
"Mana hapenya, Pak? Bapak taruh di mana?" tanya Syifa. Dirasa-rasa mereka sudah berada di ruang tengah. Dan sekarang, dia tengah membungkukkan badannya ke arah dudukan sofa. Mencari-cari benda pipih Joe yang tak dia ingat tadi dipegang saat menunggu kurir. "Pak, nggak ada."
Syifa masih sibuk meraba, sampai pada kaki sofa. Namun, Joe sendiri bukannya membantu mencari, dia malah sibuk dengan pikiran kotornya.
"Pak, Bapak juga ikut mencari dong. Masa diam saja? Kalau sampai lampunya mati sampai pagi gimana?" gerutu Syifa. Mencari barang yang tidak ditemukan memang sangat menjengkelkan, itulah yang membuat dirinya menjadi kesal.
"Ah iya, Fa!" Joe terhenyak dalam lamunan. Matanya mengerjap beberapa kali. "A-aku juga ikut nyari kok," lanjutnya dengan terbata. Perlahan tangan kanannya terulur ke bawah, kemudian ikut meraba-raba.
"Itu tanganku, Pak, nggak usah meraba ke situ." Syifa langsung mengalihkan tangan Joe. Memang pria itu asal meraba dan malah menyentuh lengannya.
"Maaf." Joe ikut membungkuk badan. Tak lama mereka pun mencari sampai merangkak ke bawah. Namun sejak tadi, tangan Joe seperti tak ingin melepaskan tubuh Syifa. Meskipun sudah tidak dipeluk, tapi lengan kirinya melingkar pada perut. 'Duh, tongkatku makin keras. Mana suasana makin panas dan gelap lagi,' keluh Joe dalam hati. Tongkat bisbolnya itu seperti tak sadar dengan keadaan, bisa-bisanya dalam gelap dan gersang seperti ini dia justru berdiri tegak.
__ADS_1
"Duh, ke mana sih hapenya? Kok nggak ketemu-ketemu?" keluh Syifa.
Keduanya masih sibuk merangkak, hingga tanpa sadar lutut kanan Syifa menginjak sarung yang Joe kenakan. Alhasil bukan hanya membuatnya tertarik, tapi juga membelit baju gamisnya.
"Astaghfirullah!" pekik Syifa saat tubuhnya tiba-tiba terguling jatuh dengan posisi terlentang. Entah bagaimana awalnya, sebab begitu gelap dan sangat cepat. Tapi tubuh Joe sekarang sudah berada di atas tubuhnya. Saling menimpa satu sama lain.
Bruk!
"Maaf, Fa!" cicit Joe. Sama halnya seperti Syifa, dia juga sama terkejutnya. Kedua tangan dan lututnya langsung dia topang ke lantai, sebab merasakan miliknya terjepit.
Dia sendiri tak memikirkan bagaimana aroma napas dan tubuhnya sendiri, yang pastinya bertolak belakang dengan Syifa sebab belum mandi.
__ADS_1
'Kalau nggak gelap, pasti aku bisa melihat bagaimana cantiknya Syifa dari atas sini,' batin Joe. Dia menatap dalam kegelapan. Meskipun tak terlihat apa pun, tapi dirinya bisa membayangkan bagaimana mempesonanya Syifa.
"Pak, tolong bangun! Aku berat seka ...." Ucapan Syifa seketika menggantung kala dirinya merasakan sentuhan tangan pada daerah bibir bawahnya. Lidahnya pun mendadak terasa begitu kelu untuk berucap, hanya jantungnya saja yang saat ini berdegup kencang. 'Apa Pak Joe menyentuh bibirku? Tapi mau apa dia?' Kedua bola mata itu tampak membulat, saat merasakan napas Joe makin dekat menerpa wajahnya. Suara hembusannya yang terdengar terengah-engah itu berjarak beberapa inci saja.
Hanya beberapa detik saja, kedua kulit kenyal itu lantas saling menempel. Dan Joe sendiri lah yang dengan berani merekatkannya.
Cup~
Syifa sontak terbelalak. Jelas dia terkejut. Sebab selain tanpa izin, sentuhan itu bisa dikatakan adalah sebuah hal yang untuk pertama kalinya dia rasakan.
Entah ada setan mana, yang merasuki tubuh dan benak Joe. Sampai dia tanpa berpikir sangat berani. Dan sekarang sudah mencoba untuk melummat bibir sensual gadis di bawahnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
Selain terasa lembut dan kenyal, saliva yang sedikit dia sesap itu terasa manis bagaikan madu.
...Waduh, bahaya ini 🤣🙈...