Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
50. Bokong putih berbelah milik Joe


__ADS_3

"Kalau tentang menjadi mualaf ... aku sendiri belum tahu pasti, Tad. Soalnya itu 'kan harus kemauan dari hati. Sedangkan aku di sini baru mau mengenal Islam lebih dalam, karena aku begitu penasaran," jelas Joe. Dia tidak bisa memastikan, karena saran dari Sandi sendiri—dia harus memikirkannya dengan matang-matang, sebelum mengambil keputusan. Supaya tak salah jalan.


"Saya mengerti soal itu, Pak." Ustad Yunus mengangguk. "Jadi ... mulai kapan Bapak ingin belajar Islam dengan saya? Inya Allah saya siap, kapan saja."


"Aku sih maunya sekarang, Tad," sahut Joe. "Tapi kalau bisa .... untuk sekarang, aku kepengen belajarnya di rumahku. Seperti Ustad jadi guru privat, yang mengajar di rumah, begitu."


"Kalau untuk setiap hari datang ke rumah Bapak ... sepertinya saya nggak bisa, Pak. Soalnya ... saya nggak bisa meninggalkan masjid dan banyak juga pekerjaan di sana. Tapi saya bersedia kapan saja, kalau Bapak datang ingin belajar Islam di masjid," jelas Yunus. Selain itu, belajar agama juga jauh lebih bagus di tempat ibadah, ketimbang di rumah. Untuk mempraktekkannya juga akan lebih mudah.


"Kenapa Daddy belajarnya di rumah? Mending di masjid saja, Dad," saran Robert. Tentu dia sangat mendukung, sebab keinginannya juga Joe masuk Islam, supaya bisa menikahi Syifa.


"Daddy nggak tega ninggalin kamu, Sayang," sahut Joe menatap anaknya. Memang itulah alasan utamanya, menginginkan Ustad Yunus yang mengajarinya di rumah. "Kamu sudah sering Daddy tinggal pas Daddy kerja, masa nanti ditinggal lagi. Kamu 'kan baru sembuh."


"Nggak apa-apa kok, Dad," balas Robert dengan santai. "Malahan ... Robert juga ingin mengenal Islam juga, sama seperti Daddy."


"Alhamdulillah ...." Ustad Yunus mengucap syukur sembari membuka telapak tangannya ke udara, kemudian mengusap wajah. "Itu lebih bagus, Pak, sangat bagus sekali. Anak Bapak juga bisa ikut belajar."


"Serius kamu, Rob? Mau ikut Daddy mengenal Islam juga?" Joe menatap serius bola mata Robert. Dia tampak ragu, dengan ucapan anaknya.


"Serius. Robert juga kepengen sholat bareng sama Abinya Bu Syifa, Dad. Nanti sholatnya di masjid di dekat rumahnya," ujar Robert dengan sungguh-sungguh.


"Kebetulan ... memang masjid di mana Om kerja adalah di samping rumah Bu Syifa, Rob," sahut Ustad Yunus. "Apa Bu Syifa yang kamu maksud adalah Syifa Sonjaya?"


"Iya." Robert mengangguk cepat. "Kalau begitu berarti pas banget dong, Om Ustad. Robert juga, kan, mau ketemu Bu Syifa ... jadi kita langsung ke masjid dulu untuk belajar, dan siangnya Robert bisa ketemu Bu Syifa pas dia pulang mengajar," tambahnya dengan riang gembira.


"Kamu 'kan baru keluar dari rumah sakit. Apa nggak capek? Kan musti banyak istirahat, Sayang." Joe mengelus puncak rambut anaknya.


"Dari kemarin Robert sudah banyak istirahat, Dad. Robert bosen, mangkanya Robert ingin langsung beraktivitas," ujar Robert.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu." Joe menganggukkan kepalanya, lantas menatap lagi ke arah Ustad Yunus. "Sekarang, Ustad ikut masuk ke mobilku. Biar kita langsung ke masjid bersama." Tangannya perlahan menunjuk ke arah kursi di samping kemudi.


"Baik, Pak." Ustad Yunus mengangguk, kemudian melangkah cepat masuk ke dalam mobil. Joe yang menggendong Robert pun ikut masuk ke dalam, duduk di kursi belakang.


Masuknya mereka ke dalam sana, bertepatan sekali dengan Sandi yang baru saja datang, sehabis menebus obat dan membayar administrasi.


"Lho, Om Yunus sejak kapan ada di sini? Dan mau apa?!" tanya Sandi heran, ketika dirinya masuk ke dalam mobil dan melihat sang Om duduk di sebelahnya.


"Ommu ada perlu sama aku, San." Yang menyahut Joe. Pria tampan bermata sipit itu pun mendudukkan tubuhnya Robert di sampingnya, dan terlihat bocah itu langsung memeluk tubuhnya dengan erat.


"Oh." Sandi memberikan plastik putih ke arah Joe, yang berisi obat-obatan milik Robert. "Kita langsung pulang ke rumah apa mau mampir dulu, Pak?" tanyanya seraya menyalakan mesin mobil, kemudian mulai mengendarainya.


"Ke masjid yang berada di dekat rumah Syifa, San," jawab Joe.


"Baik, Pak." Sandi mengangguk, kemudian menyalakan mesin mobilnya.


***


"Mi! Sarung batik yang dapat THR bensin itu ke mana, ya? Abi cari kok nggak ada?" tanya Abi Hamdan, yang menghampiri istrinya di dapur.


Wanita berhijab merah serta gamis merah itu tengah sibuk dengan mixer di tangannya. Dia berencana ingin membuat bolu marmer. Tapi segera dia menoleh ke arah suaminya, yang berdiri di ambang pintu dapur. "Belum kering, Bi, pakai sarung yang lain saja."


"Kok bisa belum kering? Padahal, Abi 'kan mau memakainya." Abi Hamdan mendengkus kesal, kakinya melangkah mendekat.


"Ya orang baru dicuci kemarin. Lagian Abi juga, sarung banyak kenapa pakai sarung itu mulu?!"


"Bahannya adem, Abi suka," sahutnya. "Tapi ngomong-ngomong ... kok tumben, Umi bikin bolu? Dalam rangka apa?" tanya Abi Hamdan heran.

__ADS_1


Biasanya, Umi Maryam hanya membuat bolu setahun dua kali. Yakni saat lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Katanya untuk cemilan, sebab biasanya banyak tamu yang berdatangan dihari-hari penting seperti itu.


"Tadi pagi bukannya Abi bilang mau mengundang Pak Joe untuk datang ke rumah, ya?"


"Iya." Abi Hamdan mengangguk. "Terus hubungannya apa, Mi?"


"Kan mau bicara hal penting. Pasti ngopi dan yang namanya ngopi butuh cemilan, jadi Umi buatkan," sahut Umi Maryam dengan santai, kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sempat dia tunda.


"Lebay banget sih, Umi, pakai mikirin cemilan buat si Jojon segala? Memangnya ... sebegitu pentingnya, kah, dia?" Abi Hamdan bersedekap. Wajahnya tampak masam dan tak menyukai, dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Masa lebay. Namanya juga tamu. Ya nggak apa-apalah, Bi."


"Kemarin, pas Nak Fahmi datang bertamu ... Umi nggak ada tuh nyiapin cemilan. Apalagi sampai niat bikinin bolu. Giliran sama Jojon sampai segitunya. CK!" Abi berdecak, menggerutu kesal.


"Pas kemarin uang Umi pas-pasan, jadi kurang buat beli bahannya. Kalau sekarang 'kan alhamdulilah, lagi dikasih lebih, Bi," sahut Umi Maryam jujur.


"Alah alasan!" hardik Abi Hamdan, kemudian berlalu pergi sambil terus menggerutu. "Umi sama Syifa sama saja, kalian itu terlalu berlebihan sama si Jojon sipit. Padahal, gara-gara dia hidup kita jadi berantakan," gerutunya dengan penuh kekesalan.


Seusai mengambil sarung di dalam lemari dan memakainya, Abi Hamdan pun melangkah menuju masjid di dekat rumah. Berniat ingin mengerjakan sholat Dhuha.


Namun, langkah kakinya seketika terhenti di depan tempat pengambilan air wudhu. Itu disebabkan dirinya melihat Joe dan Robert ada di sana.


'Kenapa mereka ada di masjid dan lagi ngapain?' batin Abi Hamdan dengan kening yang mengernyit. Padahal tak perlu ditanyakan, dia sendiri harusnya sudah tahu jawabannya jika keduanya itu terlihat seperti tengah belajar berwudhu. Sebab ada Ustad Yunus juga, yang mendampingi dan memberikan arahan, dengan gerakan yang mereka lakukan. Hanya saja, Abi Hamdan sendiri merasa heran dengan alasan mereka melakukan hal itu. 'Si Jojon juga. Apa coba dia? Pakai sarung segala, nggak cocok banget,' tambahnya, saat sorotan matanya terjatuh pada sarung yang berada di tubuh Joe.


Namun, sontak dia pun terbelalak. Ketika benda itu tak sengaja melorot dan dengan gamblang Abi Hamdan melihat bokong putih berbelah milik Joe.


Tentunya pemandangan seperti itu bukan hanya membuat matanya panas, tapi juga kepalanya yang berujung menjadi emosi dadakan.

__ADS_1


"Astaghfirullah Jojon!" teriaknya murka.


...😆Udah lihat daleman bagian belakang nih, harusnya udah sah buat dijadiin menantu 🤣...


__ADS_2