Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 29


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Keesokan harinya.


Hari ini sudah lima hari aku tidak ikut mengurus lapak karena harus bed rest, aku hanya memantau lewat cctv yang sudah terhubung ke ponselku. Aku percayakan kepada Ratna, lagian dia udah mahir meracik bumbu dan bahan bakunya.


Untuk produksi produk cemilan sudah ada orang yang aku dan Mas Arya percayakan untuk mengurusnya. Hanya seminggu dua kali kami ke tempat produksi untuk meninjau langsung. Sedangkan produksi lulur untuk sementara di hentikan sampai kondisiku membaik.


Untunglah selama aku bed rest, semua usaha kami berjalan lancar dan tidak ada kendala.


Karena kondisiku yang sering mual dan lemas, maka aku memperkerjakan Mbok Darmi untuk mengurus rumah dari beres - beres, masak dan mencuci. Aku mengaji harian karena aku tau beliau janda beranak satu. Beliau juga mengurus dengan baik, setiap pagi beliau membuatkanku teh jahe untuk mengurangi mual yang aku alami. Aku sangat terbantu dengan adanya beliau, seperti diurus oleh ibu sendiri. Aku meminta untuk tinggal disini karena ada dua kamar kosong tapi beliau menolak karena beliau tidak biasa kalau bulan dirumah sendiri.


Walaupun umurnya sudah lima puluhan dengan badan yang berisi tapi beliau sehat bugar dan cekatan, beliau juga suka bercerita banyak hal dan terkadang suka melucu. Tapi dibalik itu semua, beliau menyimpan kesedihan. Karena suaminya meninggal karena sakit. Sedangkan anaknya setelah menikah dan pindah ke luar pulau tidak pernah ada kabar sama sekali. Aku terenyuh mendengar kisah sedihnya.


***


Menjelang sore lapak semakin ramai. Aku sedang kamar bersama Mbok Darmi yang sedang memijit kaki sambil memantau lapak dari CCTV.


Tidak yang aneh hanya saja beberapa saat kemudian ada rombongan ibu - ibu sekitar tujuh orang dengan dandanan yang heboh. Ada satu orang yang menarik perhatianku, setelah hampir dua Minggu tidak melihat beliau sekarang dia datang kembali. Semoga beliau tidak membuat keributan lagi.


Ya dia adalah ibu Mertuaku sepertinya bersama genk sosialitanya, aku hanya memantau saja tanpa ingin menemuinya.


Karena cctv yang terpasang dilengkapi dengan fitur suara jadi aku bisa mendengar suara mereka. Tidak ada yang mencurigakan, hanya obrolan ibu - ibu yang saling pamer terlihat ibu mertuaku juga tak mau kalah.


Sudah jam lima sore, Mbok Darmi pamit untuk pulang tidak lupa aku berikan gaji dan membungkuskan makanan untuk beliau bawa pulang.


'Eh dengar - dengar lapak ini kan punya anak kedua Jeng May loh". Ujar teman ibu Mertuaku yang memakai perhiasan paling banyak.


Ibu mertuaku membalas dengan senyuman.


'Wah hebat yang sudah ganteng, jabatannya manager, punya usaha yang sukses pula. Sayang udah nikah kalau belum aku mau jodohin dengan anakku Siska'. Celetuk ibu yang berbaju pink.


'Siska? Sepertinya aku pernah dengar ibu mertuaku menyebut nama itu'. Batinku.


'Jeng Merry bisa aja, jujur saya juga pengennya gitu jodohin Siska dan Arya, soalnya istri Arya itu gayanya kampung, gak tau rawat diri, pemalas, pelit, dan miskin. Sekarang aja dia gak keliatan paling lagi malas - malasan di kamar. Setelah pergi dari rumah saya, berasa ratu dia di sini'. Ucap ibu Mertuaku memfitnahku.

__ADS_1


Aku yang mendengar omong kosong menjadi geram, aku mencoba bersabar karena kondisiku yang lagi tidak sehat.


'Dan ada lagi yang bikin saya gak suka sama dia karena dia itu mandul, masa udah mau tiga tahun nikah belum juga hamil. Saya percaya kalau anak saya subur sedangkan dia itu yang bermasalah. Makanya saya mau suruh anak saya buat ceraikan dia'. Tambah ibu mertuaku.


Teman - temannya tertawa mendengar bualannya seolah ikut memperolok - olokku.


Hatiku panas mendengarnya, aku sudah tidak bisa menahan emosi, beliau sudah keterlaluan. Aku buka laci nakas dan mengambil amplop putih yang berlogo klinik. Kemudian keluar kamar dan menghampiri mereka.


Mereka masih saja tertawa, ibu mertuaku yang duduk menghadap ke arah pintu rumah mendadak terdiam melihatku yang berjalan kearah meja Meraka. Beliau menatap dengan sinis dan senyum mengejek.


Begitupun teman - temannya yang lain ikut berbalik mengikuti tatapan ibu mertuaku. Mereka berbisik melihatku.


Aku pun berusaha tetap menghormati beliau dengan mengulurkan tanganku untuk menyalimnya. Tapi tangan malah ditepisnya.


"Oh iya menantu Jeng May ceritain tadi, cantik juga ya". Celetuk yang memakai banyak perhiasan. Aku hanya membalas dengan senyum.


Ibu mertuaku dan Bu Merry memcebik mendengar pujian itu.


"Alah kamu kagak usah cari muka Aisyah biar teman - teman saya menilai kamu baik. Kamu mau perawatan bagaimanapun, label miskin dan kampungan akan tetap melekat di dirimu. Beruntung anak saya mau nikahin kamu jadi terangkat derajat kamu, malah dia yang sial punya istri mandul kayak kamu". Cerca Ibu Mertuaku dan tatapan nyalang serta menunjuk mukaku.


Sambil meramas amplop yang ku pegang. Aku sudah tidak bisa menahan emosiku.


Karyawanku berusaha membantuku tapi aku memberi isyarat agar mereka tidak ikut campur.


Beliau dan teman - teman terhentak dengan teriakanku. Sejenak suasana menjadi hening.


"Kamu udah berani membentak saya hah? Sadar diri ku siapa. Perempuan sialan, dasar mandul". Teriaknya dan hendak menamparku. Tapi aku menahan tangannya.


"Sudah cukup selama ini aku diam menerima hinaan dan perlakuan ibu kepadaku. Jaga tangan ibu, jangan aku khilaf mematahkannya". Ucapku kemudian menghempaskan tangan kasar.


Kemudian aku lempar amplop yang ku pegang ke atas meja.


"Baca baik - baik isinya". Kataku.


Ibu mertuaku meraih amplop itu dan membukanya itu dan membaca isinya. Seketika matanya melotot dan menggelengkan kepala seolah tidak percaya dengan isinya.

__ADS_1


"Gimana? Jelaskan isinya bahwa aku Aisyah, yang ibu bilang perempuan mandul nyatanya sedang mengandung anak Mas Arya, mengandung cucu ibu". Jelasku dengan suara lantang.


"Gak mungkin kamu hamil". Ucapnya tak percaya.


Terdengar suara bisik - bisik dari pengunjung yang ada dan juga teman - teman ibu mertuaku. Wajah mereka menjadi kikuk karena semua mata tertuju ke mereka.


Aku tersenyum sinis melihat reaksi ibu Mertuaku merah, entah beliau marah atau malu.


"Baru hamil saja sombong belum tentu anak itu lahir ke dunia ini, kamu kan perempuan pembawa sial". Ejeknya.


BRAKKK...


Aku menggebrak meja dan memajukan kepalaku ke arahnya. Wajah kami berhadapan cukup dekat. Terlihat ibu mertuaku seperti ketakutan menghadapiku.


"Jangan pernah hina calon anakku, kalau tidak aku akan melupakan kalau ibu adalah wanita yang melahirkan suamiku. Jadi aku tidak segan - segan berbuat kasar pada ibu". Ucapku penuh penekanan dan memundurkan kepalaku.


"Dasar sialan, berani kamu ancam saya hah? Kamu itu cuma benalu yang numpang di rumah anak sama. Bakal saya adukan ke Arya biar kamu diceraikan". Geramnya ingin memukulku.


"HENTIKAN MAESAROH"...


Semua orang berbalik termasuk diriku. Nampak Emak muncul dengan wajah marah, dibelakang ada Mbok Minah yang membawa bungkusan.


Aku tersenyum melihat kedatangan emak kemudian menci*um tangannya lalu memeluknya erat. Rinduku untuknya sudah menggunung.


Emak melepas pelukannya kemudian menghampiri ibu mertuaku yang terlihat gugup.


"Lu ya udah tua bukannya sadar malah makin menjadi - jadi. Asal lu tau rumah ini sudah atas nama Aisyah pemberian dari gua dan Mansur untuk dia. Dia udah kami anggap anak. Berani lu usik hidup dia, lu berhadapan sama gua". Camkan itu Maesaroh". Bentak Emak.


Ibu mertuaku terlihat tak berkutik dengan gertakan Emak.


"Dasar tukang ikut campur". Cebik ibu Mertuaku tapi masih terlihat gugup


Dia pun mengajak teman - temannya untuk pergi, padahal mereka belum sempat makan.


Aku masih terdiam karena kaget dengan perkataan emak kalau rumah itu sudah atas namaku. Aku juga berpikir mengapa ibu mertuaku seperti takut dan menghindari Emak. Seperti ada rahasia antara mereka berdua, entah itu apa.

__ADS_1


"Ibu hamil kagak boleh melamun".


Bersambung.


__ADS_2