
Ustad Yunus yang melihatnya hanya terkekeh, yang menurutnya lucu adalah wajah tertekan Abi Hamdan.
"Iya, sama-sama," sahut Abi Hamdan, lalu mendorong dada Joe untuk menyingkir dari tubuhnya. Sedangkan pelukan Robert sendiri dia biarkan, sebab pelukan bocah itu lain dari pada Daddynya. Terasa hangat dan nyaman. "Sekarang kalian ikut Opa ke rumah. Ada beberapa syarat yang musti kau lengkapi, sebelum dapat menikahi Syifa, Jon." Menatap ke arah Joe dengan tajam. Dan saat dirinya berdiri, tubuh Robert justru menjadi ikut. Sebab kedua tangan bocah itu masih melingkar di lehernya. Dia seperti tak ingin lepas, terus menempel.
Cepat-cepat Abi Hamdan meraih bokong kecilnya, lalu menaruhnya ke pinggang kanan.
Robert menganggap, kunci keberhasilan supaya Syifa dan Joe dapat menikah adalah bersumber dari Abi Hamdan, maka dari itu dia sangat berterima kasih kepadanya.
"Syaratnya apa saja, Pak?" tanya Joe penasaran. Perlahan dia juga ikut berdiri sambil membenarkan kembali sarungnya yang lagi-lagi melorot.
"Nggak usah banyak tanya, kau ikut saja dulu ke rumah. Biar enak aku ngomongnya," ketus Abi Hamdan yang melangkah pergi lebih dulu bersama Robert yang berada dalam gendongan.
"Aku pamit dulu, ya, Ustad. Terima kasih untuk pelajaran berwudunya," pamit Joe kepada Ustad Yunus yang baru saja berdiri. Tangan kanannya pun perlahan terulur ke arahnya, memberikan lima lembar uang seratus ribuan yang dia ambil di dalam saku jas.
"Sama-sama, Pak." Ustad Yunus mengangguk-nganggukan kepala. Akan tetapi, dia belum mengambil uang di tangan Joe. "Uang untuk apa itu, Pak?" tanyanya heran.
"Untuk Ustad, anggap saja ini buat beli rokok, karena sudah mengajari aku dan Robert untuk hari ini," jawab Joe.
"Nggak usah, Pak," tolak Ustad Yunus seraya menggeleng dan mendorong pelan tangan Joe. "Saya ikhlas mengajari Bapak dan Dek Robert. Saya hanya berharap kalau Bapak dan Dek Robert dapat beristiqomah."
"Istiqomah itu apa, Tad?" tanya Joe bingung.
"Konsisten, Pak. Teguh pada pendirian, supaya benar-benar menjadi muslim sejati."
"Amin." Joe mengusap wajahnya. Memperagakan apa yang dilakukan Ustad Yunus saat diparkiran rumah sakit. Bentuk dari ungkapan rasa syukur atau mengaminkan sebuah do'a. "Semoga saja ya, Tad."
"Iya, Pak." Ustad Yunus mengangguk, kemudian tersenyum saat Joe sudah melangkah pergi dari gerbang masjid.
***
__ADS_1
Sementara itu, di halaman rumah Abi Hamdan, ada sebuah mobil Lamborghini berwarna kuning emas yang baru saja berhenti.
Tak lama, dua pria di dalam sana turun. Keduanya adalah Fahmi dan Pak Haji Samsul. Mereka pun melangkahkan kakinya menuju rumah sederhana di depan sana, lantas memencet bel yang menempel di depan pintu.
Ting, tong!
Ting, tong!
Tak menunggu waktu yang lama, pintu itu pun dibuka oleh Umi Maryam.
Ceklek~
"Eh, Nak Fahmi, Pak Haji Samsul." Umi Maryam menyeru dengan keterkejutannya, melihat dua orang itu berada di depan pintu. Sebelumnya, Abi Hamdan tak mengatakan jika akan ada mereka yang akan berkunjung ke rumah. 'Katanya Pak Joe yang akan datang ke rumah, tapi kok mereka?' batinnya bingung.
"Assalamualaikum, Umi," ucap Fahmi. Dia langsung meriah tangan Umi Maryam dan mencium punggung tangannya.
"Walaikum salam. Silahkan duduk, Nak Fahmi, Pak Haji." Umi Maryam menunjuk ke arah kursi pada teras rumahnya. "Maaf, soalnya di rumah hanya ada Umi sendirian."
"Memangnya, Ustad Hamdan dan Syifanya ke mana, Bu?" tanya Pak Haji Samsul seraya duduk disalah satu kursi plastik. Fahmi juga ikut duduk di sebelahnya. Pada kursi kosong.
"Syifa belum pulang mengajar, tapi kalau Abinya ... dia paling ada di masjid," jelas Umi Maryam. "Sebentar ... saya buatkan minuman untuk Bapak dan Nak Fahmi dulu, ya?"
"Iya, Bu." Pak Haji Samsul mengangguk.
"Tunggu dulu, Mi!" seru Fahmi yang mana membuat Umi Maryam menghentikan langkahnya, ketika sudah masuk ke dalam rumah.
"Ya, Nak Fahmi?" Wanita tua itu menoleh.
"Aku kepengen dibuatkan jus mangga, ya! Jangan kopi atau susu," ucapnya tanpa malu. Terang-terangan meminta sebab memang mulutnya sedang ingin minum jus.
__ADS_1
"Iya, Nak." Umi Maryam mengangguk sambil tersenyum. "Umi akan buatkan, tunggu sebentar!" Kemudian, dia pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah. Tapi benaknya mulai berpikir. 'Mau apa, ya, mereka? Apa mereka ingin membatalkan perjodohan? Kalau benar sih, syukurlah.'
Tanpa disadari, Umi Maryam terlihat lega. Jika memang benar, Fahmi tidak jadi menikah dengan putrinya.
*
Sekitar 5 menitan, Umi Maryam kembali dengan membawa nampan yang berisi segelas jus mangga dan secangkir kopi hitam. Untungnya, dia memiliki stok buah mangga, jadi bisa membuat sendiri, tidak perlu membeli jus ke orang lain.
"Silahkan diminum dan dimakan," ucapnya sembari menyajikan di atas meja plastik. Selain minuman, ada beberapa potong bolu marmer juga, yang ditaruh pada piring kecil.
"Oh ya, Umi, Syifa pulang mengajar jam berapa kira-kira?" tanya Fahmi. Perlahan tangannya meraih sepotong bolu. Tapi sebelum mengambilnya, dia memilih itu menyentuhnya terlebih dahulu. Ingin merasakan jika bolu itu benar-benar empuk atau tidak. "Dan ini bolu bikin sendiri apa beli?"
"Itu Umi yang buat, Nak," sahut Umi Maryam. "Kalau Syifa, dia biasa pulang sekitar jam 12 atau jam 1."
Fahmi langsung menatap arloji mahalnya pada pergelangan tangan. Disana menunjukkan pukul 11. "Berarti sebentar lagi Syifa pulang ya, Umi. Oh ya, kenapa sih, Umi ... Syifa itu nggak pernah mau balas chatku? Apalagi telepon."
"Mungkin Syifa lagi nggak pegang hape, Nak." Umi Maryam sendiri tidak tahu jelas alasannya. Tapi dia sengaja menebak asal, supaya tak menyakiti perasaan pria itu.
"Tapi kalau kayak gitu 'kan aku susah buat tau kabar dia, Mi. Padahal ... banyak hal penting yang mau aku bahas dengannya."
"Nanti Nak Fahmi bisa tanya langsung saja, kalau Syifa sudah pulang," saran Umi Maryam.
"Aku izin mau jemput dia ke sekolah boleh nggak, sih? Aku juga mau sekalian melihat di mana dia mengajar." Fahmi perlahan berdiri, kemudian membenarkan kemeja pendek berwarna merah serta pecinya yang miring.
"Nanti tunggu Abinya pulang saja, izin dulu padanya."
"Kalau nunggu dia pulang, pasti lama. Jemput paling bentar, aku udah nggak sabar banget kepengen ketemu Syifa. Kangen." Fahmi langsung membungkukkan badannya sembari mencium punggung tangan Umi Maryam. Meskipun wanita itu mencoba melarang, tapi dia seolah tak peduli. Tetap kekeh ingin menjemput Syifa, menaiki mobil kuning mengkilapnya.
"Oh ya, Bu, kira-kira ... Ibu setuju 'kan, kalau misalnya pernikahan Fahmi dan Syifa dipercepat?" tanya Pak Haji Samsul secara tiba-tiba yang mana membuat Umi Maryam menoleh.
__ADS_1
...Ya jelas ga setuju lah 😂...