Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
37. Om Joe ketemu Abinya Bu Syifa


__ADS_3

"Assalamualaikum!" seru beberapa bocah dengan riangnya, berlari masuk ke dalam kamar inap.


Mereka adalah Leon, Baim, Atta dan Juna. Keempat bocah itu membawa parsel buah dan paper bag berukuran sedang.


"Walaikum salam." Yang menyahut Robert.


Memiliki teman yang beragam Islam, jadi dia tahu jawabannya. Meskipun tidak tahu arti dari kalimat salam itu.


"Nah, ini dia teman-temanmu, Sayang," ucap Joe sambil tersenyum. Dia tampak senang melihat Robert tersenyum bahagia, mengetahui teman-temannya yang dia tanyakan barusan sekarang datang untuk menjenguk.


"Bagaimana kabarmu, Rob?" tanya Juna seraya berjalan mendekat bersama ketiga temannya, menuju ranjang Robert. Kemudian memberikan parsel buah ke tangan Joe. "Kata Atta ... kamu meriang, ya?"


"Kabarku baik," jawab Robert. "Tapi kata Daddy aku kena magh, Jun, bukan meriang." Melirik ke arah Daddynya yang baru saja turun dari tempat tidur, lantas melangkah menuju nakas untuk menaruh parsel buah ke atas sana.


"Selain magh, memang kamu ada meriangnya, Sayang," jawab Joe sengaja berbohong.


"Tapi kalau sampai dioperasi berarti parah, ya?" Sekarang yang bertanya Baim. Mereka semua tahu kondisi Robert dari Atta, yang memang bocah itu kemarin malam sempat bertemu dengan Joe di ruang operasi.


"Kapan aku dioperasi?!" Robert tampak mengerutkan keningnya. Dia sendiri jelas tidak tahu dengan apa saja yang telah terjadi dengan tubuhnya.


"Kemarin kamu memang sempat dioperasi, Sayang," sahut Joe, lalu mencoba memberikan pemahaman supaya tidak membuat sang anak bingung. "Dokter sendiri yang menyarankannya. Mangkanya kata Daddy juga jangan telat makan, jadi kamu nggak akan separah ini."


Kembali, Joe berbohong. Ada untungnya juga di sini, sebab bocah itu pasti tak akan berencana untuk mogok makan lagi. Jikalau ada masalah mengenai perasaannya.


"Maafin Robert ya, Dad. Gara-gara Robert masuk rumah sakit ... Daddy jadi kurang tidur dan kelihatan capek," sesalnya. Robert menatap Joe dengan wajah bersalah. Sang Daddy memang terlihat kurang tidur dan capek. Kantung matanya saja tampak menghitam.


Namun, Joe kurang tidur bukan karena dirinya. Tapi karena terus memikirkan Syifa.


"Kamu nggak salah apa-apa di sini," sahut Joe sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga tersenyum dengan tatapan penuh kasih sayang. "Daddy tinggal sebentar buat beli cemilan dan jus dulu, ya, untuk teman-temanmu. Kalian mengobrol dan main saja dulu, tapi kamu jangan turun dari kasur."


"Iya, Dad." Robert mengangguk.


"Baim kepengen susu kotak rasa coklat, Om," ucap Baim.


"Leon juga," timpal Leon.


"Atta juga," sahut Atta.

__ADS_1


"Nanti Om belikan kalian semua susu. Tenang saja." Joe tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian melangkah keluar dari kamar inap.


"Kalian datang cuma berempat? Bu Syifanya kok nggak ikut?" Robert menatap ke arah pintu. Berharap jika perempuan itu ada diluar, lalu masuk ke dalam untuk menemuinya.


"Bu Syifa ada rapat guru," sahut Juna. "Dia dari pagi sibuk banget. Tadi juga datang ke kelas cuma mengabsen doang."


"Oh. Sayang banget, padahal aku kangen sama dia," keluh Robert dengan raut sedih.


"Ini ada titipan dari Bu Syifa, Rob, untukmu." Leon memberikan sebuah paper bag kepada Robert, yang sejak tadi dia pegang.


"Apa isinya?!" Robert menerima benda itu, kemudian merogoh ke dalam untuk mengambil sesuatu di dalam sana. "Wah, bagus banget."


Bola mata Robert seketika berbinar kala melihat dua barang di dalam sana, yang ternyata adalah serutan putar berbentuk Superman dan kotak pensil bergambar Superman.


"Wih, bagus banget!" seru Atta. Dia ikut memegang kotak pensil yang Robert pegang.


"Beli dimana kira-kira Bu Syifa, ya?" tanya Baim dengan mata yang sama-sama berbinar.


"Pasti di toko peralatan sekolah lah," sahut Leon. "Masa matrial," kekehnya.


"Tapi bagus beneran, aku juga kepengen." Juna menimpali. Dia pun ikut menyentuh serutan putar di tangan Robert. "Nanti aku minta Papiku untuk belikan ah."


^^^"Bagaimana kabarmu sekarang, Nak? Ibu berharap ... kamu segera pulih kembali seperti sedia kala."^^^


^^^"Jangan lupa rajin untuk minum obatnya, dan nurut apa kata Daddymu. Dia terlihat sangat menyayangimu."^^^


^^^"Ibu juga ingin ... setelah kamu sembuh, kamu bisa aktif sekolah lagi. Jangan pernah bilang malas sekolah, karena pendidikan itu sangat penting. Apalagi untuk anak sepintar dirimu."^^^


^^^Salam sayang dari Bu Syifa, wali kelasmu~^^^


Robert langsung mengulum senyum seusai membaca surat tersebut. Dadanya pun terasa hangat.


Setiap untaian kata yang Syifa tuliskan terasa begitu berarti. Robert jadi makin sayang dan menyukainya.


"Manis banget Bu Syifa, Robert jadi makin suka dan sayang sama Ibu," gumamnya seraya mengecup surat tersebut, kemudian menempelkannya ke arah dada.


"Oh ya, Rob." Atta perlahan naik ke atas ranjang, begitu pun dengan Juna. Mereka berdua duduk di dekat Robert yang masih berbaring. "Kata kamu ... Bu Syifa dan Daddymu mau menikah. Tapi kok kemarin pas aku tanya ke Daddymu ... dia bilang, Bu Syifa bukan calon istrinya. Jadi kamu bohong sama kami, ya?"

__ADS_1


"Bukan bohong," bantah Robert sambil menatap Atta dengan menggelengkan kepalanya. "Tapi memang awalnya Daddyku sudah melamar Bu Syifa, Ta."


"Oh, mungkin Daddymu ditolak, ya?" tebak Juna.


Robert langsung merengut lesu dengan wajah sedih.


"Kok bisa, sih, Bu Syifa nolak Daddymu?" tanya Leon tak percaya. "Sedangkan dia pakai cincin dan nerima bunganya?"


"Iya, ya, aneh. Kan harusnya jangan diterima," sahut Atta.


"Memangnya, Daddynya si Robert ... melamar sambil bawa bunga dan cincin?" tanya Baim menatap Leon. Dia dan Leon berdiri berdampingan.


"Iya, namanya ngelamar. Kan memang begitu. Malah ada juga yang sampai membawa roti buaya, lho," sahut Leon.


Mereka semua mendadak menjadi kepo, tentang hubungan Joe dan Syifa. Sebab itu juga ada hubungannya dengan Robert, karena dia adalah temannya. Mereka semua tentu ikut senang, jika bocah itu berhasil mempunyai Mommy baru. Juga akan ikut bersedih, jika Robert sedih.


"Apa Daddymu nggak memberitahu, Rob, alasan dia ditolak?" tanya Juna penasaran.


"Palingan karena Om Joe bukan tipenya Bu Syifa, Jun," tebak Atta.


"Menurutku sih nggak mungkin, orang kata Maira ... Bu Syifa kelihatan suka sama Om Joe kok," sahut Juna.


"Mungkin karena nggak boleh sama Abinya kali. Kan Abinya Bu Syifa kelihatan galak gitu, pas ketemu sama Om Joe," tebak Baim.


"Memangnya pernah ... Om Joe dan Abinya Bu Syifa ketemu? Kapan?" tanya Atta.


"Abi itu siapa?" tanya Leon.


"Abi itu nama panggilan, sama seperti Daddy," sahut Atta menatap Leon.


"Oh." Leon mengangguk-nganggukan kepalanya.


"Jadi kapan, Om Joe ketemu Abinya Bu Syifa, Im?" tanya Atta kembali kepada Baim. Dia dan kedua temannya yang lain tampak begitu penasaran. "Kok aku nggak tau?"


"Pas Bu Syifa sakit, nggak masuk mengajar," jawab Baim, kemudian menjelaskan. "Aku 'kan sama Robert ceritanya jenguk dia ... terus pulangnya dijemput sama Om Joe. Eh, Abi Hamdan malah melototi Om Joe. Kelihatan banget dia seperti nggak suka."


"Kok bisa diplototin? Alasannya apa?" tanya Juna heran. Alis matanya tampak bertaut.

__ADS_1


"Nggak tau." Baim menggeleng. "Tapi Om Joe saat itu hanya nanya Bu Syifanya ke mana, itu saja. Soalnya mau ngasih bunga sekalian pamit pulang."


...Dijawab sama Robert aja belum, kalian semua udah nyerocos aja 😑...


__ADS_2