
Keesokan harinya di rumah Joe.
Di ruang makan, sehabis sarapan, Joe tengah menyuapi Robert obat sirup.
Meskipun memang sel kanker itu sudah diangkat, tapi Dokter menyarankannya untuk rutin minum obat pencegahan pertumbuhan kanker, serta obat vitamin juga supaya tubuh Robert selalu fit.
Hari ini, Robert berencana ingin masuk sekolah lagi, sebab dirinya sudah sangat rindu dengan teman-temannya tentu dengan Syifa juga yang akan mengajarinya.
"Kalau kamu masih lemes, nggak apa-apa kalau mau libur sekolah lagi. Atau mau sekolah di rumah saja, nanti biar Daddy bayar guru privat, Sayang," ujar Joe seraya mengusap sisa air di bibir atas anaknya dengan secarik tissue.
"Nggak mau, Robert mau masuk sekolah!" sahut Robert penuh semangat. "Kata Bu Syifa juga, Robert musti semangat sekolah, Dad. Dan Robert kepengennya sekolah di sekolah, bukan di rumah."
"Tapi mainnya jangan terlalu capek nanti, ya? Kamu 'kan baru sembuh. Ingat juga makanan dan minuman apa yang pernah Daddy kasih tau untuk nggak boleh kamu konsumsi," tegur Joe mengingatkan.
"Siap bosku!" Robert mengangkat tangannya dengan hormat, lalu menganggukkan kepala. "Oh ya, Dad, jadi Daddy dan Bu Syifa kapan menikahnya? Kemarin ... Opa ngomong apa saja sama Daddy?" tanyanya penasaran.
"Nikahnya nanti, kalau semua syarat dari Opa Hamdan terpenuhi. Tapi rencana sih, hari ini Daddy dan Bu Syifa akan bertunangan, setelah Daddy resmi menjadi orang Islam," jelasnya.
"Wah ... Robert sudah nggak sabar." Bola mata Robert tampak berbinar. Wajahnya pun begitu berseri. "Tapi, Dad, memangnya ... syarat dari Opa Hamdan itu apa saja?"
"Syaratnya banyak, Sayang. Daddy disuruh ...." Ucapan Joe seketika terhenti, saat ada dua orang melangkah menghampiri dengan mendorong sebuah koper.
"Selamat pagi, cucu Opa dan Oma satu-satunya!" seru mereka berdua yang mana membuat Joe dan Robert menoleh.
"Opa! Oma!" Robert membelalakkan matanya, merasa terkejut tapi terlihat begitu girang, sebab mereka berdua ternyata adalah kedua orang tua Joe. Cepat-cepat, dia turun dari kursi, lalu menghamburkan pelukan kepada salah satu dari mereka.
"Cucu Oma sudah besar ya, sekarang!" seru perempuan berambut hitam pendek sebahu serta berponi. Kulitnya putih, bermata sipit dan sangat cantik meskipun umurnya sudah tak lagi muda. Dia adalah Yeri Anderson, Mami dari Joe.
Dia terdengar lancar dan begitu fasih berbahasa Indonesia, sebab memang sudah lama tinggal di Indonesia sejak masih duduk dibangku kuliah.
Pria paruh baya disampingnya adalah Paulus Anderson. Dia Papi dari Joe.
Wajah Joe dan Robert sendiri kombinasi dari dua orang di depannya. Tampan dan cantik campuran Chinese.
__ADS_1
"Mami dan Papi kapan pulang?" Joe berdiri, kemudian melangkah mendekat ke arah orang tuanya. Setelah itu dia membungkukkan badan, sebelum memeluk keduanya.
Sama halnya seperti Robert, dia juga merasa senang dengan kehadiran Yeri dan Paul. Tentunya, hari ini adalah hari penting untuk dirinya yang akan masuk Islam dan berniat bertunangan dengan Syifa.
"Kami baru sampai ini, Joe," sahut Papi Paul seraya mengusap puncak rambut Joe, sedangkan Yeri mencium pipi kanan Joe. "Papi dan Mami bawakan oleh-oleh untuk kalian, ada baju-baju dan mainan untuk Robert," tambahnya.
Mereka berdua berada di Korea selama satu tahun lamanya, dan baru pulang sekarang.
"Kamu dan Robert apa kabar? Mami kangen sama kalian," ujar Mami Yeri.
"Kabar kami baik, Oma!" Yang menyahut Robert. Bocah laki-laki itu sejak tadi memeluk tubuh Yeri dan sekarang, tubuhnya terlihat begitu enerjik. Dia lompat-lompat kegirangan. "Sebentar lagi, Opa dan Oma punya menantu baru lho!" tambahnya memberitahu.
"Menantu baru?!" Keduanya berucap secara bersamaan. Menatap juga ke arah Joe.
"Apa benar itu, Joe? Sebentar lagi kamu akan menikah lagi? Tapi sama siapa?" tanya Papi Paul.
"Namanya Syifa, Pi. Dia seorang guru SD."
"Guru SD?! Oh, bagus itu." Paul menganggukkan kepalanya. Kemudian mengajak Joe, Robert serta Mami Yeri menuju ruang keluarga. Kemudian duduk di sana. Mengajak ngobrol sembari melepaskan rindu. "Guru SD-nya Robert bukan, Joe?" tanyanya.
"Padahal Mami sudah ada rencana ingin mengenalkan kamu sama teman anak Mami lho, Joe," ujar Mami Yeri yang duduk bersama Robert dalam pangkuan. "Tapi nggak apa-apa kalau memang kamu sudah punya pacar, malah Mami ikut senang."
"Udah berapa lama kamu pacaran sama Syifa? Terus bagaimana orangnya? Apa dia baik, cantik dan menyayangi Robert?" tanya Paul penasaran. Dia duduk di sofa panjang bersama Joe.
"Dia perempuan yang sempurna, Pi, dan tentunya sayang Robert juga. Tapi aku nggak pacaran sama dia, niatku memang ingin langsung menikahinya," jelas Joe. "Aku sama Abinya sudah sepakat ... kalau hari ini aku dan Syifa akan bertunangan. Dia juga meminta Papi dan Mami datang bersamaku."
"Abinya itu siapanya Syifa?" tanya Papi Paul bingung.
"Papinya. Syifa memang selalu memanggil Papinya dengan sebutan Abi," jawab Joe.
"Kok dadakan Joe? Kenapa nggak memberitahu dulu, sebelum kamu ingin bertunangan dengannya?" Sebagai seorang Ayah, tentunya Papi Paul perlu tahu, jika anak semata wayangnya bisa berumah tangga lagi.
"Sebenarnya nggak dadakan, Pi, hanya saja baru sekarang ... Abinya bisa merestuiku," jawab Joe. Dia sendiri memang tidak tahu jelas, alasan dari Abi Hamdan yang tiba-tiba merestuinya.
__ADS_1
Joe hanya beranggapan itu semua karena dirinya berniat menjadi mualaf, padahal sebenarnya karena kesalahpahaman akibat kebakaran tongkat.
"Alasan nggak merestuinya karena apa memangnya?" tanya Papi Paul lagi.
“Karena ...."
"Daddy! Ayok kita ke sekolah! Ini sudah mau jam 7, Robert takut telat!" rengek Robert seraya turun dari pangkuan Mami Yeri, kemudian mendekat ke arah Joe.
"Aku mau antar Robert ke sekolah dulu, ya, Pi, Mi," pamit Joe seraya berdiri. Robert langsung berlari menuju ruang makan untuk mengambil ransel, setelah itu dia kembali sambil menggendong benda tersebut pada punggungnya.
"Hati-hati, Joe," ucap Papi Paul.
"Iya, Pi." Joe mengangguk, kemudian membungkukkan badannya begitu pun dengan Robert.
"Mami ikut mengantar Robert juga dong, Joe, Mami mau sekalian bertemu dengan Syifa," pinta Mami Yeri seraya berdiri.
"Ayok," ajak Joe. Kemudian melangkah lebih dulu sambil menggendong Robert.
***
"Fahmi! Mau ke mana kamu?" tanya Pak Haji Samsul, saat melihat anak bungsunya hendak masuk ke dalam mobil Lamborghini di depan halaman rumah mewahnya.
Fahmi langsung menoleh. "Aku mau ke rumah Abi Hamdan, Pa."
"Ustad Hamdan? Mau ngapain? Dan apa yang kamu pakai?" Pak Haji Samsul melangkah menghampiri. Kemudian menatap Fahmi dari ujung kaki hingga kepala. Pria itu memakai sarung dan jas, warna sarung dan jasnya mirip dengan pakaian yang dipakai Joe kemarin.
"Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?" Fahmi menurunkan pandangan, kemudian memerhatikan pakaian yang dikenakannya.
"Nggak sih, cuma tumben saja kamu pakai jas dengan sarung. Biasanya baju koko atau kemeja pendek."
"Lagi kepengen saja, Pa. Ya sudah, aku pergi dulu, ya?" Fahmi pun masuk ke dalam mobil, kemudian menutup pintunya.
"Tapi mau ngapain kamu masih menemui Ustad Hamdan, Mi?" Pak Haji Samsul memasukkan seluruh lengannya pada jendela mobil Fahmi yang terbuka. Itu dilakukannya supaya menghalangi sang anak untuk pergi.
__ADS_1
"Aku mau menemuinya, aku ingin Abi Hamdan membuka matanya."
...Lha, emang selama ini dia merem? 🤣...