Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
12. Semoga sukses dan Syifa mau menerimaku


__ADS_3

"Tapi kalau misalkan dijodohkan aku nggak mau ah, Bi." Syifa menggeleng cepat. Padahal Abi Hamdan tak mengatakan tentang penjodohan, tapi bisa-bisanya dia berpikir demikian.


"Siapa juga yang mau jodohin kamu, Fa?" kekeh Abi Hamdan sambil geleng-geleng kepala. "Ah, tapi bagus juga sih, kalau kamu nikah sama dia. Cocok kayaknya, perjaka sama gadis."


"Aku nggak mau, Bi," tolak Syifa.


"Iya, iya, nggak. Kan Abi bilang nggak ngejodohin kamu tadi, Fa. Tenang aja sih," sahut Abi Hamdan kembali terkekeh. 'Nanti pas sudah ketemu langsung pasti kamu juga suka sih, Fa, Abi jamin. Si Fahmi 'kan sebelum ke Kairo aja udah ganteng banget, apalagi pas baru pulang dari Kairo?' batinnya.


***


Di rumah Joe.


Tok ... Tok ...Tok.


Joe yang tengah menyisir rambutnya di depan meja rias langsung cepat-cepat menyelesaikannya. Sebab terdengar suara ketukan pintu dari kamar.


"Mandinya cepetan, Rob! Daddy tunggu di bawah, ya!" seru Joe seraya melangkah menuju pintu. Sang anak memang saat ini sedang mandi dan kebetulan pintu kamar mandinya tidak ditutup.


"Siap bosku!" sahut Robert memekik.


Ceklek~


Pintu itu pun Joe buka dan di depannya ada wanita berdaster. Dia bernama Bi Een, pembantu rumah tangganya.


"Pagi Pak Joe, maaf Bibi nganggu. Itu di bawah ada Pak Sandi. Ada perlu sama Bapak katanya," ucap wanita itu memberitahu.


"Iya, Bi. Terima kasih." Joe tersenyum kemudian melangkah menuruni anak tangga. Tepat di ruang tamu, Sandi berdiri dengan memegang buket bunga mawar berukuran sedang dan paper bag kecil. "Kok bawa bunga, San? Mau melamar siapa kamu?" tanyanya.


"Bunga ini pesanan dari Dek Robert, katanya untuk Bapak yang ingin menyatakan cinta kepada gurunya." Sandi menyerahkan bunga tersebut, berikut dengan paper bagnya. "Dan di dalam paper bag itu adalah cincin, Pak," tambahnya.


"Cincin?!" Joe mengambil itu semua, kemudian merogoh isi di dalam paper bag. Ada sekotak perhiasan berbentuk love, warnanya merah. Setelah dibuka ternyata itu sebuah cincin berlian yang memiliki diamond di tengahnya. Terlihat begitu cantik, mengkilap dan mewah. "Terus ini cincinnya buat siapa? Dan ini bagus banget, San."


"Ya itu buat gurunya juga, Pak. Adek Robert yang meminta saya untuk membelikannya."


"Kapan dia memintamu untuk membelikan semua ini?" tanya Joe heran.


"Semalam, Pak."


"Terus, pakai uang siapa?"


"Pakai uang dia, Pak. Semalam Dek Robert mentransfernya ke rekening saya."


Joe sendiri memang membuatkan Robert rekening sendiri, tapi isi tabungan uang itu boleh dipakai kalau misalkan Robert tak pegang uang sama sekali. Dan untuk keperluan terdesak juga tentunya.

__ADS_1


Kalau sekedar ingin membeli jajan, tentunya Joe memberikannya uang secara cash.


'Robert bener-bener niat banget, sampai dia rela membelikan semua ini dari tabungannya,' batin Joe. "Mmmm ... Berapa harganya semua ini, San?" tanyanya menatap Sandi.


"Harga cincinnya 50 juta, sedangkan bunganya 10 juta, Pak," jelas Sandi.


"Oh ya sudah, terima kasih, ya!" ucap Joe sambil tersenyum.


"Sama-sama, Pak," sahut Sandi. "Tapi, Pak, saya boleh nggak ... izin hari ini nggak mengantar Dek Robert dulu, soalnya saya mau mengantar Mama saya yang ingin operasi. Tapi nanti siang saya bisa jemput Dek Robert."


"Boleh, kebetulan memang aku kok yang mau mengantarnya," balas Joe dengan anggukan kepala. "Tapi ngomong-ngomong ... Mamamu sakit apa, sampai ingin dioperasi segala?"


"Sakit bisul dia, Pak."


"Lho, kok bisul sampai dioperasi segala?" Kening Joe tampak mengernyit heran. "Kan tinggal dipencet juga beres, San, kalau udah mateng."


"Udah sering dipencet, tapi nggak sembuh-sembuh, Pak," sahut Sandi.


"Pencetnya tunggu dia mateng. Pas udah ijo."


"Itu juga nunggu ijo dan keluar nanah, tapi tetep aja nggak sembuh, malah makin gede, Pak. Saya jadi khawatir ... apalagi Mama saya sering ngeluh nggak bisa tidur."


"Oh, kalau begitu mah nggak masalah kalau memang mau dioperasi. Tapi kamu butuh biaya tambahan nggak?" tawarnya.


"Bukan." Joe menggeleng. "Mau kukasih, kalau emang kamu butuh dana tambahan buat operasi."


"Kalau buat operasi sih udah ada, Pak. Tapi kalau Bapak mau ngasih lagi ya syukur alhamdulillah." Sandi mengulum senyum. Siapa juga orangnya yang tidak mau dikasih rezeki, kan? Tentu dia tidak akan menolaknya.


"Boleh. Mau berapa kamu?" Joe merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi m-banking.


"Terserah Bapak mau ngasihnya berapa. Yang penting ikhlas saja."


"Udah kukirim. Kamu bisa mengeceknya," ucap Joe setelah berhasil melakukan transaksi.


Sandi langsung merogoh saku dalam jasnya saat mendengar bunyi ponsel tanda notifikasi pesan masuk. Dan setelah dibuka, ternyata ada nominal 25 juta.


"Wah, alhamdulillah banget. Terima kasih, Pak, ini besar sekali." Sandi langsung mencium tangan Joe dan pria itu lantas mengelus pundaknya.


"Sama-sama. Semoga operasinya lancar, ya! Dan Mamamu selalu sehat," ucap Joe.


"Amin ya Allah. Semoga saja kebaikan Bapak dibalas sama Allah. Saya juga akan do'akan semoga acara Bapak yang ingin menyatakan cinta berjalan sukses dan diterima, lalu kalian hidup bahagia bersama. Dek Robert pasti ikut berbahagia."


"Amin. Terima kasih, San."

__ADS_1


"Bapak nggak perlu berterima kasih. Ya sudah ya, Pak, saya permisi kalau begitu." Sandi membungkuk sopan, kemudian pamit dan melangkah pergi dari rumah Joe.


Pria tampan bermata sipit itu langsung menutup kotak cincin, lalu memasukkannya ke dalam saku jas.


***


Beberapa menit kemudian, tak terasa Abi Hamdan dan Syifa akhirnya sampai di depan gedung sekolah.


Kedatangan mereka pun ternyata bertepatan sekali dengan kedatangan Joe dan Robert yang menaiki sebuah mobil. Akan tetapi, pria di dalam sana langsung mencekal pergelangan tangan sang anak saat dia hendak membuka pintu mobil.


"Tunggu dulu, Rob!" cegah Joe yang mana membuat bocah itu menoleh.


"Kenapa memangnya?" tanya Robert heran. "Itu ada Bu Syifa sama Abinya, Dad, katanya Daddy mau menyatakan cinta hari kalau ketemu lagi dengannya." Robert menunjuk ke arah depan, tepat mereka berada. Dia kembali menagih ucapan Joe, dan kali ini dengan harapan akan berjalan sukses.


"Iya, Daddy akan menyatakan cinta kepadanya, tapi tunggu Abinya pergi dulu. Soalnya Daddy takut." Baru melihat wajahnya saja, Joe sudah merinding. Aneh sekali rasanya.


Joe memerhatikan Syifa yang tengah mencium punggung tangan Abi Hamdan, lalu memberikan helm yang dia lepaskan dari kepalanya. Setelahnya pria berkumis serta berjenggot itu berlalu pergi dengan motornya, meninggalkan gedung sekolah.


"Ayok kita turun," ajak Joe seraya melepaskan cekalan tangan dan turun dari mobilnya duluan sembari membawa buket bunga mawar. Sekarang sepertinya memang sudah aman.


"Pagi Bu Syifa!" seru Robert yang baru saja turun dari mobil, kemudian langsung menghamburkan pelukan kepada Syifa yang baru saja menoleh.


Perempuan yang tengah melangkahkan kakinya sontak terperanjat, sebab apa yang dilakukan bocah itu sangat spontan.


"Ah ya, pagi," sahut Syifa seraya mengusap rambut kepala Robert. "Kamu ini kebiasaan ya, Rob, suka ngagetin Ibu."


"Maaf, Bu, hehe," kekeh Robert dengan memamerkan deretan gigi putihnya, kemudian merelai pelukan.


"Maaf, apa Bu Syifa ada waktu?" tanya Joe dengan kaki yang melangkah pelan menghampiri. Buket bunga berukuran sedang itu dia sembunyikan dibalik punggungnya, dan sekarang dirinya tengah mengatur napasnya berkali-kali sebab merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Ada apa, ya, Pak?" Syifa menatap ke arah Joe sebentar, lalu beralih ke jam tangannya yang menunjukkan pukul 6.30. "Setengah jam lagi masuk kelas, tapi kalau Bapak ada perlu denganku bisa masuk ke dalam ruang guru." Yang Syifa pikirkan—Joe pasti memiliki keperluan mengenai anaknya, itu saja.


"Di kantin saja, Bu. Kalau di ruang guru pasti banyak guru yang lain," pinta Joe. Tidak mungkin juga, dia menyatakan cinta di depan guru-guru yang lain. Bisa-bisa Syifa merasa malu nantinya.


"Lho, kenapa memangnya?" Kening Syifa tampak mengernyit menatap Joe.


"Ada hal penting. Sebentar saja, Bu, ayok kita ke kantin," ajak Joe lembut.


"Eemm ... ya sudah, tapi hanya sebentar ya, Pak." Syifa mengangguk, kemudian melangkah lebih dulu menuju kantin.


Robert yang melihatnya segera memeluk tubuh sang Daddy, lalu mengusap punggungnya dengan lembut. "Semoga sukses ya, Dad! Dan semoga Tuhan Yesus memberkati pada setiap langkah Daddy."


"Amin. Terima kasih, Sayang." Joe membungkuk untuk bisa mencium kening Robert. Setelah pelukan itu terlepas, dia pun langsung menyusul Syifa ke kantin. 'Tuhan ... semoga sukses dan Syifa menerimaku,' batinnya penuh harap.

__ADS_1


...Amin, Om, semoga 🤲...


__ADS_2