
Pov (Aisyah)
Malam harinya.
Lapak masih ramai dengan pembeli yang berdatangan, dari yang makan ditempat ataupun yang takeaway. Khusus takeaway disediakan tempat tersendiri untuk menunggu.
Mas Arya sempat membantu di lapak, setelah semua pelanggan sudah dilayani, dia pamit mau ke pos ronda.
Jam di ponselku sudah jam sembilan malam, sekitar sejam lagi lapak akan tutup. Aku mengecek aplikasi menulisku, sudah beberapa hari ini aku belum menulis lagi. Banyak pembaca yang menanyakan kapan aku membuat kelanjutan novelku.
Aku membalas komenan dari mereka dan meminta maaf karena beberapa hari belum ada bab baru dikarenakan kesibukanku dan berjanji segera mengupdate cerita lagi.
Saat hendak menyimpan ponselku, ada telvon dari Mas Arya.
'Assalamu'alaikum yank, lapak lagi rame gak? Bisa minta tolong antarin kopi dan indo*mie telur untuk lima orang'. Tanya suamiku diseberang.
"Wa'alaikum salam, bisa mas nanti aku minta tolong Jaka antarin kesitu". Jawabku.
Seusai telfon ditutup, aku dan Ratna membuat pesanan tersebut. Setelah siap semua, Jaka segera mengantarkan ke pos ronda.
***
Dikit lagi jam sepuluh, sudah tidak ada pengunjung yang makan hanya ada dua orang takeaway dan sedang menunggu pesanan mereka dibuatkan.
Setelah sudah tidak ada lagi pengunjung kami mulai membereskan lapak. Aku menghitung penghasilan hari ini Alhamdulillah lebih banyak dari kemarin kemudian membawanya ke kamar. Aku minta tolong Ratna mengecek apa saja stok yang menipis atau habis.
Ratna memberiku catatan stok yang sudah habis dan tinggal sedikit. Lapak sudah selesai dibereskan. Mereka pun pamit pulang kerumah masing - masing.
Tidak berapa Mas Arya pun balik ke rumah.
"Assalamualaikum maaf yank aku pulangnya kelamaan jadi gak bantu kamu tutup lapak. Ini uang pesanan tadi. Mereka yang di pos ronda muji makanan lapak kita, katanya rasanya beda kayak ada tambahan bumbu lain tapi enak rasanya. Oya yank bagaimana kalau kita tambahin gorengan juga? Cocok buat teman minum kopi, tadi bapak - bapak pada nanyain". Ujar Mas Arya begitu masuk ke rumah dan mengandengku ke kamar.
"Wa'alaikum salam, iya gak apa - apa lagian ada karyawan kita yang bantuin. Alhamdulillah yank penghasilan kita hari ini lebih dari kemarin. Yang datang pun ada yang di luar kompleks kita juga. Hmm.. nanti aku pikirkan mas, aku juga rencana tambahin jajajan lainnya". Ucapku
__ADS_1
"Alhamdulillah yank, moga lancar terus usaha kita, selalu bersyukur dan jangan lupa di dalam harta kita ada hak fakir miskin dan anak yatim". Ujarnya lagi.
"Iya Mas aku gak lupa kok, udah aku sisihkan untuk itu. Oya mas nanti tolong daftarkan lapak kita di aplikasi pesan antar ya kan kamu yang lebih ngerti soal gituan, aku udah fotoin menu - menu kita". Kataku.
"Gampang nanti Mas daftarin, tapi kayaknya kamu harus punya hape tersendiri khusus untuk lapak, biar gak repot kalau cuma pake satu hape aja. Ntar mas beliin kamu hape baru, hape yang sekarang dipake buat orderan lapak. Mas ada kok uangnya". Tuturnya.
"Benar juga ya Mas, kalau cuma pake satu hape bakalan repot, apalagi hapeku yang ini udah penuh memorinya. Makasih yank, kamu memang semua paling pengertian". Ucapku sambil memeluknya.
"Sama - sama yank, tapi ada yang mau Mas sampaikan, mas sudah resign dari tempat kerja Mas yang sekarang". Ujarnya dengan muka sedih dan melepas pelukannya.
"Loh kenapa? Emang ada masalah sampai Mas mau resign?" Tanyaku kaget menatapnya.
"Soalnya mulai lusa Mas bakalan balik kerja lagi ke perusahaan Mas yang dulu dan di posisi Mas yang sebelumnya". Ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Alhamdulillah beneran Mas? Aku ikut senang, Allah begitu baik sama kita Mas, begitu banyak rejeki yang dilimpahkan ke kita Mas". Ungkapku terharu karena bahagia.
Mas Arya tersenyum dan mengangguk, aku memeluknya lagi.
" Ya udah kamu tidur gih seharian kan sibuk dilapak". Kata suamiku menci*um keningku.
Aku masih merekap nota penjualan dan mencocokkan dengan jumlah uang yang didapatkan. Alhamdulillah hasil sama. Semoga selalu lancar.
Karena belum ngantuk, aku membuka akun sosial mediaku. Ada beberapa postingan yang menandai ku mengenai review lapakku.
Aku baca satu persatu komenannya. Alhamdulillah hampir semua memberi komentar yang bagus, aku tersenyum membacanya. Tapi senyumku memudar saat ada satu komenan yang kurang baik tentang lapakku bahkan terkesan manghasut.
'Makanannya gak enak, harganya mahal untuk seporsi indo*mie, pelayanannya jelek, gak ramah. Pemiliknya mukanya jutek. Tempatnya pun kotor, norak. Kalian jangan mau beli disitu'. Komenan dari akun bernama 'Ratu Cantik'. Banyak yang memberi tanggapan, ada yang menyangkal komenannya dan mendukungku , ada yang mempertanyakan kebenaran dari pernyataannya dan ada satu orang yang mendukung. Mungkin itu juga temannya.
Aku buka profilnya tapi gak ada foto dan postingan apapun, aku jadi penasaran siapa sebenarnya dia. Kenapa dia seolah ingin menjatuhkan usahaku. Apakah aku mengenal orang ini? Aku tidak mau ambil pusing mungkin itu cuma orang iseng. Aku letakkan ponsel dan segera tidur.
Bismillah Insyallah besok lebih baik dari sebelumnya.
***
__ADS_1
Pov (Author)
Di rumah Mertua Aisyah
Rani bergegas ke kamar ibunya setelah melihat postingan di ponselnya.
"Bu lihat coba ini". Ujar Rani sambil memperlihatkan ponselnya ke ibunya.
"Apaan sih Rani, ganggu aja ibu lagi maskeran". Ucap Bu May sedikit kesal, karena dia sedang maskeran sambil tiduran di kamarnya.
"Ini loh Bu, lapak si udik itu baru dua hari buka tapi udah rame banget, banyak yang posting dan ngereview lapak dia. Postingan juga bagus - bagus semua, teman - teman aku juga ngeposting juga". Katanya jengkel.
"Alah baru dua hari juga bukanya, nanti lama kelamaan juga bakalan sepi, cuma jualan kayak gitu doang". Ujar Bu May meremehkan.
"Tapi emang makanan di lapak si udik enak kok Bu, malah lebih enak dari tempat yang biasa aku beli, aku aja masih kepengen makan lagi di sana tapi aku gengsi ntar malah besar kepala si udik itu". Balas Rani.
"Udah gak usah kamu pikirin, percaya sama ibu gak bakalan bisa sukses perempuan pembawa sial itu. Harusnya kamu doain biar jualan dia cepetan bangkrut, setelah itu kita jadikan dia babu lagi di rumah ini". Ucap Bu May sambil membersihkan wajahnya
Rani pun kembali ke kamarnya masih dengan perasaan kesal.
Bu May sebenarnya mengakui kalau makanan menantunya juga enak, dia juga liat dia grub ibu - ibu kompleks pada berkomentar bagus tentang lapak Aisyah. Tapi karena kebenciannya kepada menantunya, dia tidak ingin sampai Aisyah sukses.
Dia pun memikirkan cara agar bisa menghancurkan usaha Aisyah, dan membuat dia kembali menjadi pesuruh di rumahnya.
'Gak akan aku biarin perempuan sial itu sukses, pokoknya aku harus cara agar dia bangkrut. Aku gak rela dia jadi kaya, kalaupun nanti tidak bangkrut palinh tidak, aku dan Rani harus bisa ikut menikmati kekayaannya, palingan lapak itu dibiayai anakku mau dapat dari mana mereka sewa rumah dan buka usaha kayak gitu. Jadi itu juga ada hakku'. Aku akan rampas hakku'. Batin Bu May serakah.
Diapun mengambil ponselnya dan membuka sosial medianya kemudian memberikan komentar jelek mengunakan akun keduanya yang bernama 'Ratu Cantik' pada postingan yang menandai Aisyah.
Tidak berapa lama banyak yang merespon komentarnya. Banyak juga yang membela Aisyah tapi dia tersenyum senang karena ada satu akun yang juga mendukungnya untuk menjatuhkan Aisyah.
'Rasain kamu Aisyah, ini baru langkah awal. Saya gak akan biarkan kamu hidup enak', aku harus menguasai hasilnya. Gumam Bu May sambil menyinggungku senyum licik,
Dia pun bergegas tidur sambil membayangkan nanti akan menikmati hasil dari usaha milik anak dan menantunya. Kalau tidak bisa, dia berjanji akan menggunakan segala cara untuk menghancurkannya.
__ADS_1
Bersambung