
"Bagaimana, Jon? Apa Papimu setuju?" tanya Abi Hamdan yang baru saja datang bersama Ustad Yunus. Pertanyaan yang dia lontarkan itu bertepatan dengan Joe yang baru saja keluar dari kamar inap orang tuanya.
"Tentu setuju dong, Pak," jawab Joe dengan kedua pipi yang tampak merona. Robert yang mendengarnya langsung berlari untuk menghamburkan pelukan kepadanya. "Malah katanya, aku dan Syifa langsung menikah saja. Nggak perlu pakai bertunangan," tambahnya sambil menatap ke arah Syifa yang seakan menyembunyikan wajahnya. Dia masih berpaling.
"Aku malah ada rencana kalau kamu dan Syifa menikahnya nanti malam saja," ujar Abi Hamdan yang mana membuat Syifa dan Joe sontak terbelalak. Keduanya tampak terkejut.
Tadi, Abi Hamdan dan Ustad Yunus sempat mengobrol panjang lebar tentang perkara ini. Abi Hamdan yang merasa bingung lantas meminta saran dari Ustad Yunus yang sama halnya seperti dirinya, memiliki ilmu agama yang cukup tinggi.
Beliau menyarankan jika pernikahan Joe dan Syifa tidak boleh ditunda-tunda lagi. Karena ini sudah menyangkut masalah bayi yang sudah tumbuh di dalam rahim.
Jadi, tidak perlu menunggu seminggu, lusa atau pun besok. Kalau bisa sekarang, kenapa tidak?
"Wah seriusan, Pak? Ide yang bagus itu!" Dengan senangnya Joe langsung berlari mendekat ke arah Abi Hamdan, lalu memeluknya dengan erat. Robert juga melakukan hal yang sama.
"Robert sayang Opa! Opa Hamdan memang yang terbaik!" seru Robert dengan girangnya.
"Abi, apa ini nggak terlalu cepat? Masa malam ini?" protes Syifa. Padahal sejujurnya dia sendiri sudah tidak sabar ingin menantikan momen itu, tapi malah sekarang justru merasa grogi.
"Lebih cepat itu lebih baik, Fa. Ngapain ditunda-tunda," sahut Joe sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Aku ingin bicara dulu dengan orang tuamu. Dan sebaiknya kamu mandi, Jon! Tubuhmu bau bangkai!" Abi Hamdan langsung mendorong dada Joe demi melepaskan pelukan.
Aroma tubuh pria itu rasanya campur aduk dan membuat perutnya mual. Keringat, asam, iler beradu menjadi satu. Wajar juga, sebab memang sejak kemarin sore dia belum mandi.
"Enak saja bau bangkai. Aku wangi begini." Joe mencubit kerah kemejanya, lalu mendekatkan ke arah hidung sembari mengendus dadanya dibalik kemeja. Akan tetapi, dia justru merasa mual. "Uueek!" Cepat-cepat menutup mulut dan hidung. "Bapak benar, tubuhku sangat bau."
"Mangkanya mandi!" tegur Abi Hamdan sambil melotot. "Siapkan juga maharnya, Jon, seperangkat alat sholat dan satu paket emas murni."
"Tapi menikahnya di mana nanti, Pak? Orang tuaku menginginkan resepsinya di hotel dan tunggu mereka keluar dari rumah sakit. Kasihan juga, masa mereka nggak menghadiri anak satu-satunya yang mau menikah lagi?"
"Kalian berdua ijab kabul dulu nanti malam, di sini. Kalau soal resepsi nanti aku, Uminya Syifa dan orang tuamu akan berdiskusi. Enaknya gimana. Yang terpenting sekarang kalian sudah sah dulu," jelasnya panjang lebar, lalu menatap Umi Maryam. Wanita berhijab itu menganggukkan kepalanya, seolah setuju dengan pendapat dari sang suami.
"Enak begitu sih, Pak. Yang penting sudah halal." Joe mengangguk semangat. Tentunya usulan Abi Hamdan sangat bagus untuk hubungannya dengan Syifa.
"Tapi Pak Joe 'kan belum jadi mualaf, Bi. Bagaimana bisa dia nanti ijab kabul?" tanya Syifa. Meskipun Abi Hamdan tak pernah meladeninya setiap kali bertanya, tapi dia tak pernah bosan untuk terus mengajukan pertanyaan.
"Dia berikrarnya pas ijab kabul," jawab Abi Hamdan tanpa menoleh, lalu menatap ke arah Umi Maryam dan menggenggam tangannya. "Ayok masuk, Mi," ajaknya.
__ADS_1
Wanita itu pun mengangguk, lantas melangkah masuk bersama ke dalam kamar inap Papi Paul dan Mami Yeri, bertepatan dengan seorang dokter dan Suster yang keluar dari sana.
"San, apa kamu ada baju ganti di dalam mobilmu?" tanya Joe menatap Sandi.
"Ada. Kenapa memangnya, Pak?" Sandi berbalik tanya.
"Aku mau pinjam, buat ganti selesai mandi. Aku belum mandi dari kemarin, San."
"Pakai saja, Pak. Atau mau saya ambilkan bajunya?" tawar Sandi. Dia sudah merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci mobil.
"Nggak usah," tolak Joe dengan gelengan kepala. "Biar aku ambil sendiri sekalian cari toilet." Mengulurkan tangannya, dengan telapak yang terbuka. Sandi pun segera memberikan kunci. Setelah itu, giliran Joe yang beralih memberikan black card-nya ke tangan Sandi. "Ambil ini dan tolong kamu belikan mahar yang Pak Hamdan minta. Nanti sekalian juga suruh orang butik langganan Mami untuk datang ke sini dengan membawa sepasang pakaian pengantin, ya, San. Tapi ingat juga, kebaya untuk pengantin perempuannya yang berhijab."
"Ukurannya gimana, Pak? Saya nggak tau ukuran tubuh Bu Syifa." Sandi mengambil kartu yang Joe berikan, lantas memerhatikan tubuh Syifa. Namun, cepat-cepat Joe mengusap kasar wajahnya. Seolah melarang keras sang sopirnya itu melihat keindahan tubuh Syifa.
"Bilang saja samakan dengan ukuran almarhumah Sonya, San."
"Baik." Sandi mengangguk. "Ya sudah, saya permisi kalau begitu, Pak." Membungkuk sedikit, kemudian melangkah pergi.
"Saya juga sekalian pamit pulang dulu," ucap Ustad Yunus. "Mau bantu mengurus semuanya dan memberitahu Pak RT."
"Iya, Tad. Terima kasih banyak, ya?" Joe tersenyum, lalu membungkukkan badannya.
Joe menoleh ke arah Syifa. Gadis itu kini duduk bersama Robert di kursi panjang, kepalanya tampak menunduk malu. "Rob, Daddy titip calon Mommy barumu dulu, ya, Daddy mau mandi."
"Iya, Dad." Robert mengangguk semangat. "Daddy mandinya yang bersih. Jangan lupa ganti sarung juga," tunjuknya ke arah sarung yang Joe kenakan. Warna putihnya sudah menguning sekarang.
"Iya. Ah Daddy juga sampai lupa kasih tau Om Sandi untuk belikan sarung buat ganti, Rob." Joe menepuk jidatnya. Merasa lupa jika benda itu sangatlah penting untuk tubuhnya.
"Telepon saja Om Sandinya, Dad. Mumpung baru pergi." Robert cepat-cepat memberikan ponsel Soni ke tangan Joe.
"Iya, terima kasih, Sayang." Sembari melangkah pergi menuju parkiran mobil, Joe pun mencoba menghubungi Sandi.
"Sama-sama."
Sekarang, hanya ada Syifa dan Robert saja di sana. Duduk berdua, menunggu semua orang telah selesai dengan urusannya masing-masing.
"Bu Syifa seneng nggak, mau menikah sama Daddy nanti malam?" tanya Robert. Perlahan tangan Syifa dia raih, kemudian menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Ibu ...."
"Ibu apa?"
"Eeem ... kamu sendiri, seneng nggak, Ibu akan jadi Mommymu?" Syifa yang malu untuk menjawab jadi membalikkan sebuah pertanyaan. Perlahan dia pun menoleh.
"Tentu senang lah, Bu. Masa nggak." Robert tersenyum lebar, hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas. "Pokoknya Ibu nanti harus janji sama Robert, ya!" pintanya, dengan jari kelingking yang mengarah ke arah Syifa.
"Janji apa?" Kening Syifa tampak mengernyit. Perlahan dia menautkan jari kelingkingnya.
"Ibu harus sayang sama Robert selamanya. Tidur bareng Robert juga selamanya."
"Kalau sayang selamanya sih pasti. Tapi kalau tidur bareng selamanya kayaknya nggak bisa."
"Lho kenapa?" Raut wajah Robert seketika sendu.
"Kalau selamanya berarti sampai kapan pun, Nak!" Syifa mengusap pipi kanan Robert dengan lembut. Kemudian mengecup keningnya. "Sedangkan kamu nanti akan tumbuh besar. Jadi nggak mungkin juga selamanya, apalagi kalau kamu sudah menikah."
"Robert nggak mau menikah. Punya Mommy baru juga itu sudah lebih dari cukup, Bu."
"Iya kalau sekarang. Kan kamu masih kecil." Syifa mengusap puncak rambut Robert. "Kalau sudah besar, kamu pasti pengen juga punya istri."
"Syifa! Ternyata kamu ada di sini juga?!" Seorang pria tiba-tiba saja datang dan meraih tangan Syifa dengan kasar hingga membuat tubuhnya berdiri.
Robert pun ikut berdiri, kemudian menepis tangan pria yang terlihat asing dimatanya itu. "Om siapa? Jangan pegang-pegang calon Mommy baruku!" tegasnya.
"Kamu pokoknya nggak boleh menikah, Fa! Dan kita nggak boleh putus!" tegasnya.
Ternyata pria itu adalah Beni, mantan kekasih Syifa. Dia lantas menoleh ke kanan dan kiri, mengamati situasi. Dan ketika menurutnya aman, segera dia pun kembali meraih tangan Syifa. Tapi kali ini sambil ditarik dan mengajaknya pergi.
"Hei! Mau bawa Mommy baruku ke mana kau?!" teriak Robert yang langsung berlari mengejar mereka pada lorong rumah sakit.
"Kakak ini apa-apaan, sih! Lepaskan aku!" pekik Syifa memberontak. Bukan hanya menepis tangan Beni, dia juga mendorong dadanya hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.
"Kamu harus ikut denganku, Fa!" Dengan nekat dan tanpa berpikir, Beni langsung mengangkat tubuh Syifa. Kemudian membawanya berlari pergi dari sana hingga keluar dari rumah sakit.
Robert yang masih mengejar langsung membuka seluruh sepatunya, lalu melemparkannya ke arah punggung pria di depannya sambil berteriak meminta tolong. "Semuanya tolong aku! Calon Mommy baruku mau diculik!" teriaknya kencang.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^