Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 32


__ADS_3

Pov (Author)


"Nih mbak pendapat lapak hari ini". Ujar Ratna sambil menyerahkan penghasilan lapak, nota pesanan dan catatan pengeluaran pada Aisyah.


"Makasih ya Ratna, amankan lapak selama Mbak tinggal?". Tanya Aisyah.


"Aman terkendali Mbak, tenang aja kalau ada aku mah". Jawabnya sambil nyengir seraya menepuk dadanya.


"Oya mbak permintaan lulur meningkat nih banyak yang mau mesen, teman - teman aku juga pada tanyain". Ujarnya lagi


"Hmm.. mungkin Minggu depan baru mulai produksi lagi soalnya tempat produksi mau dipindahkan dulu, nanti kalau udah beres dan udah diproduksi baru kita buka lagi toko online kita di aplikasi Oren dan Aplikasi hitam". Ucap Aisyah.


"Ok siap kalau gitu aku pamit dulu, assalamualaikum". Pamit Ratna.


"Iya hati - hati, wa'alaikum salam". Jawab Aisyah


Ia pun segera mengunci pagar dan pintu kemudia kembali ke kamarnya. Setelah menghitung pendapatan lapak dan mencocokkan dengan nota serta catatan yang beri Ratna, dia pun menyimpannya dalam brangkas.


"Yank kalau udah beres, kamu tidur duluan gih, dede dalam dalam perut udah ngantuk, Mas mau nyelesai ini dulu". Ujar Arya kemudian mengecup kening dan perut Aisyah yang masih rata.


Arya masih di depan laptop memeriksa laporan yang dikirim bawahannya. Setelah selesai dia pun segera menyusul Aisyah yang sudah terlelap duluan.


***


Keesokan harinya


 'Maaf Bu aku belum bisa ngirim uang banyak paling cuma buat kebutuhan rumah dan kuliah Rani. Mungkin ini yang terakhir, sampai usahaku kembali kayak sebelumnya, ibu minta aja sama Arya. Kan dia udah jadi manager lagi, usaha dia juga makin maju. Masa dia gak mau bantuin ibu. Udah ya bu, jangan hubungi aku kalau cuma mau minta uang'. Ucap Ryan kemudian mematikan telfon.


Tring


Ada notifikasi masuk ke ponsel Bu May, ternyata Ryan mentransfer uang kepadanya.


'Hah? Cuma segini kalau dipotong dengan uang kuliah hanya tinggal lima ratus ribu'. Batinnya tak percaya dengan nominal uang yang dikirim oleh Ryan.


Bu May kesal dengan Putra pertama yang pertamanya yang selama ini dia banggakan. Sejak usahanya down, dia susah banget dimintai uang. Sekarang malah dia bilang gak akan ngasih lagi.


'Katanya istrinya anak orang kaya dan harta peninggalan mertuanya juga banyak kenapa gak digunain buat majuin usaha dia lagi? Apa Bella yang gak mau kasih? Awas saja kalau kayak gitu, gak akan aku biarin'. Gumam Bu May kesal.


Diapun memencet ponselnya lagi untuk menghubungi Arya, apa lagi kalau bukan untuk minta uang padahal saat gajian Arya sudah memberi uang cukup banyak padanya tapi belum ada pertengahan bulan sudah hampir habis.


Telfon tidak diangkat oleh Arya karena dia sedang rapat.


"Bu aku minta uang dong, mau nongkrong sama teman aku". Rani tiba - tiba muncul sambil menadahkan tangan.

__ADS_1


Bu Maya yang sedang kesal menatap Rani dengan mata melotot.


"Uang aja terus kamu tau nya, gak tau apa ibu lagi pusing mikirin uang udah menipis, jangan kerjanya minta mending kamu kerja sana biar gak bisa mikin ibu pusing". Jawab Bu May emosi.


"Ish ibu pelit banget sih sekarang, aku kan masih kuliah mau kerja apaan coba?". Ucap Rani merengek


"Terserah kamu mau kerja apa yang penting hasilin duit yang banyak atau cari pacar yang kaya. Bila perlu jadi simpanan pengusaha". Ujar Bu May ngasal kemudian berlalu ke kamarnya meninggalkan Rani sendiri di ruang tamu.


Rani yang kesal pun kembali ke kamar dan menutup keras pintunya, dia terpaksa tidak jadi pergi karena tidak mempunyai uang sama sekali.


Sementara Bu May kembali menghubungi nomor Arya.


Tut. Tut.


'Assalamu'alaikum Bu, ada apa Bu? Maaf tadi aku lagi rapat'. Ucap Arya.


"Ibu mau minta uang, buat arisan dan bayar uang kuliah Rani". Jawab Bu May to the point, tanpa basa - basi dan mengucapkan salam.


    'Kan awal bulan yang lalu aku udah ngasih ke ibu dan bukannya uang kuliah Rani biasa di kasih sama Mas Ryan ya Bu?'. Tanya Arya heran pasal baru awal bulan dia memberi uang kepada ibunya dalam jumlah yang cukup banyak, sedangkan sekarang belum pertengahan bulan.


"Uang segitu mana cukup, kebutuhan ibu dan Rani itu banyak. Mas mu belum ngirim ibu uang, mungkin dia lagi sibuk". Jawab Bu May berbohong.


"Kamu itu sama ibu mulai perhitungan, lupa kamu dan istri kamu dulu pernah numpang sama ibu. Sekaranudah sukses malah pelit sama ibu, jangan kayak kacang lupa kulitnya ". Ujarnya lagi dengan menohok.


"Kamu kok bodoh kenapa semua gaji kasih ke dia? Nanti malah di habisin sama dia. Istri kamu itu memang serakah, udah punya penghasilan sendiri, tapi masih mau nguasain gaji kamu. Harusnya semua gaji kamu kasih ke ibu, ibu yang lebih berhak. Sampai kapan pun anak laki - laki milik ibunya. Awas saja kalau kamu gak ngirim ke ibu, pokok mulai bulan depan gaji kamu semua ibu yang pegang". Perintah Bu May.


'Iya iya Bu, udah dulu ya aku mau lanjut kerja. Nanti aku omongin ke Aisyah dulu, assalamualaikum'. Ucap Arya segera mengakhiri telfon karena dia tidak ingin meladeni permintaan ibunya yang tidak masuk akal, dia tidak habis pikir dengan pemikiran ibunya. Bagaimanapun Aisyah adalah istrinya, dia berkewajiban memberikan nafkah yang layak untuknya walaupun istrinya sudah punya penghasilan sendiri.


***


Pov (Aisyah)


Sementara itu di lapak.


Aku yang sudah merasa enakan, Alhamdulillah mualku sudah berkurang karena sering dibuatkan teh jahe oleh Mbok Darmi.


Aku berniat ke lapak untuk melihat keadaan lapak secara langsung.


Terlihat lapak belum terlalu ramai, hanya ada beberapa anak sekolah yang sedang makan.


Aku pun menghampiri Ratna yang sedang membuat pesanan, untung aku sudah mengemas bumbu dalam plastik sesuai porsinya jadi walaupun Ratna yang membuatnya, rasanya tidak jauh beda dengan masakanku.


Saat dia sedang duduk dimeja yang kosong, karyawanku yang bernama Wanita yang merupakan keponakan Mang Agus datang menghampiriku.

__ADS_1


"Mbak saya boleh ngomong gak?". Tanya nya sambil menunduk.


Wati anak yang pendiam, dia jarang sekali bicara. Ini saja baru pertama kali dia bicara berdua denganku.


"Kamu mau ngomong apa? Sini duduk dulu". Tanyaku sambil mempersilahkan dia duduk di sebelahku.


"Saya boleh minta gaji duluan gak Mbak? Buat berobat ibu saya yang sedang sakit di kampung, sekalian saya mau izin pulang kampung untuk mengurus beliau karena saya anak tunggal, kasihan ibu saya tidak ada yang urus di sana". Jawabnya ragu masih menunduk.


Aku jadi sedih mendengar ceritanya, memang Wati bukan berasal dari daerah sini. Dia adalah ponakan Mang Agus dari adik sepupunya. Ibunya bekerja sebagai buruh cuci. Sedang bapaknya gak jelas pekerjaannya. Wati bekerja di sini untuk membantu perekonomian keluarganya, dia hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar karena tidak ada biaya.


"Ya udah Mbak izinin kamu buat pulang kampung, nanti uangnya Mbak kasih setelah lapak tutup ya". Ucapku


"Makasih Mbak, kalau gitu saya balik ke belakang". Ujarnya kemudian berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya.


Aku memandang punggungnya, kasihan dia di umurnya yang masih belia sudah memikul beban yang berat.


"Mbak ini dimsumnya". Ucap Ratna menyadarkanku.


"Makasih Rat"


"Itu Wati kenapa Mbak? Tumben ngobrol sama Mbak? Tanya Ratna heran karena selama ini Wati gak pernah ngomong bahkan dengan sesama karyawan.


"Dia minta izin buat jenguk ibu yang lagi sakit di kampung". Jawabku sambil menikmati dimsumku.


"Pantesan kemarin aku liat mata dia bengkak kayak habis nangis, pas aku tanya dia bilang mata perih gara - gara kena cipratan kuah seblak pas nyuci piring. Tapi aku sering liat dia murung, aku kasihan sama dia, masih muda tapi harus jadi tulang punggung keluarganya". Ujar Ratna iba.


"Iya mbak juga kasihan, walaupun dia pendiam tapi kerjanya rajin, entah siapa yang akan gantikan kerjaan Wati selama dia pulang kampung. Atau pasang iklan aja yah?". Tambahku.


"Iya mbak pasang aja tulisan di depan pagar kalau dibutuhkan karyawan. Oya mbak nanti kalau lulurnya udah selesai diproduksi, gimana kalau kita promosi secara live juga Mbak. Jadi pembeli bisa tau gimana pemakaian dan keunggulannya. Mereka juga bisa tanya - tanya tentang produk kita. Begitu juga dengan produk jualan cemilan kita promosikan juga lewat live". Ujar Ratna.


"Mbak juga sempat kepikiran kesitu, karena mbak sering liat para penjual mempromosikan jualan mereka secara live di aplikasi hitam. Tapi nanti siapa yang akan jadi live hostnya, belum lagi untuk bagian admin dan bagian packing?". Tanyaku.


"Aku punya teman dua orang yang udah berpengalaman jadi host live mbak, kebetulan dia lagi nyari kerjaan. Nanti yang satu bagian live yang satunya bagian admin". Jawab Ratna.


"Wah bagus itu kalau kamu punya teman yang sudah berpengalaman. Untuk bagian packing kita bisa pekerjaan warga kompleks sini". Ucapku.


"Betul mbak jadi bisa sekalian buka lapangan pekerjaan buat mereka juga". Tambahnya.


Pembicaraan kami terhenti karena ada pesanan yang harus dibuat Ratna. Akupun kembali ke dalam setelah menghabiskan makananku.


Tring


Aku mengkerutkan kening membaca pesan di aplikasi hijauku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2