
Pov (Author)
Beberapa hari kemudian.
"Sialan kenapa gak gugur juga sih, padahal gue udah minum obat yang paling bagus. Gue juga udah lakuin semua cara yang ada di internet tapi nih anak kuat banget". Gerutu Rani memukul perutnya, kandungan nya sudah masuk dua bulan. Dia memandang perutnya yang rata di cermin
Dia sudah bingung bagaimana caranya menggugurkan kandungannya, kalau ibunya tau dia hamil pasti dia dihajar habis - habisan oleh ibunya. Dia mengambil ponsel untuk menghubungi Bella untuk meminta bantuan tapi berulang kali dia coba hubungi namun tidak juga diangkat. Tanpa Rani ketahui, Bella sedang bersenang - senang dengan uang hasil penjualan rumah.
"Argghh, susah banget sih dihubungi". Pekik Rani lalu melempar ponsel ke kasur.
Rani mondar - mandir memikirkan sesuatu, tiba - tiba ponselnya berdering. Mendadak wajah sumringah mengetahui siapa yang menelfonnya, bergegas dia mengangkatnya.
"Halo Om sayang, iya aku juga kangen banget sama Om. Oke aku kesitu sekarang, kirim aja alamatnya". Ujar Rani dengan suara manja. Setelah telfon berakhir, dia segera berganti pakaian dan dandan yang cantik.
Tidak lama dia sampai di sebuah kantor, ya orang yang tadi menelfon mengajak Rani bertemu di kantornya.
"Permisi ada yang bisa saya bantu Mbak?" Tanya seorang satpam penjaga pintu masuk ramah, dia memandang Rani tanpa berkedip.
"Gue sudah ada janji dengan atasan lo" Jawab Rani jutek, dia tidak suka dengan cara satpam itu menatapnya. Bagaimana tidak pakaian yang di pakai Rani cukup seksi dengan rok pendek dan atasan ketat. Untung perutnya belum buncit.
"Mbak Rani ya?" Tanya satpam itu memastikan.
"Iya bener". Jawab Rani singkat.
"Oya Pak Ronald sudah menunggu Mbak di ruangannya, mari saya antar Mbak". Ujar Satpam yang bernama Joko itu.
"Tidak usah saya bisa jalan sendiri, saya sudah tau ruangannya". Tolak Rani ketus dan berlalu berjalan menuju lift. Joko terus memperhatikan tubuh Rani dari belakang dan sesekali menelan ludah.
Rani pun sampai di lantai tiga tempat ruangan Pak Ronald berada.
"Mbak Rani ya? Silahkan masuk, Pak sudah menunggu dari tadi". Ucap seorang wanita ramah yang merupakan sekretaris Pak Ronald mempersilahkan Rani masuk.
Tanpa berlama - lama Rani langsung memeluk Sugar Daddynya itu.
"Aku kangen banget sama Om, udah seminggu kita gak ketemu. Om sih keluar kota mulu". Ujar Rani cemberut, dia kini tengah duduk di pangkuan Pak Ronald.
"Iya maaf sayang, sebagai permintaan maaf om akan turuti semua keinginan kamu". Ucap Pak Ronald sambil mencum*bui Rani.
'Apa gue bilang aja kalau bayi yang gue kandung ini anaknya, dia kan sayang banget sama gue pasti dia mau tanggung jawab'. Batin Rani sambil menikmati yang dilakukan Pak Ronald padanya.
"Beneran? Oya aku ada kabar gembira yang mau aku sampaikan ke Om". Ucap Rani dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Apa sayang, Om gak sabar dengarnya?" Tanya Pak Ronald menghentikan aksinya.
"Aku hamil dan ini anak Om". Jawab Rani sambil tersenyum lebar.
"Aa.. Apa kamu hamil? Bagaimana bisa?" Tanya Pak Ronald kaget.
"PAPIIIIII".
Belum hilang kekagetan Pak Ronald, dia bertambah kaget dengan kedatangan istrinya yang sudah berada di pintu, menatap dia dan Rani dengan tatapan nyalang.
"Ma..mami bikin apa kesini?" Tanya Pak Ronald tergagap, wajah nampak pucat pasi. Dia segera menurunkan Rani dari pangkuannya, sedangkan Rani terlihat masa bodoh. Dia sedang membenarkan pakaian yang tadi sempat berantakan.
"Harusnya mami yang tanya apa yang papi lakuin dengan perempuan ja*lang ini"? Tanya istri Pak Ronald dengan suara melengking sambil menunjuk ke arah Rani.
"Ini tidak seperti yang mami lihat dan pikirkan, papi khilaf mi. Papi cuma iseng, dia yang sudah menggoda papi. Cuma mami yang papi cinta". Jawab Pak Ronald membela diri, sambil memegang tangan istrinya tapi malah ditepis oleh istrinya.
"Apa Om bilang, aku yang mengoda Om? Kita lakuin ada dasar suka sama suka, Om juga bilang kalau Om cinta sama aku. Kenapa setelah nenek tua ini datang, om malah menyangkal semuanya. Padahal aku sedang hamil anak Om". Pekik Rani tidak terima dengan ucapan Pak Ronald.
"Diam kamu Rani, jangan bicara sembarangan. Itu bukan anak saya, kamu itu perempuan bayaran. Bisa saja itu anak dari pelanggan kamu yang lain tapi kamu bilang itu anak saya. Kita berhubungan saja baru satu kali, mami tolong jangan percaya kebohongan dia". Bentak Pak Ronald tanpa sadar dia sudah membuka aibnya sendiri.
Istri Pak Ronald terlihat emosi, dia mendekati Rani dan menarik rambutnya hingga kepala Rani mendongak ke atas. Dia menatap Rani dengan mata melotot seperti ingin menerkamnya.
"Heh pela*cur, apa yang sudah dijanjikan suamiku hingga kamu begitu berani seperti ini? Asal kamu tau lelaki itu kere, dia cuma modal burung saja. Semua harta milikku, dia tidak punya apa - apa. Aku yang memungutnya dan mengangkat derajatnya. Kalau kamu mau silahkan pungut lagi laki - laki tidak ada guna itu, kalian serasi sama - sama sampah ". Ujar istri Pak Ronald dengan nada mengejek lalu menghempaskan tubuh Rani ke lantai, lalu menendang badan Rani beberapa kali. Rani berteriak kesakitan.
"Papi diam di situ jangan coba - coba menolong ja*lang ini atau mami akan buat papi kembali ke asal papi". Ancam Istri Ronald melihat suami berusaha membantu Rani, sebenarnya Pak Ronald ada rasa sama Rani, dia tidak tega Rani diperlakukan seperti itu tapi dia tidak mau kembali melarat.
"Joko cepat seret pela*cur ini keluar, dan pastikan dia tidak menginjakkan kakinya lagi di sini. Dan untuk papi tunggu giliran papi di rumah". Perintah istri Pak Ronald lalu meninggalkan suaminya, tapi sebelumnya dia meludahi Rani yang masih meringkuk di lantai.
Joko segera membopong tubuh Rani keluar, semua mata menatap sinis ke arah Rani. Sesampai di luar dia menghempaskan begitu saja hingga dia terjerembab ke tanah yang menyebabkan siku dan lututnya lecet.
"Pergi sana, jangan kembali lagi. Lon*the aja sombong". Ejek Joko.
Rani segera berdiri dan membersihkan badannya lalu mencegat taksi yang lewat. Di dalam taksi dia menangisi nasibnya. Seumur hidup baru kali ini dia benar - benar dipermalukan seperti ini, supir taksi sampai bingung sekaligus kasihan melihat Rani yang terus saja menangis.
***
"Ada apa ibu kesini?" Tanya Aisyah jutek.
Dia malas meladeni ibu mertuanya karena dia tengah memikirkan masalahnya yang tak kunjung usai. Sejak mengetahui bukti dari Ratna kalau Wulan yang menyebabkan pelanggannya sakit perut, moodnya jadi tidak stabil. Dia dan Arya sudah melaporkan ke polisi juga menyerahkan buktinya tapi Wulan belum juga tertangkap, sedangkan wanita yang menyuruhnya belum diketahui karena wajahnya tidak keliatan.
Polisi sudah mengecek alamat di foto kopi KTP ya di berikan Wulan tapi ternyata itu palsu. Wulan memakai KTP dan data orang lain yang di tempel fotonya, kebetulan nama mereka sama.
__ADS_1
"Dasar mantu tidak tau diri, mertua datang bukannya disambut dengan baik. Malah nanya kayak gitu, mana Arya?". Hardik Bu May dengan mata melotot.
"Mas Arya belum pulang kerja. Ibu kalau mau bikin ribut mending pulang aja, aku lagi malas berdebat" Jawab Aisyah.
"Kurang ajar kamu ya, berani kamu ngusir saya. Ini rumah anak saya, bisa - bisa kamu yang di usir dari sini. Seharusnya Arya ceraikan saja kamu". Balas Bu May emosi.
Aisyah memutar bola mata, dia malas menanggapi ocehan ibu mertuanya. Karena tidak ditanggapi oleh Aisyah, Bu May nyelonong masuk ke dalam.
"Eh Darmi cepat buatin saya minum yang segar - segar". Perintah Bu May setelah duduk di sofa.
Tidak berapa lama Mbok Darmi datang membawa dua gelas jus jeruk.
"Sini kamu pijitin kaki saya". Perintah Bu May lagi.
"Kembali ke belakang Mbok, lanjutkan saja pekerjaan Mbok". Cegah Aisyah. Mpok Darmi lalu pamit ke dapur.
"Kenapa kamu larang Darmi pijitin saya, dia itu babu, sudah tugas dia layanin majikannya".
"Mbok Darmi disini tugasnya cuma mengurus pekerjaan rumah tangga, lagian saya yang menggaji dia jadi hanya saya yang berhak memerintah dia". Ucap Aisyah tegas.
Bu May menatap Aisyah tidak suka. "Halah baru punya usaha kayak gitu aja belagu, apa kamu lupa dulu numpang sama saya? Makan enak, dapat bertempat berteduh gratis. Seharusnya kamu balas budi sama saya". Ucap Bu May sinis.
"Apa ibu juga lupa, kalau saya dan suami saya bayar sewa selama tinggal di rumah ibu. Saya juga bayar dengan keringat saya, semua pekerjaan rumah saya yang kerjakan bahkan pakaian dalam Rani saya juga yang cuci. Kami tidak tinggal gratis. Dan apa tadi ibu bilang makan enak? Kayaknya ibu sudah mulai pikun, saya dan Mas Arya cuma boleh makan makanan seadanya itu pun kami beli sendiri. Jadi ibu gak usah bicara seolah ibu berjasa terhadap hidupku, oke memang ibu yang melahirkan suamiku tapi bagaimana seandainya kalau Mas Arya tau yang sebenarnya kalau dia bukan anak kandung Almarhum Pak Surya dan ibu juga dulu berencana mengugurkan dia saat masih dalam kandungan?" Ujar Aisyah membalas ucapan Bu May dengan telak.
Wajah Bu May terlihat pasi karena Aisyah sudah tau rahasianya, jangan sampai Arya tau rahasia itu karena Arya pasti akan membencinya.
"Diam kamu perempuan kampung, atau saya robek mulut kamu". Ancam Bu May melotot.
"Kenapa ibu takut ya? Saya pikir ibu mertuaku ini tidak ada takutnya". Ujar Aisyah dengan nada mengejek.
"Kurang ajar kamu, dasar mantu sia*lan". Pekik Bu May lalu berdiri hendak menyerang Aisyah.
"Berhenti di situ, berani ibu menyentuh saya sedikit saja. Maka saya tidak segan - segan melaporkan ibu ke polisi. Silahkan ibu pulang, sebelum saya usir secara paksa". Ancam Aisyah sembari menunjuk ke arah luar.
Bu May menghentikan niatnya dan berjalan keluar. "Perempuan sia*lan. Awas kamu Aisyah, jangan pikir kamu sudah menang. Saya akan balas kamu". Ancam Bu May sambil menunjuk ke arah Aisyah.
Aisyah hanya tersenyum kecut menatap kepergian ibu mertuanya. Dia tidak takut karena suaminya pasti berada di pihaknya. Dia segera mengunci pintu dan pagar lalu masuk ke kamarnya untuk menenangkan pikirannya.
Sedangkan ibu May sepanjang perjalanan pulang tidak berhenti mengumpat menantunya itu. Padahal dia kesana ingin meminta uang pada Arya untuk modal usaha Ryan dan sekalian minta tambahan uang untuknya karena Rani belum juga mengirimkan uang padanya padahal dia harus bayar arisan tapi semua gagal gara - gara Aisyah. Dia tidak menyangka Aisyah berani melawannya, padahal dulu menatapnya saja Aisyah tidak berani.
Bersambung.
__ADS_1