
"Mana Syifanya, Bi?!" tanya Fahmi seraya menatap ke arah belakang tubuh Abi Hamdan.
"Maaf Nak Fahmi, Pak Samsul ...," ucap Abi Hamdan dengan perasaan tak enak. Dia juga menatap Fahmi dan Pak Haji Samsul bergantian. "Syifa tadi ada urusan sebentar, jadi pamit pergi," tambahnya.
"Kok dia nggak ngomong dulu sama aku sih, Bi?" tanya Fahmi dengan raut yang tampak kesal.
"Iya, maafin Syifa, ya, Nak Fahmi. Abi juga nggak tau kapan perginya." Abi Hamdan mendorong kursi, lalu duduk di samping Umi Maryam.
"Katanya tadi pamit pergi? Kok Abi bilang nggak tau?!" Kening Fahmi mengernyit. Dia terlihat tak paham dengan apa yang Abi Hamdan katakan.
"Syifa nggak ngomong sama Abi memang, tadi ngomongnya sama Uminya saja, Nak."
Fahmi langsung mendengkus. Dia pun segera memainkan ponselnya, kemudian mencoba menelepon Syifa. Namun sayang, nomornya kembali tidak aktif.
"Udah nggak apa-apa, Mi, " sahut Pak Haji Samsul menatap anaknya. "Biarkan saja kalau memang Syifa sibuk. Namanya juga guru. Sekarang kita makan saja, nanti keburu dingin," ajaknya kemudian.
Abi Hamdan dan Umi Maryam pun mengangguk. Lantas keduanya mengambil nasi dan beberapa lauk di atas meja.
'Nggak apa-apa apanya, sih? Orang niat awalku mengajak Syifa makan bareng. Kalau tau begini mah, buat apa juga aku capek-capek nunggu dia dari tadi. Kalau Syifanya malah tiba-tiba pergi, dasar nggak sopan,' batin Fahmi dengan perasan jengkel di dada.
***
Di rumah sakit.
Ceklek~
Joe masuk lagi ke dalam kamarnya dengan membawa dua cup jus mangga yang dia beli di cafe depan.
Niatnya ingin memberikan salah satunya untuk Syifa, sebab pasti gadis itu sangat haus sehabis menyuapi Robert.
"Eh, si Robert sudah tidur, Fa?!" Joe menatap anaknya yang sudah memejamkan mata. Mulut dan hidungnya juga tengah dipasangkan ventilator oleh Suster yang kebetulan ada di sana.
"Iya, Pak." Syifa menoleh dan tersenyum menatap Joe. "Dia juga sudah minum obat tadi."
"Terima kasih ya, Fa. Maaf juga kalau Robert merepotkanmu."
"Nggak masalah, Pak." Syifa menggeleng. "Aku justru senang, bisa membantu Robert."
__ADS_1
"Ah, ini untukmu. Pasti kamu haus, kan?" Joe merogoh plastik putih yang dia tenteng. Kemudian memberikan satu cup jus mangga ke tangan Syifa.
"Terima kasih, Pak." Syifa mengambilnya dengan senang hati, dia juga mengulas senyum. "Kalau begitu aku sekalian permisi mau pulang, ya, Pak, sudah malam soalnya. Aku juga lupa nggak ngasih tau Abi dan Umi kalau mau ke sini. Pasti mereka khawatir." Syifa menatap jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Biar aku antar, ya, Fa," tawar Joe.
"Nggak usah, Pak," tolak Syifa dengan gelengan kepala. "Bapak di sini saja, jagain Robert."
"Robert biar sama Sandi, asistenku. Aku nggak mungkin juga membiarkanmu pulang sendiri. Udah ayok," ajaknya sedikit memaksa. Joe juga melangkah lebih dulu keluar dari kamar inap Robert.
Pada akhirnya, Syifa setuju untuk diantar. Dan memang sejujurnya dia merasa takut jika pulang malam seorang diri. Hanya saja tadi tidak enak, jika langsung setuju dengan ajakan Joe.
"Kamu sangat cantik malam ini, Fa," ucap Joe dengan kedua pipi yang memerah. Ucapannya itu seketika menepis keheningan di dalam mobil.
Syifa yang tengah menyesap pipet jus mangga langsung menoleh, wajahnya tampak merona. Tapi dia diam saja.
"Oh, ya, ngomong-ngomong, Fa ... kamu tadi ke restoran mau apa? Apa makan malam?" Joe menoleh sebentar ke arah Syifa sambil mengemudi.
Syifa mengangguk. "Kak Fahmi mengajakku, Umi dan Abi untuk makan malam tadi di restoran, Pak."
"Oh. Maaf, ya, Fa. Gara-gara aku ... acara makan malam kamu jadi berantakan," ucap Joe tidak enak.
"Malesnya kenapa? Apa gara-gara Fahmi orangnya sombong?" tebak Joe.
"Iya. Itu salah satunya. Selain itu memang aku lagi males pergi-pergi aja."
"Kamunya laper nggak sekarang? Apa kita mampir dulu ke restoran untuk makan? Eemm ... makan bareng?" tawar Joe. Makan malam Syifa saja berantakan, pastinya dia belum makan. Dan suatu keberuntungan juga menurut Joe, jika mereka bisa makan bareng.
"Aku masih kenyang, Pak." Syifa mengusap perutnya. Sebenarnya dia hanya berbohong. Alasan utamanya lantaran dia tak mau nantinya pulang terlalu larut. Bisa-bisa Abi Hamdan marah besar. "Sekarang Bapak antarkan aku pulang ke rumah saja."
"Oke deh." Joe menganggukkan kepalanya. "Tapi kita berhenti saja dulu ke restoran, untuk take away makan malam untukmu, ya? Tapi aku harap jangan ditolak."
"Baiklah, Pak." Syifa mengangguk seraya tersenyum, kemudian memandangi wajah Joe dari samping. Wajah pria itu tampak berminyak, Syifa bisa menebak jika dia pasti belum mandi.
Namun dia sendiri tak memungkiri, meskipun Joe belum mandi, wajahnya masih terlihat tampan. Juga wangi.
'Udah ganteng, baik, nggak sombong dan kelihatan banget sayang anak dan istri. Pak Joe adalah pria yang sangat sempurna. Tapi sayangnya ... dia non muslim. Andai saja dia masuk Islam,' batin Syifa dan entah mengapa dia menjadi sedih sendiri.
__ADS_1
*
*
30 menit kemudian, akhirnya mobil Joe sampai di depan halaman rumah Abi Hamdan.
Setelah mesin mobil itu dimatikan, Joe pun turun lebih dulu. Kemudian berlari memutar menuju pintu mobil di mana Syifa berada.
Namun, saat dirinya hendak membukakan pintu mobil, Joe justru terlihat mengerutkan keningnya dengan heran sebab Syifa sedang tertidur di sana.
'Lho, kok dia bisa tidur?' batin Joe. Perlahan tangannya hendak menyentuh pipi kanan gadis itu, akan tetapi seketika terhenti saat wajah cantik Syifa dia pandangi. 'Cantik banget Syifa. Sayang kayaknya kalau sampai dia menikah dengan Fahmi yang katanya sombong. Lebih baik ... dia menikah denganku saja,' batinnya berharap.
Sementara itu di seberang jalan, ada Beni yang sejak tadi memerhatikan sambil duduk di atas motor metiknya. Dia memakai helm dan masker.
'Syifa memang perempuan ganjen! Dia minta putus padaku pasti karena kepincut dengan pria bermata sipit itu!' gerutu Beni dalam hati. Kedua tangannya mengepal kuat di atas paha dengan dada yang terasa bergemuruh.
Tentunya, pemandangan seperti itu membuat matanya dan hatinya sakit, sebab Beni sendiri masih mencintai Syifa.
'Aku harus pikirkan cara, supaya bisa memiliki Syifa seutuhnya. Karena dicium saja dia nggak pernah mau.' Beni pun menyala mesin motornya, kemudian menarik gas dan berlalu pergi dari sana. 'Kalau pun Syifa nggak bisa menikah denganku, setidaknya aku bisa mencicipinya. Biar nggak rugi.'
"Syifa, bangun, Fa! Kita sudah sam—" Ucapan Joe terhenti saat tiba-tiba saja mendengar suara bariton milik seseorang. Padahal Joe tengah menepuk pelan punggung tangan kanan Syifa, demi membangunkan gadis itu.
"Hei! Sedang apa kalian?!"
Yang berteriak adalah Abi Hamdan, pria berkumis itu tampak terkejut ketika membuka pintu rumahnya. Sebab mendapati ada seorang pria yang begitu menempel dengan seorang perempuan.
Akan tetapi dia sendiri tidak tahu jika mereka adalah Syifa dan Joe, karena tubuh Syifa terhalang oleh tubuh Joe. Dan tubuh Joe hanya terlihat dari belakang.
'Kurang ajar sekali mereka, berani-beraninya berbuat mesum di depan rumahku!' gerutu Abi Hamdan dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Rahang di wajahnya pun tampak mengeras.
Mendengar suara lantang itu, bukan hanya Joe yang terperanjat, tapi Syifa juga. Dia seketika membuka kedua matanya dengan lebar.
Joe langsung menoleh ketika Abi Hamdan melangkah cepat menghampirinya. Pria tua itu pun sontak terbelalak, ketika mengetahui jika dua orang itu ternyata Syifa dan Joe. "Eh, Pak ....“
Belum sempat Joe meneruskan ucapannya, tapi secara tiba-tiba sebuah bogem mentah melayang pada pipi kirinya.
Bugh!
__ADS_1
...Aduh 🙈...