
"Apa kau waras?! Tanya seperti itu padaku?" tanya Abi Hamdan tak habis pikir. Dia juga sampai geleng-geleng kepala.
"Aku waras, Pak. Aku ingin Syifa menjadi istriku. Bapak juga jangan sampai menikahkan Syifa dengan Fahmi," pinta Joe dengan raut memohon.
Abi Hamdan terkekeh, tatapan matanya kini terlihat seperti merendahkan Joe. "Memang kenapa? Apa itu masalah buatmu? Fahmi itu jauh di atasmu dari segala hal, Jon. Selain itu kau dan Syifa itu berbeda. Apa sampai sekarang kau nggak mengerti juga?"
"Mungkin Pak Joe mau jadi mualaf, Bi," sahut Umi Maryam yang sejak tadi berdiri di samping Abi Hamdan.
"Hus! Umi ini bicara apa?!" tekan Abi Hamdan marah. Dia menoleh pada sang istri dengan mata melotot. "Seseorang yang mau masuk Islam itu harus dengan keimanan, percaya akan Allah yang satu-satunya adalah Tuhan semesta alam. Bukan hanya karena ingin menikah dengan seorang gadis idamannya. Itu sama sekali nggak boleh, Mi!"
"Jadi apa aku harus—"
"Lebih baik kau pulang saja sekarang!" sergah Abi Hamdan yang menyela ucapan Joe. Dia merasa malas sekali membahas masalah pernikahan anaknya dengan dirinya, yang jelas Abi Hamdan sangat tak setuju.
Joe sudah membuka mulut. Entah ingin berucap apa, tapi Abi Hamdan sudah menarik Umi Maryam untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Joe yang bahkan sama sekali belum pamit.
"Abi kok langsung pergi begitu saja? Padahal Pak Joe mau ngomong tadi," ucap Umi Maryam yang tampak penasaran dengan perkataan Joe yang belum usai.
"Halah, paling nggak penting," sahut Abi Hamdan tak peduli. Segera, dia menutup pintu utama rumahnya, lalu menguncinya.
"Tapi kalau benar Pak Joe mau jadi mualaf 'kan itu bagus, Bi. Berarti dia dapat hidayah."
"Bodo amat, ngapain ngurusin si Jojon. Nggak penting banget." Mendengkus kesal, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Umi Maryam segera berlari menyusul sang suami. "Kalau pun semisalnya dia masuk Islam beneran, Abi tetap nggak merestuinya menikah dengan Syifa, Mi."
"Kenapa?"
"Kok kenapa? Kan sudah ada Fahmi calon suami Syifa." Abi Hamdan langsung merengut menatap istrinya yang baru saja duduk di atas kasur. "Umi memangnya lupa, baru tadi di restoran kita membahas masalah pertunangan Syifa dengan Fahmi, kan?"
"Tapi Syifanya 'kan nggak mau sama Fahmi, Bi. Masa kita paksa dia? Kan kasihan." Umi Maryam di sini tak memihak kepada siapa pun. Yang dia inginkan adalah Syifa bahagia.
Akan tetapi lagi-lagi, sebagai seorang istri yang taat, tentu dia tidak pernah bisa membantah ucapan dari suaminya. Apalagi pria itu sangat keras kepala ketika menginginkan sesuatu.
"Syifa pasti mau. Dia itu hanya gengsi. Perempuan 'kan memang awalnya begitu. Malu-malu tapi mau."
***
Di rumah sakit.
__ADS_1
Joe menatap langit-langit kamar inap Robert, dia saat ini tengah berbaring di atas sofa di dekat ranjang anaknya.
Niatnya ingin tidur, karena hari sudah sangat larut. Tapi lagi-lagi, rasa kantuk itu selalu hilang. Setiap malamnya.
Itu disebabkan bayangan wajah Syifa yang tengah tersenyum kepadanya seperti berada dipelupuk mata. Joe tidak bisa berhenti untuk terus memikirkannya.
"Haahh ...," desaah Joe pelan. Perlahan dia mengusap kasar wajahnya, lalu menoleh ke arah Robert. Bocah itu terlihat begitu lelap dari tidurnya. 'Rob ... kenapa, ya, semenjak pertama kali Daddy bertemu Bu Syifa ... Daddy setiap malam nggak pernah bisa tidur. Bu Syifa selalu ada diotak Daddy.'
Joe menarik tubuhnya untuk bangun, kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu.
Ceklek~
Pintu itu pun dibuka. Ada Sandi di depan sana tengah duduk di kursi panjang. Dirinya langsung berdiri, saat melihat kehadiran sang bos.
"Bapak kok belum tidur? Ini sudah malam lho, Pak," ucap Sandi.
"Aku nggak bisa tidur, San. Pusing kepalaku." Joe menyentuh kepalanya.
"Bapak mau saya belikan obat?" tawar Sandi.
Joe melangkah keluar, lalu menutup pintu. Punggungnya menyandar pada pintu "Ini bukan pusing penyakit. Tapi pikiran. Akhir-akhir ini aku memang nggak pernah bisa tidur karena terus menerus memikirkan Syifa, San," keluh Joe dengan murung. Selain menjadi sopir sekaligus bodyguard, Sandi juga selalu menjadi teman curhat Joe karena sangking sudah akrabnya. "Padahal niatku dari kemarin-kemarin setelah ditolak mau mencoba melupakannya. Tapi kok susah, ya, San. Apalagi tadi habis ketemu."
"Aku juga maunya begitu, San," sahut Joe dengan wajah yang tampak frustasi. Hatinya begitu bimbang, tapi disisi lain ada rasa takut kehilangan. "Tapi akunya bingung, masa aku harus rela meninggalkan Tuhanku karena aku ingin menikah lagi? Kalau begitu 'kan nggak boleh. Kata Abinya Syifa juga kalau kita ingin jadi mualaf ... itu harus dari keimanan, San," tambahnya. Perlahan Joe pun meraih sebuah kalung berliontin salib dilehernya, lalu memandanginya.
"Iya, sih." Sandi mengusap tengkuknya. Dia jadi ikut-ikutan pusing jadinya. "Berarti Bapak mulai sekarang harus memantapkan hati Bapak dulu, sebelum mengambil keputusan. Jangan sampai Bapak salah langkah," usulnya lagi.
"Kalau memantapkan hati, kira-kira akan berapa lama, ya? Aku takut kayaknya."
"Takutnya kenapa, Pak?" tanya Sandi heran.
"Takut Syifa keburu diambil Fahmi."
"Fahmi?" Kening Sandi tampak mengernyit. "Siapa Fahmi?"
"Pria yang dikenalkan Abinya. Aku punya firasat jika Abinya berniat menjodohkan Syifa."
"Tapi ini zaman modern, Pak, nggak mungkinlah masih ada perjodohan," kekeh Sandi.
__ADS_1
"Ah bisa saja, San."
"Mudah-mudahan sih nggak, ya, Pak. Sekarang lebih baik Bapak ngopi saja bagaimana? Untuk menghilangkan stress?" tawar Sandi. Dia sudah kehabisan ide untuk memberikan saran, jadi hanya menawari kopi yang ada di otaknya sekarang.
"Boleh deh." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya. "Beli di cafe depan, San, kopi hitam."
"Apa cemilannya juga sekalian?"
"Nggak usah," tolak Joe. "Kopi saja."
"Saya permisi dulu kalau begitu." Sandi pun membungkukkan badannya dengan sopan, kemudian melangkah pergi.
Setelah kepergian Sandi, Joe langsung berbalik badan, lalu melangkah membuka pintu.
Baru saja dia hendak masuk lagi ke dalam kamar inap Robert, tapi tiba-tiba saja pundak kirinya ditepuk dari belakang dan sontak membuatnya terperanjat. Cepat-cepat dia pun menoleh.
"Kakek?!" Joe seketika membulatkan matanya saat melihat di samping kiri ada seorang Kakek tua. Dia kakek tua yang sama, yang memberikan Joe Al-Qur'an.
"Bagaimana kabar anakmu?" tanyanya.
Joe langsung memerhatikan Kakek itu. Dari ujung kaki hingga kepala. Dia memakai pakaian yang sama, seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Juga dengan menenteng sebuah karung putih. Hanya saja Joe merasa aneh, sebab dia memakai sepatu boot berwarna putih.
'Apa dia terkena banjir?! Tapi kok dia bisa ada di sini dan tau Robert dirawat?' batin Joe heran.
Sekarang, dia mengucek kedua matanya, lalu perlahan meraba wajah keriput sang Kakek. Ingin memastikan jika pria tua yang sudah setengah abad lebih itu adalah benar manusia, bukan makhluk halus yang Sandi kira.
"Kamu kenapa, Nak? Kok kelihatan seperti terkejut begitu? Dan kenapa meraba wajahku seperti ini?" Kakek tua itu segera menarik tangan Joe, saat dimana pria itu sudah memasukkan jarinya ke lubang hidung. Dia sendiri merasa heran, mengapa Joe sampai seperti itu.
"Kakek ini manusia, kan?" tanya Joe penasaran.
"Kelihatannya?"
"Ya manusia. Tapi kenapa sopirku Sandi nggak bisa melihat Kakek?" tanya Joe heran dengan kening yang mengernyit. "Dia berpikir aku hanya berhalusinasi," tambahnya.
"Karena memang aku datang untuk membantumu. Jadi hanya kamu saja yang bisa melihatku," jawab Kakek itu. Dia pun menerobos masuk ke dalam kamar, kemudian melangkah mendekat ke arah Robert.
"Membantu?! Membantu apa?" Joe langsung berlari menghampiri Kakek tua.
__ADS_1
"Kan aku sudah memberikanmu pedoman hidup. Bukannya sudah kamu baca juga, kan? Tapi kenapa sampai sekarang kamu belum menyembah Allah?" Tangan Kakek perlahan menjulur ke arah dahi Robert, lalu mengusapnya secara perlahan sembari berkumat-kamit entah membaca apa.
^^^Bersambung....^^^