Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
79. Tunggu tongkatnya kering


__ADS_3

Ceklek~


Pintu kamar inap itu lantas dibuka oleh seorang Dokter pria berkacamata, setelah hampir setengah jam dia berada di dalam sana untuk memeriksa keadaan Papi Paul.


Semua orang yang telah menunggu di sana langsung menoleh. Kemudian mendekat ke arahnya.


"Bagaimana keadaan suamiku, Dok?" tanya Mami Yeri yang tampak begitu cemas. Wajahnya pun terlihat berkeringat.


"Keadaannya baik-baik saja, Bu. Tadi dia pingsan karena terlalu syok," jelas Dokter itu.


"Syukurlah ...." Mami Yeri menghela napasnya dengan lega sambil menyentuh dada.


"E-eh! Kalian mau apa?!" Dokter itu terlihat terkejut dan langsung mencegah, saat beberapa orang di sana hendak masuk ke dalam.


Joe, Robert, Mami Yeri, Abi Hamdan, Umi Maryam, Syifa, Sandi, Ustad Yunus, Opa Angga dan Juna lantas menghentikan langkahnya secara bersama.


"Mau masuk, mau lihat keadaannya." Yang menjawab Joe.


"Hanya dua orang saja yang boleh masuk. Sisanya menunggu giliran. Dan jangan sampai membuatnya tertekan apalagi kaget," titah Dokter berkacamata, kemudian melanjutkan sembari menatap wajah Mami Yeri. "Bu Yeri juga harus masuk dan kembali berbaring, karena kantong infusan Ibu belum dihabiskan."


"Aku akan masuk, Dok," ucap Mami Yeri dengan anggukan kepala, kemudian melangkah lebih dulu.


"Aku dan Syifa ikut masuk, ya, Dok," pinta Joe seraya meraih tangan Syifa dan menggenggamnya. Akan tetapi gadis itu langsung menepisnya dengan kasar, seolah tidak mau.


"Bapak saja sendiri, kan di dalam sudah ada Bu Yeri." Dokter berkacamata melebarkan pintu untuk Joe.


Pria bermata sipit itu pun langsung menganggukkan kepalanya. Tapi sebelum masuk, dia menatap lebih dulu ke arah Syifa dengan kening yang tampak mengernyit. Dia merasa heran sebab gadis itu masih terlihat marah kepadanya, terus cemberut dan bahkan tak ingin menatap. 'Apa Syifa masih marah padaku karena kejadian semalam? Atau dia marah gara-gara perkara hamil? Atau justru marah karena dua-duanya?' batin Joe penuh tanya. Perlahan kakinya itu melangkah pergi dari sana.


Setelah itu dokter menyusul masuk dan menutup pintu kamar inap dengan rapat.


"Joe ...," panggil Papi Paul yang terdengar begitu lirih. Pria itu kini tengah berbaring dengan lesu di atas ranjang.


"Iya, Pi, bagaimana keadaan Papi? Sudah baikan?" Joe melangkah mendekat sambil tersenyum, lalu duduk di atas ranjang dan mengelus punggung tangan kiri Papi Paul. Sedangkan Mami Yeri sudah berbaring di ranjang sebelah, ada Suster juga di sana yang membantu memasangkan kembali jarum infus pada punggung tangannya.


Papi Paul perlahan mengangguk lemah. "Jadi bener, Joe, kamu menghamili Syifa?"


"Iya." Joe mengangguk cepat. Jawabannya itu seketika mampu membuat raut wajah Papi Paul menjadi sendu. Bola matanya pun tampak berkaca-kaca.


"Mami sudah setuju Joe menikahi Syifa, Pi. Jadi Papi juga harus setuju." Mami Yeri ikut menyahut, dia menoleh ke arah Papi Paul.


"Syifa masuk Kristen, kan, bukan Joe yang masuk Islam?" tebak Papi Paul seraya menatap sang istri.


"Tentu aku yang masuk Islam dong, Pi," sahut Joe cepat yang mana membuat Papi Paul kembali menoleh kepadanya. "Kan di sini aku yang bertanggung jawab. Aku yang salah, karena awalnya aku yang terus merayunya."


"Katanya kamu dan Syifa nggak pacaran, kok bisa sampai hamil, sih?" tanya Papi Paul heran.


"Aku nggak pacaran karena memang awalnya Syifa nggak mau pacaran. Dia juga dilarang pacaran sama Abinya. Eh, ditambah Abinya juga nggak merestui, saat tau kalau ternyata aku adalah non muslim." Apa yang diceritakan Joe tidak sepenuhnya bohong, malah banyak yang benar. "Tapi namanya juga saling suka, Pi. Dilarang-larang malah tambah jadi dan akhirnya kami khilaf."

__ADS_1


"Malam pertama kamu dan Syifa di mana, Joe? Dan apa Syifanya keluar darah?" tanya Mami Yeri yang terlihat kepo. "Syifa itu masih gadis, kan?"


Wajah Joe seketika bersemu merah. Padahal, dia sendiri belum pernah melakukannya dengan Syifa. Tapi justru dia sekarang justru mengkhayalkannya.


"Ah, kalau soal itu mah Mami nggak perlu tau. Malu kali," sahut Joe yang terlihat malu-malu kucing.


Mami Yeri yang melihatnya langsung terkekeh, sedangkan Papi Paul masih saja terlihat bersedih karena tahu anaknya akan pindah agama. "Kamu ini pakai rahasia segala. Padahal cerita juga nggak apa-apa, kan sama orang tua ini."


"Nggak sopan kali, Mi, kalau ngomongin masalah ini. Malu," jawab Joe sambil menundukkan wajahnya.


"Tapi Syifa beneran masih gadis, kan, Joe?" Mami Yeri masih terlihat begitu kepo.


"Tentu saja," sahutnya dengan yakin. "Bahkan akulah orang pertama yang menciumnya." Joe dengan bangganya menepuk dada.


"Hebat juga, ya, kamu. Dapat perawan ting-ting," kekeh Mami Yeri dengan bola mata yang tampak berbinar. Sama halnya seperti Joe, dia juga tentunya merasa bangga,.sebab melihat status Joe yang menjadi duda beranak satu bisa bersanding dengan seorang gadis yang benar-benar masih ori luar dan dalamnya. "Tapi kayaknya Bapaknya galak, ya, Joe."


"Biarkan saja, Mi. Aku 'kan menikahnya sama anaknya. Bukan sama Bapaknya," kekeh Joe. Dia tak mempermasalahkan masalah itu.


"Iya juga sih." Mami Yeri manggut-manggut.


"Kalau Mami dan Papi sudah setuju, bagaimana kalau aku dan Syifa menikahnya besok?" tawar Joe seraya mengangkat wajahnya, lalu menatap Mami dan Papinya.


"Nikahnya nanti kalau Mami dan Papi sudah keluar dari rumah sakit, Joe," balas Mami Yeri. "Eh, katanya kamu sama Syifa mau tunangan dulu?"


"Nggak perlu bertunangan. Kalau semuanya sudah setuju langsung menikah saja, Mi," sahut Joe yang terlihat sudah sangat tidak sabar. "Dan besok pasti Mami dan Papi sudah boleh pulang."


"Iya, Mi." Joe mengangguk cepat. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya sekarang.


*


"Rob, aku dan Opaku pamit pulang, ya?" ucap Juna yang masih ada di sana bersama Opanya. Tangan kanannya terulur ke atas bahu Robert, lalu menepuknya pelan.


"Iya." Robert mengangguk cepat. "Terima kasih ya, Jun, sudah jenguk Opa dan Omaku. Terima kasih juga buat Opa Angga," tambahnya, lantas mencium punggung tangan Opa Angga.


"Sama-sama." Opa Angga mengangguk dan tersenyum. "Kalau nanti Daddymu menikah, jangan lupa undang Opa, ya, Rob," pintanya seraya mengusap puncak rambut Robert.


"Siap Opa!" Robert mengangguk dengan semangat, lalu melambaikan tangannya saat Juna juga melambai sambil melangkah pergi bersama Opanya.


"Ustad, kita ngobrol sebentar boleh?" tanya Abi Hamdan kepada Ustad Yunus yang berdiri di samping Sandi.


Ustad Yunus langsung menoleh. "Boleh, Tad, mau di mana?"


"Kita keluar dulu dari sini, biar cari tempat yang enak buat mengobrol. Tapi empat mata saja."


"Iya." Ustad Yunus mengangguk, kemudian melangkah saat Abi Hamdan sudah melangkah lebih dulu.


"Bi! Tunggu, Bi!" teriak Syifa yang mengejar, lantas meraih cepat tangan kanan sang Abi hingga membuatnya menghentikan langkah. Tapi dia sama sekali tak menoleh, malah menepis tangan Syifa dengan kasar. "Apa yang Pak Joe ucapkan semuanya bohong, Bi! Aku dan dia nggak pernah melakukan hal apa pun. Apalagi sampai hamil. Itu bohong!" tegasnya.

__ADS_1


Syifa masih membela diri, berupaya membersihkan namanya supaya tak membuat kekecewaan yang terus menerus dia lihat dari manik mata Abinya.


"Kamu pikir Abi bisa percaya, setelah semua hal yang kamu perbuat selama ini?" Dengan suara datarnya, Abi Hamdan lantas melanjutkan langkah kakinya. Untuk menaruh kepercayaan itu kini sudah sirna. Abi Hamdan sudah tidak bisa percaya lagi padanya.


"Harusnya Abi itu ...." Syifa hendak mengejar kembali Abi Hamdan, masih berusaha menjelaskan. Namun, tangan kanannya langsung dicekal oleh Umi Maryam. Dan itu membuatnya seketika menoleh.


"Nggak perlu dikejar, Fa, sebaiknya kita tunggu di sini saja," titahnya seraya menarik tangan sang anak. Kemudian mengajaknya duduk bersama di sofa panjang, di depan kamar inap Papi Paul.


"Umi harus percaya sama aku, aku dan Pak Joe nggak pernah melakukan zina, Mi! Dan aku nggak lagi hamil!" tegas Syifa dengan gelengan kepala. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Umi Maryam.


Robert yang sejak tadi berdiri mematung langsung berlari menghampiri, kemudian memeluk tubuh Syifa tanpa izin.


Syifa sendiri terlihat diam saja. Membalas tidak dan melarangnya pun tidak.


"Umi percaya sama kamu, Fa," jawab Umi Maryam pelan.


"Kalau percaya, terus kenapa Umi nggak menjelaskan sama Abi?" Setidaknya, Syifa ingin namanya bersih dari fitnah-fitnah. "Dan kira-kira, apa yang mau Abi obrolkan kepada Ustad Yunus?"


"Buat apa Umi menjelaskannya?" Alis mata Umi Maryam tampak bertaut. "Toh, kamu dan Joe juga akan menikah, jadi untuk apa?"


"Tapi nggak begini juga caranya." Syifa geleng-geleng kepala. "Kalau misalkan aku menikah dengan Pak Joe terus nggak punya anak gimana, Mi? Pasti orang tua Pak Joe juga ikut kecewa karena merasa dibohongi."


"Kalau sudah bikin insyaAllah akan punya, Fa," jawab Umi Maryam dengan yakin.


Syifa mendekat, lalu berbisik ke telinga kanan Umi Maryam. "Tapi Pak Joe 'kan baru disunat kemarin-kemarin. Tongkatnya pasti masih berdarah, memang bisa?"


"Bisa gimana maksudmu?" tanya Umi Maryam bingung menatap anaknya.


"Ya bisa itu ...."


"Itu apa?"


"Ih, masa Umi nggak ngerti?" Syifa mendengkus kesal.


"Ya kamunya ngomong sepotong-sepotong, Umi mana ngerti."


"Yang disunat itu apanya coba?"


"Tongkatnya."


"Ya itu tongkatnya masih berdarah. Mana bisa aku dan dia ...." Syifa langsung menggantung ucapannya, sebab merasa malu untuk meneruskan. Wajahnya pun ikut memerah sekarang.


"Ya bikinnya nggak langsung juga kali, Fa. Tunggu tongkatnya kering, aneh-aneh saja kamu ini," kekeh Umi Maryam sambil geleng-geleng kepala. "Paling seminggu juga kering, sabarlah kamunya. Kok kamu yang udah kebelet sekarang?" Mengedipkan sebelah matanya, lalu menyenggol bahu Syifa. Mulai menggoda anak perawannya.


"Enak saja!" ketus Syifa seraya mencebik bibirnya. Lantas memalingkan wajahnya yang makin merah. "Siapa juga yang nggak sabar?! Itu mah Pak Joenya aja kali, bukan aku."


...Apa iya, Fa 🤣 bukannya situ udah banyak ngayal juga, ya?...

__ADS_1


...Jangan lupa kasih vote sama hadiahnya, Guys! biar semangat up, sebentar lagi menuju ending 🤭...


__ADS_2