
Beberapa kali pintu itu diketuk, tapi sayangnya, tak ada sahutan apa-apa dari dalam sana. Sama sekali Syifa tak membukakannya.
Hingga tak lama kemudian, suara panggilan masuk itu kembali terdengar dari kolong meja kaca.
Segera, Joe berjongkok untuk mencari benda pipih itu. Dan ternyata memang tergeletak di bawah sana. Tertera nama 'Pak Bos' pada layar, yang berarti yang menghubungi adalah Robert.
Benda itu langsung Joe raih, kemudian mengangkat panggilan.
"Halo, Dad." Suara Robert terdengar dari seberang sana.
"Sayang, kamu kok baru menghubungi Daddy?" tanya Joe. Ada perasaan lega telah mendengar suara sang anak.
"Maaf, Dad, tadi ada masalah kecil, hooaamm ...," jawab Robert sambil menguap.
"Masalah kecil?" Joe mengerutkan keningnya. "Apa itu, Sayang? Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya yang mendadak cemas. Perlahan mengusap wajahnya yang basah karena keringat.
"Robert baik, Dad," sahut bocah itu. "Hanya masalah kecil kok nggak apa-apa. Dan ini 'kan sudah malam, sebaiknya Daddy dan Bu Syifa istirahat. Pasti kalian capek, kan?"
"Tapi kasih tau Daddy dulu apa masalah kecil itu? Dan ada di mana kamu sekarang? Terus, bagaimana dengan Opa dan Oma? Apa mereka berhasil kamu bujuk?" Joe mencecar beberapa pertanyaan yang kini mengisi otaknya. Membuatnya penasaran bukan kepalang.
"Robert ada di rumah sakit, Dad. Dan tentang—"
"Apa kamu sakit?!" potong Joe cepat. Kedua bola matanya tampak membulat. Dia yang menebak, tapi justru dialah yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Enggak, Dad!" Robert menyeru dengan lantang. "Tapi Oma dan Opa. Mereka sempat jatuh pingsan," tambahnya kemudian.
"Ya ampun! Kok bisa? Kenapa mereka bisa pingsan? Dan di rumah sakit mana kamu berada?!" Suara Joe terdengar sangat nyaring.
"Daddy nggak perlu khawatir." Robert pasti mengerti, dari nada suaranya saja sang Daddy terlihat sangat cemas. "Kata Om Sandi sih mereka pingsan karena sempat mencari Robert yang nggak ketemu. Tapi ternyata kata Dokter ... mereka pingsan karena magh, telat makan."
"Oh ...." Joe seketika menghela napasnya dengan lega. Lantas mengusap dada.
"Iya. Kata Dokter magh mereka nggak kronis, Dad. Syukurlah ... Robert juga sempat khawatir. Takut kalau nantinya magh mereka kronis terus sampai dioperasi kayak Robert," jelas Robert panjang lebar.
"Memangnya awalnya kamu ke mana, Sayang? Kok bisa mereka sampai mencarimu? Bukankah Daddy sudah memintamu untuk membujuk mereka, ya?"
"Kalau bujuk sih udah, Dad. Tapi mereka mencari Robert pas Robert nggak ada di rumah Bu Syifa. Robert sama Oma Maryam tadi lagi keluar beli sate ayam," paparnya lagi.
"Nggak, Dad." Jawaban dari Robert seketika membuat raut wajah Joe tampak kecewa. Dia merengut lesu. "Tapi Daddy tenang saja, Robert nggak akan menyerah. Besok Robert akan membujuk mereka lagi."
"Serius kamu, Rob, mau bujuk mereka lagi?" Joe tampak ragu. Ditambah dia juga tak enak jika terus merepotkan anaknya. "Daddy nggak enak kayaknya, kamu 'kan baru sembuh. Pasti capek dan lelah."
"Robert nggak capek kok," kilah Robert. Kalau tentang Mommy baru, tentunya dia akan sangat bersemangat. Dan tak akan mudah menyerah begitu saja. "Malah ini Robert lagi tiduran di samping Oma, Dad."
"Oma dan Opa sudah tidur?"
"Sudah daritadi."
__ADS_1
"Kamu sudah makan dan mandi belum? Dan apa ada Opa Hamdan juga, di sana?"
"Robert sudah makan dan mandi tadi sama Oma Maryam," jawab Robert. "Tapi kalau Opa Hamdan ... sejak Robert datang ke rumahnya, dia sudah pergi naik motor. Katanya cariin Daddy dan Bu Syifa. Eh tapi, kenapa Daddy nggak cerita sama Opa Hamdan kalau mau mengumpet? Pak RT sama Om Ustad juga ikut nyariin Daddy dan Bu Syifa tau."
"Daddy susah ngasih taunya, karena Om Soni nggak punya nomor Opa Hamdan, Rob," jelas Joe. "Tapi ... Daddy juga ngerasa takut untuk memberitahunnya."
"Takutnya kenapa?" tanya Robert.
"Takut kalau nantinya Opa Hamdan berubah pikiran. Dan nggak merestui hubungan Daddy sama Bu Syifa. Kamu 'kan tau sendiri, Daddy sempat kesusahan mendapatkan restu darinya," sahut Joe.
"Terus kapan Daddy jadi mualafnya, kalau Opa Hamdan dan yang lain nggak tau Daddy di mana? Kan lebih cepat akan lebih baik, Dad," sarannya. Apa yang dia katakan memang ada benarnya. Tapi restu dari orang tua pastinya sangat penting juga.
"Nanti, kalau Opa dan Oma sudah setuju," jawab Joe. "Walau bagaimanapun ... mereka adalah orang tua Daddy, Rob. Daddy juga butuh restu dari mereka. Karena restu orang tua itu sangat penting dan pastinya akan memberi kesejahteraan di hidup kita."
"Berarti tunggu aba-aba dari Robert ya, Dad, tentang setuju nggaknya mereka?"
"Iya." Joe refleks menganggukkan kepalanya. "Sekarang kamu istirahat saja. Kalau ada apa-apa hubungi Daddy lagi, ya! Nanti Daddy akan minta Om Sandi untuk selalu mengingatkanmu supaya nggak lupa minum obat."
"Siap Bosku!" seru Robert. "Eh sebelum tidur, Robert pengen ngobrol dulu sama Bu Syifa dong. Dan ngomong-ngomong kalian sedang apa tadi, sebelum mengangkat telepon dari Robert?"
"Kami ...." Joe terdiam. Kemudian menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Perlahan Kakinya melangkah menuju sofa, lalu duduk sembari memakai kembali sarungnya yang tampak tergeletak di bawah sana. Dia juga baru sadar—jika sejak tadi terlepas dari sarung dan tampil seperti orang gila dengan sempaak bolongnya. 'Benar-benar udah nggak ada harga diri sih ini. Pasti Syifa melihatnya tadi, mana tongkatku masih merah.'
"Kami apa, Dad?" tanya Robert penasaran. Sebab belum mendapatkan jawaban.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^