Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 35


__ADS_3

Pov (Ryan)


Namaku Ryan umurku sekarang tiga puluh tahun, aku sudah menikah dengan wanita cantik bernama Isabella dan kami dikaruniai seorang putri yang cantik dan pintar yang bernama Almaira Winata


Dari kecil aku kurang mendapat perhatian dari kedua orang tua karena mereka sibuk dengan urusan mereka masing - masing, aku hanya ditemani dengan pengasuhku. Walaupun mereka jarang ada waktu untukku tapi mereka memperlakukanku dengan baik padaku.


Aku mempunyai seorang adik laki - laki dan seorang adik perempuan. Aku sangat menyayangi mereka berdua, terlebih pada adikku laki - lakiku yang bernama Arya karena kami sama - sama tidak mendapatkan perhatian dari orang tau khususnya ibu. Walaupun ibu kurang perhatian terhadapku tapi beliau tetap bersikap baik padaku sedangkan pada Arya, sikap ibu terkesan acuh dan sinis. Aku tidak tau mengapa ibu seperti itu padanya. Tapi syukurnya Ayah sangat menyayanginya.


Setelah lulus kuliah, aku memilih untuk membuka usaha sendiri bersama temanku dan usaha kamipun berkembang pesat seiring waktu berjalan tapi mendadak temanku memilih untuk membuka usaha sendiri karena dia tidak puas dengan sistem bagi hasil yang menurutnya tidak adil, yaitu akuĀ  mendapat bagian enam puluh persen sedangkan dia empat puluh persen. Wajar aku dapat bagian yang lebih banyak karena modal awal semua dariku, kalaupun dia ingin protes kenapa tidak dari awal usaha ini dibangun bukan setelah berkembang pesat.


Usaha kami ini akhirnya menjadi milikku seutuhnya, walaupun awalnya dia tidak terima tapi dengan terpaksa dia mengalah dan bersumpah akan mempunyai usaha yang lebih sukses dariku. Aku tidak peduli dengan omongannya, yang penting usaha ini sudah jadi milikku tentu saja pendapatanku makin banyak karena pendapatannya sudah tidak dibagi lagi.


Setelah aku merasa cukup mapan, aku pun melamar gadis pujaanku yang merupakan karyawan tokoku. Iya aku berbohong pada kedua orang tuaku kalau Bella adalah anak orang kaya tapi orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Aku sengaja berbohong agar ibu merestui hubungan kami karena aku tau ibu tidak akan setuju kalau tau calonku hanya seorang gadis miskin yang yatim piatu.


Akhirnya kamipun menikah dengan meriah, Arya tidak hadir karena saat itu dia sedang berada diluar kota. Setelah menikah kamipun pindah ke rumah yang sudah aku siapkan untukku dan Bella tempati, karena Bella tidak ingin tinggal seatap dengan orangtuaku alasannya agar mandiri. Aku pun menuruti keinginannya karena cintaku yang begitu besar untuknya.


Setelah beberapa bulan menikah, Bellapun hamil. Orang tuaku sangat senang khususnya ibu, beliau sangat menyayangi Bella.


Aku sering memberikan uang kepada ibu menggunakan nama Bella agar ibu semakin menyayangi istriku. Aku ingin dia menjadi menantu sempurna di mata keluargaku. Kebahagiaan kami semakin bertambah setelah kelahiran Maira, dia menjadi cucu kesayangan.


Sejak aku menikah aku jarang bertemu dengan adikku Arya, hingga aku dengar dia ingin melamar pujaan hatinya yang berasal dari pulau seberang. Ibu menentang keinginannya karena selain perbedaan suku, juga karena wanita itu berasal dari kampung dan yatim piatu. Aku jadi kuatir kalau ibu tau asal usul Bella yang tidak jauh beda dengan calonnya Arya.

__ADS_1


Terpaksa cuma ayah yang menemani Arya untuk melamar pujaan hatinya. Ibu menolak ikut dengan alasan adikku Rani sedang ujian, kasihan kalau ditinggal sendiri. Sedangkan aku tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan, lagian itu juga baru lamaran.


Tapi ternyata ayah mengabari kalau lamaran Arya diterima dan pernikahan akan diselenggarkan dalam seminggu kemudian. Aku juga tidak bisa hadir begitupun juga ibu.


Dua Minggu kemudian Arya pulang dengan seorang wanita, aku dan keluarga kecilku sengaja datang ke rumah orang tuaku untuk menyambut mereka.


Wanita bernama Aisyah itu terlihat sangat sederhana terlihat jelas dari penampilannya, tapi untuk seorang gadis desa dia sangat cantik tanpa polesan riasan apapun serta kulitnya yang putih bersih, berbeda dengan istriku yang didukung dengan perawatan mahal. Tapi Bella terlihat lain saat melihat Arya, mungkin karena mereka baru bertemu. Kami semua menyambut dengan baik pasangan pengantin baru itu, tapi tidak dengan ibu yang terlihat terpaksa menerima menantu barunya. Begitu juga dengan adikku Rani yang terlihat sinis.


Waktu berlalu, hingga aku dengar kalau Arya mangalami PHK dan saat itu juga Ayah berpulang. Kata ibu, ayah syok mendengar Arya di PHK karena Arya anak kesayangannya. Kami semua merasa sangat kehilangan khususnya Arya yang sangat dekat dengan ayah.


Aku sempat menawarkan pekerjaan untuk Arya tapi dia menolak dengan halus. Beberapa bulan setelah kepergian ayah, aku menyarankan ibu untuk mengajak Arya dan istrinya tinggal bersamanya. Biar ibu ada yang temani dan Arya tidak perlu membayar kontrakan karena dia juga belum bekerja. Ibu pun menyetujui saranku.


Singkat cerita mereka pun sudah setahun tinggal di rumah ibu, aku sering mendengarkan keluhan ibu tentang istri Arya yang pemalas dan boros apalagi dia belum juga hamil. Aku tidak terlalu menganggapi keluhan ibu karena aku tidak tinggal dengan mereka tapi menurutku, setiap berkunjung ke rumah ibu, Aisyah selalu terlihat rajin dan melayani kami dengan baik. Istri dan anakku juga dekat dengannya.


Ternyata baru berapa bulan pindah dari rumah ibu, rejeki mereka malah mengalir deras dari Arya yang kembali menjadi manager di perusahaan tempat kerjanya yang dulu hingga usaha yang mereka jalani semakin laris. Dan aku dengar mereka punya tempat produksi untuk memproduksi cemilan dan lulur kecantikan.


Aku awalnya senang dengan kesuksesan mereka tapi entah mengapa ada timbul rasa iri di hatiku karena Arya semakin sukses, sedangkan usahaku malah down. Aku pun terpaksa menghentikan pemberian uang untuk ibu karena kondisi keuanganku yang tidak seperti sebelumnya. Anak ibu kan bukan aku saja, masih ada Arya yang sekarang sudah sukses. Biarlah sekarang giliran dia yang menanggung kebutuhan ibu dan Rani.


"Ayah ayo kita jalan - jalan lagi". Rengek Maira menyadarkan lamunanku.


"Nanti ya sayang, ayah sekarang lagi banyak pekerjaan". Ucapku lembut.

__ADS_1


"Tapi ayah janji - janji terus kayak gitu, dulu ayah gak pernah kayak gini". Rengeknya lagi.


"Berisikkkk, kalau ayah bilang nanti ya nanti". Bentakku. Maira mulai menangis dan berlari ke kamarnya. Karena selama ini aku tidak pernah berlaku kasar padanya.


Aku yang sedang banyak pikiran tanpa sadar membentaknya. Sejak usahaku mengalami penurunan, emosi menjadi tidak stabil. Aku menjadi tempramental. Hubunganku dengan Bella juga menjadi tidak harmonis lagi. Kami sering bertengkar apa lagi kalau bukan soal uang.


"Mas kenapa kamu bentak Maira kayak gitu? Kasihan dia sampai nangis. Apa salahnya sih kamu turuti kemauan dia?". Bella datang memarahiku.


"Tolong kamu mengerti keadaan kita saat ini, harusnya kamu kasih pengertian sama dia. Kamu juga tolong stop dulu kebiasaan belanja mu itu, keuangan kita sudah tidak kayak dulu, usahaku lagi down. Aku juga lagi banyak pikiran". Jawabku kesal


"Dia itu masih anak - anak Mas. Makanya kamu kerja yang benar, atau kamu minta suntikan dana dari adik kamu itu. Dia kan udah sukses, belum lagi usahanya makin maju. Masa dia gak mau bantuin kita". Cerca Bella


"Aku gak mau, aku malu minta bantuan sama dia". Ucapku tidak setuju dengan idenya bagaimanapun aku tidak ingin terlihat menyedihkan pada adikku itu.


"Alah gengsi aja ya kamu pikirkan, emang gengsi kamu itu bisa bikin kita kenyang? Mau sampai kapan kondisi kita kayak gini? Aku pusing gak bisa shopping, perawatan dan jalan - jalan, belum lagi ibu kamu yang matre itu gak berhenti hubungi aku minta uang". Ujar Bella geram.


"Jaga ucapanmu Bella, yang kamu sebut matre itu wanita yang melahirkanku". Hardikku.


"Jangan ngomong keras sama aku. Aku begini karena kamu udah gak bisa nurutin kemauan aku kayak dulu lagi". Ucapnya kemudian masuk ke kamar Maira.


Aku meremas rambutku kasar. Sejak aku usaha down, sikap Bella mulai berubah. Dia yang sebelumnya bersikap lembut, sekarang sering melawanku. Dia juga sudah tidak pernah melayaniku dengan baik. Apa aku salah selama ini memanjakan dia dengan harta?.

__ADS_1


Entah apa yang membuat usahaku seperti ini, tiba - tiba saja menjadi sepi. Terbesit dipikiranku untuk meminta bantuan pada adikku tapi malu rasanya.


Bersambung.


__ADS_2