajakku untuk bertemu dengan teman - teman kantornya. Mereka memuji makanan dan minuman yang sudah mereka nikmati.


Ibu - ibu kompleks juga ikut memujiku. Diantara pengunjung ada juga yang tidak aku kenal. Ternyata mereka mengetahui postingan yang dibagikan di sosial medial. Respon mereka pun juga memuaskan, mereka meminta izin untuk memposting di sosial media. Aku pun mengiyakan. Aku bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan, semoga usahaku dan Mas Arya selalu dilancarkan.


Kemudian aku dan Mas Arya menghampiri Babe dan Emak.


"Babe dan Emak bangga sekali dengan kalian berdua". Ucap Babe merangkul Mas Arya, sedangkan emak memelukku.

__ADS_1


Menjelang sore tinggal berapa pengunjung yang sedang makan. Aku menyuruh karyawan ku untuk istirahat dan makan.


Saat sedang duduk di kasir, Mas Arya memberitahukan kalau Mas Ryan dan keluarganya sudah di depan. Aku pun bergegas menyambut mereka. Ternyata ibu mertuaku dan Rani juga ikut. Aku kira tidak datang karena aku sudah mengirim chat pada Rani tapi hanya dibaca saja tanpa dibalas. Mbak Bella memelukku dan kami cipika cipika, Maira menci*um tanganku. Ibu Mertuaku dan Rani mengabaikanku.


Kami pun mempersilahkan mereka duduk dan memberikan daftar menu. Mas Ryan memesan indo*mie rebus dengan isian telur setengah matang dan bakso, untuk minumnya es cappucino. Mbak Bella memesan seblak tulang ceker level lima, minumnya jus mangga. Maira memesan Odeng dan cornd*og coklat, minumnya es Boba strawberry. Rani memesan tteobokki level tiga, minumnya machalatte. Sedangkan ibu mertua hanya memesan jus sirsak, beliau bilang tidak selera melihat menu makanannya.


Aku segera menyiapkan semua pesanan mereka. Sementara Mas Arya mengajak mereka mengobrol. Setelah jadi aku meminta tolong kepada karyawanku mengantarkan pesanan mereka.


Mereka makan dengan lahap tapi tatapan ibu mertuaku sinis kepadaku, aku pun mengalihkan pandangan ku berpura - pura tak melihatnya.


Setelah mereka selesai makan, aku dan Mas Arya menanyakan review mereka tentang makanan dan minumannya.


"Seblaknya enak Ais, pedesnya pas. Mbak suka, tempatnya juga nyaman dan kekinian" ujar Mbak Bella sambil mengacungkan jempol kearah kami.


"Mas bangga sama kalian berdua, mas doakan usaha kalian ini lancar dan sukses". Ucap Mas Ryan.


"Aamiin".


"Lebay deh kalian, cuma jualan indo*mie aja bangga. Kayak gini mah gampang tinggal bikin dirumah". Cemooh ibu mertuaku, padahal aku lihat gelas jusnya kosong, tadi dia juga sempat mencomot makanan Maira dan memakan punya Rani.


"Iya buk gak enak masakannya, tempatnya pun norak, kalau bukan diajak Mas Ryan gak mau aku kesini, ini juga pedesnya bikin panas didalam, uhuk, uhuk". Ujar Rani ikut mencemoohku, sambil pura - pura batuk.


'Gak enak tapi kok habis. Bilang aja enak tapi malu mengakuinya'. Batinku.

__ADS_1


"Mending kalian balik lagi ke rumah ibu, dari pada buka usaha kayak gini yang bakalan bangkrut. Malah buang - buang duit". Cela ibu mertuaku.


Beberapa pengunjung yang masih makan, melirik ke arah meja kami. Diantara mereka ada yang berbisik - bisik, ada juga yang malas tau dan melanjutkan makan.


Untung Babe dan Emak sudah pulang, bisa malu aku didepan mereka dan aku bisa ketahuan bohong soal ibu mertuaku yang memperlakukanku dengan baik.


Mas Arya menggenggam tanganku, seolah menguatkan agar tidak terpengaruh oleh omongan ibu dan adiknya itu. Aku berusaha tegar dan tidak mengeluarkan air mata.


"Harusnya ibu dan kamu Rani mendukung dan mendoakan mereka, bukan malah mencemooh dan menjatuhkan mental mereka. Kalau mereka sukses kita juga sebagai keluarga yang akan bangga". Ujar Mas Ryan menasehati ibu dan adiknya


Ibu dan Rani memutar bola mata mereka sambil memcebik. Aku hanya geleng - geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.


Karena suasana udah gak nyaman, Mas Ryan pamit pulang. Ibu dan Rani beranjak keluar duluan tanpa pamit padaku dan suamiku. Mas Ryan dan Mbak Bella meminta maaf atas perkataan ibu Mertuaku dan Rani.


Jam delapan malam kami sudah beres - beres karena sudah tidak ada pengunjung lagi. Setelah beres dan para karyawan sudah pulang. Aku dan Mas Arya masuk ke kamar, kami menghitung hasil penjualan hari.


"Alhamdulillah mas hasil penjualan kita hari lumayan untuk pertama buka". Ucapku.


"Iya yank, semoga usaha kita selalu dilancarkan ya, aamiin. Uang kamu yang atur ya yank buat modal lagi dan gaji karyawan, sisihkan untuk tabungan kita, dan jangan untuk orang yang membutuhkan. Mulai besok mas berhenti ngojol, pulang kerja Mas mau bantu kamu di lapak". Ucap Mas Arya memelukku.


"Aamiin Mas, makasih selalu mendukungku". Balasku.


Kamipun membersihkan diri, setelah itu segera istirahat. Karena besok sudah ada pekerjaan yang harus kami kerjakan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2