Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 61


__ADS_3

Pov (Author)


     Tiga hari kemudian.


Kondisi Arya sudah membaik dan dia tengah bersiap untuk ke kantor, Aisyah melayani suaminya dengan yang baik. Setelah selesai sarapan dia berpamitan dengan Aisyah, tidak lupa membawa bekal buatan istrinya dan menci*um keningnya.


Dia lalu menaiki mobilnya dan melesat menuju tempat kerjanya.


Sekitar hampir satu jam dia telah sampai di kantornya, setelah memarkirkan mobilnya, dia segera masuk ke dalam gedung kantornya. Nampak para karyawan melirik padanya dan ada yang berbisik - bisik. Arya tau betul pasti mereka membicarakan soal kemesraannya dengan Siska tempo hari padahal yang mereka tahu Arya sudah menikah, walau pun mereka belum bernama bertemu dengan istri Arya. Mungkin mereka pikir Arya sudah berselingkuh dengan Siska. Sedangkan peraturan kantor ini melarang perselingkuhan. Biarlah sekarang mereka bergosip dan merangkai cerita mereka sendiri, hingga nanti kebenaran yang akan membungkam mulut mereka sendiri dan membersihkan nama baiknya.


Arya sampai di ruangannya tapi dia tidak melihat Siska di meja kerjanya, padahal dia ingin menuntut penjelasan dari wanita itu. Dia sangat yakin semua ini ada campur tangan Siska. Mengingat kejadian itu membuat Arya menjadi semakin benci padanya.


Dia masuk ke dalam ruangannya dan menjatuhkan bobotnya di kursi.


Kring


Kring


Telepon di atas meja Arya berdering, dia segera mengangkatnya.


"Hallo selamat pagi".


"Baik pak, saya akan segera ke ruangan bapak". Arya lalu meletakkan gagang teleponnya kembali dan menghela nafas.


"Ada apa Pak Doni memanggilku ke ruangannya? Semoga bukan karena hal buruk". Gumam Arya, dia pun bergegas menemui direkturnya itu.


Akhirnya dia tiba di ruangan bertuliskan direktur. Asisten Pak Doni lalu mempersilahkan Arya untuk masuk.


"Selamat pagi Pak". Ucap Arya begitu berada di ruangan Pak Doni.


"Pagi juga Arya, silahkan duduk". Balas Pak Doni


Pak Doni mengerutkan keningnya. "Kenapa kepala anda?" Tanya Pak Doni sambil menunjuk ke arah kepala Arya yang tertutup plester.

__ADS_1


"Hanya insinden kecil Pak". Jawab Pak Arya berbohong. Tidak mungkin dia bercerita kalau luka ini dia dapatkan karena dipukul istrinya menggunakan vas bunga, sebab dia kesurupan dan hampir membu*nuh istrinya sendiri. Bisa - bisa dia diketawai atau bahkan lebih parah dia akan di pecat karena hampir melakukan tindakan kriminal.


Pak Doni hanya manggut - manggut. "Oya apa anda tau kenapa saya memanggil anda ke sini?". Tanya Pak Doni lagi menatap Arya.


"Maaf Pak saya tidak tahu". Jawab Arya.


"Oke karena anda tidak tahu jadi akan saya menjelaskannya, sebelumnya anda pasti tahu kalau ada peraturan di perusahaan ini kalau ada larangan bagi karyawannya melakukan perselingkuhan, apalagi itu dilakukan sesama karyawan". Ujar Pak Doni menatap tajam ke arah Arya.


Arya mulai mengerti maksud dari Pak Doni memanggilnya, pasti dia sudah tau tentang kemesraannya dengan Siska tempo lalu dari cerita karyawan yang lain.


"Apa sekarang anda sudah tahu kenapa saya memanggil anda?" Tanya lagi.


"Iya pak saya sudah tahu, sebelum tuduhan itu dituduhkan kepada saya. Saya akan menjelaskan alasannya. Sebebarnya saya tidak selingkuh dengan Siska, itu terjadi dalam keadaan saya tidak sadar. Entah apa yang di lakukan Siska sampai saya jadi menuruti semua kemauannya. Entah Pak Doni percaya atau tidak, tiga hari yang lalu saat saya izin sakit itu karena malamnya saya sempat kesurupan dan hampir menyakiti istri saya dan luka ini dipukul oleh istri saya untuk menyelamatkan diri. Kalaupun Pak Doni tidak percaya, saya bisa hadirkan saksi yaitu istri saya sendiri, para tetangga yang menyaksikan kejadian itu dan juga Pak Ustadz yang menolong saya". Jawab Arya dengan sejujur - jujurnya, akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya untuk membela diri.


"Maksud anda kalau Siska memelet anda?" Tanya Pak Doni


"Bisa dibilang seperti itu, tapi saya belum memastikan ini benar ulah Siska atau bukan. Saya ingin menanyakan langsung pada dia tapi dia tidak masuk hari ini, kata karyawan yang lain dia juga tidak masuk sejak saya izin sakit". Jawab Arya.


"Saya percaya tentang anda bilang kalau anda terkena pelet, karena dulu saya mempunyai sahabat yang mengalami hal yang sama seperti anda alami. Beruntungnya Pak Arya masih selamat, sedangkan sahabat saya sekarang dirawat di Rumah Sakit Jiwa setelah menghabisi anak dan istrinya. Dan wanita yang melakukan sihir pada entah hilang kemana". Ujar Pak Doni pandangan Merawang ke atas.


"Terima kasih karena Pak Doni percaya sama saya". Ucap Arya sambil menundukkan kepalanya.


"Untung saya langsung mendengarkan kebenarannya langsung dari Pak Arya, jadi saya tidak asal mengambil keputusan memecat anda. Bagaimanapun anda termasuk karyawan terbaik bagi perusahaan ini. Kalau Pak Arya butuh bantuan jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada saya. Insyaallah saya siap membantu Pak Arya, semoga Pak Arya sekeluarga selalu dalam lindungan Allah SWT.. Aamiin. Saya juga minta maaf karena bagaimanapun Siska kerja disini karena ayah saya memasukkan dia kesini, saya tidak menyangka dia berbuat melakukan hal sejahat itu". Tutur Pak Doni sambil tersenyum tidak ada lagi wajah garang seperti sebelumnya. Dia malah merasa bersalah pada Arya dan merasa simpati padanya.


"Aamiin makasih Pak, doa yang terbaik juga untuk Pak Doni sekeluarga. Itu bukan kesalahan Pak Doni, kita tidak bisa mengatur isi hari orang lain. Kalau begitu saya mohon pamit untuk melanjutkan pekerjaannya saya". Ucap Arya.


"Silahkan Pak Arya, maaf mengganggu waktu anda". Ujar Pak Doni.


Arya menunduk kepala sebelum meninggalkan ruangan atasannya itu. Setelah di luar dia bernafas lega, tinggal mencari keberadaan Siska untuk meminta penjelasannya. Kalau benar dia dalang dari kejadian ini, Arya memastikan akan membuatnya mempertanggung jawabkan perbuatannya.


***


Sementara itu.

__ADS_1


Di sebuah rumah sakit swasta, di ruangan VVIP ada seorang wanita yang sedang terbaring tak sadar diri dengan wajah yang tutupin perban sebagian.


Nampak seorang wanita paruh baya yang tengah menangis di sampingnya.


Tiba - tiba ada pergerakan dari wanita yang terbaring itu.


"Ma...". Ucapnya lirih.


"Sayang kamu sudah sadar nak". Ucap wanita paruh baya itu yang merupakan ibu dari wanita yang terbaring itu. Ibunya lagi memanggil perawat melalui tombol nurse call button.


    "Ma aku ada dimana ini, dan kenapa dengan mukaku ma?" Tanya nya dengan suara parau sambil menyentuh wajahnya.


Belum sempat ibunya menjawab pertanyaannya anaknya, dokter dan perawat masuk ke dalam ruangannya.


"Selamat siang bu Siska, perkenalkan saya dokter Widya, saya dokter spesialis bedah yang menangani ibu. Gimana keadaan ibu saat ini? Apa ada keluhan?" Tanya tersebut dengan ramah.


"Dokter bedah? Muka saya kenapa dok? Kenapa di perban seperti ini?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah Siska.


"Begini Bu, tiga hari yang lalu ibu Siska dibawa oleh keluarga dalam keadaan tak sadarkan diri dengan wajah terbakar sebagian yang cukup parah. Dan menurut penuturan keluarga ibu, kalau ibu mengalami kecelakaan saat memasak". Jawab dokter Widya.


"Apa?? Muka saya rusak??? Tapi.. tapi bisa diperbaiki kan seperti semula muka saya dok?? Saya tidak akan cacat kan??". Tanya Siska sambil berteriak.


"Mohon tenang dulu bu, biar saya jelaskan. Kami baru melalukan satu kali operasi masih ada beberapa kali operasi untuk memperbaiki wajah ibu tapi kami mohon maaf kalau kami tidak bisa memberikan harapan kalau wajah ibu bisa kembali seperti sedia kala". Jelas dokter Widya.


"Dasar tidak becus, saya tidak mau tahu kalian harus buat muka saya kembali seperti semula. Berapa pun akan saya bayar. Ma.. aku gak mau cacat ma. Uang kita kan banyak tolong bawa aku keluar negeri cari rumah sakit yang terbaik". Ujar Siska histeris, Bu Merry menangis melihat keadaan putri semata wayangnya. Dia mencoba menenangkan Siska. Tapi Siska malah mengamuk dan hendak melepas jarum infus yang terpasang di tangan. Dengan terpaksa dokter menyuruh perawat memberikan suntikan obat penenang kepada Siksa.


Setelah diberikan obat penenang, Siska pun tertidur, perawat juga sudah memperbaiki infus Siska yang hampir terlepas.


"Ma, gimana keadaan Siska?" Tanya Pak Rudi ayah dari Siska.


"Tadi dia sempat mengamuk pah, karena tidak bisa menerima kondisi wajahnya. Mama gak tega melihat dia kayak gitu pah, kita harus bawa dia ke luar negeri untuk mengoperasi wajah dia biar kembali seperti semula. Kita harus berbuat apapun buat putri kita satu - satunya". Desak Bu Merry sambil menangis.


"Tenang dulu mah, papa juga berniat untuk kabur ke luar negeri karena papa terbukti melakukan pencucian uang, papa tidak mau dipenjara. Papa akan urus secepatnya kita pergi dari negara ini". Ucap Pak Rudi, Bu Merry hanya diam karena dia juga mengetahui perbuatan suaminya. Itu juga karena dirinya dan Siska yang suka menghambur - hamburkan uang".

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2