Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 37


__ADS_3

Pov (Author)


     Keesokan harinya.


Aisyah meminta tolong pada Jaka untuk memasang tulisan dibuka lowongan pekerjaan di depan rumah untuk bagian cuci piring. Kemarin Mila yang menggantikan tugas Wati setelah melayani pembeli.


"Assalamualaikum". Salam Hajjah Salamah.


"Wa'alaikum salam emak". Jawab Aisyah sembari menci*um tangan Bu Hajjah.


"Kamu sehat nak? Gimana kandungan kamu?" Tanya nya.


"Alhamdulillah sehat semua emak?" Jawab Aisyah.


"Kamu bikin apa di luar rumah?" Tanya Hajjah Salamah lagi.


"Ini aku lagi minta tolong sama Jaka buat masang lowongan buat bagian cuci piring, soalnya Wati lagi pulang kampung untuk merawat ibunya yang sakit." Jelas Aisyah.


"Oh gitu, iya emak udah dengar dari si Agus". Ucap Bu Hajjah lagi


"Ayo emak, kita ngobrolnya di dalam rumah aja, disini panas". Ujar Aisyah sambil mengandeng tangan Hajjah Salamah.


Kondisi lapak yang ramai membuat mereka agak susah masuk ke rumah.


"Mbok tolong buatin minum, emak mau minum apa?" Tanya Aisyah.


"Emak lagi pengen yang seger - seger". Jawabnya.


Mbok Darmi pun menuju ke dapur dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas es jeruk dan beberapa potong brownies.


Setelah itu Mbok Darmi kembali melanjutkan pekerjaannya yang lain.


"Hmm.. enak banget kuenya, kamu beli dimana Ais?". Tanya Bu Hajjah sambil menikmati brownies.


"Itu buatan aku sendiri emak?". Jawab Aisyah sambil nyengir.


"Beneran? Memang hebat anak emak, serba bisa dan paket lengkap pula. Tapi kamu jangan terlalu banyak kerja kan kamu lagi hamil". Nasihat Bu Hajjah.


"Ok siap komandan". Jawab Aisyah dengan sambil hormat.


Bu Hajjah tertawa melihat tingkah wanita hamil di depannya.

__ADS_1


"Lapak kamu rame bener ya Ais, bangga emak sama kamu dan Arya. Kalian belum lama tinggal di sini tapi udah berkembang pesat usaha kalian". Ucap Bu Hajjah sumringah


"Alhamdulillah emak. Ini karena campur tangan Allah serta dukungan dari orang - orang terdekat kami, khususnya Babe dan Emak. Makasih ya emak, udah banyak sekali bantuan dari kalian". Tutur Aisyah.


"Iya sama - sama, kan dari awal Babe udah ngomong gak usah kalian balas yang udah kami kasih, cukup buktikan kalian bisa sukses". Ucap Bu Hajjah lagi sambil membelai pucuk kepala Aisyah yang tertutup hijab dengan lembut.


Aisyah tampak terharu dengan perlakuan dari Bu Hajjah yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Tapi kayaknya lapak ini udah mulai sesak ya, saking ramenya. Itu ruko baru di depan mau disewain perbulan atau pertahun, Saran emak mending kamu sewa ruko itu buat buka lapak. Belum lagi kalau nanti anak kamu lahir ntar keganggu dengan suara bising, mobil kantornya Arya juga kagak ada tempat buat parkir. Apalagi rumah ini juga digunakan untuk tempat produksi bahan makanan dan minuman untuk lapak kalian". Ujar Bu Hajjah.


"Iya aku sempat berpikir gitu juga emak, udah gak muat lagi nampung pelanggan kalau lagi ramai - ramainya. Aku juga liat ruko depan udah selesai dibangun, pengen nanya - nanya juga soal sewanya, tapi emak udah ngasih tau duluan. Kira - kira mahal gak ya emak harga sewanya? Tanya Aisyah.


"Kalau buat harga sewanya mah gampang, ntar Babe yang atur kan yang punya itu ruko sohibnya Babe. Orangnya tinggal di luar kota, dia percayakan ke Babe buat cari penyewanya. Yang penting kalian mau gak, emak udah liat rukonya. Tempatnya bagus dijamin kalian bakalan suka juga". Jawab emak.


"Kalau emak bilang bagus, aku yakin bagus. Tapi aku bicarain sama Mas Arya dulu". Ujar Aisyah.


Bu Hajjah mengangguk menanggapi ucapan Aisyah.


"Oya bulan ini kamu sudah kontrol dan USG atau belum?". Tanya Bu Hajjah lagi.


"Belum emak, jadwalnya hari ini tapi Mas Arya kerja. Aku udah daftar, rencana perginya nanti sama Mbok Darmi". Jawab Aisyah.


"Emak ikut ya, bosan juga di rumah terus. Kita naik taksi online aja ya soalnya mobil di pake Babe. Nanti habis dari dokter, kita lanjut jalan - jalan ke mall yuk. Gimana?".


"Hmmm, iya. Emak juga mau ganti baju, emak tunggu di rumah ya". Jawab Bu Hajjah dan pulang kerumahnya.


Setelah memberitahu Mbok Darmi dan berganti pakaian, mereka pun menuju rumah Bu Hajjah. Sebelumnya dia menitipkan lapak pada karyawannya. Tidak lupa juga meminta izin kepada suaminya.


Taksi online yang dipesan udah datang, setelah memastikan nama pemesan dan titik tujuan sudah sesuai, driver pun melajukan mobilnya ke tempat tujuan. Tidak berapa lama mereka telah sampai di klinik tempat bisa Aisyah memeriksakan kandungannya. Setelah membayar tarifnya, mereka segera turun.


Untung kemarin Aisyah sudah menghubungi asisten dokternya untuk mendaftar.


Aisyah mendapat nomor empat, dua nomor lagi baru gilirannya masuk.


Sambil menunggu dipanggil mereka bertiga mengobrol sembari menikmati cemilan yang tadi bawa oleh Aisyah.


Tiba lama kemudian tiba giliran Aisyah dipanggil.


"Ibu Aisyah". Panggil seorang wanita muda berbaju putih yang merupakan asisten dokter.


"Iya ada". Jawab menghampiri wanita itu.

__ADS_1


"Silahkan duduk Bu, kartu periksanya di bawa gak bu? Tanyanya.


Aisyah pun mengeluarkan kartu periksa dari dalam dompet kecilnya.


Setelah itu dia menimbang dan mentensi Aisyah. Sembari mentensi, dia bertanya soal keluhan yang dirasakan Aisyah.


"Tensinya bagus ya Bu, ini kartunya silahkan masuk ke dalam". Ujarnya ramah sembari membukakan pintu untuk Aisyah.


Aisyah melangkah masuk ke dalam, terlihat seorang dokter wanita yang mungkin usianya sekitar tiga puluhan menyambutnya. Asisten dokter tadi juga masuk untuk memberikan lembar pemeriksaan Aisyah, lalu dia kembali keluar.


"Sore dok". Sapa Aisyah.


"Selamat sore dengan ibu Aisyah kan? Silahkan duduk Bu". Ucap dokter Marissa ramah.


Aisyah mengangguk, setelah membaca lembar pemeriksaan milik Aisyah, dokter yang bernama Marissa mengajak Aisyah menuju bed untuk dilakukan USG. Aisyah berbaring di atasnya.


"Permisi ya Bu, tolong diangkat bajunya ke atas sedikit". Ujar dokter setelah itu mengoleskan gel ke perut Aisyah. Kemudian menempelkan alat USG keperutnya dan menggerakkannya untuk melihat posisi janin.


Dokterpun menjelaskan kalau kondisi janin Aisyah sehat dan tidak kelainan yang terlihat dari layar USG, Aisyah terharu mendengar detak jantung anaknya.


Kandungan Aisyah sudah jalan lima bulan, sengaja dia tidak bertanya soal jenis kelaminnya biar nanti menjadi kejutan.


Seusai periksa dokter memberikan resep untuk Aisyah berupa vitamin dan suplemen ibu hamil. Tidak lupa menyampaikan apa saja yang harus dan tidak boleh dilakukan dikehamilannya ini.


Aisyah pun keluar ruangan dokter setelah membayar biaya dokter dan menghampiri Bu Hajjah dan Mbok Darmi yang sudah menunggunya.


"Gimana Ais, apa kata dokter tadi, semuanya baik kan?". Tanya Bu Hajjah begitu Aisyah sudah duduk.


"Sini resepnya Mbok aja yang kasih, kamu duduk aja disini sama Bu Hajjah". Ucap Mbok Darmi.


"Alhamdulillah sehat emak, cuma aku disuruh istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi dan diminum rutin yang sudah resepkan sama dokter". Jawab Aisyah.


"Trus udah dikasih tau jenis kelaminnya apa"?.  Tanya Bu Hajjah lagi.


"Aku gak nanya emak, biar aja jadi kejutan. Mau laki - laki atau perempuan gak apa - apa". Jawab Aisyah.


"Iya bener mau laki - laki atau perempuan sama aja yang penting ibu dan bayinya sehat". Ucap Bu Hajjah tersenyum.


Setelah mengambil obat milik Aisyah mereka lanjut ke mall menggunakan taksi online.


Tadi Aisyah sempat memfoto hasil USG janinnya dan mengirimkan kepada Arya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2