
"Ada hal yang ingin aku tanyakan. Bisa nggak, San, Kira-kira ... kalau nanti malam kamu jemput dia ... untuk datang menemuiku di rumah sakit?" pinta Joe.
"Kalau untuk datang sih saya kurang tau bisa apa nggaknya, soalnya selain jadi Ustad ... dia juga marbot masjid. Jadi agak susah kayaknya, Pak."
"Marbot masjid?" Kening Joe tampak mengernyit. "Apa itu marbot masjid, San?"
"Orang yang ngurus masjid, Pak," jawab Sandi. "Atau ... Bapak mau saya carikan Ustad lain? Bagaimana?"
"Nggak usah deh, Ommu saja. Nanti biar aku saja yang datang menemuinya. Berikan aku nomornya saja, San."
"Baik, Pak."
Setelah mematikan panggilan, tak berselang lama Joe mendapatkan notifikasi chat masuk dari Sandi. Sebuah nomor telepon bernama Om Yunus, yang berhasil dikirimkan.
Joe langsung menyimpannya, kemudian mencoba untuk menghubungi.
Tak menunggu waktu yang lama, panggilan itu pun diangkat oleh seberang sana.
"Selamat siang, apa ini dengan Ustad Yunus?" tanya Joe dengan sopan.
__ADS_1
"Siang juga. Benar, saya Yunus. Bapak ini siapa, ya?" tanya Ustad Yunus.
"Aku Joe, Ustad. Bosnya Sandi, keponakan Ustad," jawab Joe.
"Oh. Ada apa ya, Pak?"
"Apa Ustad ada waktu? Aku ingin bertemu Ustad nanti malam."
"Ada. Tapi kalau mau bertemu dengan saya paling bisa di masjid atau di rumah saya, Pak. Bagaimana?"
"Nggak masalah. Kira-kira jam berapa bisanya, Tad?"
"Ba'da Isya itu kapan?" tanya Joe bingung. Akan tetapi panggilan itu tiba-tiba saja terputus. Joe kembali menghubungi, meneleponnya lagi. Sayangnya nomornya tidak aktif sekarang. 'Lho, kok mati? Terus sekarang nggak aktif. Tapi ba'da Isya itu kapan?' batinnya.
"Dad, Daddy lagi apa?" tanya Robert yang baru saja terbangun dari tidurnya. Suaranya terdengar begitu lirih.
Sekarang dia sudah tidak memakai ventilator oksigen. Sebab selain merasa tak betah, rasa sesak di dadanya juga sudah agak menghilang.
Joe langsung menoleh, kemudian tersenyum. "Daddy ada kerjaan sedikit," jawabnya, kemudian menaruh ponselnya di dalam kantong celana, lalu melipat laptop dan memasukkan kedua kitab suci itu ke dalam kantong merah berbeda.
__ADS_1
Lantas Joe pun berdiri, kemudian melangkah mendekati anaknya.
"Kamu kepengen makan apa? Atau ngemil apa? Nanti Daddy belikan, Sayang," tawar Joe seraya mengusap puncak rambut sang anak. Kemudian duduk di atas kasur di sampingnya.
"Robert kepengen pulang, Dad, nggak betah di sini," jawab Robert dengan lesu.
"Dokter belum mengizinkanmu pulang. Jadi tunggu dulu beberapa hari. Oh ya, Daddy juga punya mainan baru untukmu. Kamu pasti suka." Joe meraih sebuah paper bag di atas nakas, kemudian mengambil isinya yang adalah pesawat remote. "Ini, kamu bisa memainkannya di sini, Sayang." Membukakan kardusnya, lalu memberikan pesawat beserta remotenya kepada Robert. Akan tetapi bocah itu belum mengambilnya, hanya memandangi saja dengan sorot mata sendu.
"Robert kepengen mainnya sama Leon dan temen-temen yang lain, Dad. Nggak mau main sendiri." Robert menggelengkan kepalanya. "Mereka kok nggak ada yang jenguk Robert sih, Dad? Kan Robert lagi sakit," tambahnya dengan sedih.
"Mereka semua pasti masih belajar di sekolah, Sayang," jawab Joe dengan lembut seraya membungkukkan badannya untuk mengecup kening Robert.
"Sekarang 'kan sudah jam 12, Dad." Robert mengangkat tangannya ke udara, lalu menunjuk jam dinding. "Pasti mereka sudah pulang. Dan Bu Syifa juga, kok nggak ke sini lagi? Jenguk Robert?" Bibirnya merengut, Robert tampak begitu berharap jika perempuan itu datang lagi. Karena melihatnya saja, sudah cukup membuat suasana hatinya menjadi bahagia.
"Bu Syifa 'kan punya kesibukan. Barang kali dia ...." Belum sempat Joe meneruskan ucapannya, tapi secara tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kemudian tak berselang lama dibuka oleh seseorang.
Ceklek~
"Assalamualaikum!"
__ADS_1
...Siapa kira-kira yang dateng? 🤔...