Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
38. Jangan paksa aku


__ADS_3

"Itu semua karena Daddy dan Bu Syifa beda agama, Guys." Robert menjawab semua kekepoan dari teman-temannya. Bola mata kecilnya tampak berkaca-kaca.


"Lho, apa hubungannya?" tanya Leon bingung.


"Kata Daddy dan Bu Syifa ... menikah berbeda agama itu nggak boleh. Dilarang sama agama dan negara," jelas Robert.


"Oohh ...." Mereka berempat langsung ber'oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Memang bener, sih, Guys," sahut Baim. "Soalnya ada Tanteku, dulunya suaminya orang Kristen. Tapi dia jadi mualaf, supaya mereka bisa menikah."


"Mualaf itu apa?" tanya Robert bingung.


"Masuk Islam. Namanya mualaf, Rob," sahut Baim.


"Memangnya boleh, kayak gitu? Orang Kristen masuk Islam?" tanyanya lagi.


"Ya boleh aja, kalau memang dianya mau," jawab Baim. Dia bisa berbicara demikian karena memang pernah mendengar cerita langsung dari Om iparnya, yang masuk Islam. "Asalkan setelah masuk Islam ... dia nggak boleh balik lagi ke agama yang dulu. Soalnya itu sama saja mempermainkan agama."


"Jadi, Daddyku harus masuk Islam begitu?" tebak Robert.


"Harusnya sih begitu. Kalau mau menikah sama Bu Syifa," sahut Baim dengan anggukan kepala. "Eh tapi, kata Papaku ... orang yang mau masuk Islam itu harus sungguh-sungguh dari hati, Rob. Nggak boleh dari paksaan pihak mana pun. Karena itu tergantung keimanan."


"Oh. Jadi kalau begitu mah, terserah Daddyku dong, ya? Aku nggak bisa memintanya," keluh Robert dengan murung.


Dia sendiri tidak yakin—kalau Joe berkeinginan pindah agama supaya bisa bersatu dengan Syifa. Sebab sampai sekarang, belum pernah dia mendengar langsung kalau sang Daddy mengatakan jika dirinya menyukai guru cantik itu.


"Kalau minta mah boleh kali, Rob," sahut Juna. "Yang penting jangan memaksa."


"Iya. Itu baru benar," sahut Baim sambil mengangguk.


"Nanti deh, aku coba tanya sama Daddy." Robert tampak tersenyum ceria.


*


*


Malam hari.


Seorang Dokter dan Suster saat ini berada di kamar inap Robert. Tengah memeriksa keadaannya.


"Bagaimana kondisi anakku, Dok?" tanya Joe yang duduk di tempat tidur Robert. Tangannya terulur mengelus puncak rambut anaknya.


"Alhamdulillah, Pak, kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Meskipun belum sepenuhnya pulih," jawab Dokter itu sambil menaruh ujung stetoskopnya ke dalam saku jas. Dia tersenyum menatap Joe. "Besok pagi Suster akan datang untuk mengambil darah, karena saya perlu mengeceknya."


"Syukurlah kalau begitu." Joe menghela napasnya dengan lega. Sedikit demi sedikit, dia sangat yakin—jika nantinya Robert akan sembuh kembali.


"Kira-kira ... kapan Robert bisa pulang, Dok?" tanya Robert pelan menatap dokter.


"Nanti ya, Nak, kita tunggu hasil dari pengecekan darahnya dulu," jawab Dokter itu sambil tersenyum.


"Memangnya ... penyakit magh musti dicek darah juga? Bukannya magh itu letaknya di lambung, ya? Bukan darah, Dok?" tanya Robert heran.

__ADS_1


"Itu benar." Dokter menganggukkan kepalanya. "Tapi mengecek darah itu penting, untuk melihat takutnya kamu ada penyakit yang lain," jelas Dokter itu.


Sebelumnya, Joe sudah meminta dokter untuk menutupi penyakit Robert. Dengan alasan supaya bocah itu tak bersedih apalagi sampai terpuruk.


Syukurlah, Dokter itu langsung mau menurutinya. Sebab menurutnya tidak masalah juga, mungkin memang ada baiknya begitu. Mengingat Robert masih terlalu kecil jika mengetahui penyakit mematikan yang dia derita.


"Oh. Jadi masih lama dong, Robert pulangnya? Padahal Robert udah kepengen banget sekolah lagi. Kangen sama Bu Syifa," sahut Robert dengan lesu.


"Sabar ya, Nak!" Dokter itu menyentuh punggung tangan kanan Robert, kemudian mengenggamnya dengan pelan. "Kamu mending berdo'a saja, supaya tubuhmu cepat pulih."


"Dokter benar, Sayang," sahut Joe. Sedangkan Robert hanya mengangguk pelan dengan wajah sedihnya.


"Kalau begitu saya dan Suster pamit, ya, Pak ... Dek Robert," ucap Dokter itu pamit, sembari menatap Joe dan Robert bergantian.


"Iya, Dok." Joe menganggukkan kepalanya.


"Nanti malam, Suster akan datang seperti biasa, untuk memantau kondisi Robert ya, Pak," ujar Dokter itu lagi. Joe mengangguk kembali. Lantas, dia pun melangkah keluar dari kamar inap Robert bersama seorang suster.


"Dad, Robert mau ngomong serius sama Daddy," ucap Robert seraya meriah tangan Joe, kemudian menatapnya dengan lekat. Rencananya, dia ingin meminta Joe untuk menjadi mualaf. Tapi tidak akan memaksa, jika pria itu tidak mau.


"Ngomong serius apa, Sayang? Bicaralah," kata Joe dengan lembut.


"Ini tentang Bu Syifa, Robert mau ...." Ucapan Robert tiba-tiba saja terhenti, sebab ponsel Joe berdering begitu kencang hingga menggema pada ruangan itu.


Cepat-cepat Joe merogoh saku dalam jasnya, kemudian mengambil benda pipih. Setelah dilihat ternyata dari Ustad Yunus.


"Sebentar, Sayang, Daddy angkat telepon dulu. Takutnya penting." Joe menunjuk layar ponsel yang mengarah ke wajah sang anak, kemudian langsung mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Ustad Yunus. "Halo, Ustad."


"Walaku salam," jawab Joe dengan asal. Dia sendiri tidak terlalu bisa untuk menjawab salam, dan bisa dikatakan baru pertama kali mengucapkan kalimat jawaban salam.


Kalau semisalnya tidak dijawab, Joe pastinya merasa tidak enak. Takut disangka tidak menghargai.


"Maaf, Pak, tadi siang hape saya lowbet. Jadi teleponnya terputus."


"Oh. Iya nggak apa-apa," sahut Joe sambil tersenyum. Robert sejak tadi hanya diam dan mendengar apa yang Joe ucapkan.


"Bapak ketemu sayanya jadi atau nggak?"


"Jadi. Tapi masalahnya ba'da Isya itu kapan, Tad? Aku nggak ngerti," tanya Joe bingung.


"Setelah sholat Isya, Pak."


"Oh. Kapan kira-kira?"


"Masa Bapak nggak tau? Ini sebentar lagi 'kan masuk waktu sholat Isya."


Joe menjauhkan ponselnya sebentar untuk melihat jam pada layar. Di sana menunjukkan pukul 18.58.


"Ya sudah, ya, Pak, saya mau sholat dulu. Nanti saya kirimkan alamatnya, biar Bapak langsung datang," tambah Ustad Yunus.


"Baik, Ustad."

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Walaku salam." Joe pun mematikan sambungan telepon, kemudian tak berselang lama Ustad Yunus mengirimkan lokasi sebuah masjid.


"Sayang ... Daddy pergi dulu sebentar boleh nggak?" tanya Joe seraya mengantongi ponselnya ke dalam saku jas. "Kamu di sini dulu sama Om Sandi, ya? Kalau ngantuk langsung tidur saja, nggak perlu tunggu Daddy pulang," tambahnya seraya membungkukkan badan lalu mencium pipi kanan Robert.


"Daddy mau ke mana memangnya? Apa bertemu Bu Syifa?"


Setelah diperhatikan dengan seksama, Joe memang terlihat rapih sekali dengan stelan jas berwarna abu-abunya. Seperti ingin pergi ke kantor.


"Daddy ingin bertemu seorang Ustad, ada urusan."


"Urusan apa?" tanya Robert penasaran.


"Nanti kalau sudah selesai urusannya, Daddy kasih tau kamu. Sekarang Daddy mau pergi dulu, soalnya nggak enak, sudah janji," sahut Joe. "Nggak apa-apa, kan, kamu ditemani Om Sandi dulu?"


"Nggak apa-apa." Robert mengangguk dengan patuh. "Tapi pulangnya jangan malam-malam. Daddy juga jangan ngebut naik mobilnya."


"Iya. Terima kasih, Sayang." Joe perlahan mencium kening Robert dengan lembut, lalu mengusap pipinya.


Setelah itu dia pun melangkah keluar dari kamar inap sembari menelepon Sandi, ingin bertanya dia ada di mana. Sebab sedari siang pria itu belum datang lagi ke rumah sakit.


"Malam Pak Joe," sapa Sandi yang baru saja datang menghampiri. Joe tengah menutup pintu kamar. "Bapak mau ke mana?"


"Aku mau ketemu Ustad Yunus, San. Aku titip Robert, ya? Ajak main juga takutnya dia mau main."


"Oh, baiklah, Pak. Bapak hati-hati," ujar Sandi. Joe langsung mengangguk dan tersenyum, kemudian melangkah pergi meninggalkannya.


Sejujurnya Sandi datang sekalian ingin membahas tentang duplikat istri Joe. Tapi sepertinya dia harus menundanya, sebab sang bos terlihat sibuk.


'Semoga saja niat Pak Joe ingin ketemu Om Yunus adalah untuk dirinya belajar ilmu agama Islam. Saya akan ikut senang kalau Pak Joe jadi mualaf,' batin Sandi, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar inap Robert.


*


*


*


30 menit kemudian, mobil Joe akhirnya sampai di lokasi yang diarahkan oleh google map. Di sebuah masjid yang cukup besar berwarna silver.


Namun, saat dilihat, ternyata lokasi masjid besar itu tepat di samping rumah Syifa. Joe sendiri baru sadar, setelah melihat keberadaan Abi Hamdan, Syifa dan Umi Maryam yang berdiri di depan rumahnya. Ada sebuah mobil juga berwarna putih, terparkir rapih pada halaman.


"Ini bener nggak, sih, lokasi masjidnya? Jadi Ustad Yunus kerja di masjid ini?" gumam Joe. Lantas dia pun turun dari mobil, kemudian melangkah menuju gerbang masjid.


"Jangan paksa aku, Bi! Aku nggak mau ikut ... kan aku sudah bilang kalau lagi sakit perut!" pintanya dengan lantang.


Joe langsung menoleh, saat mendengar suara perempuan yang cukup mengusik indera pendengarannya. Ternyata yang mengucapkan adalah Syifa. 'Kenapa dengan Syifa? Dan mau ke mana dia dan orang tuanya?' batinnya penuh tanya.


Terlihat, gadis itu seperti marah ketika Abi Hamdan tengah mencekal lengannya. Seperti hendak menariknya untuk masuk ke dalam mobil.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


__ADS_2