Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
87. Saya terima nikah dan kawinnya


__ADS_3

Semuanya telah berkumpul kembali. Di kamar inap Mami Yeri dan Papi Paul. Mungkin, hanya Umi Maryam saja yang tidak ada di sana. Sebab menunggu Syifa di UGD bersama Bibi pembantu di rumah Joe.


Joe, Abi Hamdan, Robert, Ustad Yunus, Pak RT, Sandi serta Pak Penghulu yang bernama Dylan, semuanya sedang duduk lesehan bersila di atas tikar.


Di depan Joe, sudah ada meja kecil. Ada mahar berupa satu paket emas murni, seperangkat alat sholat, sepasang cincin, dan beberapa berkas syarat nikah.


Juga ada akta nikah serta sertifikat mualaf. Itu semua akan ditanda tangani setelah proses ini selesai.


Pria tampan bermata sipit itu mengenakan stelan jas berwarna putih dengan dasi yang berwarna putih juga. Dan sepertinya, Sandi memang mengerti dengan keadaan Joe. Sebab stelan jasnya itu menggunakan sarung putih, bukan celana bahan.


Sebelum dia duduk, dia sudah berwudhu. Dengan ditemani Sandi juga tentunya.


"Sudah siap, Jon?" tanya Abi Hamdan, yang duduk di sebelah Penghulu Dylan. Dia menatap wajah Joe yang tampak begitu ceria, bahkan sejak tadi deretan gigi putihnya ditonjolkan.


Joe benar-benar merasa sangat bahagia sekali, bisa sampai dititik ini.


"Sudah, Pak." Joe mengangguk cepat penuh semangat.


"Sekarang, berikrar lah tentang niatmu ingin masuk Islam," perintah Abi Hamdan.


Joe membuang napasnya perlahan, lalu dia pun menatap orang tuanya yang berada di atas ranjang sambil tersenyum manis.


Mami Yeri terlihat sama seperti Joe, yakni tersenyum manis dan dia juga tentunya ikut senang. Akan tetapi, tidak dengan Papi Paul. Bola mata pria itu terlihat becek, wajahnya pun tampak begitu sendu.


'Tuhan Yesus maafkan aku, yang nggak bisa menolak permintaan Joe sehingga dia menjadi mualaf,' batin Papi Paul. 'Ini semua karena kesalahannya bersama Syifa. Tolong maafkan lah anakku Jonathan, atas semua yang telah terjadi.'


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Hal pertama yang Joe ucapkan tentunya adalah salam.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka semua yang ada di sana. Terkecuali Papi Paul, yang masih sibuk dengan pikirannya.

__ADS_1


"Aku Jonathan Anderson. Aku lahir dari keluarga Kristen Protestan. Dan atas izin Allah serta orang tuaku ... aku ingin masuk Islam," ujar Joe.


Sorotan matanya pun menatap sekitar dan terhenti di depan pintu, sebab dia melihat Kakek Tua berada di sana. Tengah berdiri sambil memegang karung dan tersenyum manis menatapnya.


Pakaian Kakek itu terlihat sama, seperti awal-awal Joe melihatnya. Akan tetapi Joe heran sendiri, mengapa dia bisa ada di sana?


'Lho, kok Kakek Tua itu ada di sini juga? Apa Abinya Syifa mengenalnya, sehingga dia diundang?' batin Joe bertanya-tanya. Sorotan matanya pun kini turun ke kakinya yang memakai sepatu boot berwarna putih. 'Itu sepatu juga nggak ganti-ganti. Orang mana sih, dia, kok bisa kebanjiran? Kan Jakarta nggak hujan.'


"Hei, Jon! Kenapa kau bengong!" seru Abi Hamdan sambil menepuk punggung tangan Joe. Dan seketika membuat pria itu tersentak kaget.


"Ah, ma-maaf-maaf. Aku gagal fokus sama Kakek-kakek, Pak," sahut Joe dengan tergagap.


"Kakek? Kakek siapa?" Abi Hamdan langsung memutar kepalanya ke belakang. Mengikuti arah pandangan mata Joe. Akan tetapi, dia tak melihat apa-apa di sana. 'Mana kakek-kakeknya? Nggak ada Kakek-kakek di perasaan. Hanya Pak RT yang paling tua di sini dan dia belum Kakek-kakek.'


"Silahkan dilanjutkan Pak Jonathan. Dan berpokuslah," tegur Ustad Yunus.


"Alhamdulillah ...," ucap Abi Hamdan sambil tersenyum. Lalu menatap sekitar. "Kita semua akan menyaksikan Jonathan yang akan mengucapkan syahadat."


Joe lantas berkata, "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."


Tanpa bimbingan dari Abi Hamdan atau Ustad Yunus, Joe mengucapkan kalimat syahadat itu dengan lancar.


"Tolong ucapkan sekali lagi, Pak," pinta Ustad Yunus.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," ucap Joe.


"Alhamdulillah ya Allah," ucap semua orang yang duduk lesehan di sana. Lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mengucap syukur sebab telah menyaksikan seseorang yang sudah mendapatkan hidayah.


"Selamat, Jon ...." Tangan Abi Hamdan terulur ke arah Joe. Dan langsung disambut oleh pria itu. "Mulai hari ini, kau seperti terlahir kembali di dunia sebagai umat muslim. Umatnya Allah yang Maha Esa. Aku harap ... kau akan tetap beragama Islam hingga akhir hayatmu."

__ADS_1


"Amin, ya Allah. Terima kasih, Abi Mertua," sahut Joe sambil tersenyum. Perlahan jabatan tangan itu dilepaskan.


"Silahkan tanda tangan, Pak. Karena Bapak sudah resmi memeluk Islam," titah Ustad Yunus yang menggeser selembar sertifikat di atas meja, kemudian memberikan pulpen ke tangan Joe.


"Iya, Tad." Joe mengangguk, segera dia menandatangani sertifikat itu.


Setelah selesai semuanya. Sekarang tiba saatnya proses ijab kabul itu dimulai.


Seperti biasanya, seorang Ustad memimpin do'a terlebih dahulu. Dan Ustad Yunus lah yang memimpin do'anya.


"Saat kamu berjabat tangan dengan Pak Ustad Hamdan. Ucapkan kalimat ijab kabulnya, Joe. Bunyinya; "Saya terima nikah dan kawinnya Syifa Sonjaya binti Hamdan Sonjaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set emas murni 50,32 gram, tunai!" Penghulu Dylan memberitahu, akan apa yang harusnya Joe ucapkan nanti.


"Iya, Dy." Joe mengangguk, kemudian terdiam sambil mengingat-ingat dan mengucapkan kalimat itu berulang kali dalam hati.


Hingga tiba saatnya, dimana tangan Joe dan Abi Hamdan saling berjabat. Namun mendadak, tangan pria itu terasa bergetar. Jantungnya pun ikut berdegup kencang.


Tampaknya, Joe mulai grogi. Sebab memang ini pengalaman pertamanya akad nikah dengan proses ijab kabul dan tanpa didampingi calon pengantin wanita.


'Syifa, hanya dalam hitungan detik. Aku akan menjadi suamimu, dan memilikimu seutuhnya,' batin Joe sambil tersenyum dan mengingat wajah Syifa yang tengah tersenyum padanya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Jonathan Anderson bin Pilus Anderson—"


"Paulus Anderson, Pak, bukan Pilus Anderson," potong Penghulu Dylan. Sebab memang apa yang diucapkan Abi Hamdan salah.


"Maaf. Akan aku ulangi," ucap Abi Hamdan dengan menganggukkan kepalanya. "Saya nikahkan dan saya kawinnya engkau saudara Jonathan Anderson bin Paulus Anderson dengan anak saya yang bernama Syifa Sonjaya dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat dan satu set emas murni 50,32 gram, tunai!" Abi Hamdan menggerakkan jabatan tangannya, sehingga Joe langsung membuka suara.


“Saya terima ...."


...Ciee ... pada nungguin, ya?🤣 Kasihan deh bersambung 😆...

__ADS_1


__ADS_2