Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
66. Bantuan Robert


__ADS_3

Sebelumnya....


"Aku nggak mau kalau pertunangan kita gagal, Fa, aku nggak mau!" Joe menggelengkan kepalanya dengan cepat, ketika sudah mengajak Syifa masuk bersama di rumah Abi Hamdan. Sorotan matanya menatap ke arah kaca jendela.


Tepat di halaman rumah—dia melihat Papinya dan Abi Hamdan seperti tengah bersitegang. Meskipun dia tak mendengar jelas apa yang dua pria itu bahas, tapi Joe sudah menebak akan apa yang mereka bahas.


"Abimu sudah merestui kita. Malah dia yang meminta sendiri supaya aku jadi mualaf dan menikahimu, Fa. Masa iya, pertunangan kita batal hanya karena Papiku nggak merestui?" lanjut Joe.


Syifa menatap wajahnya. Selain ada kecemasan yang tergambar jelas, keringat di dahi serta pipi pria bermata sipit itu terlihat mengalir deras.


"Kenapa Bapak nggak jujur awalnya, sama orang tua Bapak? Tentang semuanya?" tanya Syifa heran. Pandangan matanya turun pada genggaman tangan Joe yang sejak tadi tak ingin lepas darinya. Dan itu semua membuat jantungnya berdebar kencang tak karuan.


"Bukan nggak mau jujur, tapi aku lupa, Fa," jawab Joe tanpa menoleh, dia masih menatap ke arah kaca. "Aku terlalu semangat awalnya, pas Abimu menelepon, memintaku dan orang tuaku untuk datang sambil membawa cincin. Sampai-sampai melupakan hal sepenting ini."


"Terus, sekarang bagaimana dong, Pak? Kalau orang tua Bapak nggak merestui berarti kita nggak bisa menikah," sahut Syifa dengan raut kecewa.


Joe perlahan menoleh, dilihat gadis itu tengah menurunkan pandangan sekarang. "Itu nggak akan terjadi, Fa, kita akan tetap menikah."


"Tapi caranya bagaimana?" Syifa mengangkat wajahnya, lalu menatap Joe dengan kening yang mengerenyit.


"Kita—" Ucapan Joe seketika terhenti saat mendengar seseorang bicara dengan lantang.


"Sandi, panggilkan Joe di dalam rumah itu, terus paksa dia untuk pulang!" Dari suaranya, Joe dapat menebak jika dia adalah Papi Paul.


Merasa takut jika nantinya akan dipisahkan oleh Syifa, Joe tanpa banyak berpikir segera menarik tangan gadis itu, kemudian membawanya berlari menuju dapur.


Selang beberapa menit....


Brak!!


Terdengar suara gebrakan pintu utama dan itu membuat Joe terperanjat.


"Bapak mau bawa aku ke mana lagi? Kenapa kita ke dapur?!" tanya Syifa bingung.


Joe terlihat panik seperti orang yang kesetanan, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, manik matanya berkeliling menatap sekitar. Dia mencari tempat persembunyian lagi. Menurutnya, di dapur bukan tempat yang aman.


"Kita harus bersembunyi, Fa, kalau ketahuan aku akan dipaksa pulang," jawab Joe khawatir. Sorotan matanya pun terjatuh ke arah pintu belakang rumah.

__ADS_1


Cepat-cepat dia meraih handlenya, saat diturunkan tidak dikunci. Inilah kesempatan emas untuk dirinya pergi bersama Syifa, yang tentunya supaya bisa bersembunyi.


Joe langsung berlari keluar dari sana, begitu pun dengan Syifa yang ikut ditarik.


Namun, saat tiba di dekat kandang kambing milik Abi Hamdan, kaki kanan Joe terbelit sarungnya sendiri. Alhasil, dia terjatuh hingga membuat sepatunya terlepas.


Bruk!


"Aakkhh ... eeemmpptt." Syifa sontak menjerit saat dirinya ikut terjatuh. Joe cepat-cepat membungkam membungkam bibirnya, sebab takut jika suara Syifa akan membuat mereka ketahuan.


Tetapi disisi lain, gadis itu tampak kaget dengan mata yang terbelalak, saat melihat celanna dalam yang Joe pakai. Sarungnya itu menyingkap tak sengaja dan lagi-lagi Syifa menyaksikannya.


'Celanna dalam model apa yang Pak Joe pakai? Aneh sekali? Kenapa berlubang didaerah tongkatnya? Mana masih merah lagi,' batin Syifa penuh tanya. Wajahnya tampak bersemu merah. Dia yang melihat, tapi justru dia sendiri yang merasa malu.


"Joe!" teriak seseorang dari sana.


"Astaga, ayok kita pergi, Fa!" Joe langsung menarik tubuhnya dan tubuh Syifa. Lantas, dia pun berlari pergi dengan menarik gadis itu.


Mereka lewat jalan belakang, hingga menuju jalan raya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, keduanya pun menaiki taksi yang baru saja lewat.


"Bapak jangan bilang mau mengajakku kawin lari? Aku nggak mau, Pak! Ini nggak boleh!" bantah Syifa dengan gelengan kepala.


"Aku ada ide, Fa!" seru Joe saat beberapa menit berlalu. Mobil taksi itu juga sudah melaju jauh.


"Ide apa? Bapak mau mengajakku kawin lari?"


"Kamu mau kawin lari denganku?" Joe justru berbalik tanya.


"Ih bukan!" bantah Syifa. "Aku nanya Bapak, tapi aku nggak mau kita kawin lari, apalagi Bapak belum menjadi muslim."


"Oh. Aku nggak mengajakmu kawin lari, Fa. Tapi nggak tau juga sih kalau memang nggak ada pilihan," jawab Joe.


"Terus idenya apa?"


"Kita temui Robert di sekolah. Nanti kamu tau sendiri," balas Joe sambil tersenyum.


*

__ADS_1


*


*


Sampainya mereka di sekolah, bertepatan sekali dengan bel pulang. Robert serta seluruh murid SD langsung berhamburan keluar dari gedung tersebut.


"Daddy! Bu Syifa!" Bocah itu tentu merasa kegirangan, saat melihat sang Daddy datang bersama calon Mommynya. Deretan gigi di dalam mulutnya itu sepertinya tak akan kering, sebab sejak tadi terus nyengir.


Lantas, bocah itu pun berlari dengan kedua tangan yang terlentang seperti hendak memeluk. Akan tetapi, yang dipeluk justru Syifa, bukan Joe yang bahkan sudah siap-siap menyambut dengan kedua lengan yang ikut terlentang.


"Robert sayang Bu Syifa!" seru Robert dengan riang. "Apa ini artinya, Bu Syifa dan Daddy sudah bertunangan?" Kepalanya mendongak ke atas, lalu menatap wajah Syifa dan Joe bergantian.


"Kami belum bertunangan." Yang menjawab Joe. Tangan kanannya terulur untuk mengusap puncak rambut anaknya. "Justru, Daddy ingin meminta bantuanmu, Rob."


"Bantuan apa, Dad?" tanya Robert penasaran.


"Kamu sekarang pulang ke rumah Opa Hamdan, di sana ada Opa Paul dan Oma Yeri. Terus ... bicaralah kepada Opa dan Oma ... apa pun itu supaya bisa membujuk mereka, karena mereka nggak merestui Daddy dan Bu Syifa untuk bersatu, Rob," jelas Joe panjang lebar.


"Kenapa nggak merestui??" Robert membelalakkan matanya, dia tampak kaget. "Kok bisa? Kan Bu Syifa mirip Mommy, Dad."


"Karena mereka juga melarang Daddy untuk jadi mualaf. Otomatis ... Daddy nggak akan bisa menikah dengan Bu Syifa, Sayang."


"Oh begitu. Kalau itu mah urusan gampang, serahkan saja sama Robert." Robert menepuk dadanya dengan penuh percaya diri. Padahal, dia sendiri belum punya ide untuk membujuk Opa dan Omanya.


"Ya sudah, ayok cepat kamu masuk." Joe membuka pintu belakang mobil taksi yang tadi dia dan Syifa tunggangi. Memang mobil itu sengaja diminta olehnya untuk menunggu, sebab untuk dinaiki Robert. "Daddy sudah membayar dan bilang kepada Om Sopirnya, untuk mengantarkanmu ke rumah Opa Hamdan," tuturnya kemudian.


Bocah berumur 7 tahun itu dengan patuhnya langsung masuk, kemudian duduk di dalam sana. "Terus Daddy dan Bu Syifa gimana?"


"Daddy dan Bu Syifa akan bersembunyi terlebih dahulu," jawab Joe. Gegas, dia merogoh saku dalam jasnya untuk mengambil ponsel. Lantas memberikan kepada anaknya. "Kalau ada info penting kamu kabari Daddy dengan hape ini. Nanti hubungi sekertaris Daddy saja, ya, soalnya dia akan datang ke sini untuk jemput Daddy dan Bu Syifa."


"Siap Bosku!" Robert mengangkat tangannya dengan hormat.


"Terima kasih, Sayang, Daddy sayang sama kamu." Joe tersenyum senang, lantas mendekat untuk mengecup kening anaknya.


"Robert juga sayang Daddy dan Bu Syifa," jawab Robert dengan lambaian tangan, saat pintu mobil itu telah Joe tutup dan tak lama kemudian—mobil berwarna biru telur asin itu melaju pergi.


'Semoga dengan begini, masalahku akan cepat selesai,' batin Joe penuh harap. 'Maafin Daddy ya, Rob, lagi-lagi kamu harus turun tangan. Karena cuma inilah ide yang ada di otak Daddy.'

__ADS_1


...Maaf baru up, soalnya kemarin sibuk lebaran sampai nggak sempet ngetik. Nanti malam kalau nggak ketiduran Author up lagi, ya! 😉...


...selamat lebaran 🙏...


__ADS_2