Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
62. Pasti dia sangat cantik


__ADS_3

"Membuka mata?!" Kening Pak Haji Samsul tampak mengernyit. "Maksudnya?"


"Ya membuka mata. Masa dia memilih orang China, yang dijadikan menantu? Sedangkan dia sendiri menolak seorang ustad sepertiku, Pa!" Penolakan kemarin, nyatanya masih membekas dihati Fahmi. Dirinya sangat tak ikhlas, kalau Joe lah yang Abi Hamdan pilih, bukan dirinya yang mengaku sebagai manusia paling sempurna.


"Kamu nggak perlu menemuinya lagi, Mi! sudah cukup!" tegas Pak Haji Samsul. Cepat-cepat dia mencabut kunci mobil, saat mesinnya baru saja menyala. Dia melarang keras anaknya datang untuk menemui Abi Hamdan atau pun Syifa.


"Kenapa? Papa memangnya terima, jika aku ditolak sama Abi Hamdan? Aku seperti nggak ada harga dirinya, Pa! Jelas aku ini jauh lebih baik dari segalanya, jika dibandingkan dengan pria bermata sipit bernama Jojon itu!" Fahmi menepuk dadanya dengan emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun. Dadanya terlihat naik turun.


"Yang nggak ada harga dirinya di sini itu Syifa, bukan kamu, Mi!" tekan Pak Haji Samsul menegaskan.


"Kenapa begitu?!"


"Ya karena dia lebih memilih pria sipit itu, dibandingkan denganmu. Sudah tau dia non muslim, mana bisa dia membimbing untuk membawanya masuk ke surga? Coba kamu pikir saja!" tutur Pak Haji Samsul yang ikut-ikutan emosi. Dilihat Fahmi terdiam, dia tampaknya tengah memikirkan. "Mulai sekarang, kamu nggak perlu lagi mengharapkan Syifa. Perempuan seperti dia itu banyak, bahkan kamu bisa mendapatkan lebih darinya."


"Tapi aku suka sama Syifa, Pa! Bahkan aku menyukainya sejak dulu!" tegas Fahmi.


"Nggak perlu memikirkan masalah suka. Nanti kamu akan Papa kenalkan dengan gadis lain, yang lebih-lebih dari Syifa, Mi!"


"Tapi aku maunya—"


"Udah deh, Mi!" sergah Pak Haji Samsul cepat. Kesal rasanya, jika anaknya itu susah dibilangin. "Kamu menurut saja sama Papa! Syifa itu nggak pantas untukmu yang terlalu sempurna, lagian dia juga cuma guru SD yang gajinya pas-pasan dan anak orang miskin."


Jika dulu Pak Haji Samsul sangat menyukai Abi Hamdan karena terhanyut dalam setiap dakwahnya—akan tetapi sekarang tidak lagi. Dia tidak suka bahkan tak mau lagi mendengar ceramah darinya, begitu pun dengan sholat berjamaah bareng.


Sekarang Pak Haji Samsul justru membenci, tentu itu semua dikarenakan karena rasa sakit hati sebab mengetahui anak bungsunya ditolak mentah-mentah. Padahal dia sendiri sudah sangat berharap jika Syifa akan menjadi menantunya.


Setelah mengatakan hal itu, dia langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah mewahnya. Meninggal Fahmi yang masih memendam emosi.


"Ck!" Fahmi hanya bisa berdecak kesal sambil menonjok stir. Dia bukan hanya kesal dengan Abu Hamdan dan Syifa, tapi sekarang pada Papanya juga, yang melarangnya pergi. "Ini semua gara-gara pria sipit itu. Kalau dia nggak ada dihidup Syifa ... semuanya nggak akan menjadi seperti ini!" geramnya.


Rasa suka Fahmi terhadap Syifa bukan hanya dari mulut saja, tapi memang dari hati dia benar-benar menyukainya. Bahkan sejak dulu.


Hanya saja—sebelum dirinya kuliah di Mesir, Fahmi terbilang pria pendiam. Dia juga memendam perasaan sukanya terhadap gadis itu.


Setelah berhasil lulus kuliah, barulah sekarang dia berani mengungkapkan perasaannya. Meskipun itu juga awalnya dibantu oleh Papanya.

__ADS_1


"Apa aku harus membunuh si Jojon, supaya aku bisa menikahi Syifa?!" Entah ada setan apa yang merasukinya, sehingga Fahmi mampu berkata demikian. Tapi dirinya sungguh-sungguh merasa jengkel, apalagi mengingat saat dimana dia dan Joe beradu jotos. Pria itu terbilang berani, karena membalas tonjokkannya.


***


"Oh ya, ngomong-ngomong ... kok kamu pakai jas dengan menggunakan sarung? Kenapa?" tanya Mami Yeri heran sembari menoleh ke arah Joe yang berada di sampingnya.


Mereka sudah sampai sekolah dan Robert sudah masuk kelas. Rencananya, Mami Yeri ingin bertemu dengan Syifa dulu sebelum pulang ke rumah.


"Aku disunat, Mi."


"Sunat?!" Mami Yeri tampak kaget. Bola matanya pun membulat sempurna.


"Iya. Aku sempat mengalami kebakaran dan tongkatku terbakar, Mi," jelas Joe seraya menunjuk inti tubuhnya.


"Lho, sampai ke tongkat-tongkat segala? Ngeri amat, Joe." Mami Yeri bergidik.


"Iya. Untungnya nggak habis semua tongkatku, cuma dipotong dikit aja. Tapi jadi bagus lho, Mi, ada helmnya."


"Coba Mami lihat." Mami Yeri meraih sarung Joe, akan tetapi anaknya itu segera menepisnya.


"Masa malu? Kamu 'kan dari kecil Mami yang mandiin. Mami juga udah pernah bahkan sering melihatnya," kekeh Mami Yeri.


"Itu 'kan pas kecil, beda sama sekarang. Aku udah dewasa, Mi!"


"Ah pelit kamu, Joe, padahal Mami 'kan baru sampai Indonesia. Kamu juga sebentar lagi akan menikah lagi." Mami Yeri mengerucutkan bibirnya, dia tampak kesal sebab permintaannya ditolak oleh anak semata wayangnya itu.


"Apa hubungannya? Mami ini aneh deh." Joe geleng-geleng kepala, merasa tak habis pikir. Bukan hanya Mami Yeri yang suka iseng ingin melihat tongkat bisbolnya, tapi Papi Paul juga sering seperti itu ketika tengah bercanda.


Drrttt ... Drrrtt ... Drrrtt.


Tiba-tiba, terdengar suara deringan ponsel miliknya di dalam saku dalam jas. Cepat-cepat Joe mengambil benda itu sebab takutnya penting.


Ternyata, ada sebuah panggilan masuk dari Syifa. Hanya melihat nama gadis dilayar telepon genggamnya saja—semua itu mampu membuat jantung Joe berdegup kencang. Kedua pipi itu tampak merah merekah.


Segera, Joe mengangkat panggilan itu. Menempelkan benda pipih tersebut ke telinga kanan.

__ADS_1


"Halo, Fa," sapa Joe sambil tersenyum malu-malu.


"Aku Abinya. Kau ada di mana sekarang, Jon?" tanya Abi Hamdan tanpa basa-basi.


"Ada di sekolah, baru mengantar Robert sekolah, Pak."


"Tentang dua kalimat syahadat, apa kau sudah hafal?"


"Sudah, Pak."


"Sudah bicara sama orang tuamu belum, kalau kau mau menikahi Syifa?"


"Sudah, Pak," jawab Joe.


"Apa mereka nggak bisa pulang ke Indonesia?"


"Kebetulan mereka baru pulang hari ini, Pak."


"Bagus kalau begitu," sahut Abi Hamdan. Terdengar ada suara tarikan napas yang dilakukan secara perlahan. "Sekarang kau datang ke rumahku bersama kedua orang tuamu. Jangan lupa membawa cincin pertunangan untuk kamu dan Syifa, Jon," tambahnya memberikan perintah.


"Siap, Pak." Joe langsung mengangguk penuh semangat.


Bicara tentang cincin, sepasang benda itu sudah disiapkan olehnya. Kemarin, sebelum dirinya sampai rumah—Joe membelinya ke toko mas langganannya.


"Mi, ayok kita pulang ke rumah untuk menjemput Papi," ajak Joe saat panggilan itu telah usai, dimatikan oleh Abi Hamdan.


"Kok pulang? Mami 'kan belum ketemu Syifa, Joe. Nanti saja," tolak Mami Yeri dengan gelengan kepala.


"Kayaknya Syifa nggak ngajar, dia ada di rumahnya." Hanya menebak, tapi Joe merasa yakin. "Tadi Abinya telepon, minta aku untuk datang bersama Papi dan Mami ke rumahnya, Mi."


"Tunangannya sekarang?" Bola mata Mami Yeri tampak berbinar.


"Kayaknya sih. Soalnya dia juga nanyain cincin, Mi."


"Oh. Kalau begitu, ayok, Joe!" Mami Yeri langsung menggandeng lengan kanan Joe. Dan dialah yang lebih dulu menariknya untuk ikut melangkah bersama penuh semangat. "Mami udah nggak sabar banget, kepengen lihat menantu baru. Pasti dia sangat cantik, kan, sampai bisa membuatmu membuka hati?"

__ADS_1


...Iyalah cantik, Mi, tapi jangan kaget pas ketemu, ya 🤭...


__ADS_2