
Pov (Bella) Lagi
Suatu hari saat Mas Arya mengajakku dan Maira berkunjung ke rumah mertuaku, aku tidak sengaja melihat foto yang membuatku cukup syok saat akan mengambil mainan Maira yang menggelinding ke dekat lemari yang berada di pojok ruangan. Foto seorang wanita yang selama ini aku cari, wanita yang menghancurkan kebahagiaan keluargaku.
Di foto itu tertulis "Cintaku Maesaroh", nama yang sama dengan wanita pelakor itu. Nafasku naik turun karena emosi.
"Sayang kamu ngapain di situ?" Tanya Mas Arya mengagetkanku.
"Aku mau ambil mainan Maira Mas, Oya Mas siaoa wanita dalam foto ini?" Jawabku lalu bertanya tentang wanita di foto itu.
"Oh ini foto ibu waktu ibu masih muda". Jawab Mas Ryan sambil tersenyum.
Bagai tersambar petir, aku syok mendengar jawaban Mas Ryan. Jadi ibu mertuaku adalah wanita yang telah menghancurkan keluargaku. Aku memang tidak mengetahui nama asli ibu mertuaku, aku hanya tau namanya Bu May.
"Ja.. Jadi wanita ini ibu kamu Mas?" Tanyaku tak percaya.
"Iya ini ibu, cantik kan sayang?" Tanya Mas Ryan balik, aku tak menjawab. Aku hanya terdiam karena tidak bisa menerima kenyataan ini.
Wanita yang aku sangat aku benci dan aku cari keberadaannya ternyata selama ini berada di dekatku. Bodohnya aku tidak menyadarinya dan malah bersikap baik padanya serta menjadi bagian dari keluarganya. Aku pun mengajak Mas Ryan pulang dengan alasan tidak enak badan, ibu mertuaku terlihat mengkhawatirkan keadaanku. Cih ingin rasanya aku menghajar mukanya yang munafik itu habis - habisan, tunggu pembalasan dariku wanita perusak kebahagiaan.
Malamnya aku terus menangis dan meminta maaf pada almarhumah ibuku, mulai malam itu aku berjanji akan membuat keluarga suamiku menderita mungkin aku bisa mulai dari Mas Ryan. Enak saja mereka hidup enak dan bahagia sedangkan dulu aku dan ibu hidup dengan rasa sakit dalam penderitaan. Bahkan hingga ajal menjemputnya ibu masih belum bahagia. Mengingat hal itu rasa benci dan dendam semakin besar.
Tapi apa yang harus aku lakukan untuk membalas dendam pada Maesaroh dan keluarganya. Tunggu dulu berarti kalau dihitung dari usia ketiga anak Maesaroh yang kemungkinan adalah anak bapak adalah Arya, berarti dia adalah adikku. Aduh pusing aku memikirkan ini semua. Daripada pusing mending aku pergi shopping, mumpung Mas Ryan ada di toko dan Maira belum pulang sekolah.
Tidak berapa lama taksi online yang ku pesan datang, sengaja aku tidak menggunakan mobilku karena aku sedang malas menyetir sendiri.
Sekitar kurang lebih setengah jam, taksi yang membawaku berhenti di depan Mall. Aku lalu membayar ongkos taksi dan segera turun. Yang pertama aku tuju toko yang menjual pakaian - pakaian branded, tapi sebelumnya aku singgah membeli minuman yang tengah viral. Sebenarnya aku sedang tidak haus tapi aku hanya tau rasanya kayak gimana, aku juga berfoto dengan memamerkan minuman itu dan aku upload ke media sosialku biar aku tidak dibilang ketinggalan jaman karena belum mencoba minuman itu. Setelah itu aku lanjut pada tujuan awalku, saat tengah asyik melihat baju ada seorang pria tua yang menabrakku hingga minuman yang kupegang mengenai pakaian yang ku pakai.
"Ikh liat - liat dong kalau jalan, pakaian saya jadi basah nih. Ini harganya mahal tau". Ujarku sambil menatap tajam pada pria tua itu, tapi bukannya takut dia malah terkekeh. Dasar orang tua gila batinku.
"Aduh maaf nona cantik, saya tidak sengaja. Tenang saja saya akan ganti rugi". Ucapnya sambil cengengesan.
"Ada apa nih pah? Siapa perempuan ini?" Tanya seorang wanita yang seumuran ibu mertuaku pada pria tua yang menabrakku dengan bingung. Mungkin dia istrinya.
"Tadi papa tidak sengaja nabrak nona ini sampai pakaiannya basah karena terkena minuman yang dia pegang". Jawab tua bangka genit itu.
"Oh kirain papa mulai nakal lagi gangguan perempuan cantik. Maaf ya nona, kami akan ganti rugi. Oya nama nona siapa? Saya Marini" Tanya lembut sambil mengulurkan tangannya, cara bicara persis seperti mendiang ibuku.
"Gak apa - apa kok bu, saya juga salah karena tidak waspada. Nama saya Isabella tapi biasa di panggil Bella". Jawabku sambil tersenyum dan menerima uluran tangannya.
"Nama yang cantik seperti orangnya. Ya udah kalau begitu, sekali lagi maaf. Kami duluan ya, mari nona Bella". Pamit ibu Marini lalu berjalan keluar toko.
"Ini kartu nama saya, jangan lupa hubungi saya ya nona Bella cantik". Ujar pria tua itu memberikan kartu kepadaku sambil mengedipkan mata lalu menyusul istrinya.
"Dasar tua bangka genit, sudah punya istri tapi ganjen banget. Ishh liat perutnya yang buncit aja aku geli. Aku jadi ingat bapak yang selingkuh dari ibu". Batinku kesal lalu meremas kartu nama itu lalu membuangnya ke tong sampah. Aku memilih untuk pulang karena moodku jadi tidak bagus setelah bertemu pria tua itu.
***
__ADS_1
Malamnya.
Drttt
Drttt
Ponselku bergetar terus, ada nomor baru yang tertera di layar ponselku. Aku melihat jam di ponsel menunjukkan pukul dua malam.
"Nomor siapa sih ini?". Batinku.
Karena aku tak menggangkat panggilannya, orang itu mengirim pesan.
["Selamat malam nona cantik, maaf mengganggu. Saya Pak Broto yang tadi siang bertabrakan dengan nona di Mall. Sejak pertemuan kita itu saya terus kepikiran dengan nona, izinkan saya mengenal nona lebih dekat"].
Mata terbelalak membaca isi pesan itu, dari mana tua bangka itu mendapat nomorku. Perasaan aku tidak memberikan nomorku padanya.
Drttt.. Ponselku bergetar lagi, aku tengok Mas Ryan di sampingku yang terlelap. Aku turun pelan - pelan dari ranjang dan keluar kamar.
Aku menuju dapur lalu mengangkat panggilannya.
"Akhirnya diangkat juga nona Bella cantik". Terdengar suara pria tua bangka itu.
"Darimana anda mendapatkan nomor saya? Perasaan saya tidak pernah memberikan nomor saya pada anda". Tanyaku penasaran.
"Itu hal kecil buat seorang Broto, bahkan saya sudah tau rumah nona dimana, siapa suami nona dan apa pekerjaannya. Apapun saya bisa lakukan termasuk membuat usaha suami anda bangkrut, hehehe". Jawab sambil terkekeh.
"A.. Apa yang a.. Anda inginkan? Kenapa mengganggu hidup saya?" Tanya tergagap jujur aku takut padanya.
"Kenapa tiba - tiba nona jadi gagap, bukan tadi siang nona lancar sekali marah - marah pada saya. Tidak perlu takut pada saya, saya tidak akan menyakiti nona. Malah saya bisa berikan apapun yang nona mau asal nona bersedia menuruti keinginan saya". Ujarnya terkekeh lagi seolah mengejekku.
"Apa yang anda inginkan, tolong jangan ganggu saya, saya minta maaf karena telah memarahi anda". Ucapku meminta maaf.
"Temui saja saya besok di Kafe Melati, nona akan tau apa yang saya inginkan dari nona". Ujarnya lalu memutuskan panggilan telfon.
Singkat cerita besoknya aku terpaksa menemui pria tua itu karena takut dengan ancamannya. Awal kami hanya ngobrol - ngobrol saja tapi saat dia memaksa untuk mengantarku pulang, namun bukan mengantarku langsung pulang dia malah membawaku ke sebuah hotel mewah katanya ingin mengambil berkas di teman. Dia juga memaksaku untuk turun, lagi - lagi karena takut aku ikut saja.
Ternyata dia membohongiku, di dalam kamar hotel dia malah memper*kosaku. Aku tidak bisa melawan karena tenaganya yang kuat. Tapi jujur aku menikmati permainannya yang memuaskanku tidak seperti Mas Ryan yang kaku.
Setelah kejadian itu hubungan kami semakin dekat apalagi dia sangat royal padaku. Hingga tercetus ide untuk membuat usaha Mas Ryan bangkrut yang menjadi awal pembalasan dendamku. Dengan kuasa yang dimiliki Om Broto, dalam hitungan bulan dia menyabotase toko milik Mas Ryan dengan membayar salah satu karyawannya untuk membuat kecurangan, kami juga menyebarkan fitnah kalau toko Mas Ryan menggunakan penglaris. Orang - orang yang nekat belanja akan dihadang oleh preman bayaran Om Broto, pokoknya apapun kami lakukan untuk menghancurkannya.
Orang yang membeli rumah kami juga adalah teman Om Broto. Aku bahagia melihat kehancurannya, dengan kebangkrutan Mas Ryan tentu berdampak pada ibu mertuaku yang matre itu karena selama ini Mas Ryan yang membiayai hidupnya.
Pembalasan keduaku melalui adik iparku yaitu Rani, gadis polos itu gampang sekali aku bodohi. Dia tidak tau kalau sudah ku jual, Maesaroh pasti akan syok mengetahui Putri kesayangannya telah rusak. Dari informasi yang diberikan anak buah Om Broto, kalau Rani hampir mati karena melakukan abo*rsi. Sekarang tinggal membalas dendam kepada Maesaroh, khusus untuknya aku sudah siapkan pembalasan yang spesial. Nanti setelah aku kembali dari luar negeri baru akan ku beri bagian untuk mantan ibu mertuaku itu. Untuk Arya seperti akan ku biarkan saja dia selain dia cinta pertamaku, di dalam tubuh kami mengalir darah yang sama yaitu darah bapakku yang berartinya dia adalah adiku. Dan untuk istrinya yang kampungan dan sok polos itu nanti akan aku pikirkan apa yang akan aku lakukan padanya.
Hari ini aku telah tiba di tanah air setelah beberapa Minggu berlibur di luar negeri menggunakan uang hasil penjualan rumah dan pemberian Om Broto, Mas Ryan yang malang siapa suruh dia bucin padaku. Andai dia bukan anak Maesaroh, aku tidak akan sejahat ini padanya. Untuk anakku Maira, setelah dendamku terbalaskan semua baru aku akan menjemputnya untuk tinggal bersamaku. Om Broto tidak ikut denganku karena ada urusan, baguslah aku juga malu jalan dengannya.
Saat baru keluar dari pintu kedatangan, ada seorang pria yang menggunakan jas menghampiriku. Dia mengaku sebagai suruhan Om Broto yang ditugaskan untuk menjemputku, aku percaya saja dan ikut bersama pria itu. Mobil itu pun melaju meninggalkan area Bandara, di dalam mobil pria itu memberiku sebotol minuman. Aku menerimanya karena kebetulan aku merasa haus, namun setelah meminumnya, aku merasakan pusing dan setelah itu pandanganku menjadi gelap.
__ADS_1
Akupun terbangun di dalam sebuah ruangan dalam keadaan terikat di kursi dan mulutku di lakban. Aku berontak mencoba melepaskan diri tapi percuma saja usaha yang aku lakukan sia - sia.
Tidak lama beberapa orang masuk ke ruangan tenpat aku disekap, aku tidak mengenal mereka siapa. Seorang wanita mendekatiku, dia menatap tajam padaku.
"Hai nona Bella yang cantik, bagaimana rasanya menjadi simpanan si tua bangka Broto itu? Bagaimana rasanya menikmati harta ibuku?" Tanya wanita itu dengan suara pelan namun menusuk.
Aku hanya melotot ke arahnya sambil berontak. Dia lalu melepaskan lakban di mulutku dengan kasar hingga aku merasakan perih di mulut dan wajahku.
"Lepaskan aku sia*lan, kalau Om Broto tau kalian memperlakukan aku seperti ini. Dia pasti tidak akan membiarkan kalian hidup". Teriak ku dengan mata melotot.
"Hahaha besar juga nyalimu nona, asal kau tau tua bangka yang kau banggakan itu hanya benalu dalam hidup ibuku. Dia menggunakan harta ibuku untuk perempuan simpanannya termasuk dirimu. Ibuku yang malang itu terlalu mencintai pria brengsek itu, hingga dia meninggal karena menahan kesakitan dikhianati oleh pria yang dia cintai. Silahkan kau berharap diselamatkan oleh Om Brotomu itu, dia tidak akan menyelamatkanmu karena dia mungkin sekarang dia sudah berada di neraka..Hahaha". Ujar wanita itu sambil tertawa terbahak - bahak.
"Diam kau wanita ja*lang. Tunggu saja Om Broto pasti akan datang menolongku". Teriakku lagi.
Plakk
Plakk
Aku meringis menahan sakit dari tamparannya, coba saja aku tak terikat begini. Aku juga pasti akan menghajar wajahnya yang sok cantik itu.
"Kau yang ja*lang. Silahkan bermimpi nona, kalau kau tidak percaya liat video ini". Ujarnya sambil memperlihatkan ponselnya.
Aku kaget melihat video itu dimana beberapa orang mengangkat tubuh Om Broto yang penuh luka, sedangkan mobilnya ringsek.
"Bagaimana sudah percaya kan kalau kekasihmu itu sudah ma*ti?" Tanya nya sambil menyeringai.
Aku hanya menangis dengan kenyataan ini, berarti tidak akan ada yang menolongku.
"Tidak usah menangis nona, sebentar lagi kau juga akan menyusul kekasihmu itu dan kalian akan bersama di neraka.. Hahaha. Kalau silahkan nikmati wanita ja*lang itu tapi jangan buat dia ma*ti dulu". Ujarnya pada kelima pria yang tadi datang bersamanya lalu dia meninggalkan ruangan ini.
Aku berteriak memohon pengampunan, aku bergidik ngeri ketika kelima pria berbadan besar itu mulai membuka semua pakaian mereka. Mereka lalu memper*kosaku dengan brutal. Setelah puas menyiksaku, mereka memasukkanku kedalam bagasi mobil dalam keadaan telan*jang. Aku tidak tau mereka akan membawaku, mungkin mereka akan membu*nuhku setelah ini. Aku berdoa semoga Tuhan masih memberikanku kesempatan dan mau menolongku.
Setelah berapa lama mobil tersebut berhenti, lalu pintu bagasi terbuka dan seorang pria mengendong tubuhku keluar. Setelah itu dia menghempaskan tubuhku ke alang - alang. Aku mengiba pengampunan dari mereka tapi aku malah di tendang hingga tubuhku tersungkur ke tanah, aku merasakan sakit di sekujur tubuhku.
Tiba - tiba aku merasakan tubuh seperti terbakar, aku terguling - guling di tanah. Aku berharap segera ma*ti agar tidak merasakan sakit seperti ini.
Aku terbangun di ruangan berwarna putih, sepertinya aku sudah ma*ti dan sedang berada di akhirat tapi kenapa tubuhku sakit sekali dan tidak bisa digerakkan. Namun aku kaget melihat seorang pria yang ku kenal, mataku melotot menatapnya, seketika air mataku menetes.
Dia lalu mendekat kepadaku dan membisikkan sesuatu.
"Selamat menikmati balasan dari semua perbuatanmu kepadaku dan keluargaku, wahai mantan istriku tersayang. Ternyata cepat juga karma menghampirimu jadi aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membalas perbuatanmu". Bisiknya lalu tersenyum miring.
Aku mencoba menggerak mulut tapi tidak ada suaraku yang keluar. Hanya air mataku yang terus mengalir.
Mas Ryan lalu pergi meninggalkan sendiri. "Mas maafin aku, Ya Allah cabut saja nyawaku sekarang aku sudah tidak sanggup menahan semua rasa sakit ini. Dan tolong ampuni dosa - dosaku". Batinku, air mataku terus mengalir tanpa bisa ku bendung.
Bersambung.
__ADS_1