Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
46. Interogasi Syifa


__ADS_3

"Zina?!" Syifa sontak membelalakkan matanya, merasa terkejut dengan tuduhan yang Abinya sebutkan. "Siapa yang berbuat zina?! Aku dan Pak Joe nggak melakukan zina!" tambahnya dengan tegas.


"Kamu ...." Abi Hamdan menunjuk wajah Syifa dengan mata melotot. Tapi dia belum sempat mengucapkan kata selanjutnya, sebab tubuhnya sudah keburu ditarik keluar secara paksa oleh Pak RT dan Sandi.


Syifa juga ikut keluar kamar, tapi dia langsung berlari mencari dokter. Supaya Joe cepat ditangani.


Seusai dokter datang, mereka pun berdiri di depan ruangan Joe. Tak diperbolehkan masuk.


"Kalau Pak Joe ada masalah sama Bapak atau Bu Syifa ... beritahu saya saja. Tapi tolong mengerti dengan kondisinya yang habis mengalami kebakaran. Jangan sakiti dia, kasihan," ungkap Sandi menatap Abi Hamdan. Dia sejujurnya sangat kesal dan tak terima dengan apa yang telah dilakukan pria tua itu terhadap bosnya. Akan tetapi, Sandi di sini tidak ingin mencari ribut. Hanya memintanya untuk memberikan pengertian dengan kondisi Joe saat ini.


"Memangnya si Jojon itu kecelakaan apa? Tabrak mobil?!" tebak Abi Hamdan dengan ketus menatap Sandi.


"Abi, lebih baik kita pulang saja," ajak Syifa seraya meraih tangan kanan sang Abi. Namun, pria itu justru menahan kakinya. "Kalau sudah sampai rumah, aku akan menjelaskan semuanya, Bi, Abi juga kenapa tiba-tiba datang langsung mencekik dan menonjok Pak Joe segala, sih? Kasihan dia," tambahnya dengan bola mata yang berkaca-kaca, menatap jendela kamar yang tertutup oleh gorden.


Abi Hamdan menatap bola mata Syifa. Tampak jelas jika sorot mata gadis itu seperti tak biasa, seperti ada sebuah rasa iba dan sayang. Namun, itu semua membuatnya makin emosi saja.


"Syifa benar, Tad," sahut Pak RT seraya menepuk pelan pundak kanan Abi Hamdan. Kemudian mengelusnya secara perlahan, mencoba menenangkan emosi di dada pria itu. Pak RT sebenarnya paham betul, dengan sikap kecewa yang Abi Hamdan sampai-sampai melakukan tindakan kekerasan. Akan tetapi, semua itu tidak boleh dibiarkan. Khawatir jika terjadi sesuatu yang fatal. "Kondisi Pak Jojon sepertinya kurang memungkinkan untuk kita interogasi. Lebih baik ... kita interogasi Syifanya dulu saja, Pak Jojonnya belakangan," lanjutnya memberikan saran.


"Introgasi?" Syifa mengerutkan keningnya heran. "Kenapa aku dan Pak Joe musti diintrogasi, Pak?" tanyanya seraya menatap Pak RT.


Pria berjas itu pun membuang napasnya dengan gusar. "Kita introgasi Syifa di sini saja." Abi Hamdan maju beberapa langkah menuju kursi panjang di dekat kamar inap itu, kemudian perlahan duduk pada salah satu kursinya. "Dan aku nggak mau pulang. Setelah sadar pokoknya Jojon harus menjawab semua pertanyaanku," tambahnya dengan suara datar.


'Ada masalah apa, sih, sebenarnya? Kok aku ikut pusing jadinya,' batin Sandi heran sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Syifa dan Pak RT perlahan melangkah menghampiri Abi Hamdan, kemudian ikut duduk di sampingnya.


"Ada apa, Bi? Ada masalah apa sebenarnya ... sampai Abi memfitnah aku dan Pak Joe?" tanya Syifa penasaran. Tapi suaranya terdengar begitu lirih. Itu dilakukannya karena mendadak merasakan hawa takut, apalagi sudah melihat mata sang Abi begitu tajam menatapnya.

__ADS_1


"Semuanya karena ini, Fa." Pak RT yang menjawab. Tangannya perlahan memberikan sebuah ponsel ke arah Syifa. "Buka video itu dan saksikan sendiri."


"Video?!" Syifa segera mengambil benda pipih itu, kemudian mengklik video tersebut dan tak lama rekaman itu pun diputar. 'Video apaan ini?'


Baru didetik kedua, tapi Syifa sudah merasa heran dengan tayangan itu. Bisa-bisanya ada yang memvideokan, adegan dimana dirinya membantu Joe untuk menghilangkan kobaran api.


"Siapa yang merekam ini, Pak? Apa Bapak?" tanya Syifa seraya mengangkat wajahnya, lalu menoleh ke arah Pak RT.


"Bu Sulis dan Bu Nining," jawab Pak RT. "Mereka berdua sempat lewat tepat di depan rumahmu ... terus melihatmu menarik tangan Pak Jojon untuk masuk ke dalam rumah. Karena penasaran ... mereka dengan nekat masuk, lalu merekam semuanya. Dan ternyata kamu membawa Pak Jojon masuk ke dalam kamar, hingga ke kamar mandi yang berada di dalamnya," jelasnya panjang lebar.


"Aku nggak ada niat membawa Pak Joe ke dalam kamar, Pak," ucap Syifa. Dia sekarang yakin—bahwa ada kesalahpahaman di sini, yang membuat Abi Hamdan murka sampai kesetanan. "Itu hanya refleks saja, karena celana Pak Joe terbakar."


"Tapi kenapa harus ditarik ke dalam kamar mandi yang berada di kamarmu, Fa? Kenapa nggak ke kamar mandi dekat dapur saja?" tanya Pak RT penasaran.


Abi Hamdan sejak tadi diam sambil bersedekap. Dia bukan tak mau bertanya atau pun tak punya pertanyaan, akan tetapi kalau sudah bertanya, pasti dia merasa sangat emosi. Jadi biarkan Pak RT saja dulu, karena dia sangat penasaran di sini, saat mendengar keluhan dari dua warganya yang melaporkan Syifa.


"Lalu, mengenai celana Pak Jojon terbakar itu bagaimana? Awalnya gimana?"


"Soal itu aku dan Pak Joe nggak tau." Syifa menggeleng. "Karena kejadiannya secara tiba-tiba dan Pak Joe sendiri juga nggak sadar ... kalau celana kebakar hingga mengenai tongkatnya," jelasnya.


"Tongkat?!" Abi Hamdan dan Pak RT menyeru bersama-sama. Kedua matanya pun sama-sama membulat sempurna. "Tongkat yang kamu maksud, adalah tongkat masa depannya?" tanya Pak RT memastikan. Syifa pun mengangguk cepat.


"Jadi, kamu juga melihat tongkatnya si Jojon, Fa?!" Abi Hamdan membuka suara dengan mata yang melotot tajam.


Syifa menundukkan kepalanya, tapi kedua pipi itu langsung merah merekah. "Iya, Bi, nggak sengaja."


"Bagaimana bentuknya? Apa panjang?" tanya Pak RT penasaran. Abi Hamdan pun langsung mengikut perutnya sambil menepuk kasar paha kanannya.

__ADS_1


"Apa yang Bapak tanyakan?! Itu nggak pantas!" tegas Abi Hamdan marah.


"Maaf, Tad, aku hanya penasaran," balas Pak RT sambil terkekeh, menatap wajah masam pria di sampingnya. Kemudian, dia beralih menatap Syifa.


"Tapi, Fa, rasanya nggak masuk akal banget. Masa ada orang kebakar hanya celananya? Mana pas banget dibagian itunya lagi?" Memang benar, ini terdengar tidak masuk akal dan diluar nalar. Tapi memang itulah kenyataannya. "Oh ... atau jangan-jangan kamu berbohong, ya?" tuduh Pak RT penuh curiga. Meskipun sudah dijelaskan, nyatanya dia masih belum percaya.


"Sumpah demi Allah, Pak," sahut Syifa.


"Nggak perlu bawa-bawa nama Allah!" tegas Abi Hamdan berteriak.


"Tapi memang itu kenyataannya. Aku nggak berbohong. Ngapain juga? Nggak ada gunanya, Bi," jelas Syifa.


Abi Hamdan memerhatikan wajah Syifa dengan lekat. Ingin memastikan jika gadis itu jujur atau tidak. Namun, sayangnya sama sekali dirinya tak dapat percaya.


Sebab selama ini dia tahu, Syifa selalu menunjukkan ketertarikannya kepada pria bermata sipit yang dia benci itu. Meskipun sang anak tak pernah mengatakannya secara gamblang.


"Sekarang bagaimana, Pak?" tanya Abi Hamdan bingung sembari menatap Pak RT. Kepalanya mendadak terasa sakit, dia merasa pusing tujuh keliling untuk mengambil keputusan.


"Semuanya terserah Ustad, karena saya yakin ... Ustad paling mengerti masalah ini," sahut Pak RT dengan santai. "Tapi permintaan saya tetap satu, yakni menghalalkan hubungan Syifa dan Pak Jojon. Karena itu juga atas permintaan dua warga yang melapor, kalau tidak mau video itu disebarluaskan."


'Aku nggak mau punya menantu si Jojon. Hanya Nak Fahmi yang aku inginkan, untuk dijadikan menantu,' batin Abi Hamdan penuh kekecewaan.


"Dihalalkan?" Alis mata Syifa seketika bertaut. Tapi entah mengapa, jantungnya seketika berdegup kencang. "Apa maksud Pak RT ... aku dan Pak Joe harus menikah?"


"Iya." Pak RT mengangguk dengan semangat, kemudian melirik ke arah Abi Hamdan. Wajah pria tua itu tampak begitu murung. "Tapi itu juga harus dengan restu dari kedua orang tuamu, termasuk Abimu," tambahnya yang mana membuat Abi Hamdan makin terpuruk.


^^^Bersambung.....^^^

__ADS_1


__ADS_2