
Pov (Aisyah)
"Ibu hamil kagak boleh melamun". Tegur Emak lalu mengajakku masuk ke dalam rumah diikuti Mbok Minah.
Aku dan Emak duduk di sofa, Mbok Minah meletakkan bungkusan yang dibawanya ke dapur tidak lama kemudian kembali dengan membawa minum dan kue, setelah itu dia pamit pulang.
"Nih cobain kue dari Fitri, dia nitip salam buat kamu. Jaga baik - baik ya kandungan kamu". Nasehat emak sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Emak tau dari Babe soal kehamilan kamu, Arya yang bilang. Kabar gembira gini kenapa kamu gak kabari kami? Emak jadi keingat anaknya Fitri, dia perempuan. Pasti dia cantik banget walaupun Emak gak sempat liat muka dia". Ujar emak lagi sambil mengusap sudut matanya.
"Iya emak aku sengaja gak kasih tau kalian dulu karena kita baru aja berduka, aku takut membuat kalian sedih". Jawabku dengan suara parau.
"Insyallah anak kamu nanti bakal menjadi pengganti cucu Emak yang sudah tenang di sisi Allah". Tutur emak sambil tersenyum, terpancar rona bahagia dari wajahnya.
Aku mengangguk dan ikut tersenyum.
"Oya apa seperti itu perlakuan ibu mertuamu selama ini ke kamu atau setelah kalian pindah?" Tanya Emak dengan tatapan menginterogasi.
Aku hanya diam dan tertunduk, aku tidak berani menetap emak. Aku juga malu karena ketahuan berbohong kepada emak atas perlakuan ibu mertuaku.
"Jawab Ais, jangan diam aja. Kamu udah anggp seperti anak emak sendiri. Emak juga sakit kalau ada yang nyakitin kamu". Tekan emak.
Jujur aku bingung untuk menjawab pertanyaan Emak. Aku meremas tanganku sendiri.
"Ya sudah kalau kamu gak mau cerita, mungkin bagi kamu emak ini orang lain". Ucap Emak lalu memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Aku meraih tangan Emak, sungguh aku tak ada niat membuat beliau sedih
"Tolong jangan ngomong gitu emak, Ais juga udah anggap Emak dan Babe sebagai orang tuaku. Ais minta maaf, sebenarnya bukan gak mau cerita, cuman Ais gak mau buat kalian sedih dan kepikiran". Ungkapku tak kuasa menangis air mataku.
Emak lalu ngelus rambutku dan menfhapus air mataku. "Ya udah lupain saja, emak minta maaf kalau udah maksa kamu buat cerita. Emak sayang sama kamu, jangan simpan luka dan kesedihan kamu sendiri. Insyaallah selagi Emak sanggup, Emak gak akan biarin ada sakiti kamu".
Aku terharu mendengar ucapan Emak. Seandainya ibu mertuaku bisa menyayangiku seperti ini.
"Ais boleh nanya gak emak?". Tanyaku ragu
Emak menggangguk. "Boleh tanya aja, gak usah sungkan". Jawab Emak.
Emm.. Bude Sari pernah bilang kalau Emak, Bude Sari dan Ibu mertuaku dulunya bersahabat tapi kenapa aku gak pernah liat kalian bersama? Malah ibu mertuaku seolah menghindar kalau ketemu Emak, Ais juga baru tau kalau kalian bersahabat dari Bude Sari". Tanyaku lagi.
"Maesaroh itu pendatang di daerah sini, dia adalah anak seorang janda yang bekerja sebagai asisten rumah tangga, dia awalnya tinggal di kampung bersama bibinya tapi saat ibunya meninggal, dia kemudian di angkat anak danĀ disekolahkan sampai tamat sekolah menengah atas oleh majikan ibunya itu yang kemudian jadi mertuanya alias orang tua dari almarhum Surya, bapak mertua kamu. Kami berlima yaitu Babe, Emak, Sari, Danang almarhum suaminya Sari dan almarhum Surya adalah teman sepermainan dari kecil. Kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Hampir tiap hari kami bermain di lapangan depan. Hingga suatu hari Surya memperkenalkan Maesaroh kepada kami yang kemudian kami berenam menjadi sahabat sampai kami beranjak dewasa. Surya diam - diam mencintai Mae tapi ternyata Mae menyukai Danang sayangnya cinta bertepuk sebelah tangan karena Danang menyukai Sari. Karena sakit hati Mae memusuhi mereka berdua dan menerima cinta Surya. Emak dan Sari menikah dengan pasangan kami masing - masing. Setelah beberapa bulan kemudian disusul Mae yang menikah dengan Surya. Setelah menikah kami jarang bertemu dengan Mae. Untuk alasan kenapa Mae selalu menghindar kalau ketemu Emak, itu karena rahasia yang Emak sampai sekarang yang menyangkut suamimu". Terang Emak.
Aku mendengarkan dengan seksama cerita emak, jadi karena persoalan percintaan yang membuat persahabatan mereka renggang. Tapi aku masih penasaran dengan rahasia lain antara Emak dan ibu mertuaku apalagi beliau bilang rahasia itu menyangkut suamiku.
"Rahasia apa emak?" Tanyaku.
Emak terlihat ragu. "Sepertinya udah saatnya rahasia ini Emak ungkap bagaimana pun kamu istrinya Arya. Emak tidak ingin terbebani seumur hidup Emak". Ucap Emak bimbang.
"Suatu hari saat Emak tengah mengandung Irfan. Tiba - tiba Mae datang ke rumah Emak sambil menangis sambil menggendong Ryan ynag baru berusia tiga tahun. Kemudian dia bercerita kalau dia sedang mengandung juga dan ingin menggugurkan kandungannya, emak kaget dengan perkataannya. Dan dia pun mengaku kalau bayi yang kandung ada hasil dari perselingkuhannya dengan seorang pria yang dikenal dari temannya. Perselingkuhan itu terjadi saat Surya sedang menemani ibunya yang sedang sakit untuk berobat di luar kota. Alasannya ingin menggugurkan kandungannya karena pria itu juga sudah mempunyai istri serta mencampakkan Mae dan sudah kembali ke daerah asalnya. Dia tidak ingin mengandung anak yang dia sebut anak haram itu, dia sempat melakukan berbagai cara tapi bayi itu terlalu kuat. Emak membujuknya agar tidak menggugurkannya, dia pun setuju asal Emak tidak memberitahukan siapapun. Dan kamu tau anak itu adalah Arya suamimu". Ungkap Emak.
"Emak berharap Almarhum Surya bisa memaafkan karena tidak pernah memberitahukan kepada tentang pengkhianatan Mae. Emak juga merasa bersalah sama Arya karena sudah menyembunyikan ini. Emak memang sudah berjanji tidak bilang siapapun tapi Emak sudah sanggup menyimpan rahasia ini, tolong kamu yang beritahu suami kamu, Emak gak sanggup ngomong ke dia ". Ucap Emak sambil menangis.
__ADS_1
Aku syok mendengar cerita emak sambil menutup mulutku, aku tidak percaya kalau ibu Mertuaku pernah berniat membunuh suamiku saat dia masih dalam kandungan. Apakah ini penyebab perlakuan berbeda ibu mertuaku kepada Mas Arya?. Aku pun bingung bagaimana menyampaikan hal ini kepada Mas Arya, aku yakin pasti dia akan sangat terluka.
"Assalamualaikum". Mas Arya sudah pulang, dia bingung melihatku dan Emak yang habis menangis. Kami berdua sama - sama terlihat gugup.
"Wa.. Wa'alaikum salam". Jawabku dan Emak dengan suara bergetar.
"Ada apa nih kok Emak dan Aisyah kayak habis nangis?" Tanya nya.
"Ini aku nangis karena habis melepas rindu sama Emak, kan hampir dua bulan kami gak bertemu. Emak juga nangis bahagia karena kehamilanku Mas". Jawabku berbohong.
Emak cuma mengangguk kemudian Mas Arya ikut duduk bersama kami.
Setelah itu emak mengeluarkan map yang sedari tadi ada di atas meja, emak lupa memberikan kepadaku karena cerita tadi.
"Ini sertifikat rumah ini sekarang sudah menjadi milik Aisyah, hadiah dari kami atas kehamilannya". Ucap Emak memberikan map itu kepadaku.
Aku terharu dengan pemberian emak.
"Kamu ingat gak waktu Mas minta tanda tangan kamu buat surat ijin usaha dalam berkas itu Mas selipin berkas untuk balik nama sertifikat rumah". Ujar Mas Arya seolah tau akan rasa penasaranku kenapa sertifikat itu bisa tertera namaku.
Setelah menyerahkan sertifikat itu emak pamit pulang, Mas Arya mengajakku untuk beristirahat di kamar.
Aku masih kepikiran soal asal - usul suamiku, bagaimana cara ngasih tau dia. Lebih baik nanti saja tunggu waktu yang tepat baru aku kasih tau dia. Sejak tau aku hamil, Mas Arya tambah perhatian denganku. Setiap hari dia selalu tersenyum. Aku tidak ingin hapus senyumnya karena rahasia itu. Maafkan aku Mas.
Bersambung.
__ADS_1