Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
16. Tuhan Yesus itu sayang kamu


__ADS_3

"Cari perempuan lainnya siapa, Dad? Kan kata Daddy cari duplikat Mommy itu susah, Daddy gimana, sih?" Robert mendengkus dengan masih terisak.


"Kan kemarin-kemarin kita sempat memposting foto Mommy, barangkali ada yang nyantol satu. Mirip sama Mommymu."


"Maksudnya, Robert suruh nunggu lagi? Lama dong, nanti keburu tua Daddynya. Nggak bakal ada yang mau, hiks!" Robert masih menangis, sampai-sampai sesenggukan.


"Mana ada Daddy tua. Umur Daddy saja sekarang baru 37. Nggak tualah segitu mah," bantah Joe.


"Tapi rambut Daddy sudah ada ubannya, hiks."


"Nggak ada, ngarang aja kamu mah."


"Bener ... semalam Robert lihat kok ada." Robert mendongakkan wajahnya, tangannya pun terangkat hendak menyentuh rambut kepala sang Daddy untuk menunjukkan jika memang benar, ada rambut Joe yang berwarna putih yang dia yakini adalah uban.


"Udah, sih, kok jadi bahas uban," sahut Joe seraya menahan tangan Robert. "Yang kamu lihat mungkin rambut mati. Memang warnanya putih kayak uban, Rob. Tapi bukan uban," jelasnya kemudian.


Joe pun melepaskan pelukan, lalu mengusap air mata dipipi sang anak. Setelah itu dia merogoh kantong celananya, lalu mengetik-ngetik ponselnya dan membuka seluruh sosial media. "Sebentar ... Daddy cek seluruh sosial media dulu."


Ternyata, banyak sekali tanggapan rupanya dari orang-orang. Selain like, komentar pun banyak.


Namun sayangnya, semua orang menganggap postingan Joe hanya sebuah lelucon. Malah ada pula yang menghujatnya, berikut beberapa isi komentar pada laman Inst*gramnya.


@bekicot _mandi _lumpur: "Serius, Ente nyari istri yang mirip sama istri Ente yang udah koit? Mana bisa wkwkwk πŸ€ͺ."


@tai _kucing _ belangbelang: "Udah ngerasa ganteng banget, ya, sampai nyari jodoh lewat sosmed? 😏."


@cacing _kepanasan: "Minimal mandi dulu lah, baru nyari jodoh πŸ€•."


@tikus _kejepit: "Sesekali jangan pakai filter kalau foto atau video, biar ada yang lirik 🀣."


@kecoa _terbang: "Zaman sekarang nyari istri yang setia itu susah, Bro, ini lagi nyari yang mirip bini pertama. Aku nangis dipojokan aja 🀧."

__ADS_1


@wedus _gembel: "Nggak usah nyari yang mirip, Om. Mending nanti suruh operasi wajah aja πŸ˜†."


@ulet _keket: "Sama aku aja mau nggak, Om? Aku bersedia kok operasi wajah biar mirip istrimu yang dulu, dadaku malah lebih montok🀀."


@bisul _sapi: "Yang difoto itu mirip sama aku, tapi sayang aku udah punya suami πŸ˜”."


@tokek _berak _dicelana: "Aku mirip istrimu, Om, tapi aku berbatang. Mau nggak? 😚."


@capung _keseleo: "Maaf agak melenceng, disini ada yang jual obat untuk mata minus nggak, ya? 😭."


"Bagaimana, Dad? Apa ada yang nyantol satu?" tanya Robert penasaran seraya menarik tangan Joe yang memegang ponsel, dia ingin ikut melihat.


Joe menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. "Belum ada, Rob. Mungkin besok baru ada."


Mendengar jawaban yang kurang memuaskan itu, Robert pun akhirnya kembali menangis. Kemudian berdiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dadanya terasa begitu bergemuruh. Kecewa dan sedih beradu jadi satu.


"Kenapa nasib Robert bisa buruk seperti ini?Padahal Robert selama ini selalu jadi anak baik, tapi Tuhan Yesus nggak pernah mengabulkan permintaan Robert. Dia jahat! Dia nggak sayang sama Robert!" geramnya dengan suara lantang. Tangisnya pun makin pecah mengisi ruangan itu.


"Tapi mau sampai kapan, Dad? Robert bahkan dari lahir pun belum pernah merasakan bagaimana dipeluk Mommy. Apa mungkin nunggu Robert mati dulu, baru bisa ketemu Mommy dan dipeluk Mommy? Hiks ... hiks ... hiks," isaknya tersedu-sedu.


"Jangan bilang kayak gitu," tegur Joe lalu menarik tangan sang anak untuk menyentuh dadanya. "Kamu harus percaya sama Tuhan, sama Daddy. Secepatnya Daddy akan cari calon Mommy yang mirip dengan Bu Syifa. Tentu dengan seiman dengan kita."


"Yang mirip Mommy kali. Kan Bu Syifa juga mirip Mommy, hiks."


"Iya, maksudnya yang mirip Mommy." Joe mengusap air mata sang anak dengan ibu jarinya. "Sekarang, lebih baik kita makan siang saja, yuk! Kita beli sushi. Ada restoran sushi yang baru buka. Kamu pasti suka."


Robert menggeleng cepat. "Nggak ah, Robert lagi nggak mood."


"Ya sudah, tunggu sudah mood saja berarti." Joe mengelus punggung Robert dengan lembut, mencoba menenangkan hatinya.


***

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Syifa yang baru saja membuka pintu rumahnya. Dia baru pulang mengajar dan langsung melepaskan sepatu flatshoesnya.


"Walaikum salam," sahut Abi Hamdan dan seorang pria di sampingnya. Yang saat ini duduk di sofa ruang tengah.


Syifa tampak terdiam mematung, memerhatikan wajah pria tampan berkulit putih yang duduk dengan Abi Hamdan. Dia memakai kemeja pendek berwarna merah, kacamata dan peci. 'Siapa dia?' batinnya.


"Kok diem disitu sih, Fa? Ayok masuk, ini ada Nak Fahmi yang sejak tadi menunggumu," ucap Abi Hamdan. Ternyata pria yang bersamanya itu adalah Fahmi, usianya 29 tahun.


"Oh iya, Bi." Syifa mengangguk dan tersenyum. Dia pun melangkah cepat untuk masuk ke dalam rumah, lalu menghampiri Abi Hamdan dan mencium punggung tangannya.


"Bagaimana kabarmu, Fa? Kamu makin cantik saja, ya!" seru Fahmi sambil tersenyum dan memerhatikan wajah Syifa.


"Kabarku baik, Kak." Syifa tersenyum, lalu menatap wajah Abi Hamdan. "Aku mau ke kamar ya, Bi, mau ganti baju."


"Iya." Abi Hamdan menganggukkan kepala. "Eh tapi, bunga dari siapa itu yang kamu pegang, Fa?"


Pertanyaan dari Abi Hamdan seketika membuat langkah kaki Syifa terhenti sekaligus terperanjat. Padahal gadis itu sudah membuka pintu kamar yang tepat di depan sana.


"Oh ini ...." Syifa menoleh, lalu mengangkat tangannya yang memang sejak tadi memegang buket bunga pemberian Joe. "Aku membelinya tadi dijalan, Bi."


Bukan maksud ingin berbohong, tapi yang dilakukannya karena takut jika buket bunga itu kembali dibuang oleh Abinya. Selain karena sayang, Syifa juga sangat senang diberikan bunga dan memang dia suka sekali dengan bunga mawar merah.


"Beli apa dikasih sama Daddynya si Robert?" tebak Abi Hamdan yang langsung tepat sasaran. Matanya menyipit dengan penuh curiga menatap sang anak. Dan sorotan matanya pun seketika beralih pada sebuah cincin yang tersemat dijari manis. "Kamu juga kok pakai cincin? Tumben? Oh ... atau jangan-jangan kamu habis dilamar?!"


Syifa langsung menggeleng cepat, refleks kedua tangannya pun dia sembunyikan di belakang punggung. "Nggak kok, Bi, ini beli."


"Jangan bohong kamu, Syifa!" tegas Abi Hamdan yang terdengar lantang. Dia pun segera berdiri, lalu melangkah mendekat ke arah Syifa yang sudah terlihat ketakutan.


'Kalau Abi sampai beneran tau ... apa cincin dan bunga ini akan dibuang?' batin Syifa cemas, susah payah dia pun menelan salivanya.


...Bohong salah jujur salah ya, Bu Guru πŸ₯²...

__ADS_1


__ADS_2