Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 80


__ADS_3

Pov (Author)


     "Istrimu orang kaya ya?" Tanya Bu May penasaran.


"Iya Bu, waktu aku nikah di kampung Aisyah, rumah milik mendiang mertuaku paling besar di sana". Jawab Arya tanpa menoleh ke ibu, dia fokus menyetir.


"Masa sih? Mana ada orang kaya penampilan kampungan kayak dia". Ucap Bu May tak percaya.


"Ibu tau kenapa di depan nama Aisyah ada nama Andi?" Tanya Arya.


"Ya karena orang tua dia aneh, masa anak perempuan di kasih nama Andi. Itukan nama laki - laki". Jawab Bu May ngasal.


"Dari yang Arya baca, Andi itu bukan nama tapi gelar untuk keturunan bangsawan dalam suku Bugis bu". Tutur Arya.


Bu May nampak tampak percaya menantunya yang menurutnya kampungan itu ternyata bukan orang sembarangan di daerah asalnya. Dia lalu mengambil ponsel untuk mengecek apakah yang dikatakan oleh Arya itu benar atau tidak.


Dia menelan ludah setelah tau yang dikatakan Arya itu benar, berarti perhiasan yang tadi di perlihatkan oleh Tantenya Aisyah asli semua begitu juga dengan sertifikatnya.


"Arya beruntung sekali memiliki istri seperti Aisyah, dia wanita yang sholehah, lemah lembut dan rendah hati. Walaupun dia termasuk orang berada tapi dia tidak sombong, dia pun tidak mengeluh saat Arya dipecat dulu. Dia tetap setua mendampingi Arya, pokoknya dia sosok istri sempurna buat Arya". Ucap Arya memuji Aisyah sambil tersenyum.


Bu May memasang muka masam, telinga dan hatinya panas mendengar Arya begitu memuji Aisyah.


"Halah percuma kaya kalau pelit. Kenapa dulu waktu kamu dipecat dulu dia gak bantuin kamu, sama ibu juga gak pernah ngasih apa - apa". Ujar Bu May mencebik.


"Aisyah tidak seburuk yang ibu pikirkan, coba ibu mau menerima dia dan berbaikan sama dia. Pasti ibu akan tau bagaimana baiknya Aisyah. Dulu waktu aku gak nganggur, Aisyah menawarkan perhiasannya untuk dijual tapi Arya menolak". Ucap Arya membela Aisyah.


"Idih gak sudi ibu bermanis - manis dengan dia, bisa - bisa dia besar kepala". Ujar Bu May sambil membuat muka dan melipat tangannya, Arya hanya geleng - geleng kepala dengan sikap keras kepala ibunya.


Akhirnya mereka sampai di kantor polisi, setelah melapor di penjagaan dan mengutarakan tujuan mereka. Petugas lalu mengantar mereka ke ruang penyidik, di ruangan itu seorang petugas menjelaskan alasan Ryan di tangkap yaitu Ryan terbukti sebagai penadah dan penjual barang curian, dan Mas Ryan juga kemarin melakukan aksi pencurian di rumah orang kaya bersama rekannya yang masih buron. Mereka seketika kaget mendengarnya apa yang dikatakan polisi, terlebih Bu May nampak syok, Arya berusaha menenangkan ibunya. Mereka juga diajukan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


Setelah itu mereka di antar ke ruangan kunjungan tahanan. Tidak berapa lama seorang petugas polisi datang membawa Ryan, wajah tampak sedih melihat kedatangan adik dan ibunya. Dia pun duduk di hadapan mereka berdua.


Ryan menangis dan meminta maaf pada adik dan ibunya. Arya menatap sendu pada kakaknya, sedangkan Bu May hanya diam tak bergeming. Dia kecewa karena anak yang dia banggakan dan dia sayangi semua membuatnya malu. Ryan meraih tangan ibunya tapi di tepis, Bu May memalingkan muka.


"Kenapa kamu jadi bodoh begini sih Ryan, kemarin Rani sudah buat ibu kecewa dan malu. Padahal kalian anak yang ibu banggakan dan sayangi. Ibu bisa cepat mati kalau kayak gini". Cerca Bu May dengan tatapan tajam, Ryan hanya menunduk sambil terisak.


Arya merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan ibunya, ternyata dari dulu sampai sekarang ibunya tidak menganggapnya. Dia hanya sayang pada Ryan dan Rani saja, dia berusaha tersenyum walaupun hatinya sakit.


"Maafin aku Bu udah ibu kecewa. Aku khilaf, aku butuh uang". Ujar Ryan terisak.


"Kamu sih tidak mau dengarin ibu, coba dari awal kamu ikutin saran ibu buat minta uang sama Arya mungkin kamu gak akan berada di sini dan buat ibu malu. Iya juga salah Aisyah, kalau waktu itu dia gak usir ibu dari rumah Arya. Mungkin ibu sudah dapat uang dari Arya, dasar menantu tidak tau diri". Ujar Bu May kesal dan menyalahkan Aisyah.


"Loh kenapa ibu malah bawa - bawa nama Aisyah. Dia gak mungkin sampai ngusir ibu kalau ibu berbuat tidak baik sama dia. Apa lagi dia lagi hamil, emosinya gak stabil. Lagian ibu kenapa gak hubungi Arya saja". Ucap Arya membela Aisyah, dia yakin istrinya tidak mungkin berbuat kasar kalau ibu tidak cari masalah duluan. Dia juga tau bagaimana perlakuan ibunya selana ini pada istrinya.


"Bela saja terus istri kamu yang kampungan itu. Gara - gara dia, kamu jadi durhaka sama ibu". Hardik Bu May.


"Tolong jangan keributan di sini". Tegur seorang petugas polisi.


"Mas kenapa tidak cerita dan minta bantuan sama Arya? Kita ini saudara kandung, kita garus saling membantu satu sama lain, saling berbagi duka. Tolong jangan Arya seperti orang lain". Ucap Arya dengan wajah sedih.


"Mas minta maaf sama kamu. Sejak kamu sukses dan usaha Mas bangkrut, timbul rasa iri dalam diri Mas sama kamu. Mas tidak ingin tersaingi karena dari dulu Mas merasa Mas selalu unggul dari kamu. Bukan maksud untuk tidak cerita sama kamu tapi karena Mas malu dengan keadaan Mas yang seperti ini", sekali mas minta maaf. Tutur Ryan terisak.


Arya tersenyum kecut mendengar penuturan kakaknya, dia tidak menyangka kakaknya punya pikiran seperti itu padanya. Padahal Ryan adalah panutannya.


"Mas gak perlu minta maaf, Mas yang sabar ya. Jadikan ini pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Minta ampunan sama Allah". Ujar Arya tersenyum sambil memegang tangan Ryan.


Ryan balas tersenyum. "Oya Mas boleh minta bantuan gak sama kamu?" Tanya Ryan dengan wajah penuh harap.


Arya mengangguk. "Ingat kita saudara Mas jadi gak perlu sungkan meminta bantuan sama Arya, insyallah kalau Arya mampu Arya pasti bantu". Jawab Arya tersenyum.

__ADS_1


Ryan menarik nafas dan menghembuskannya. "Beberapa hari yang lalu Bella mendapat musibah, Mas sudah menjenguknya dan kondisinya sangat parah. Mas juga apa terjadi padanya sampai dia seperti itu. Sebelumnya Mas tertangkap polisi, Mas dapat kabar dari teman Mas kalau kemarin Bella telah meninggal. Mas ingin melihat jenazahnya tapi Mas keburu tertangkap". Jawab Ryan dengan mata berembun.


"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Mas yang sabar ya. Arya turut berduka ya Mas, terus apa yang bisa Arya bantu?" Tanya Arya lagi sambil memegang pundak Ryan untuk menguatkan, dia tau kakaknya saat mencinta wanita itu.


"Kamu tolong ke rumah sakit Medika dan urus urus jenazah Bella dan kekuburkan dengan layak dan baik. Walaupun Mas dan dia sudah bercerai ,dia itu ibu kandungnya Maira, apalagi dia tidak punya keluarga lagi selain kita. Mas juga titip Maira, tolong jangan kasih tau dia dulu tentang keadaan orang tuanya. Tunggulah sampai dia dewasa dan sudah mengerti". Pinta Ryan pada Arya.


"Arya akan lakukan yang Mas minta untuk almarhumah Mbak Bella dan untuk Maira, Mas gak perlu kuatir Arya dan Aisyah akan merawat dan menyayangi dia seperti anak kami sendiri". Ucap Arya.


Ryan menangis lalu memeluk adiknya sambil mengucapkan terima kasih pada Arya. Dia juga menyesali kebodohannya, andai dia bisa menghilangkan egonya. Dia pasti tidak akan berada di sini dan berpisah dengan Maira anaknya.


Karena waktu berkunjung sudah habis, Arya berpamitan pada Ryan. Kemudian Ryan dibawa kembali ke selnya, sedangkan Arya keluarga menemui ibunya yang sudah menunggunya. Arya menghapus air matanya yang menetes, sedari tadi dia berusaha kuat di depan Ryan.


"Kalian ngomongin apa saja sih di dalam? Ibu cape nungguin kamu dari tadi". Gerutu Bu May dengan wajah masam.


Arya tidak menjawab dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir, dia masih kesal atas sikap ibunya yang selalu menyalahkan istrinya.


"Ibu mau ikut Arya ke rumah sakit atau langsung Arya antar pulang?" Tanya Arya ketika mobil sudah meninggalkan kantor polisi.


"Ngapain kita ke rumah sakit? Kamu sakit?" Tanya Bu May penasaran.


Arya pun menceritakan amanat dari Ryan pada ibunya.


"Oh baguslah, itu karmanya buat dia. Padahal ibu belum membalas perbuatan dia, eh dia malah keburu ma*ti duluan. Asal kamu tau dia itu wanita jahat, dia yang sudah menjual Rani sampai pria hidung belang". Ujar Bu May kesal.


"Ibu gak boleh ngomong gitu, walaupun almarhumah Mbak Bella pernah berbuat jahat sama keluarga kita tapi kita tidak membalas perbuatannya. Justru kita harus mendoakannya biar dia dapat pengampunan dari Allah". Ucap Arya menasehati ibunya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya.


"Terserah kamu lah, ya jelas ibu gak peduli sama. Kamu antar ibu saja pulang sekarang". Hardik Bu May.


Arya pun segera mengantar ibunya pulang, lalu dia lanjut ke rumah sakit untuk memenuhi amanah dari Ryan. Tidak lupa dia menghubungi Aisyah dan menjelaskan semua serta minta tolong untuk menyiapkan segala sesuatu untuk mengurus jenazah Bella karena dia akan membawa pulang jenazahnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2