
"Kami ...." Joe terdiam. Kemudian menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Perlahan Kakinya melangkah menuju sofa, lalu duduk sembari memakai kembali sarungnya yang tampak tergeletak di bawah sana. Dia juga baru sadar—jika sejak tadi terlepas dari sarung dan tampil seperti orang gila dengan sempaak bolongnya. 'Benar-benar udah nggak ada harga diri sih ini. Pasti Syifa melihatnya tadi, mana tongkatku masih merah.'
"Kami apa, Dad?" tanya Robert penasaran. Sebab belum mendapatkan jawaban.
"Oh. Tadi kami lagi nonton tv, tapi sekarang kami udah balik ke kamar masing-masing, jadi Daddy nggak bisa tau Bu Syifa lagi apa sekarang, kayaknya sih udah tidur." Joe sengaja berbohong. Tak mungkin juga dia menceritakannya, sebab itu tak pantas didengar bocah kelas satu SD.
"Oh. Ya sudah deh. Titip salam saja ya, Dad! Bilang padanya kalau Robert kangen dan sayang ... banget sama Bu Syifa." Robert memekik yang terdengar begitu senang.
"Iya. Nanti Daddy sampaikan,“ jawab Joe sambil tersenyum. "Kamu hati-hati di sana, ya! Nanti Daddy juga akan pikirkan cara lain, supaya Opa dan Oma dapat merestui."
"Iya, Dad. Selamat malam. Semoga Daddy dan Bu Syifa bisa menghabiskan waktu bersama."
__ADS_1
"Menghabiskan waktu bersama?" Joe mengerutkan keningnya. Dia tampak bingung dengan ucapan sang anak. Akhirnya telepon mereka jadi panjang dan tak berakhir-akhir. "Maksudnya gimana? Daddy dan Bu Syifa 'kan belum menikah, Rob, mana bisa menghabiskan waktu bersama?"
Pikiran Joe mengarah pada hubungan int*m. Padahal yang dimaksud bocah polos tersebut bukanlah itu.
"Ya 'kan kalian lagi mengumpet berdua. Pastinya bisa menghabiskan waktu bersama bukan?"
Menghabiskan waktu bersama bisa dengan cara makan bareng, nonton tv bareng dan masih banyak lagi. Itulah yang dipikirkan Robert saat ini.
"Iya." Jawaban terakhir dari Robert langsung memutuskan panggilan.
Setelah itu, Joe mengirim beberapa chat kepada Sandi.
__ADS_1
[San ... ini aku, Joe. Aku titip Robert untuk sementara waktu, ya! Karena aku dan Syifa sekarang sedang bersembunyi di suatu tempat.]
[Aku sengaja melakukan hal itu karena takut dipisahkan dengan Syifa. Pokoknya sebelum mendapatkan restu ... aku dan Syifa nggak akan menemui Mami dan Papi. Kamu juga harus ikut untuk membantuku supaya berhasil mendapatkan restu, San.]
[Dan tentang Robert ... selain menjaga, tolong ingatkan dia untuk rutin minum obat sesuai anjuran. Minta kepada Bibi di rumahku untuk mengantar obat. Obatnya ada di laci kecil dekat kasur.]
Sesuai mengirimkan pesan, Joe lantas merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Dia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamar.
Abaikan saja tentang mandi dan mengganti pakaian. Yang jelas sekarang—Joe hanya membutuhkan Syifa untuk keluar kamar, supaya dia bisa meminta maaf lagi.
'Maafkan aku, Fa. Aku mohon ... kamu jangan salah paham.' Joe menatap sendu ke arah pintu kamar yang tak terdengar suara apa-apa dari luar. 'Aku benar-benar khilaf. Tapi kalau misalnya kamu mau marah ... marah saja kepada tongkat bisbolku, jangan kepadaku. Karena yang salah dia, yang terus bangun bahkan sampai sekarang.' Tangan kanan Joe perlahan meraba inti tubuhnya yang tertutup sarung. Akan tetapi itu hanya sebentar, sebab dia langsung meringis merasakan ngilu.
__ADS_1
...Mana bisa begitu, Om 🤣...