
Pov (Author)
Seminggu setelah acara baca doa.
Hari ini pembangunan lapak milik Arya dan Aisyah sudah dimulai. Haji Mansur memperkenalkan tukang itu yang bernama Pak de Danang. Tapi beliau tidak bisa lama - lama karena masih ada urusan lain.
Arya juga sudah menerangkan ke pak de desain dari lapaknya nanti. Dan pak de menyanggupinya. Yang insyaallah sekitar lima harian akan rampung pengerjaannya. Pengerjaan dilakukan oleh Pak de Danang dibantu oleh dua orang anaknya yaitu Budi dan Beni.
Pekerjaan mereka termasuk cepat, karena untuk lapaknya sendiri akan mengunakan booth kontainer selain harganya lumayan terjangkau, tahan lama dan modelnya yang kekinian sesuai dengan konsep yang diinginkan oleh Aisyah.
Paling mereka akan lebih terfokus untuk pembuatan meja dan kursi serta tempat untuk spot fotonya. Apalagi kedua anak pak de masih muda jadi pasti paham dengan konsep kekinian yang diminati oleh anak - anak muda saat ini.
Karena hari ini adalah hari Minggu jadi Arya bisa menemani tukang bekerja sambil menjelaskan konsep yang diinginkan istrinya, karena Aisyah sedang membuat kue pesanan orang.
Aisyah menyuguhkan kue buatannya dan minuman untuk para tukang, kebetulan hari ini ada yang memesan kue. Alhamdulillah selesai acara doa seminggu yang lalu, ada yang mulai memesan kue buatan Aisyah.
Untuk pemesanan Aisyah masih melayani pesanan sekitaran kompleks nya dan dalam jumlah yang tidak terlalu banyak karena hanya dikerjakan sendiri terkadang di bantu Ratna anak Mbok Minah kalau pesanan banyak. Seperti hari ini dia dibantu oleh Ratna Karen ada pesanan dari teman Emak.
Tring
Tring
Tring
Ponsel di saku Aisyah berdering, dia pun mencuci tangan kemudian mengangkat telfonnya yang ternyata dari Hajjah Salamah.
'Assalamu'alaikum Ais, gimana pesanan temannya Emak. Tadi dia chat emak ntar sekitar jam sebelas ada orang suruhan dia yang ambil. Bisa kan jam segitu?' Tanya Hajjah Salamah.
Aisyah melihat jam di ponselnya. Hampir jam sepuluh dan pesanan sedikit lagi selesai semua dan kemudian dipacking. Cukuplah waktunya kalau mau di ambil jam sebelas.
__ADS_1
"Insyaallah bisa emak, ini dikit lagi selesai semua". Jawab Aisyah.
'Alhamdulillah, kalau gitu emak hubungi teman Mak dulu. Assalamualaikum'. Ujar Hajjah Salamah kemudian menutup telfon.
"Wa'alaikum salam". Jawab Aisyah dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya.
Seminggu ini Aisyah disibukkan dengan pesan kue, sampai dia jadi jarang menulis. Mungkin setelah lapak nya buka dia akan membatasi pesanan kuenya karena tenaga dan waktu pasti akan terkuras untuk menjalankan lapaknya nanti.
***
Sementara itu di keadaan di rumah Bu May.
Sepeninggalnya Arya dan Aisyah, rumah yang ditempati Bu May dan anaknya Rani nampak sangat kotor seperti rumah yang tak berpenghuni. Padahal baru semingguan Arya dan Aisyah pergi meninggalkan rumah tapi keadaan rumah sangat memprihatikan. Lantai berdebu, cucian piring menumpuk di wastafel, pakaian kotor menumpuk, sampah yang tak dibersihkan, hingga bunga - bunga di taman pada layu semua, entah apa yang dilakukan orang dirumah itu, padahal ada dua wanita yang menempatinya.
Memang selama ini baik Bu May dan Rani dasarnya sama - sama pemalas, karena pekerjaan rumah ada yang kerjakan. Sebenarnya dulu Bu May masih mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan membersihkan rumah saat mendiang suaminya masih ada, walaupun terkadang dibantu oleh asisten rumah tangga, karena dia kewalahan mengurus rumah dan juga ketiga anaknya. Tapi setelah Arya dan Aisyah pindah ke rumahnya semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Aisyah.
"Raniii... Bangun bantuin ibu". Teriak Bu May sambil menggedor - gedor pintu kamar putri bungsunya.
Dug
Dug
Dug
Rani yang masih ngantuk terpaksa bangun karena gedoran pintu dan beranjak bangun menemui ibunya, kalau tidak bisa rusak pintu kamarnya.
Ceklek
Begitu pintu terbuka nampak Bu May sedang berdiri dengan mata melotot sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Apaan sih Bu, ganggu aja aku tuh masih ngantuk, lagian ini juga hari Minggu". Gerutu Rani sambil menguap.
"Kamu jadi anak gadis pemalas banget sih, ibu lagi kecapean beresin rumah, kamu malah enak - enakan tidur. Itu pakaian kotor numpuk, cucian piring numpuk, ini rumah juga berdebu. Emang kamu pikir bisa beres dengan sendirinya, cepat cuci muka dan bantuin ibu beresin rumah". Perintah Bu May.
"Malas ah Bu, aku mana pernah ngelakuin pekerjaan rumah kayak gini, bisa rusak kuku - kuku aku, baru dua yang lalu aku meni pedi. Lagian ibu juga ribet banget sih tinggal panggil orang buat bersihin, pakaian juga tinggal di laundry. Aku mau lanjut tidur masih ngantuk". Tolak Rani hendak masuk kembali ke kamarnya.
"Kalau kamu gak mau bantuin ibu, jangan harap ibu bakalan kasih kamu uang jajan". Ancam Bu May
Rani yang ingin masuk ke kamar, mengurungkan niatnya karena ancaman ibunya. Kemudian dia mengikuti ibunya ke dapur sambil menghentakkan kaki.
Bu May gak nyadar padahal kemalasan Rani karena salahnya sendiri yang terlalu memanjakan putri bungsunya itu.
Sebenarnya Ryan sudah mendatangkan asisten rumah tangga ke rumah ibunya, tapi art itu hanya bertahan dua hari dan minta berhenti karena tidak sanggup dengan kelakuan Bu May dan Rani yang suka marah - marah dan suka menghina. Sedangkan Mbok Darmi menolak mentah - mentah karena dia tau tabiat asli Bu May seperti apa.
Terpaksa Bu May yang kerjakan sendiri karena Ryan sudah tidak mau mencarikan ibu nya asisten rumah tangga lagi kalau kelakuan ibu masih seperti itu.
Rani yang disuruh cuci piring merasa jijik melihat piring yang berulat. Kalau bukan karena ancaman ibunya tidak sudi dia mau mengerjakannya. Sambil menahan muntah, dia pun mencuci piring yang menumpuk itu. Sedangkan Bu May mencuci pakaian, sambil menunggu pakaian di putar di mesin cuci, dia membersihkan rumah. Untuk urusan mengepel lantai dan menjemur pakaian akan dia serahkan kepada Rani.
Setelah beberapa jam akhirnya selesai juga pekerjaan rumah yang mereka kerjakan, walaupun gak bersih - bersih banget tapi setidaknya lebih mendingan dari pada sebelumnya. Mereka lalu mengistirahatkan diri di atas sofa.
"Bu lihat nih kuku aku sampai patah, aku gak mau lagi ngerjain pekerjaan rumah kayak gini. Ibu sih pake ngizinin Mas dan Aisyah pindah dari rumah ini, jadi keenakan perempuan sia*lan itu, sedangkan kita kecapean bersihin rumah, ini kan tugas dia sebagai babu di rumah ini". Gerutu Rani.
Bu May hanya diam mendengar omongan Rani, dia pun menyesal mengizinkan anak dan menantunya pindah dari sini. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa kembali kemari. Sehingga dia bisa hidup nyaman tanpa harus mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Sebenarnya dia ingin mendatangi kontrakan anaknya, tapi dia malas kalau nanti bertemu bertemu dengan orang yang dia benci yaitu Hajjah Salamah, secara kontrakan yang ditempati Arya adalah rumah milik anak orang yang dia benci.
Rani yang tidak tanggapi oleh ibunya dengan perasaan jengkel kembali ke kamarnya.
'Ini semua gara - gara perempuan udik itu, kuku - kuku cantikku jadi rusak. Pokoknya aku harus desak ibu agar si Aisyah kampungan itu bisa kembali jadi babu di rumah ini'. Ujar Rani dalam hati dengan geram.
Bersambung.
__ADS_1