Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
28. Kasihan sekali dia


__ADS_3

Benar, kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi Fahmi disini sesungguhnya memang tidak rela jika mobilnya kotor akibat ulah kaki orang lain.


"Iya, kamu benar." Abi Hamdan mengangguk. Dia terlihat tidak mempermasalahkan dengan sikap Fahmi.


'Lebay banget Kak Fahmi. Mentang-mentang mobilnya baru,' batin Syifa kesal.


"Kamu 9 tahun hidup di Mesir betah, Mi?" tanya Abi Hamdan, saat mobil itu melaju dan Fahmi lah yang mengemudi.


"Betah, Bi." Fahmi mengangguk lalu menatap wajah Abi Hamdan lewat kaca.


"Menurutmu ... lebih enak tinggal di sana apa di Indonesia?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya lebih enak tinggal di sana. Tapi berhubung aku ingin memulai bisnis di Indonesia dan menjadi ulama ... jadi aku pulang, Bi."


"Memangnya perbedaan di Indonesia dan Mesir itu apa? Cerita dong sedikit, kan Abi belum pernah ke sana, hehe," kekeh Abi Hamdan.


"Banyak, Bi. Dari mulai orang-orangnya yang ...." Fahmi pun mulai bercerita tentang pengalaman hidupnya selama tinggal di Mesir.


Abi Hamdan dan Umi Maryam terlihat begitu antusias mendengarkannya, bahkan Abi Hamdan selalu menanggapi cerita Fahmi dengan sebuah pertanyaan.


Namun, berbeda dengan Syifa yang sejak tadi membeku sembari menatap jendela mobil. Dia diam bukan karena ikut mendengar, tapi sejak tadi memikirkan kondisi Robert.


*


*


30 menit kemudian, mobil berwarna kuning emas milik Fahmi pun terparkir di sebuah restoran mewah.


Restoran itu memang atas nama Fahmi, tapi modalnya dari Pak Haji Samsul. Namun aneh memang, mengapa Fahmi mengaku-ngaku itu semua hasil kerja kerasnya.


"Bagaimana restoranku, Bi, bagus, kan?" tanya Fahmi seraya melangkah masuk ke dalam restoran bersama Syifa dan kedua orang tuanya.


"Bagus Nak Fahmi," sahut Abi Hamdan seraya menatap sekitar. Suasana restoran yang luas itu bisa dikatakan ramai, sebab banyak beberapa meja yang terisi.


Fahmi pun mengajak mereka ke salah satu meja yang berukuran cukup besar, tapi sudah ada Pak Haji Samsul di sana. Beliau tengah duduk dan memang sejak tadi menunggu karena berniat ingin ikut makan malam juga.


"Ustad," ucap Pak Haji Samsul seraya mengulurkan tangannya. Abi Hamdan pun segera membalasnya lalu tersenyum.


"Papa katanya mau ikut makan malam bareng, Bi, jadinya aku ajak," ucap Fahmi seraya menatap kepada Abi Hamdan.


"Nggak apa-apa, ajak saja biar rame," sahut Abi Hamdan, kemudian menatap ke arah Pak Haji Samsul. "Bapak datang sendiri, istri bapak ke mana?"


"Istriku kebetulan lagi nggak enak badan, Tad," sahutnya lalu mengerakkan tangan ke arah kursi. "Ayok duduk Tad, Bu Maryam, Syifa," ajaknya kemudian duduk lebih dulu.


Mereka semua pun duduk. Begitu pun dengan Syifa yang duduk di sebelah Fahmi.


"Istri Bapak dua-duanya nggak enak badan?" tanya Abi Hamdan. Memang, Pak Haji Samsul ini memiliki dua orang istri. Mamanya Fahmi adalah istri tua.


"Iya, Pak." Pak Haji Samsul mengangguk.


Tak lama, seorang pelayan wanita datang menghampiri. Lalu menyodorkan tiga buku menu di atas meja.


"Selamat malam Pak Fahmi, Pak Samsul dan semua. Silahkan mau pesan apa?" tanyanya dengan seulas senyum dibibir.


Syifa memerhatikan buku menu itu bersama Umi Maryam yang juga duduk di sampingnya.


"Kamu kepengen makan sama apa, Fa?" tanya Umi Maryam yang tampak bingung. Menu itu sangat banyak, dari makanan berat sampai ringan. Asin hingga manis. Begitu pun dengan minumannya. Tapi kebanyakan pilihan malah membuatnya bingung.


"Bawakan paket lengkap A untuk keluarga saja, Mbak," titah Fahmi seraya menatap pelayan. "Aku yakin ... Syifa, Abi dan Umi pasti suka."


"Baik, Pak." Pelayan itu mengangguk. "Kalau minumannya apa?"


"Tanya dulu ke Syifa dan orang tuanya, mau apa nggak, Mi, jangan asal pesan," tegur Pak Haji Samsul.


"Memangnya paket keluarga apa saja isinya, Mi?" tanya Abi Hamdan menatap ke arah Fahmi.


"Ini, Bi." Fahmi membuka buku menu pada bagian tengah, kemudian memperlihatkannya ke Abi Hamdan.


Menu tersebut di antaranya; Nasi Putih, Soup Asparagus, Jagung Kepiting atau tom Yam, Mantau, Sapi Tahu Seafood, Cumi Saus Padang, Buah, Pudding, Brokoli Bawang Putih, Ikan Stim ala Hongkong, Udang, Telur Asin dan Sapi Lada Hitam.


"Boleh deh, kayaknya enak, Mi," ucap Abi Hamdan yang terlihat menyetujui.


Fahmi pun menoleh ke arah Syifa dan Umi Maryam yang sejak tadi diam saja menatapnya. "Setuju nggak, Fa? Umi?" tanyanya.


"Setuju." Yang menjawab Umi Maryam, sedangkan Syifa hanya mengangguk.


"Kalau minumannya apa?" tanya sang pelayan.


"Aku jus mangga," sahut Fahmi. "Tapi bawakan juga air putih untuk semuanya, ya?"


"Baik." Pelayan itu mengangguk.


"Aku teh manis hangat, Mbak," ucap Pak Haji Samsul.


"Aku dan istriku teh tawar, Mbak," sahut Abi Hamdan seraya menatap istrinya. Umi Maryam mengangguk tanda setuju.


Pelayan itu ikut mengangguk, kemudian mencatat pesanan mereka pada buku kecil yang sejak tadi ditangannya.


"Kalau aku es jeruk, Mbak," sahut Syifa.


"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu, Nona, pesanan kalian akan saya antar," ucap pelayan itu sambil tersenyum. Lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.

__ADS_1


Sembari menunggu pesanan, Abi Hamdan dan Pak Haji Samsul pun mengobrol masalah Bapak-bapak. Sedangkan Fahmi sibuk dengan telepon genggamnya.


"Fa, itu bukannya Pak Joe, ya?" ucap Umi Maryam yang berbisik ditelinga kanan Syifa. Dia juga menggerakkan dagunya ke arah yang dimaksud.


"Mana, Mi?" Syifa mengikuti di mana arah yang ditunjuk Umi Maryam yakni pada pintu utama restoran.


Benar, disana ada Joe yang baru saja masuk seorang diri. Kemudian ada seorang pelayan wanita yang datang menghampiri.


'Kok Pak Joe sendirian?! Di mana Robert?' batin Syifa penasaran. "Eemm ... Umi," bisiknya ke telinga kanan Umi Maryam. Wanita itu pun lantas menoleh.


"Ya?!"


"Aku mau menghampiri Pak Joe dulu sebentar, ya, Umi, mau nanyain tentang Robert," pintanya meminta izin. Syifa memerhatikan Joe yang kini duduk di salah satu meja yang letaknya agak jauh darinya.


"Ya sudah sana. Tapi jangan lama-lama, ya, Fa?"


"Iya." Syifa mengangguk. Lantas berdiri dan melangkah mendekat ke arah Joe.


Namun, saat dirinya hendak menyapa, pria itu justru berdiri sembari menempelkan sebuah ponsel ke telinga kanannya. Seperti mengangkat sebuah panggilan masuk.


Syifa pada akhirnya hanya berdiri mematung. Menunggu Joe yang sibuk dengan benda pipihnya.


"Halo, San, ada apa?" tanya Joe. Dia sama sekali tak tahu jika Syifa ada di dekatnya dan tengah memerhatikan dirinya.


"Dek Robert sudah bangun, Pak, dia nanyain Bapak," jawab Sandi dari seberang sana.


"Tunggu sebentar, aku segera ke sana." Joe langsung mematikan panggilan. Cepat-cepat dia pun melangkah keluar dari restoran.


Syifa yang melihatnya gegas berlari mengejar ikut keluar, lalu memanggil, "Pak Joe! Tunggu sebentar, Pak!"


Joe menghentikan gerakan tangannya saat hendak membuka pintu mobil. Lantas dia pun menoleh. "Syifa?!" Matanya seketika mendelik lantaran kaget saat beradu pandangan. Tapi cepat-cepat dia mengusap kasar wajahnya. 'Kenapa dia sangat cantik malam ini?! Dan kenapa juga aku harus bertemu dengannya?' batin Joe.


"Bapak mau ke mana? Dan bagaimana kabar Robert?!" tanya Syifa penasaran. Dia juga menatap ke arah mobil, berharap jika bocah itu ada di dalam sana.


"Aku mau ke rumah sakit, Fa. Kebetulan Robert memang sedang dirawat," sahut Joe seraya mengalihkan pandangan, sebab jantungnya tiba-tiba saja berdebar. "Kalau begitu, aku permisi dulu, ya, selamat malam," tambahnya pamit.


"Tunggu dulu, Pak!" tahan Syifa. Dia mencegah Joe yang hendak masuk dengan cara menghalangi tubuhnya. "Boleh aku tau, Robert sakit apa, Pak?"


"Dia terkena kanker hati." Jawaban dari Joe sontak membuat Syifa membulatkan matanya. "Nanti besok aku juga akan kirim surat izin dari dokter, supaya pihak sekolah mengizinkan Robert untuk beristirahat beberapa waktu di rumah sakit," tambahnya.


Joe pun berlari memutar ke arah kursi sebelahnya, sebab ingin masuk ke arah kursi kemudi ada Syifa yang masih berdiri menghalangi. Ingin memintanya minggir rasanya tidak enak. Jadi dia lewat kursi sebelahnya.


"Robert terkena kanker hati?! Kasihan sekali dia," gumam Syifa dengan sendu. Seketika dadanya pun terasa sesak. Dia berdiri mematung sambil memerhatikan mobil Joe yang melaju pergi. "Aku harus ikut ke rumah sakit. Sebagai wali murid ... aku musti tahu kondisinya secara langsung."


Syifa langsung berlari menuju jalan raya, lalu melambaikan tangan pada mobil taksi yang baru saja lewat. Saat sudah berhenti dia pun segera masuk, kemudian meminta sang sopir taksi untuk mengejar mobil Joe yang masih terlihat di depan sana.


...----------------...


Benar, kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi Fahmi disini sesungguhnya memang tidak rela jika mobilnya kotor akibat ulah kaki orang lain.


"Iya, kamu benar." Abi Hamdan mengangguk. Dia terlihat tidak mempermasalahkan dengan sikap Fahmi.


'Lebay banget Kak Fahmi. Mentang-mentang mobilnya baru,' batin Syifa kesal.


"Kamu 9 tahun hidup di Mesir betah, Mi?" tanya Abi Hamdan, saat mobil itu melaju dan Fahmi lah yang mengemudi.


"Betah, Bi." Fahmi mengangguk lalu menatap wajah Abi Hamdan lewat kaca.


"Menurutmu ... lebih enak tinggal di sana apa di Indonesia?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya lebih enak tinggal di sana. Tapi berhubung aku ingin memulai bisnis di Indonesia dan menjadi ulama ... jadi aku pulang, Bi."


"Memangnya perbedaan di Indonesia dan Mesir itu apa? Cerita dong sedikit, kan Abi belum pernah ke sana, hehe," kekeh Abi Hamdan.


"Banyak, Bi. Dari mulai orang-orangnya yang ...." Fahmi pun mulai bercerita tentang pengalaman hidupnya selama tinggal di Mesir.


Abi Hamdan dan Umi Maryam terlihat begitu antusias mendengarkannya, bahkan Abi Hamdan selalu menanggapi cerita Fahmi dengan sebuah pertanyaan.


Namun, berbeda dengan Syifa yang sejak tadi membeku sembari menatap jendela mobil. Dia diam bukan karena ikut mendengar, tapi sejak tadi memikirkan kondisi Robert.


*


*


30 menit kemudian, mobil berwarna kuning emas milik Fahmi pun terparkir di sebuah restoran mewah.


Restoran itu memang atas nama Fahmi, tapi modalnya dari Pak Haji Samsul. Namun aneh memang, mengapa Fahmi mengaku-ngaku itu semua hasil kerja kerasnya.


"Bagaimana restoranku, Bi, bagus, kan?" tanya Fahmi seraya melangkah masuk ke dalam restoran bersama Syifa dan kedua orang tuanya.


"Bagus Nak Fahmi," sahut Abi Hamdan seraya menatap sekitar. Suasana restoran yang luas itu bisa dikatakan ramai, sebab banyak beberapa meja yang terisi.


Fahmi pun mengajak mereka ke salah satu meja yang berukuran cukup besar, tapi sudah ada Pak Haji Samsul di sana. Beliau tengah duduk dan memang sejak tadi menunggu karena berniat ingin ikut makan malam juga.


"Ustad," ucap Pak Haji Samsul seraya mengulurkan tangannya. Abi Hamdan pun segera membalasnya lalu tersenyum.


"Papa katanya mau ikut makan malam bareng, Bi, jadinya aku ajak," ucap Fahmi seraya menatap kepada Abi Hamdan.


"Nggak apa-apa, ajak saja biar rame," sahut Abi Hamdan, kemudian menatap ke arah Pak Haji Samsul. "Bapak datang sendiri, istri bapak ke mana?"


"Istriku kebetulan lagi nggak enak badan, Tad," sahutnya lalu mengerakkan tangan ke arah kursi. "Ayok duduk Tad, Bu Maryam, Syifa," ajaknya kemudian duduk lebih dulu.

__ADS_1


Mereka semua pun duduk. Begitu pun dengan Syifa yang duduk di sebelah Fahmi.


"Istri Bapak dua-duanya nggak enak badan?" tanya Abi Hamdan. Memang, Pak Haji Samsul ini memiliki dua orang istri. Mamanya Fahmi adalah istri tua.


"Iya, Pak." Pak Haji Samsul mengangguk.


Tak lama, seorang pelayan wanita datang menghampiri. Lalu menyodorkan tiga buku menu di atas meja.


"Selamat malam Pak Fahmi, Pak Samsul dan semua. Silahkan mau pesan apa?" tanyanya dengan seulas senyum dibibir.


Syifa memerhatikan buku menu itu bersama Umi Maryam yang juga duduk di sampingnya.


"Kamu kepengen makan sama apa, Fa?" tanya Umi Maryam yang tampak bingung. Menu itu sangat banyak, dari makanan berat sampai ringan. Asin hingga manis. Begitu pun dengan minumannya. Tapi kebanyakan pilihan malah membuatnya bingung.


"Bawakan paket lengkap A untuk keluarga saja, Mbak," titah Fahmi seraya menatap pelayan. "Aku yakin ... Syifa, Abi dan Umi pasti suka."


"Baik, Pak." Pelayan itu mengangguk. "Kalau minumannya apa?"


"Tanya dulu ke Syifa dan orang tuanya, mau apa nggak, Mi, jangan asal pesan," tegur Pak Haji Samsul.


"Memangnya paket keluarga apa saja isinya, Mi?" tanya Abi Hamdan menatap ke arah Fahmi.


"Ini, Bi." Fahmi membuka buku menu pada bagian tengah, kemudian memperlihatkannya ke Abi Hamdan.


Menu tersebut di antaranya; Nasi Putih, Soup Asparagus, Jagung Kepiting atau tom Yam, Mantau, Sapi Tahu Seafood, Cumi Saus Padang, Buah, Pudding, Brokoli Bawang Putih, Ikan Stim ala Hongkong, Udang, Telur Asin dan Sapi Lada Hitam.


"Boleh deh, kayaknya enak, Mi," ucap Abi Hamdan yang terlihat menyetujui.


Fahmi pun menoleh ke arah Syifa dan Umi Maryam yang sejak tadi diam saja menatapnya. "Setuju nggak, Fa? Umi?" tanyanya.


"Setuju." Yang menjawab Umi Maryam, sedangkan Syifa hanya mengangguk.


"Kalau minumannya apa?" tanya sang pelayan.


"Aku jus mangga," sahut Fahmi. "Tapi bawakan juga air putih untuk semuanya, ya?"


"Baik." Pelayan itu mengangguk.


"Aku teh manis hangat, Mbak," ucap Pak Haji Samsul.


"Aku dan istriku teh tawar, Mbak," sahut Abi Hamdan seraya menatap istrinya. Umi Maryam mengangguk tanda setuju.


Pelayan itu ikut mengangguk, kemudian mencatat pesanan mereka pada buku kecil yang sejak tadi ditangannya.


"Kalau aku es jeruk, Mbak," sahut Syifa.


"Tunggu sebentar ya, Pak, Bu, Nona, pesanan kalian akan saya antar," ucap pelayan itu sambil tersenyum. Lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.


Sembari menunggu pesanan, Abi Hamdan dan Pak Haji Samsul pun mengobrol masalah Bapak-bapak. Sedangkan Fahmi sibuk dengan telepon genggamnya.


"Fa, itu bukannya Pak Joe, ya?" ucap Umi Maryam yang berbisik ditelinga kanan Syifa. Dia juga menggerakkan dagunya ke arah yang dimaksud.


"Mana, Mi?" Syifa mengikuti di mana arah yang ditunjuk Umi Maryam yakni pada pintu utama restoran.


Benar, disana ada Joe yang baru saja masuk seorang diri. Kemudian ada seorang pelayan wanita yang datang menghampiri.


'Kok Pak Joe sendirian?! Di mana Robert?' batin Syifa penasaran. "Eemm ... Umi," bisiknya ke telinga kanan Umi Maryam. Wanita itu pun lantas menoleh.


"Ya?!"


"Aku mau menghampiri Pak Joe dulu sebentar, ya, Umi, mau nanyain tentang Robert," pintanya meminta izin. Syifa memerhatikan Joe yang kini duduk di salah satu meja yang letaknya agak jauh darinya.


"Ya sudah sana. Tapi jangan lama-lama, ya, Fa?"


"Iya." Syifa mengangguk. Lantas berdiri dan melangkah mendekat ke arah Joe.


Namun, saat dirinya hendak menyapa, pria itu justru berdiri sembari menempelkan sebuah ponsel ke telinga kanannya. Seperti mengangkat sebuah panggilan masuk.


Syifa pada akhirnya hanya berdiri mematung. Menunggu Joe yang sibuk dengan benda pipihnya.


"Halo, San, ada apa?" tanya Joe. Dia sama sekali tak tahu jika Syifa ada di dekatnya dan tengah memerhatikan dirinya.


"Dek Robert sudah bangun, Pak, dia nanyain Bapak," jawab Sandi dari seberang sana.


"Tunggu sebentar, aku segera ke sana." Joe langsung mematikan panggilan. Cepat-cepat dia pun melangkah keluar dari restoran.


Syifa yang melihatnya gegas berlari mengejar ikut keluar, lalu memanggil, "Pak Joe! Tunggu sebentar, Pak!"


Joe menghentikan gerakan tangannya saat hendak membuka pintu mobil. Lantas dia pun menoleh. "Syifa?!" Matanya seketika mendelik lantaran kaget saat beradu pandangan. Tapi cepat-cepat dia mengusap kasar wajahnya. 'Kenapa dia sangat cantik malam ini?! Dan kenapa juga aku harus bertemu dengannya?' batin Joe.


"Bapak mau ke mana? Dan bagaimana kabar Robert?!" tanya Syifa penasaran. Dia juga menatap ke arah mobil, berharap jika bocah itu ada di dalam sana.


"Aku mau ke rumah sakit, Fa. Kebetulan Robert memang sedang dirawat," sahut Joe seraya mengalihkan pandangan, sebab jantungnya tiba-tiba saja berdebar. "Kalau begitu, aku permisi dulu, ya, selamat malam," tambahnya pamit.


"Tunggu dulu, Pak!" tahan Syifa. Dia mencegah Joe yang hendak masuk dengan cara menghalangi tubuhnya. "Boleh aku tau, Robert sakit apa, Pak?"


"Dia terkena kanker hati." Jawaban dari Joe sontak membuat Syifa membulatkan matanya. "Nanti besok aku juga akan kirim surat izin dari dokter, supaya pihak sekolah mengizinkan Robert untuk beristirahat beberapa waktu di rumah sakit," tambahnya.


Joe pun berlari memutar ke arah kursi sebelahnya, sebab ingin masuk ke arah kursi kemudi ada Syifa yang masih berdiri menghalangi. Ingin memintanya minggir rasanya tidak enak. Jadi dia lewat kursi sebelahnya.


"Robert terkena kanker hati?! Kasihan sekali dia," gumam Syifa dengan sendu. Seketika dadanya pun terasa sesak. Dia berdiri mematung sambil memerhatikan mobil Joe yang melaju pergi. "Aku harus ikut ke rumah sakit. Sebagai wali murid ... aku musti tahu kondisinya secara langsung."

__ADS_1


Syifa langsung berlari menuju jalan raya, lalu melambaikan tangan pada mobil taksi yang baru saja lewat. Saat sudah berhenti dia pun segera masuk, kemudian meminta sang sopir taksi untuk mengejar mobil Joe yang masih terlihat di depan sana.


...Kok pergi sih, Bu, makan malamnya gimana itu? 🙈...


__ADS_2