Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
42. Pak Joe disunat


__ADS_3

Dokter berkacamata itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Nona, tongkat Pak Joe masih ada. Malah akan bagus nantinya, kalau sudah sembuh."


"Katanya tadi dipotong, Dok?" Syifa mengerutkan keningnya bingung.


"Hanya ujungnya saja, Nona," sahut Dokter. "Maksud saya, Pak Joe disunat. Kebetulan ... dari lahir dia juga belum disunat."


"Ooohhh ...." Syifa langsung menghela napasnya dengan lega. Dia mengerti, sebab Joe sendiri beragam non muslim. Tidak heran jika dirinya tak disunat. 'Syukurlah kalau hanya disunat. Kalau sampai buntung 'kan kasihan sama istri barunya nanti. Pasti nggak bakal merasakan surga dunia,' batin Syifa.


Entah mengapa, dia tiba-tiba justru membayang tongkat bisbol gosong yang cukup panjang itu. Namun, segera dia pun mengusap kasar wajah, lalu beristighfar.


'Ya Allah, ampuni aku. Kenapa otakku justru sangat kotor. Membayangkan kema*luan pria yang bukan muhrimku,' tambah Syifa membatin sambil geleng-geleng kepala.


"Terus, kondisi Pak Joe sekarang bagaimana, Dok?" tanya Ustad Yunus.


"Sudah baik. Hanya tunggu dia sadar saja, karena tadi sempat disuntik dengan obat anastesi, saat melakukan pembedahan, Pak."


Jawaban dari Dokter, kembali membuat Syifa tenang.


"Lho, Om Yunus ngapain ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Sindi yang baru saja melangkah menghampiri. Ternyata Joe dibawa di rumah sakit yang sama, di tempat Robert dirawat.


"Bosmu ada di IGD, San, dia mengalami kecelakaan," jawab Ustad Yunus sembari menatap keponakannya dan menunjuk ruang IGD.


Sandi sontak terbelalak. "Astaghfirullah." Dia tampak begitu terkejut. "Kok bisa? Bagaimana ceritanya, Om? Dia 'kan awalnya pergu karena ingin ketemu Om."

__ADS_1


"Iya, tadi memang sudah ketemu sama Om. Tapi Pak Joe mengatakan ingin membeli obat untuk Syifa." Ustad Yunus melirik ke arah Syifa sebentar, kemudian ke arah Sandi lagi dan kembali memberikan penjelasan. "Tapi kata Syifa ... dia mengalami kebakaran diarea tongkatnya. Sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit karena mengalami pingsan juga."


"Tongkat?!" Sandi tampak tak mengerti maksud dari kata itu. "Memangnya, Pak Joe punya tongkat?"


"Maksud Om ...." Ustad Yunus mendekat ke arah telinga kanan Sandi, kemudian berbisik. "Burung berbulunya."


"Apa?!" Sandi memekik dengan keterkejutannya.


"Nggak perlu syok begitu, San. Tapi semuanya baik-baik saja kok," ujar Ustad Yunus dengan santai.


"Tapi gosong nggak itu, Om? Dan bagaimana nasib bulunya?"


"Bulunya sudah hangus terbakar, Pak." Yang menyahut dokter. "Tapi beruntungnya di sini Pak Jonathan belum disunat. Dan lukanya tadi mengenai ujungnya, jadi sekalian saya sunat," jelasnya.


Sandi menghela napas dengan lega. "Syukurlah. Kebetulan Pak Jonathan memang beragama non muslim, jadi itu mungkin alasannya dia belum disunat sampai sekarang."


"Kebetulan anaknya juga sedang dirawat, Dok. Boleh nggak kira-kira ... kalau disatukan?" tanya Sandi.


"Sakit apa anaknya Pak Jonathan memangnya? Dan umur berapa?"


"Kanker hati. Umurnya 7 tahun."


"Sepertinya tidak bisa, Pak. Karena ruang anak dan untuk dewasa itu berbeda," jawab Dokter. "Tapi Pak Joe 'kan hanya sebentar, sampai dia sadar saja. Tidak perlu memerlukan perawatan lain. Hanya menjaga kondisi tongkatnya saja yang luka karena terbakar dan disunat."

__ADS_1


"Baiklah, Dok." Sandi menganggukkan kepalanya. Lantas Dokter itu pun berlalu pergi.


Tiba-tiba, ponsel Syifa yang berada di dalam kantong gamisnya berdering dengan kencang. Cepat-cepat dia pun merogoh ke dalam sana, kemudian menatap layar yang ternyata itu adalah panggilan dari Umi Maryam.


"Halo, Umi. Assalamualaikum," ucap Syifa.


"Walaikum salam!" jawabnya dengan lantang. Tapi itu bukan suara Umi Maryam, melainkan Abi Hamdan.


"Abi ...." Jantung Syifa sontak berdegup kencang mendengar suara bariton milik Abinya itu. Mendadak, perasaannya jadi tidak enak.


Meskipun hanya dari suara, tapi Syifa seperti sudah hafal dengan nadanya yang pasti pria itu tengah marah.


'Apa jangan-jangan Abi dan Umi sudah pulang? Lho, gawat kalau sampai Abi tahu kalau tadi aku ketemu dengan Pak Joe,' batin Syifa. Susah payah dia pun menelan ludahnya.


"Cepat pulang ke rumah bersama Jojon!" perintahnya berteriak.


"Pak Joe masuk rumah sakit, Bi, kebetulan tadi—"


"Di rumah sakit mana dia berada? Beritahu Abi sekarang juga!" tekannya menggelegar. Syifa seketika terperanjat dengan telinga yang berdengung mendengar suaranya.


'Kenapa dengan Abi? Dan kenapa dia nanyain Pak Joe?' batin Syifa.


"Kamu dengar Abi atau nggak, Fa? Cepat jawab!" teriaknya lagi.

__ADS_1


"Di Rumah Sakit Harapan, Bi," jawab Syifa dengan takut-takut.


...Hayo lho, Fa, siap" 🤣...


__ADS_2