
Pov (Aisyah)
Hari ini pembukaan tempat produksi lulurku yang baru, aku tidak bisa hadir karena lagi gak enak badan mungkin efek kecapean selesai dari seminar kemarin. Peresmian tempat produksi diwakilkan oleh Mbak Ningsih sebagai penanggung jawab ditemani oleh Pak Rahmat suaminya.
Tadi pagi Emak ke rumah untuk mengecek kondisiku dan sekalian pamit, Emak dan Babe mau ke rumah Irfan dan Fitri yaitu anak dan menantu mereka yang akan melaksanakan aqiqah anak mereka. Sejak pengangkatan rahimnya, Fitri mulai bangkit dan menerima keadaan, beruntung dia memiliki mertua yang baik dan suaminya yang setia serta menerima dia apa adanya. Mereka memutuskan mengadopsi anak dari panti asuhan yang rutin mereka berikan santunan.
Dari jauh - jauh hari Fitri sudah memberitahukan kepadaku tentang acara aqiqah anaknya, tapi aku tidak janji bisa datang selain kondisiku yang sedang hamil, aku juga tidak kuat naik mobil dalam waktu yang lama. Jarak Jakarta - Bandung lumayan jauh, katanya sekitar 3 - 4 jam perjalanan. Bisa - bisa aku mabuk di perjalanan.
Aku hanya menitipkan salam dan kado untuk anak Fitri melalui Emak. Sebenarnya Emak ingin acara aqiqahnya digelar di sini tapi Irfan tidak mendapat libur karena dia sudah lama cuti setelah kecelakaan untuk pemulihan dan merawat Fitri.
Ting
'Eh perempuan sialan, kenapa kamu suruh Arya cepat pulang kemarin. Pake alasan sakit, pasti itu cuma akal - akalan kamu saja kan? Arya itu anak saya, jadi cuma saya yang bisa ngatur dia. Saya sumpahin anak di perut kamu keguguran biar kamu diceraikan sama Arya'.
Aku mengelus dada membaca pesan dari nomor yang tidak bernama, walaupun aku tidak menyimpan nomor itu tapi aku tau itu pesan dari ibu Mertuaku. Aku memilih tidak membalas pesan dan segera memblokir nomor ibu mertuaku. Percuma diladeni tidak akan ada habisnya, aku harus menjaga pikiranku agar tidak terpancing demi kesehatan bayiku.
***
Pov (Author)
"Pak saya minta maaf soal kejadian kemarin, saya sungguh tidak tau kalau Tante May ibunya Pak Arya. Saya sendiri kaget saat kita bertemu kemarin, dan saya juga maaf soal pembicaraan saya dengan Tante May. Saya tidak ada maksud apa - apa, saya hanya ingin punya mertua yang baik seperti Tante May bukannya saya ingin menjadi menantu beliau". Terang Siska pada Arya.
"Saya tidak peduli ada hubungan apa kamu dengan ibu saya. Jujur saya mulai respect dengan kinerja kamu yang makin baik, tapi saya tekankan sama kamu. Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan jadi tolong ingat batasan kamu". Ucap Arya tegas.
"Ii..iya pak sekali lagi saya minta maaf, saya permisi pak". Jawab Siska terbata dan keluar dari ruangan Arya.
Sepeninggal Siska, Arya memijat keningnya. Dia teringat pesan yang dikirim ibunya semalam.
__ADS_1
'Kamu tega sekali ninggalin ibu yang tengah sakit hanya demi istri kamu yang tidak tau diri itu. Ibu yang melahirkan kamu dengan berjuang nyawa, kalau bukan karena ibu, kamu tidak akan ada di dunia ini. Kamu juga ninggalin Siska begitu saja, dia itu sempurna dan pantas mendampingi kamu bukan wanita kampungan itu. Pokoknya kamu harus tinggalkan istri kamu dan menerima Siska menjadi pendamping kamu. Kamu harus turuti kemauan ibu, kalau tidak mau jadi anak durhaka. Kapan lagi kamu bisa berbakti sama ibu? Selagi ibu masih di kasih umur'.
Arya sengaja tidak memberi tahukan kepada Aisyah, agar istrinya tidak kepikiran apalagi kondisi tengah mengandung. Tapi perkataan ibunya, membuat Arya gelisah. Dia ingin berbakti dengan ibu tapi dia dengan menyakiti wanita yang dicintainya.
Sementara Siska tengah mendumel di meja kerjanya. Dia tengah memikirkan cara mendapatkan Arya, dia sudah tergila - gila pada pria beristri itu jauh sebelum Arya menikah dengan Aisya. Hingga dia tidak peduli pria itu sudah beristri, segala cara akan dia lakukan walaupun dengan cara kotor sekalipun.
'Pokoknya gue harus bisa dapatin Mas Arya apapun akan gue lakuin meskipun dengan cara curang, gue udah gak peduli dengan dosa asal keinginan gue terwujud'. Batin Siska mengepalkan tangan.
***
Pov (Author)
'Andi Aisyah Maharani. Sungguh nama yang cantik seperti pemiliknya. Ahh.. Baru kali ini ada wanita yang membuatku seperti ini'. Agung tengah memikirkan wanita yang telah mengisi hati dan pikirannya.
"Ekhhmm.."
"Eh mama kapan datang? Ada apa mama kesini? Kok gak kabari aku?". Agung tampak kaget dengan kedatangan mamanya yang mendadak sudah ada dalam ruangannya. Yuda mengikuti dari belakang.
"Bukan gitu ma, kan kalau mama kabari dulu, aku bisa minta Yudha buat jemput mama. Mama bisa tunggu aku di apartemenku tanpa perlu repot nyusul kesini". Jelas Agung.
"Mama itu kangen sama putra mama. Kamu terlalu sibuk sampai jarang mengunjungi mama, apalagi sejak papamu meninggal. Mama jadi kesepian hanya ditemani Bi Anis di rumah sebesar itu. Coba kamu cepat sudah menikah dan memberikan mama cucu, pasti di usia senja mama tidak akan kesepian. Mama ini sudah tua Gung, mama ingin menimang cucu". Ujar Bu Diana panjang lebar, pandangannya menerawang ke depan. Mata nampak berembun.
Agung hanya terdiam mendengar ucapan mamanya, dia selama ini tinggal di apartemen karena biar dekat dengan kantornya. Dia ingin mengabulkan keinginan mamanya untuk segera menikah tapi tidak semudah itu menemukan wanita yang tepat. Sedangkan wanita yang dia sukai sekarang belum tentu menyukainya.
"Tuh Pak udah dikodein tuh sama Tante, buruan dekati wanita itu, ntar keduluan yang lain malah nyesel". Goda Yuda asisten Agung.
Agung menatap tajam ke arah Yuda, sedangkan yang ditatap hanya menahan tawa.
__ADS_1
"Wanita siapa yang kamu maksud Yud? Apa Agung tengah menyukai seorang wanita?". Selidik Bu Diana.
"Bukan siapa - siapa ma, Yuda cuma asal ngomong". Jawab Agung berkilah, dia tidak ingin mamanya tau dulu soalnya Aisyah karena dia belum dekat dengan wanita itu. Takutnya mama kecewa kalau berharap tapi malah gak jadi.
"Mama gak nanya sama kamu. Jujur aja Yuda, gak usah takut sama Agung. Nanti tante yang marahin dia". Ucap Bu Diana menatap tajam pada anaknya, Agung yang ditatap seperti itu hanya menunduk tidak berani membantah wanita yang melahirkannya itu.
"Jadi gini Tante, sudah dua kali Pak Agung bertemu dengan wanita itu. Yang pertama di Mal mereka tidak sengaja bertabrakan, sejak hari itu Pak Agung selalu kepikiran wanita itu. Yang kedua kemarin waktu mengikuti seminar UMKM dimana Pak Agung menjadi sponsor acara itu dan ternyata wanita itu menjadi pembicara di acara tersebut". Ungkap Yuda.
"Oya saya jadi penasaran siapa wanita yang bisa mencairkan sikap dingin Agung pada wanita yang seperti sedingin kutub utara". Kelakar Bu Diana, dia nampak antusias mendengar cerita asisten putranya.
"Namanya Andi Aisyah Maharani, saya ada fotonya. Sengaja saya diam - diam foto untuk menunjukkan pada Tante nantinya, soalnya Pak Agung terlalu lambat gerakannya". Jawab Yuda sembari menunjukkan foto Aisyah pada Bu Diana. Agung melotot mendengar penuturan asistennya.
"Masyallah cantik sekali dia, pasti dia wanita yang santun. Tante punya firasat yang bagus kalau dia wanita baik - baik". Ucap Bu Dinda memuji Aisyah.
"Dengarin mama Gung, pokoknya kamu harus cepat dekati wanita ini dan kenalin sama mama. Mama sudah sreg banget sama dia". Ujar Bu Diana bersemangat.
"Iya ma". Jawab Agung singkat.
"Ya udah mama pulang dulu, mama tunggu di rumah mama. Kita makan malam bersama". Ujar Bu Diana.
"Iya ma nanti aku ke rumah mama, biar Yuda antar mama pulang". Ucap Agung.
"Gak usah, ada Pak Yono nungguin mama di bawah. Kamu jangan lupa ucapan mama tadi Gung". Pamit Bu Diana meninggalkan ruangan anak
Agung menghela nafas sepeninggalan mamanya.
"Tenang Pak nanti saya bantu cari tau soal wanita itu". Ucap Yuda sambil menepuk pundak atasannya. Agung dan Yuda teman semasa sekolah, makanya Yuda tak sungkan kepada Agung.
__ADS_1
Agung hanya diam tak menjawab, dia sedang berpikir. 'Semoga wanita itu mau denganku agar aku tidak mengecewakan mama'. Batin Agung.
Bersambung.