
Beberapa menit kemudian.
Joe yang telah selesai mandi dan berganti pakaian kembali menuju mobil Sandi di parkiran rumah sakit, hendak menaruh baju kotornya.
Sekarang, dia memakai stelan jas berwarna abu tua. Itu pakaian Sandi. Ukurannya memang pas, tapi berhubung tongkatnya belum sembuh—jadi dia merasa tidak nyaman memakai celana bahannya. Meskipun tanpa sempaak.
"Lho, si Robert kok ada di sana?" Dari kejauhan, dia melihat anaknya berdiri bersama seorang perawat pria di pinggir jalan depan gerbang rumah sakit. Wajah bocah itu terlihat cemas dan berkeringat, ditambah kakinya nyeker tanpa sepatu.
Meski langkah kaki Joe terlihat ngangk*ang, tapi dia berusaha mempercepat gerakannya. Supaya tak terlalu lama untuk sampai menghampiri anaknya.
"Sayang, kamu ngapain ada di sini? Nungguin siapa?" tanya Joe penasaran, seraya mengusap puncak rambut Robert.
Bocah itu pun lantas menoleh, lalu menunjuk ke arah barat. "Daddy! Bu Syifa diculik oleh seorang pria, Dad! Ayok kejar dia!" serunya dengan lantang.
"Diculik?!" Joe sontak terbelalak. Tentunya dia merasa terkejut. "Siapa, siapa yang menculiknya, Rob?!" Dengan rasa panik, Joe langsung meraih tubuh anaknya, kemudian berlari menuju mobil Sandi dan masuk bersama ke dalam sana.
Mobil berwarna hitam itu dia tancapkan gas, melaju dengan kecepatan full membelah jalan raya ibu kota.
"Apa kamu kenal orang itu siapa? Dan dibawa ke mana Bu Syifa?" Sembari menyetir, Joe menoleh ke arah Robert. Bertanya dengan wajah penasaran dan penuh kecemasan.
"Orangnya Robert nggak kenal." Robert menggelengkan kepalanya. "Tapi Robert ingat mobilnya, Dad. Dia membawa Bu Syifa dengan mobil berwarna merah, plat nomornya B 4040 PSP."
"Arahnya ke sini mobilnya? Dan terus kenapa kamu nggak minta tolong ke orang-orang, Rob?"
"Arahnya ke sini. Itu tadi Robert nungguin Pak Satpam, Dad, yang bantu ngejar. Dia berdua sama temannya naik motor."
"Oh. Ya sudah, sekarang kamu telepon kantor polisi, ya?" titah Joe seraya merogoh saku jasnya, kemudian memberikan ponsel Soni yang sudah melakukan panggilan kepada pihak polisi. "Bicarakan semua kepadanya, termasuk ciri-ciri dari pria yang menculik Bu Syifa."
"Iya, Dad." Robert mengangguk dan segera mengambil ponsel tersebut. Tak lama kemudian panggilan itu diangkat oleh seberang sana. "Halo Pak Polisi, selamat siang."
"Siang. Dengan siapa dan ada apa?"
__ADS_1
"Namaku Robert Anderson, Robert mau melaporkan Bu Syifa yang telah diculik beberapa menit yang lalu oleh seorang pria, Pak. Orangnya tinggi, mungkin setinggi Daddy." Robert menatap ke arah Joe, kemudian mengingat-ingat wajah Beni. "Kulitnya nggak terlalu putih dan ada panunya pada area leher. Matanya agak belo, sedikit berkumis, napasnya bau rokok, ujung kukunya hitam dan giginya—"
"Langsung kasih tau mobil yang dia pakai saja, Rob," potong Joe. Ciri-ciri yang anaknya itu sebutkan terlalu panjang dan detail sekali menurutnya. Takutnya malah polisi itu lupa.
"Dan dia memakai mobil merah dengan plat B 4040 SPS, Pak Polisi." Robert menambahkan.
"Ini laporan resmi, kan, Dek? Adek nggak lagi bercanda?" Pak Polisi terdengar seperti tak mempercayai Robert. Dan Sebelum bocah itu menjawabnya, Joe lebih dulu merebut benda itu.
"Resmi, Pak," sahut Joe dengan cepat. "Aku Daddynya Robert yang bernama Jonathan Anderson. Seorang pria asing telah menculik calon istriku bernama Syifa Sonjaya. Padahal malam ini aku akan melangsungkan akad nikah. Aku harap ... Bapak dapat cepat membantuku."
"Baik, laporan Anda kami terima. Segera kirimkan di mana lokasi Anda. Biar saya dan rekan saya langsung menyusul untuk mencari."
"Iya." Joe menutup sambungan teleponnya, kemudian mengirimkan lokasi di mana dia berada.
***
Sementara itu di rumah sakit.
Keduanya terlihat tengah menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Syifa dan Robert yang tak terlihat batang hidungnya. Padahal, mereka ingin membicarakan hal yang sudah diputuskan secara bersama dengan orang tua Joe. Yakni tentang akad dan resepsi.
Mami dan Papinya Joe tidak keberatan, jika Joe dan Syifa melangsungkan ijab kabulnya malam ini di rumah sakit. Yang terpenting mereka dapat menyaksikannya.
Dan untuk resepsi pun, keduanya meminta akan mengadakan di sebuah hotel. Tentu dengan mengundang beberapa rekan dan kerabat.
Awalnya, Abi Hamdan sendiri hanya ingin mengadakan resepsi itu di rumahnya, sambil mengundang beberapa tetangga. Karena dia sendiri tidak punya sanak keluarga.
Namun, mendengar orang tua Joe memberikan usul. Baginya itu tidak masalah. Yang terpenting, pernikahan Syifa dan Joe diketahui banyak orang. Supaya semua orang tak menganggap mereka pasangan kumpul kebo.
"Syifa dan Robert ke mana ya, Bi? Apa pergi?" tanya Umi Maryam yang masih sibuk menengok ke kanan dan kiri. Entah mengapa, dia justru menjadi mencemaskan Syifa. Merasa takut jika ada yang terjadi terhadap anak semata wayangnya itu.
"Mungkin. Si Jojon juga ke mana, ya? Masa mandi doang lama banget." Ternyata Abi Hamdan bukan hanya mencari Syifa dan Robert, tapi juga calon menantunya. Yang sama-sama tak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
"Ustad Hamdan," ucap Ustad Yunus yang baru saja melangkah menghampiri. Kehadirannya seketika membuat Abi Hamdan dan Umi Maryam berdiri dari duduknya.
Kedatangan pria itu tidak sendiri, melainkan bersama Pak RT, Sandi, seorang wanita dewasa berpakaian seksi dan dua pria di sampingnya. Kedua pria tersebut membawa koper dan sepasang baju pengantin.
Mereka datang bersamaan hanya kebetulan, tidak janjian.
"Kalian datangnya barengan, dan kamu sama siapa, San?" tanya Abi Hamdan kepada Sandi. Tapi dia tidak menatap wanita berbaju seksi itu, hanya menatap pria di sampingnya saja.
"Ini Tante Ling-Ling, Tad. Dia orang butik yang akan membantu Bu Syifa memakai baju pengantin serta mendandaninya," jawab Sandi memberitahu, kemudian menoleh ke arah dua pria di samping wanita bernama Ling-Ling itu. "Dan mereka berdua asistennya Tante Ling-Ling," tambahnya. Tangan Sandi juga membawa dua paper bag besar, yang satu isinya seperangkat alat sholat, dan yang satunya satu set emas murni. Dibelinya tadi saat ke mall.
"Saya juga sudah menghubungi Pak Penghulu yang Ustad maksud," ucap Ustad Yunus. "Beliau bilang siap, ijab kabulnya jam 7 malam, kan, Tad?"
"Iya, Tad." Abi Hamdan mengangguk. "Tapi Ustad suruh datang ke sininya nggak mepet, kan? Aku nggak mau kalau nanti kita semua nunggu Penghulu yang belum datang."
"Dia bilang, habis sholat Magrib langsung berangkat ke sini, Tad. Aku juga sudah memberitahu alamat rumah sakitnya," sahut Ustad Yunus.
"Bagus kalau begitu. Terima kasih banyak Ustad Yunus." Abi Hamdan tersenyum, lantas menepuk pelan pundak kiri Ustad Yunus.
"Sama-sama."
"Ngomong-ngomong, di mana calon pengantinnya?" tanya Tante Ling-Ling sambil menatap sekitar.
"Itu dia yang aku cari. Mereka memang sejak tadi nggak ada, nggak tau ke mana," sahut Abi Hamdan tanpa menoleh. Kemudian pandangan matanya menatap ke arah Sandi. "Coba, San, kamu cari Joe, Syifa dan Robert. Sekalian juga telepon bila perlu. Ke mana kira-kira mereka?"
"Baik, Pak. Saya akan coba cari dan hubungi mereka." Sandi memberikan apa yang dia bawa terlebih dahulu kepada Umi Maryam. Setelah itu—kakinya melangkah pergi dari sana, tapi sambil menoleh ke kanan dan kiri. Barangkali, mereka bertiga ada disekitar sana.
*
"Ke mana sih, mereka? Mau nikah kok malah pergi-pergi. Kan pamali!" Sandi menggerutu ketika sampai parkiran mobil. Sebab mendapati mobilnya tak ada di sana. Dia menebak, jika mereka bertiga pasti tengah pergi bersama. Segera, Sandi merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian mencoba menghubungi Joe.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1