Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 69


__ADS_3

Pov (Author)


Keesokan harinya, langit masih gelap tapi Santi dan Rani tengah bersiap untuk pulang. Santi membantu Rani berdiri karena dia masih agak lemas, wajah dan bibirnyanya tampak pucat.


"Perut gue sakit San". Keluh Rani sambil meringis. Dia harus menggunakan pembalut karena kema*luan mengeluarkan darah.


"Jangan lupa minum ramuan yang Mak kasih, diminum sehari sekali sebelum tidur biar rahim kamu benar - benar bersih dan pendarahannya cepat berhenti. Ramuan itu juga buat penambah darah dan penambahan stamina. Nanti Danang yang bakal antarin kalian sampai ke terminal". Ujar Mak Ijah, Danang adalah asisten Mak Ijah yang biasa menjemput dan mengantar pasien Mak Ijah. Para pasien juga menghubungi lewat ponsel Danang jika ingin berobat karena Mak Ijah buta huruf.


Danang membantu memapah Rani ke jalan setapak, di sana sudah terparkir mobil jenis ki*jang keluaran lama yang akan mengantarkan mereka.


Rani berbaring di paha Santi di kursi tengah, mobil pun melaju meninggalkan kampung halaman Santi.


"Mbak berdua ini dari kota ya dan nama kalian siapa?" Tanya Danang memulai percakapan.


"Saya Santi, saya sebenarnya asli sini mas, tapi setelah orang tua saya meninggal saya pindah ke kota ikut bibi saya. Saya juga kuliah sambil kerja di sana. Kalau teman saya namanya Rani, dia asli dari kota. Kalau Mas sendiri apanya Mak Ijah?" Jawab Santi, dan bertanya balik pada Danang.


"Oh asli sini toh, saya dulu lama kerja di luar pulang di perkebunan sawit tapi karena kontrak kerja habis saya balik ke kampung. Mak Ijah itu nenek saya, orang saya juga udah meninggal. Selain menjemput dan mengantar pasien Mak Ijah, saya juga mengurus perkebunan Mak Ijah". Terang Danang.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, hanya sekali terdengar suara meringis dari Rani.


Perjalanan terasa begitu lama karena mobil yang dikemudikan Danang melaju dengan kecepatan sedang yang biasa jarak dari kampung ke terminal hanya sekitar setengah jam tapi mereka sampai hampir sejam.


"San, ini tolong lo pesanin gr*ab gue gak sanggup kalau naik bis, apalagi kondisi gue kayak gini". Ujar Rani memberikan ponselnya kepada Santi.


Santi pun segera memesan gr*ab, mereka menunggu di dalam mobil Danang sampai gr*ab pesanan mereka datang.


Tidak berapa lama gr*ab mereka datang, Danang membantu memapah Rani.


Setelah berpamitan dan berterima kasih kepada Danang. Mobil yang membawa Rani dan Santi melaju menuju kota tempat tinggal mereka.


Tidak terasa mereka sampai di depan kost Rani, Santi membantu Rani untuk berjalan ke kost. Setelah membuka pintu menggunakan kunci yang diberi Rani, Santi membawa Rani menuju kamarnya dan membaringkannya di atas kasur.


Setelah itu Santi menganti pakaian Rani dan menganti pembalutnya yang sudah penuh.


"Lo mau makan gak?Biar gue belikan makan. Lo mau makan apa?" Tanya Santi.


"Gue gak selera makan, di kulkas ada roti dan biskuit. Nanti kalau lapar gue ambil sendiri". Jawab Rani.


"Tapi kan kondisi lo masih lemat, atau lo mau gue bikinin teh hangat biar perut lo enakan". Tawar Santi.

__ADS_1


"Gak usah, gue gak pengen apa - apa. Gue cuma pengen istrihat". Tolak Rani.


"Gue gak usah kerja aja ya? Gue temani lo disini, gue kuatir sama keadaan lo". Ujar Santi kuatir.


"Gue gak apa - apa, udah lo pergi kerja aja sama". Ucap Rani menyuruh Santi pergi.


"Ya udah tapi kalau ada apa - apa lo hubungi gue ya". Ujar Santi lagi.


"Hmmm". Balas Rani.


"Gue boleh numpang mandi gak di sini? Dari pada gue pulang dulu ke rumah bibi gue". Tanya Santi.


Rani hanya mengangguk kemudian memejamkan mata.


Santi pun bergegas mandi, untung dia membawa seragam kerjanya. Setelah mandi dan memakai pakaian, Santi hendak berpamitan tapi Rani tertidur lelap.


Dia pun meninggalkan kost an Rani dan menuju tempat kerjanya.


Sesampainya di tempat kerja dan bertukar shift, Santi mulai melakukan tugas tapi dia tidak bisa fokus karena terus memikirkan Rani, dia ingin sekali melihat ponselnya, siapa tau Rani menghubunginya. Tapi selama bekerja di larang memegang ponsel, dia hanya berharap jam kerjanya cepat selesai.


Akhirnya jam kerja Santi sudah selesai, setelah berganti shift dengan temannya, Santi segera membereskan barangnya dan menuju kost an Rani.


Santi pun memberanikan untuk membuka pintu kost an yang masih belum terkunci, lalu di menyalakan lampu senter ponselnya untuk mencari saklar lampu dan menyalakannya.


'Sepertinya Rani masih tidur, tapi kok perasaan gue gak enak'. Gumam Santi lalu dia melangkah menuju kamar Rani.


Lampu kamar Rani pun tidak menyala, Santi pun menekan saklar lampu. Dia kaget melihat Rani yang terbaring dengan seprai kasur yang penuh darah.


Santi mencoba menyadarkan Rani tapi Rani tidak merespon.


"Ran bangun Ran". Ujar Santi panik, tapi tidak ada respon dari Rani. Santi lalu mengecek pergelangan tangan Rani, ternyata nadinya lemah. Santi semakin panik, dia takut Rani kenapa - napa.


Dia pun berlari keluar dan meminta pertolongan, untung ada beberapa pemuda yang nongkrong di depan. Santi pun meminta tolong pada mereka untuk membawa Rani ke rumah sakit terdekat.


Dengan menggunakan mobil milik salah satu orang tua pemuda tadi, mereka segera membawa Rani ke rumah sakit. Santi juga membawa tas dan ponsel Rani serta mengunci kost an Rani.


Tidak berapa lama mereka sampai di rumah sakit, Santi segera turun untuk memanggil perawat. Dua orang perawat pria segera datang dengan membawa brankar dan mengotong tubuh Rani ke atas brankar lalu membawa masuk ke dalam ruang UGD.


Para tenaga medis segera memberikan pertolongan pada Rani, dokter jaga UGD menanyakan penyebab pada Santi kenapa Rani bisa pendarahan dan dimana keluarga Rani tapi gadis itu masih syok dan hanya dia saat ditanya. Akhirnya mereka melakukan tindakan dengan mengecek kondisi Rani secara menyeluruh. Sedangkan pemuda yang mengantar mereka sudah pamit pulang.

__ADS_1


Tiba - tiba ponsel Rani yang dipegang Santi berbunyi. Mata Santi membelalak melihat nama yang penelfon itu yang ternyata ibu Rani. Santi bimbang apa kah harus dia angkat atau tidak, kalau diangkat apa yang harus dia katakan dan dia takut keluarga Rani akan menyalahkannya. Tapi kalau tidak angkat siapa yang akan membayar biaya rumah sakit. Pihak rumah sakit pasti akan menanyakan soal keluarga Rani.


Ponsel terus saja berdering, Santi pun memberanikan diri untuk mengangkatnya. Belum sempat Santi bicara sudah terdengar suara ibu Rani yang marah - marah, seketika nyali Santi ciut.


***


"Kemana sih anak itu susah sekali dihubungi, itu sudah waktunya dia kirim uang tapi belum ada yang masuk transferan dia. Mana uang arisan besok harus dibayar". Gerutu Bu May sambil terus menghubungi Rani.


Dia kembali menghubungi Rani dan akhirnya di angkat juga.


"Kenapa kamu susah sekali dihubungi? Ini sudah waktunya kamu kirim jatah ibu. Tapi sampai sekarang belum ada yang masuk, ibu mau bayar arisan besok". Cerocos Bu May.


Terdengar suara wanita yang asing di telinga Bu May.


"Heh kamu siapa? Kenapa hp anak saya ada di kamu?" Tanya Bu May garang.


"Cepetan kasih ke Rani, saya mau bicara sama dia". Hardiknya.


"Hah? Ngapain Rani di rumah sakit? Dia tidak apa - apa kan? Dia dirawat di rumah sakit mana?" Tanya Bu May.


"Saya akan segera ke sana, tolong temani dia sampai saya datang". Pinta Bu May lalu mematikan telfon.


"Aduh aku kesana sama siapa, ini sudah tengah malam. Ryan juga gak tau kemana? Dari siang dia belum pulang katanya ke tempat tempat membahas bisnis.


Bu May pun menghubungi nomor Arya, setelah panggilan kedua baru panggilannya diangkat.


"Arya tolong antar ibu ke rumah sakit Husada, tadi ibu telfon Rani tapi yang angkat temannya. Dia bilang Rani sedang dirawat di sana dan keadaannya sedang tidak baik". Ujar Bu May panik.


"Ibu gak tau pasti apa yang terjadi sama Rani, tolong antar ibu". Ujar Bu May memohon.


"Iya ibu tunggu, cepetan ya nak". Ujar Bu May lagi lalu mematikan panggilan.


Bu May pun segera bersiap - siap, tidak lupa dia membangunkan Maira, tidak mungkin dia meninggalkan cucunya sendiri di rumah. Maira bingung kenapa omanya membangunkannya dan mengajaknya ke rumah sakit tapi dia tidak berani bertanya.


Tidak berapa lama Arya datang menggunakan mobilnya. Bu May segera mengunci pintu dan menaruh kunci di bawah pot bunga dan menuju mobil Arya.


Arya nampak heran melihat keponakannya juga ikut, tapi Bu May bilang akan menjelaskan pada yang terpenting mereka harus segera menuju rumah sakit tempat Rani di rawat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2