Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
10. Langsung tolak saja


__ADS_3

"Lho, Dad, kok Daddy main pergi begitu saja, sih?!" Robert terlihat menggerutu di dalam mobil. "Kan Robert minta Daddy untuk menyatakan cinta! kok Daddy nyebelin, sih?!" geramnya marah.


"Bukan masalah nyebelin, Rob. Tapi 'kan kamu lihat sendiri wajah pria tadi. Dia terlihat nggak suka sama Daddy." Joe sendiri tidak tahu Abi Hamdan itu punya hubungan apa dengan Syifa. Tapi yang jelas, Joe beranggapan kalau dia pasti kerabatnya.


"Maksudnya Opa tadi? Tapi Opa kelihatan biasa saja kok." Wajar Robert berkata seperti itu, karena dia sendiri tidak sempat memerhatikan wajah Abi Hamdan.


"Biasa aja apanya? Orang wajahnya masam gitu. Daddy takut, bisa saja pria tadi itu suaminya Bu Syifa." Joe menoleh sebentar ke arah anaknya, yang duduk di sampingnya.


"Dia itu Abinya Bu Syifa. Kan Daddy juga sudah pernah Robert kasih tau kalau Bu Syifa itu hanya punya pacar, belum menikah," jelas Robert dengan bibir yang mengerucut.


"Abi itu apa?" tanya Joe heran.


"Seperti Daddy."


"Maksudnya?" Kedua alis Joe terangkat.


"Kayak Robert anaknya Daddy. Jadi Bu Syifa anaknya Opa tadi."


"Oh Abi itu nama sebutan anak untuk Ayahnya, ya? Tapi Daddy baru denger. Dari bahasa apa sih?"


"Robert nggak tau." Robert menggeleng.


"Setahuku itu panggilan yang identik untuk orang Islam, Om." Baim yang duduk di kursi belakang menyahuti. "Buat anak ke orang tuanya. Soalnya ada saudara Baim juga yang manggil Abi Umi ke Mama dan Papanya."


"Oh gitu." Joe manggut-manggut. "Berarti kamu juga orang Islam, ya, Im?" tanyanya menatap Baim dari kaca depan. Bocah itu langsung mengangguk.


"Iya, Om."


"Terus kapan Daddy nembak Bu Syifa kalau begini caranya?" tanya Robert yang kembali membahas masalah tadi. "Masa takut sama Abinya Bu Syifa? Dia kelihatan orang baik kok."


"Nanti ada saatnya, kamu sabar dulu. Menyatakan cinta itu nggak boleh buru-buru, Rob, takutnya ditolak," sahut Joe memberikan pengertian. Selain itu dia harus benar-benar memantapkan hati untuk bisa menikah lagi.


"Memangnya ngaruh? Bilang aja Daddy nggak mau, kan? Padahal Bu Syifa itu mirip banget sama Mommy. Robert kepengen banget punya Mommy baru, Dad, biar bisa dipeluk kalau lagi tidur." Robert meringis, bola matanya tampak berkaca-kaca.


"Daddy mengerti, tapi Daddy minta waktu dulu sama kamu. Tolong ngertiin Daddy, Rob. Menikah itu bukan hal yang mudah. Daddy harus siap lahir dan batin," bujuk Joe dengan lembut. Tangan terulur untuk mengusap lembut puncak rambut anaknya.


"Minta waktunya kapan? Apa setahun atau sepuluh tahun?" Robert menoleh, air matanya sudah mengalir membasahi pipinya sekarang. Dia betul-betul merindukan sosok seorang ibu. Apalagi tadi sikap Syifa begitu manis dan lembut saat mengajarinya cara berhitung.


"Nggak sampai tahunan kok. Hanya beberapa hari, Minggu atau bulan. Dan intinya ... Daddy harus mengenal lebih dekat dulu dengan Bu Syifa, begitu pun sebaliknya."


"Tapi kalau Bu Syifa keburu nikah sama orang gimana, Dad?" Wajah Robert tampak murung.


"Ya kalau begitu berarti Daddy sama dia nggak jodoh," jawab Joe santai.


"Nggak jodoh itu gimana?" tanya Robert.


"Ya nggak bisa bersatu. Nggak bisa menikah."


"Ah, tapi Robert kepengen banget punya Mommy baru. Nggak tahan kayaknya." Robert terlihat merajuk, kedua tangannya meremmas seragam putihnya.

__ADS_1


"Sabar dulu, orang sabar itu disayang Tuhan, lho," ujar Joe yang Lagi-lagi mencoba untuk membujuk. "Lebih baik sekarang kamu banyak-banyak berdo'a dan mengenal Bu Syifa lebih dekat supaya tau dia mau nggaknya sama Daddy. Biar nanti pas Daddy menyatakan cinta nggak ditolak. Mau memangnya kamu ... kalau Daddy ditolak?"


"Kan dicoba juga belum. Mangkanya Daddy coba dulu nyatakan cinta." Robert sudah menangis, bahkan mulai sesenggukan. Wajahnya tampak sedih sekali.


Joe membuang napasnya dengan kasar. Meski sudah diberikan penjelasan, nyatanya bocah itu tetep kekeh ingin dia cepat mengungkapkan rasa. "Ya sudah, ya sudah, next kalau Daddy ketemu sama Bu Syifa lagi ... Daddy langsung menyatakan cinta kepadanya."


"Nah gitu dong. Kan Robert seneng dengarnya." Robert langsung mengulum senyum dan menyeka air mata dipipi, kemudian memeluk tubuh Joe dengan erat. "Berarti besok, ya, tapi Daddy nggak boleh ngaret lagi."


"Ngaret apa maksudmu?"


"Ngulur waktu. Pokoknya besok pas anterin Robert ke sekolah ... Daddy langsung menyatakan cinta ke Bu Syifa."


"Ya." Joe mengangguk pasrah.


*


*


*


"Lho, Bi, di mana Robert dan Baim?" tanya Syifa yang baru saja keluar dari pintu rumah, dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya. Dia melihat Abinya tengah duduk di kursi pada teras rumah.


"Mereka sudah pulang." Abi Hamdan berdiri, kemudian merangkul bahu sang anak dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Mereka pulang kok nggak pamit ke aku dulu, sih?" Syifa merengut dengan sedih.


Dia memang tadi sempat membuatkan kopi atas perintah Abi Hamdan, maka dari itu Joe tak sempat melihatnya lagi sebelum pulang.


Tempat mika dua bolu brownies rasa pandan dan coklat itu dibuka, kemudian Abi Hamdan mengambil satu potong rasa pandan.


"Bismillah, semoga halal," ucapnya sambil menyuap ke dalam mulut lalu mengunyah pelan-pelan.


"Bolu itu dari siapa, Bi?" tanya Syifa heran.


"Dari Daddynya Robert, katanya buat Abi," jawab Abi Hamdan.


Tak lama kemudian, Umi Maryam yang keluar dari kamarnya melangkah menghampiri. Lantas ikut duduk bersama pada sofa single.


"Wah, ada rezeki nih! Bolu beli di mana, Bi?" tanya Umi Maryam seraya mengambil sepotong bolu tersebut.


"Dari Daddynya Robert tadi."


"Oh. Enak, ya, rasanya. Kayak bolu mahal," ucap Umi Maryam sambil mengunyah dan merasakan kelembutan bolu pada setiap gigitannya.


"Oh ya, Fa, Abi ingin kamu jujur sama Abi," pinta Abi Hamdan sembari menatap lekat anaknya.


“Jujur apa, Bi?" tanya Syifa.


"Apa kamu punya perasaan sama Daddynya Robert?"

__ADS_1


Syifa langsung menggeleng. "Nggak. Orang kenal sama dia juga nggak."


"Masa, sih?" tanya Abi Hamdan dengan tatapan tak percaya.


"Serius, Bi. Aku bahkan baru bertemu dia dua kali."


"Di mana saja?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Pertama pas aku mau berangkat mengajar, yang kedua tadi."


"Pas pertama itu kamu ketemu dijalan?" tebak Abi Hamdan.


Syifa mengangguk. "Iya, nggak sengaja."


"Gimana ceritanya?"


"Eemm ... saat itu aku lagi nggak sengaja ketemu Kak Beni, terus dia datang menolongku."


"Menolong?!" Kening Abi Hamdan tampak mengernyit. Sebelum melanjutkan pertanyaannya, dia menyesap kopi hitamnya dulu yang berada di atas meja. Setelah itu berucap, "Memangnya pas ketemu Beni, si Beni itu gangguin kamu, sampai si Joe datang nolongin?" Yang Abi Hamdan tahu anaknya itu sudah lama putus, jadi dia berpikir demikian.


"Si Joe siapa, Bi?"


"Daddynya si Robert. Dia namanya Joe, mungkin kepanjangan dari Jojon."


"Oh, kalau nggak salah sih namanya Jonathan. Dan tentang Kak Beni sebenarnya dia nggak bermaksud menganggu, hanya saja pas ketemu dia bilang nggak mau putus sama aku. Jadi kami sempat berantem."


"Oh, tapi kamu sama dia nggak balikkan, kan? Awas saja kalau Abi lihat kamu dan Beni masih mempunyai hubungan!" ancam Abi Hamdan sambil melotot, kemudian kembali melahap bolu.


"Nggak lah, Bi. Hubunganku dan Kak Beni memang sudah selesai," jawabnya dengan sungguh-sungguh.


"Bagus deh." Abi Hamdan menghela napasnya dengan lega. "Oh ya, Abi perhatikan ... sepertinya Pak Joe itu suka kamu deh, Fa."


"Masa sih? Abi kata siapa?" tanya Syifa tak percaya.


"Bukan kata siapa-siapa. Tapi tadi Abi sempat dengar ucapan Robert kalau Pak Joe akan menyatakan cinta kepadamu."


Syifa sontak membulatkan matanya, merasa terkejut dan lagi-lagi tak percaya. "Masa sih, Bi? Ah bohong kali. Itu mah kepengen si Robert aja."


"Kepengen gimana?"


"Dari awal dia masuk sekolah dan bertemu denganku ... dia sudah minta aku untuk menjadi Mommy barunya, tapi sudah kutolak kok," jelas Syifa jujur.


"Kok bisa sih dia bilang kepengen kamu jadi Mommynya? Padahal katanya kamu dan dia baru ketemu?" Abi Hamdan tampak heran.


"Itu dia yang bikin aku sendiri bingung." Syifa menggaruk rambutnya yang berada dibalik hijab. "Tapi dia sempat mengatakan kalau alasannya karena wajahku mirip Mommy dulu."


"Memangnya Mommynya yang dulu ke mana?"


"Aku kurang tau, Bi." Syifa menggeleng.

__ADS_1


"Abi minta ... besok-besok kalau kamu bertemu dengan Pak Joe, usahakan menjaga jarak dan pandangan, ya! Dan kalau semisalnya dia menyatakan cinta padamu, kamu langsung tolak saja," pinta Abi Hamdan seraya menggenggam tangan sang anak.


...Jangan langsung tolak dong, Bi, kasihan 🥲...


__ADS_2