
"Pak Joe! Tunggu, Pak!" Syifa memekik dengan keras seraya berlari menghampiri Joe yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Pria tampan bermata sipit itu seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Syifa?!" Kembali, matanya mendelik. Merasa kaget dengan Syifa yang sudah berada di hadapannya. "Kamu mau ngapain, Fa? Kok ke rumah sakit juga?"
"Tentu boleh." Joe langsung mengulum senyum. Wajahnya pun tampak merona. "Robert pasti sangat senang, jika kamu datang menjenguknya," tambahnya, kemudian mengajak Syifa melangkah bersama menuju kamar perawatan VIP khusus anak.
"Tapi aku nggak bawa apa-apa, Pak, maaf ... aku lupa." Syifa seketika menghentikan langkahnya saat menatap telapak tangan. Dia saja bisa sampai rumah sakit karena buru-buru mengejar Joe, jadi wajar kalau sampai melupakan buah tangan.
"Nggak apa-apa, Fa," sahut Joe yang ikut menghentikan langkah. Syifa sudah berniat ingin menjenguk saja dia sudah sangat senang. Dan rasanya ini lebih dari cukup.
"Tapi aku nggak enak, Robert saja jenguk sambil membawa buah."
"Nggak apa-apa, udah ayok," ajak Joe seraya tersenyum.
Ceklek~
Sandi baru saja keluar dari kamar bernomor 200, bertepatan dengan Joe dan Syifa yang yang sudah datang. Dia terlihat agak terkejut melihat mereka datang bersama.
"Pak, Bu Syifa," sapa Sandi sambil tersenyum dan membungkuk sedikit. Menatap Joe dan Syifa bergantian.
Syifa membalas untuk tersenyum kembali, kemudian melangkah masuk bersama Joe ke dalam sana.
Ceklek~
"Dad ... Bu Syifa," lirih Robert sambil mengulas senyum. Suaranya terdengar begitu pelan dan tertekan akibat ventilator yang menutup hidung serta mulutnya. Akan tetapi, wajah berserinya itu tak dapat membohongi jika dia teramat bahagia dengan kehadiran Syifa, yang datang bersama Joe. 'Apa Daddy habis jemput Bu Syifa untuk jenguk Robert?' batinnya.
"Jagoan Daddy udah bangun?! Syukurlah," ucap Joe sambil tersenyum. Dia pun perlahan duduk di atas tempat tidur, di samping Robert yang berbaring. Tangannya perlahan terulur untuk menyentuh puncak rambutnya.
Robert mengangkat tangannya yang terulur ke arah Syifa. Seperti memintanya untuk cepat diraih. Perempuan itu pun segera meraihnya, lalu maju beberapa langkah supaya lebih dekat.
"Ibu kok ada di sini? Mau ngapain?" tanya Robert pelan.
"Ibu ingin menjenguk kamu, Rob. Kata Daddymu kamu terkena—"
"Daddy ketemu Bu Syifa di restoran tadi, Sayang," sela Joe cepat. Sengaja dia melakukan hal itu supaya Syifa tak menerangkan penyakit apa yang saat ini Robert alami.
Bukan maksud ingin membohongi atau menutup-nutupi, hanya saja Joe tidak mau membuat anaknya sedih dan terpuruk.
Bisa-bisa itu akan mempengaruhi kondisinya. Penyakit mematikan seperti itu diharapkan pengidapnya tidak boleh mengalami stress dan terlalu banyak bersedih. Dokter juga sempat menganjurkan, supaya Joe selalu membuat Robert bahagia.
Dan dia juga yakin—jika salah satu kebahagiaan anaknya itu terletak pada Syifa.
Walaupun memang perempuan itu tidak bisa menjadi Mommy tirinya, tapi tak ada salahnya, jika membiarkan mereka selalu dekat layaknya guru terhadap muridnya.
"Dan Bu Syifa sendiri yang kepengen menjenguk kamu ke sini. Katanya dia juga kangen sama kamu, Rob," tambah Joe.
"Benarkah?!" Bola mata Robert tampak berbinar. Tangan Syifa langsung dia genggam dengan erat. "Tapi, Dad ... Robert sebenarnya sakit apa?" Menoleh sedikit ke arah Joe dengan kening yang mengernyit.
"Kamu terkena magh. Itu akibat kamu nggak makan dari kemarin," jawab Joe berbohong.
'Lho, kok Pak Joe berbohong?! Apa dia memang sengaja, ya?' batin Syifa heran seraya menatap wajah Joe.
"Oh. Tapi kenapa dada Robert ada sesaknya, Dad? Dan kenapa juga harus pakai ini diwajah Robert?" Bocah itu perlahan menyentuh ventilator. Agak risih sebenarnya dia rasakan.
"Itu ventilator oksigen. Kamu sesak mungkin ada sesak napasnya tadi pas pingsan. Jadi alat itu membantu kamu bernapas, Rob," sahut Joe, lalu menarik tangan Robert yang hendak menarik ventilator. "Jangan dilepas, biarkan saja, Sayang."
"Tapi Robert nggak betah, Dad."
"Iya, tapi tunggu Dokter atau Suster datang dulu. Nanti Daddy tanya boleh nggaknya dilepas," terang Joe.
"Dengerin apa kata Daddymu, Nak," tegur Syifa seraya tersenyum memandangi anak muridnya.
Robert langsung mengangguk pelan. Dia tampak menurut. "Bu Syifa ayok duduk di sana. Robert mau cerita." Menatap Syifa, lalu menunjuk ke arah kursi kecil di dekat ranjang.
"Cerita?! Cerita apa?!" Syifa menurut. Dia perlahan duduk di sana dan mengusap punggung tangan Robert.
"Daddy keluar dulu kalau begi—" Joe sudah berdiri, tapi tangannya segera dicekal oleh Robert.
"Daddy di sini saja," sela Robert cepat. "Robert maunya Daddy ikut mendengarkan juga," tambahnya dengan suara pelan.
"Oh. Ya sudah, ayok cerita." Joe kembali duduk, lalu membungkukkan badannya untuk mengecup kening sang anak.
"Tadi pas Robert tidur ... Robert ketemu Mommy lho, tapi ada Bu Syifanya juga," ujar Robert memberitahu.
'Apa jangan-jangan Robert juga bermimpi hal yang sama, seperti aku?' batin Syifa.
"Maksudnya, kamu mimpi?!" tebak Joe. Anaknya itu langsung mengangguk samar. "Dimimpi ... Mommy sama Bu Syifa lagi ngapain, Rob?! Apa mereka sedang berkenalan?" tanyanya penasaran.
"Mommy ngajak Robert pergi, Dad.Tapi Bu Syifa melarangnya," jelas Robert.
"Kenapa dilarang?" tanya Joe heran.
"Nggak tau." Robert menggeleng pelan sembari menatap Syifa.
__ADS_1
"Kamu pas ketemu Mommymu dan Ibu dimimpi itu tempatnya di taman bunga bukan, Rob?" Entah itu sebuah pertanyaan atau tebakan.
"Iya." Robert mengangguk.
"Kok kamu bisa tau, Fa?" Sekarang giliran Joe yang bertanya. Matanya menatap ke arah Syifa. "Kan yang mimpi Robert, bukan kamu."
"Soalnya aku juga sempat mimpi seperti itu tadi, Pak, ketemu Robert yang mau diajak Mommynya," sahut Syifa. "Karena aku takut Robert kenapa-kenapa ... jadi aku melarang dan membawanya pergi dari Mommynya."
"Kok aneh, ya, kalian bisa bermimpi hal yang sama." Kening Joe tampak mengernyit. "Apa jangan-jangan ini sebuah ikatan batin?"
"Ikatan batin itu 'kan buat orang tua sama anak, Pak. Atau anggota keluarga. Aku 'kan nggak ada hubungan apa-apa dengan Robert."
"Mungkin hubungan antar guru dan murid, Fa," tebak Joe. "Tapi kira-kira ... arti mimpinya itu apa, ya? Soalnya Robert sendiri selalu bilang ... kalau dia sering mimpi ketemu mendiang istriku."
"Mendiang istri?!" Alis mata Syifa seketika bertaut. Kalimat 'mendiang' itu sangat identik dengan penyebutan seseorang yang telah meninggal dunia. "Maaf, Pak, kalau boleh aku tau ... memangnya Mommynya Robert itu sebenarnya ke mana?"
"Dia sudah meninggal dunia, Fa. Bahkan saat dimana Robert lahir," sahut Joe.
"Innalilahi ...." Syifa sontak tercengang, lalu mengusap dahi Robert yang berkeringat sambil menatap wajahnya. "Kasihan sekali Robert, Pak, berarti dia belum pernah melihat Mommynya," tambahnya dengan perasaan sedih.
"Iya." Joe mengangguk. "Dia hanya melihat dari foto saja, Fa. Mangkanya dia itu awalnya kepengen banget kamu jadi Mommy sambungnya ... karena wajahmu sangat mirip dengan Sonya."
"Ah ta-tapi." Joe langsung membuka suara lagi, ketika Syifa sudah menatap wajahnya. "Sekarang dia sudah memaklumi dan mengerti kalau kita berbeda. Jadi aku yakin ... kalau Robert akan menerima dengan lapang dada. Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah."
"Menikah?!" lirih Robert dengan mata yang sontak melotot. Dia tampak kaget sekaligus merasakan sakit di dadanya.
"Siapa yang mau menikah, Pak?" tanya Syifa yang tampak bingung. "Aku nggak mau menikah," bantahnya.
"Tapi kata Abimu, kamu akan menikah dengan seorang Ustad. Ustad siapa ya, namanya itu ...." Joe terdiam beberapa saat untuk mengingat, tapi rasa-rasanya dia lupa dengan namanya. "Aku lupa namanya, tapi yang aku tau dari Abimu ... dia seorang Ustad," lanjutnya lagi.
"Memangnya Bapak ketemu Abiku kapan?"
"Tadi sore. Aku ketemu dijalan pas Abimu mendorong motor," jawab Joe. "Jadi benar ... kamu mau menikah? Kapan, Fa?" tanyanya memastikan. Sama halnya seperti Robert, dada Joe juga terasa sakit saat mengetahui hal itu.
Syifa menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Aku nggak mau menikah. Apalagi dengan Ustad yang Abiku maksud. Aku pun nggak ngerti Ustad yang mana."
Joe perlahan menghela napasnya dengan lega. Jawaban Syifa cukup membuat dadanya terasa plong. "Kamu sendiri, sedang dekat sama siapa sekarang? Dan apa Abimu ada mengenalkan seseorang?" tanyanya penasaran.
"Ada, sih, tapi itu cuma Kak Fahmi dan dia bukan Ustad, Pak," sahut Syifa. "Selain itu ... aku juga nggak suka banget sama dia."
"Nggak sukanya kenapa?"
***
"Pak Joe! Tunggu, Pak!" Syifa memekik dengan keras seraya berlari menghampiri Joe yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Pria tampan bermata sipit itu seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Syifa?!" Kembali, matanya mendelik. Merasa kaget dengan Syifa yang sudah berada di hadapannya. "Kamu mau ngapain, Fa? Kok ke rumah sakit juga?"
"Tentu boleh." Joe langsung mengulum senyum. Wajahnya pun tampak merona. "Robert pasti sangat senang, jika kamu datang menjenguknya," tambahnya, kemudian mengajak Syifa melangkah bersama menuju kamar perawatan VIP khusus anak.
"Tapi aku nggak bawa apa-apa, Pak, maaf ... aku lupa." Syifa seketika menghentikan langkahnya saat menatap telapak tangan. Dia saja bisa sampai rumah sakit karena buru-buru mengejar Joe, jadi wajar kalau sampai melupakan buah tangan.
"Nggak apa-apa, Fa," sahut Joe yang ikut menghentikan langkah. Syifa sudah berniat ingin menjenguk saja dia sudah sangat senang. Dan rasanya ini lebih dari cukup.
"Tapi aku nggak enak, Robert saja jenguk sambil membawa buah."
"Nggak apa-apa, udah ayok," ajak Joe seraya tersenyum.
Ceklek~
Sandi baru saja keluar dari kamar bernomor 200, bertepatan dengan Joe dan Syifa yang yang sudah datang. Dia terlihat agak terkejut melihat mereka datang bersama.
"Pak, Bu Syifa," sapa Sandi sambil tersenyum dan membungkuk sedikit. Menatap Joe dan Syifa bergantian.
Syifa membalas untuk tersenyum kembali, kemudian melangkah masuk bersama Joe ke dalam sana.
Ceklek~
"Dad ... Bu Syifa," lirih Robert sambil mengulas senyum. Suaranya terdengar begitu pelan dan tertekan akibat ventilator yang menutup hidung serta mulutnya. Akan tetapi, wajah berserinya itu tak dapat membohongi jika dia teramat bahagia dengan kehadiran Syifa, yang datang bersama Joe. 'Apa Daddy habis jemput Bu Syifa untuk jenguk Robert?' batinnya.
"Jagoan Daddy udah bangun?! Syukurlah," ucap Joe sambil tersenyum. Dia pun perlahan duduk di atas tempat tidur, di samping Robert yang berbaring. Tangannya perlahan terulur untuk menyentuh puncak rambutnya.
Robert mengangkat tangannya yang terulur ke arah Syifa. Seperti memintanya untuk cepat diraih. Perempuan itu pun segera meraihnya, lalu maju beberapa langkah supaya lebih dekat.
"Ibu kok ada di sini? Mau ngapain?" tanya Robert pelan.
"Ibu ingin menjenguk kamu, Rob. Kata Daddymu kamu terkena—"
"Daddy ketemu Bu Syifa di restoran tadi, Sayang," sela Joe cepat. Sengaja dia melakukan hal itu supaya Syifa tak menerangkan penyakit apa yang saat ini Robert alami.
Bukan maksud ingin membohongi atau menutup-nutupi, hanya saja Joe tidak mau membuat anaknya sedih dan terpuruk.
Bisa-bisa itu akan mempengaruhi kondisinya. Penyakit mematikan seperti itu diharapkan pengidapnya tidak boleh mengalami stress dan terlalu banyak bersedih. Dokter juga sempat menganjurkan, supaya Joe selalu membuat Robert bahagia.
__ADS_1
Dan dia juga yakin—jika salah satu kebahagiaan anaknya itu terletak pada Syifa.
Walaupun memang perempuan itu tidak bisa menjadi Mommy tirinya, tapi tak ada salahnya, jika membiarkan mereka selalu dekat layaknya guru terhadap muridnya.
"Dan Bu Syifa sendiri yang kepengen menjenguk kamu ke sini. Katanya dia juga kangen sama kamu, Rob," tambah Joe.
"Benarkah?!" Bola mata Robert tampak berbinar. Tangan Syifa langsung dia genggam dengan erat. "Tapi, Dad ... Robert sebenarnya sakit apa?" Menoleh sedikit ke arah Joe dengan kening yang mengernyit.
"Kamu terkena magh. Itu akibat kamu nggak makan dari kemarin," jawab Joe berbohong.
'Lho, kok Pak Joe berbohong?! Apa dia memang sengaja, ya?' batin Syifa heran seraya menatap wajah Joe.
"Oh. Tapi kenapa dada Robert ada sesaknya, Dad? Dan kenapa juga harus pakai ini diwajah Robert?" Bocah itu perlahan menyentuh ventilator. Agak risih sebenarnya dia rasakan.
"Itu ventilator oksigen. Kamu sesak mungkin ada sesak napasnya tadi pas pingsan. Jadi alat itu membantu kamu bernapas, Rob," sahut Joe, lalu menarik tangan Robert yang hendak menarik ventilator. "Jangan dilepas, biarkan saja, Sayang."
"Tapi Robert nggak betah, Dad."
"Iya, tapi tunggu Dokter atau Suster datang dulu. Nanti Daddy tanya boleh nggaknya dilepas," terang Joe.
"Dengerin apa kata Daddymu, Nak," tegur Syifa seraya tersenyum memandangi anak muridnya.
Robert langsung mengangguk pelan. Dia tampak menurut. "Bu Syifa ayok duduk di sana. Robert mau cerita." Menatap Syifa, lalu menunjuk ke arah kursi kecil di dekat ranjang.
"Cerita?! Cerita apa?!" Syifa menurut. Dia perlahan duduk di sana dan mengusap punggung tangan Robert.
"Daddy keluar dulu kalau begi—" Joe sudah berdiri, tapi tangannya segera dicekal oleh Robert.
"Daddy di sini saja," sela Robert cepat. "Robert maunya Daddy ikut mendengarkan juga," tambahnya dengan suara pelan.
"Oh. Ya sudah, ayok cerita." Joe kembali duduk, lalu membungkukkan badannya untuk mengecup kening sang anak.
"Tadi pas Robert tidur ... Robert ketemu Mommy lho, tapi ada Bu Syifanya juga," ujar Robert memberitahu.
'Apa jangan-jangan Robert juga bermimpi hal yang sama, seperti aku?' batin Syifa.
"Maksudnya, kamu mimpi?!" tebak Joe. Anaknya itu langsung mengangguk samar. "Dimimpi ... Mommy sama Bu Syifa lagi ngapain, Rob?! Apa mereka sedang berkenalan?" tanyanya penasaran.
"Mommy ngajak Robert pergi, Dad.Tapi Bu Syifa melarangnya," jelas Robert.
"Kenapa dilarang?" tanya Joe heran.
"Nggak tau." Robert menggeleng pelan sembari menatap Syifa.
"Kamu pas ketemu Mommymu dan Ibu dimimpi itu tempatnya di taman bunga bukan, Rob?" Entah itu sebuah pertanyaan atau tebakan.
"Iya." Robert mengangguk.
"Kok kamu bisa tau, Fa?" Sekarang giliran Joe yang bertanya. Matanya menatap ke arah Syifa. "Kan yang mimpi Robert, bukan kamu."
"Soalnya aku juga sempat mimpi seperti itu tadi, Pak, ketemu Robert yang mau diajak Mommynya," sahut Syifa. "Karena aku takut Robert kenapa-kenapa ... jadi aku melarang dan membawanya pergi dari Mommynya."
"Kok aneh, ya, kalian bisa bermimpi hal yang sama." Kening Joe tampak mengernyit. "Apa jangan-jangan ini sebuah ikatan batin?"
"Ikatan batin itu 'kan buat orang tua sama anak, Pak. Atau anggota keluarga. Aku 'kan nggak ada hubungan apa-apa dengan Robert."
"Mungkin hubungan antar guru dan murid, Fa," tebak Joe. "Tapi kira-kira ... arti mimpinya itu apa, ya? Soalnya Robert sendiri selalu bilang ... kalau dia sering mimpi ketemu mendiang istriku."
"Mendiang istri?!" Alis mata Syifa seketika bertaut. Kalimat 'mendiang' itu sangat identik dengan penyebutan seseorang yang telah meninggal dunia. "Maaf, Pak, kalau boleh aku tau ... memangnya Mommynya Robert itu sebenarnya ke mana?"
"Dia sudah meninggal dunia, Fa. Bahkan saat dimana Robert lahir," sahut Joe.
"Innalilahi ...." Syifa sontak tercengang, lalu mengusap dahi Robert yang berkeringat sambil menatap wajahnya. "Kasihan sekali Robert, Pak, berarti dia belum pernah melihat Mommynya," tambahnya dengan perasaan sedih.
"Iya." Joe mengangguk. "Dia hanya melihat dari foto saja, Fa. Mangkanya dia itu awalnya kepengen banget kamu jadi Mommy sambungnya ... karena wajahmu sangat mirip dengan Sonya."
"Ah ta-tapi." Joe langsung membuka suara lagi, ketika Syifa sudah menatap wajahnya. "Sekarang dia sudah memaklumi dan mengerti kalau kita berbeda. Jadi aku yakin ... kalau Robert akan menerima dengan lapang dada. Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah."
"Menikah?!" lirih Robert dengan mata yang sontak melotot. Dia tampak kaget sekaligus merasakan sakit di dadanya.
"Siapa yang mau menikah, Pak?" tanya Syifa yang tampak bingung. "Aku nggak mau menikah," bantahnya.
"Tapi kata Abimu, kamu akan menikah dengan seorang Ustad. Ustad siapa ya, namanya itu ...." Joe terdiam beberapa saat untuk mengingat, tapi rasa-rasanya dia lupa dengan namanya. "Aku lupa namanya, tapi yang aku tau dari Abimu ... dia seorang Ustad," lanjutnya lagi.
"Memangnya Bapak ketemu Abiku kapan?"
"Tadi sore. Aku ketemu dijalan pas Abimu mendorong motor," jawab Joe. "Jadi benar ... kamu mau menikah? Kapan, Fa?" tanyanya memastikan. Sama halnya seperti Robert, dada Joe juga terasa sakit saat mengetahui hal itu.
Syifa menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Aku nggak mau menikah. Apalagi dengan Ustad yang Abiku maksud. Aku pun nggak ngerti Ustad yang mana."
Joe perlahan menghela napasnya dengan lega. Jawaban Syifa cukup membuat dadanya terasa plong. "Kamu sendiri, sedang dekat sama siapa sekarang? Dan apa Abimu ada mengenalkan seseorang?" tanyanya penasaran.
"Ada, sih, tapi itu cuma Kak Fahmi dan dia bukan Ustad, Pak," sahut Syifa. "Selain itu ... aku juga nggak suka banget sama dia."
__ADS_1
"Nggak sukanya kenapa?"
^^^Bersambung....^^^