Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 71


__ADS_3

Pov (Aisyah)


    Aku terbangun karena bunyi alarm yang sengaja aku setting agar bisa bangun untuk menunaikan sholat tahajud. Tapi telingaku mendengar ponsel suara bergetar, aku mengecek ponselku tapi bukan berasal dari punyaku. Ternyata ponsel milik Mas Arya yang bergetar


"Siapa yang menelfon Mas Arya jam segini?". Gumamku dalam hati dan segera mengecek ponselnya yang berada di nakas.


Ternyata ibu mertuaku yang menelfon, aku mengerutkan kening. "Ada perlu apa ibu menelfon jam segini?" Batinku, belum sempat ku angkat telfonnya sudah mati. Ternyata sebelumnya sudah satu panggilan tak terjawab darinya. Ponsel Mas Arya kembali bergetar, aku segera membangunkan suamiku. Sepertinya ada yang penting sehingga ibu mertuaku menelfon berulang kali di jam segini.


"Mas bangun, ada telfon ada dari ibu". Aku mengguncangkan badannya pelan untuk membangunkannya, dia menggeliat lalu mengucek matanya lalu meraih ponselnya yang aku berikan.


"Assalamu'alaikum, ada apa Bu?" Tanya Mas Arya dengan suara parau.


"Rani kenapa Bu? Kenapa dia bisa dibawa ke rumah sakit?" Tanya Mas Arya kaget, matanya yang tadinya setengah tertutup langsung terbuka lebar.


Aku juga ikut kaget mendengar Rani berada di rumah sakit, ada apa dengan gadis itu? Tanyaku dalam hati.


"Ya udah ibu tunggu rumah, Arya siap - siap dulu". Ucap Mas Arya lalu menutup telfon.


"Ada apa Mas? Rani kenapa?" Tanyaku penasaran.


"Mas juga tidak tau apa yang terjadi sama Rani, ibu cuma bilang kalau tadi ada teman Rani yang kasih tau kalau sekarang Rani lagi di rumah sakit Husada". Jawab Mas Arya kuatir.


"Ya Allah semoga tidak hal serius yang terjadi sama dia Mas". Ujarku.


"Aamiin yank, Mas siap - siap dulu mau ngantar ibu. Kamu tunggu di rumah saja ya". Ujar Mas Arya lalu beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi.


Aku pun segera menyiapkan pakaian untuk, tidak lama dia keluar dari kamar dan bergegas mengganti pakaiannya.


"Mas jalan dulu, kamu baik - baik di rumah. Kunci pintu rumah dan pagar. Atau gak minta tolong Ratna untuk temani kamu di sini". Ujar Mas Arya sebelum pergi.


"Iya mas juga hati - hati, kabari aku ya Mas. Aku berani kok sendiri di rumah". Ucapku sambil menci*um tangannya.


"Mas tunggu, ini jaketnya lupa dipake". Aku memberikan jaket padanya.

__ADS_1


"Makasih yank". Ucapnya tersenyum lalu masuk ke mobil.


Setelah mobilnya meninggalkan garasi, aku segera mengunci pintu dan pagar lalu masuk ke kamar untuk melaksanakan sholat tahajud. Aku berdoa untuk adik iparku semoga dia baik - baik saja, walaupun dia tidak pernah bersikap baik padaku tapi aku tidak pernah ingin hal buruk menimpanya. Seusai sholat tahajud aku istirahat sebentar sambil menunggu sholat subuh.


***


Selepas sholat subuh, ada telfon dari Mas Arya kalau Rani sudah pindah ruangan. Dan dia akan segera pulang karena hari ini ada meeting penting.


Aku pun bergegas untuk menyiapkan baju kerjanya dan juga barang - barangnya yang lain, setelah itu aku dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya.


Sekitar jam enam lewat terdengar suara klakson mobil Mas Arya di depan, aku segera keluar untuk membuka pagar. Setelah pagar terbuka mobil Arya masuk. Aku tersenyum menyambutnya, namun aku sedikit kaget melihat keponakanku datang bersama dengan Mas Arya.


"Nanti Mas jelaskan di dalam". Ujar Mas seakan tau yang ada di pikiranku, lalu mengajakku masuk ke dalam.


Aku hanya mengangguk, lalu mengandeng tangan keponakanku.


Mas Arya masuk ke kamar untuk mandi, aku mengajak Maira ke meja makan untuk sarapan.


"Maira apa kabar sayang? Gimana kabar ayah dan bunda?" Tanyaku membuka percakapan, dia menunduk dan menggigit bibir. Matanya nampak berkaca.


"Kenapa responnya begitu? Apa aku salah bertanya ya?" Batinku.


"Kita sarapan dulu yuk sambil nunggu Paman Arya, bibi masak nasi goreng sosis dan juga telur ceplok kesukaan Maira". Ujarku lembut.


Maira mulai mengangkat kepalanya. "Mau bibi ambilin?" Tawarku, dia mengangguk dan tersenyum yang nampak seperti dipaksakan. Aku lalu mengambilkan nasi goreng dan telur ke piringnya.


"Makasih Bi". Ucapnya lagi mulai menyantap makanannya.


Tidak lama Mas Arya keluar dengan penampilan yang sudah rapi sambil menenteng tas kerjanya.


"Tampan sekali priaku". Gumamku dalam hati menatap suamiku.


"Sampai segitunya liatin Mas, lihat itu Maira. Bibi kamu sampai terpesona dengan ketampanan

__ADS_1


Pamanmu ini". Ujar Mas Arya menggodaku.


Maira tertawa kecil mendengar ucapan Mas Arya, sedangkan pipiku terlihat memerah karena salah tingkah sudah ketahuan sedang terpesona pada Mas Arya apalagi ada Maira di sini.


"Ihh,, pede banget, udah Mas cepetan sarapan ntar telat lagi". Ucapku mengalihkan rasa maluku.


"Oh gak mau ngaku ya?" Goda Mas Arya lagi, Maira tertawa, aku tau Mas Arya pasti ingin membuat keponakannya ceria lagi.


Maira selesai makan duluan, dan ijin untuk istirahat. Aku pun mengantarnya ke kamar tamu setelah itu aku kembali ke meja makan.


"Sini yank mas mau cerita". Ujar Mas Arya sambil memintaku duduk di sampingnya.


"Ternyata keadaan Rani serius, kata dokter dia habis hamil dengan baru saja melakukan abo*rsi yang menyebabkan dia mengalami pendarahan parah. Untung ada temannya yang segera membawanya ke rumah sakit sehingga dia masih bisa tertolong". Cerita Mas Arya sambil menghela nafas.


Aku kaget mendengar cerita Mas Arya sampai tidak bisa berkata apa - apa.


"Mas sudah bertanya sama ibu kenapa itu bisa terjadi, ibu bilang dia tidak tau apa - apa, kata ibu Rani sudah kerja sebagai sales mobil di Mall dan sudah beberapa Minggu ini dia nge kost. Ada hal lain yang tidak kalah mengejutkan, ternyata Mas Ryan sudah bangkrut dan dia sudah bercerai dengan Mbak Bella. Dan ternyata rumah mereka sudah di jual oleh Mbak Bella tanpa sepengetahuan Mas Ryan, sekarang Mbak Bella entah menghilang kemana membawa semua uang penjualan rumah, makanya dia dan Maira pindah ke rumah ibu. Dari kemarin Mas Ryan belum pulang, ibu bilang dia pergi bertemu teman untuk membahas bisnis dan nomornya tidak bisa dihubungi. Makanya ibu minta tolong ibu mengantarnya ke rumah sakit, yang Mas tidak habis pikir kenapa Mas tidak tau masalah ini, Mas seperti tidak anggap keluarga oleh mereka ". Cerita Mas Arya lagi, dia kembali menghela nafas dalam, dia nampak sedih


Aku kembali kaget mendengar cerita Mas Arya tentang Mas Ryan dan Mbak. Pantas sikap Maira berubah dan terlihat sedih saat aku tanya tentang kedua orang tuanya. Kasihan dia masih kecil tapi harus mengalami hal berat seperti ini. Aku pun berpikir hal yang sama dengan Mas Arya, kenapa kami tidak diberitahu. Bukan mau ikut campur tapi siapa tau kami bisa membantu meringankan kesusahan Mas Ryan, bagaimanapun kita ini keluarga. Aku mengelus punggung suamiku untuk mengalirkan energi positif padanya, dia pun tersenyum.


"Oya yank, Mas minta izin sama kamu untuk membantu perawatan Rani, karena dia tidak punya jaminan kesehatan jadi biaya perawatannya cukup mahal". Ujar Mas Arya lagi.


"Iya gak apa - apa Mas, Rani kan adik kamu otomatis dia adik aku juga. Nanti kalau uang Mas kurang pakai uang aku juga aja Mas". Ucapku mendukungnya.


"Makasih ya yank, walaupun ibu dan Rani tidak pernah bersikap baik tapi kamu mau membantu biaya perawatannya, tapi Mas usahakan tidak pakai uang kamu. Mas gak mau ikut membebani kamu". Ucap Mas Arya sambil menggenggam tanganku.


"Aku ikhlas Mas kita kan suami istri, itu aku juga lakukan atas dasar hubungan keluarga dan rasa kemanusiaan". Ujarku sambil tersenyum lembut.


"Iya Yank, Mas berangkat dulu ya, Nanti sepulang kerja, kita ke rumah sakit". Pamit Mas Arya lalu mengecup keningku.


Tidak berapa lama setelah Mas Arya berangkat, Mbok Darmi baru turun dari ojek. Kami pun masuk bersama ke dalam.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2