Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
18. Apa kamu punya pacar?


__ADS_3

"Sebentar ya, Fa, Umi ambilkan minyak zaitun. Siapa tau cincinmu bisa terlepas," ucap Umi Maryam.


Setelah itu dia pun berjalan keluar dari kamar Syifa, kemudian menuju kamarnya.


Syifa pun menghela napasnya dengan gusar, lalu mengelus cincin yang masih tersemat. Jari manisnya terlihat begitu merah, dia juga merasakan perih. "Kasihan banget kamu, padahal benda 'kan nggak salah. Abi ini memang menyebalkan!" gumamnya menggerutu.


Memang, sejak dulu Abi Hamdan ini sangat overprotektif kepadanya. Apa-apa selalu tidak boleh, apa-apa tidak diizinkan. Ditambah dia juga mencampur adukkan semua hal dengan agama.


Ya mungkin menurutnya, apa yang Abi Hamdan lakukan adalah demi kebaikan. Mengingat Syifa ini juga satu-satunya anak yang dia miliki.


Namun, terkadang Syifa sendiri merasa lelah. Makanya kadang dia masih suka berbohong, supaya sang Abi tidak marah.


"Maaf ya, Nak Fahmi. Kamu jadi dianggurin," ucap Abi Hamdan yang baru saja duduk lagi di sofa, di dekat Fahmi. Dia juga meletakkan buket bunga mawar di atas meja.


"Nggak apa-apa Ustadz. Tapi ada apa dengan Syifa? Apa dia sakit?" tanya Fahmi. Dia menatap Umi Maryam yang keluar dari kamar, lalu masuk ke dalam kamar Syifa dengan membawa minyak zaitun dan minyak gosok.


"Kan Abi udah pernah bilang ... jangan panggil Ustadz, panggil Abi saja," titah Abi Hamdan.


Bukan hanya kepada Fahmi, tapi pada murid-murid yang belajar ngaji pun dia lebih suka dipanggil Abi. Karena sapaan itu terdengar membuatnya lebih dekat.


Namun kadang kala, masih ada juga yang memanggilnya dengan sebutan Ustadz.


"Iya, maaf. Maksudku Abi. Terus Syifa tadi kenapa kalau boleh tau? Sampai menjerit begitu?" tanya Fahmi penasaran.


"Gara-gara cincin. Dia dikasih cincin sama Daddynya si Robert ... tapi pas Abi lepas nggak bisa," jelas Abi Hamdan.


"Daddynya Robert itu siapa? Apa Syifa sudah punya pacar?"


"Syifa nggak pernah dibolehin Abi pacaran, jadi dia bukan siapa-siapanya Syifa, Mi," jawab Abi Hamdan.


"Kok dikasih cincin segala, Bi? Dan ...." Fahmi menunjuk ke arah bunga di atas meja. "Apa bunga itu juga dari dia?"


Abi Hamdan mengangguk. "Iya, itu dari dia. Daddynya Robert ini namanya Jojon. Dia memang suka sama Syifa malahan sempat nembak katanya. Tapi udah ditolak sama Syifa dan Abi sendiri memang nggak suka dengannya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Menurut Abi dia bukan laki-laki yang baik. Selain itu dia juga non muslim."


"Tapi Syifa sendiri suka, sama Jojon?"


"Nggaklah, Mi," sahut Abi Hamdan sambil menggelengkan kepalanya.


"Oh syukurlah ...." Fahmi menghela napasnya dengan lega, lalu refleks mengelus dada.


"Minum lagi susunya." Abi Hamdan menunjuk segelas susu putih di atas meja yang masih terisi penuh. Ada secangkir kopi miliknya juga di sana. Minuman itu ada di sana sejak Fahmi baru saja datang. Pastinya sudah menjadi dingin sekarang. "Oh, apa kamu pengen dibuatkan lagi, karena sudah dingin?"


"Nggak usah, Bi," tolak Fahmi dengan gelengan kepala. Dia merasa tak enak. "Aku memang sengaja kok, karena nggak suka susu yang panas. Aku minum sekarang, bismillah ...." Dia pun meraih gelas tersebut, lalu menenggaknya.


Dari selesai Dzuhur, Fahmi memang sengaja datang karena ingin bersilaturahmi sekalian bertemu dengan Syifa. Dia juga membawa buah rambutan sekarung, hasil panen di kebun Papanya.


Beberapa menit kemudian, pintu kamar Syifa pun dibuka, Umi Maryam yang keluar. Wajah wanita itu terlihat berkeringat banyak. Seperti habis lari maraton saja.


"Umi habis lari-lari?" tanya Abi Hamdan heran. Alis matanya tampak bertaut. "Kan Abi suruh bantuin Syifa bukain cincin."


"Umi memang sejak tadi bantuin Syifa lepas cincin, Bi. Tapi susah," jawab Umi Maryam yang tampak sudah menyerah.


"Pakai minyak zaitun terus minyak urut. Sampai dicuci juga pakai sabun mandi tadi," sahut Umi Maryam. "Eh tetap saja susah lepas. Malah yang ada tangan Syifa berdarah karena kena kuku Umi. Ini Umi mau obatin tangannya."


Abi Hamdan berdecak kesal. "Dikasih jampi kayaknya itu cincin, sampai nggak bisa lepas-lepas," tebaknya asal. "Ya sudah, obati saja dulu tangannya. Lalu minta Syifa cepat makan, karena sejak tadi Nak Fahmi menunggu ... dia pasti ingin mengobrol sama Syifa." Abi Hamdan menatap ke arah Fahmi, lalu mengulas senyum begitu pun dengan pria itu.


"Iya, Bi." Umi Maryam mengangguk. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kotak P3K.


'Musti dijepit pakai tang kayaknya itu cincin, biar terlepas. Nanti deh coba,' batin Abi.


*


*


Seusai makan siang, seperti apa yang Abi Hamdan minta. Syifa akhirnya ikut duduk di sofa, menghargai Fahmi juga yang ingin mengajaknya mengobrol.


"Kalian mengobrol lah berdua di sini. Abi sama Umi mau ngobrol diteras," ucap Abi Hamdan seraya berdiri dan merangkul bahu istrinya.

__ADS_1


Umi Maryam mengangguk, kemudian mengikuti langkah kaki sang suami yang mengajaknya duduk di depan teras rumah. Tapi pintu rumahnya itu dibiarkan terbuka, juga posisi Abi Hamdan menghadap ke arah jendela yang mengarah pada posisi ruang tengah. Jadi bisa memantau mereka berdua.


"Menurut Umi, Syifa sama Fahmi cocok nggak?" tanya Abi Hamdan yang baru saja duduk. Dilihat dari sana, baik Syifa dan Fahmi, mereka belum ada yang memulai obrolan.


"Cocok-cocok aja, sih, kenapa memangnya?" Umi Maryam ikut memerhatikan anaknya dari jendela.


"Kemarin malam, Abi sempat mengobrol dengan Pak Samsul. Katanya Fahmi itu ternyata suka sama Syifa dari dulu, tapi malu untuk mengungkapnya. Jadi ... Pak Samsul mengusulkan perjodohan."


"Tapi Fahmi 'kan baru lulus kuliah katanya, Bi, dia juga belum kerja, kan? Kok langsung nikah?" tanya Umi Maryam heran.


"Jangan salah, Mi, dia itu sudah punya gelar LC. Terus sudah punya dua restoran juga, di Jakarta dan Bandung," sahut Abi Hamdan memuji.


"LC itu apa, Bi?"


"Lulusan Cairo," jawab Abi Hamdan. Di kalangan umum, gelar Lc ini sering disebut sebagai singkatan dari Lulusan Cairo. Meski tidak begitu tepat, tetapi pendapat umum ini memang memiliki kedekatan dengan arti sebenarnya dari Lc itu sendiri karena berasal dari kawasan Timur Tengah.


"Lusa Fahmi juga bilang kalau dia akan memulai tabligh akbarnya sebagai penceramah di masjid Istiqlal, bareng sama ustadz-ustadz yang sudah terkenal di tv, Mi, hebat nggak tuh?" ucap Abi Hamdan dengan penuh antusias dan bangga. "Pokoknya kalau Syifa menikah dengan Fahmi, bukan di dunia saja dia mendapatkan kebahagiaan. Tapi diakhirat juga," lanjutnya dengan yakin.


"Kalau Umi sih terserah Abi, tapi ada baiknya tanya Syifanya dulu. Takutnya dia nggak mau, namanya anak zaman sekarang 'kan paling anti yang namanya dijodohkan," tutur Umi Maryam. Ada benarnya memang apa yang dia katakan. Mengingat kalau tadi pun Syifa memintanya untuk tidak menyetujui jika dia benar-benar akan dijodohkan.


"Pasti mau lah, orang Nak Fahmi itu udah sempurna luar dalamnya."


"Syifa, apa kamu punya pacar?" tanya Fahmi yang sudah beberapa menit lamanya dia terdiam bersama Syifa. Pernyataannya itu langsung memecah keheningan.


"Nggak, Kak." Syifa menggeleng, kepalanya menunduk.


"Aku juga nggak punya pacar, Syifa, dan memang nggak mau pacaran." Tidak ada yang tanya, tapi memang Fahmi sengaja memberitahunya. "Oh ya, aku kemarin baru aja meresmikan restoran yang aku buat hasil dari kerja kerasku. Besok kamu mau nggak, kalau aku ajak makan malam bareng di sana?"


"Besok aku mengajar, Kak."


"Kan aku bilangnya malam, Fa," kekeh Fahmi. "Nanti sekalian kuajak Umi dan Abimu juga."


"Eemm ... gimana, ya, Kak." Syifa mengusap tengkuknya dari balik hijab. Dia merasa bimbang.


"Kok gimana? Mau apa nggak?" tawar Fahmi, dia memerhatikan Syifa dengan lekat sambil tersenyum. "Nanti berangkatnya habis Isya. Kita akan naik mobil baruku, Fa, aku baru aja beli mobil Lamborghini seharga 8,5 milyar lho," tambahnya dengan bangga seraya menepuk dada.

__ADS_1


...Jangan ditolak, Fa, dia kan calonmu 🙈...


__ADS_2